Bisnis & Kerja Sampingan

Impairment Adalah Penurunan Nilai Aset, Ini Cara Hitungnya!

impairment-adalah

Impairment adalah penurunan nilai suatu aset yang bersifat permanen dan perlu dicatat dalam laporan keuangan. Banyak orang yang salah kaprah menyamakan impairment dengan depresiasi aset, padahal keduanya memiliki konsep yang berbeda.

Artikel ini akan menggali lebih dalam mengenai pengertian impairment, beserta cara menghitung impairment dan contohnya. Ada pula penjelasan sekilas seputar perbedaan impairment dan depresiasi aset.

Pengertian Impairment

Impairment adalah penurunan nilai suatu aset yang bersifat permanen dan perlu dicatat dalam laporan keuangan. Kita dapat mengetahui terjadinya impairment dengan membandingkan harga perolehan aset di masa lalu (nilai buku) dengan harga pasarnya saat ini (nilai wajar atau fair value).

Impairment dapat terjadi pada aset tak berwujud maupun aset berwujud, mulai dari merek dagang dan hak paten hingga pabrik dan mesin produksi. Apabila nilai wajar jatuh menjadi lebih rendah daripada nilai buku secara permanen, maka perusahaan harus membukukannya dalam neraca sesuai dengan kondisi terkini. Aset yang mengalami impairment selanjutnya disebut sebagai impairment assets.

Berikut ini beberapa faktor yang mungkin menyebabkan terjadinya impairment pada suatu aset:

  1. Material atau bahan mengalami perubahan secara permanen sampai memengaruhi nilainya.
  2. Permintaan konsumen merosot, sehingga nilai aset menurun secara signifikan.
  3. Aset mengalami kerusakan fisik.

Berbagai jenis aset dapat mengalami impairment, tetapi ada segelintir pengecualian. Beberapa aset yang tidak dapat mengalami impairment antara lain persediaan, aset yang muncul berdasarkan imbalan kerja, pajak tangguhan, aset dari kontrak asuransi, serta aset tetap yang dimiliki untuk dijual.

Cara Menghitung Impairment dan Contohnya

Kita dapat menghitung impairment dengan tiga tahap berikut ini:

1) Jumlah Depresiasi Aset per Tahun = Angka Perolehan Aset / Umur Ekonomis Aset

2) Nilai Sisa Buku = Angka Perolehan Aset – (Jangka Waktu Depresiasi x Angka Perolehan Aset)

3) Impairment = Value in Use – Nilai Sisa Buku

Value in use adalah estimasi arus kas yang dapat dihasilkan oleh suatu aset di masa depan, sesuai dengan kondisinya saat ini.

Contohnya: Perusahaan garmen Kencana Jingga mempunyai mesin yang dibeli dengan harga Rp150 juta dan digunakan sejak Januari 2017. Perusahaan memperkirakan mesin tersebut dapat dipakai sampai 15 tahun. Namun, perusahaan memerhatikan kemungkinan terjadinya impairment pada Desember 2022 sehingga value in use mesin tersebut tinggal Rp50 juta.

Untuk mengetahui lebih jelas, perusahaan akan menghitung nilai depresiasi mesin tiap tahun. Perhitungan depresiasi per tahun = 150 juta/15 tahun = 10 juta per tahun.

Dengan demikian, nilai sisa buku mesin per Desember 2022 seharunysa adalah = 150 juta – (6x 10 juta) = 70 juta.

Dalam contoh kasus ini, terdapat selisih antara nilai sisa buku (70 juta) dan value in use (50 juta). Ini berarti Kencana Jingga mengalami kerugian akibat impairment sebesar Rp20 juta.

Aset tak berwujud juga dapat mengalami impairment. Umpamanya jika suatu hak paten sudah kedaluwarsa. Contoh lain lagi, suatu merek populer harus rebranding lantaran perusahaan kalah dalam gugatan sengketa merek dengan perusahaan lain di pengadilan.

Undang-undang menentukan paten untuk jangka waktu 20 tahun sejak tanggal penerimaan, dan tidak dapat diperpanjang. Apabila hak paten yang dimiliki suatu perusahaan sudah kedaluwarsa, maka perusahaan perlu mengakuinya dalam laporan laba-rugi.

Perbedaan Impairment dan Depresiasi Aset

Kalau diperhatikan, tahap pertama dalam cara menghitung impairment di atas melibatkan perhitungan depresiasi aset. Kita tidak dapat menghitung impairment suatu aset tetap tanpa mengetahui nilai depresiasinya terlebih dahulu. Namun, depresiasi aset itu sendiri berbeda dengan impairment.

Depresiasi aset adalah penyusutan nilai aset tetap yang terjadi secara bertahap seiring dengan masa penggunaan aset tersebut. Perusahaan akan mencatat depresiasi sebagai beban yang menurunkan harga perolehan suatu aset tetap.

Impairment merujuk pada penurunan nilai secara permanen pada satu waktu tertentu (penurunan nilai tidak didistribusikan selama umur ekonomis aset). Impairment bukan hanya dapat terjadi pada aset tetap, melainkan juga tak berwujud. Perusahaan selanjutnya akan mencatat impairment sebagai kerugian dalam laporan keuangan.

Satu hal yang perlu diperhatikan: Setelah suatu aset mengalami impairment, nilainya tidak dapat dipulihkan lagi. Oleh karena itu, perusahaan harus berhati-hati sebelum memutuskan apakah suatu aset mengalami impairment.

Kesimpulan

Nilai aset yang dimiliki suatu perusahaan dapat mengalami penurunan permanen karena berbagai sebab. Perusahaan perlu mencatat penurunan nilai aset itu sebagai impairment jika nilai pasarnya menjadi lebih rendah daripada nilai bukunya.

Impairment bersifat permanen, berbeda dengan depresiasi yang berlangsung secara bertahap selama umur ekonomis aset masih ada. Dengan demikian, penghitungan dan pencatatan impairment akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan perusahaan.

Mulai Investasi di Ajaib Sekuritas Sekarang!

Masa depan kamu tentu akan menjadi lebih terjamin dan aman secara finansial bila kamu berinvestasi bukan? Ajaib Sekuritas hadir untuk memberikan pengalaman investasi yang lebih aman dan tepercaya.

Mulai perjalanan investasimu bersama Ajaib Sekuritas sekarang, karena proses pendaftarannya yang mudah dan 100% online, tanpa memerlukan modal yang besar.

Berbagai layanan dan indeks saham juga tersedia dalam rangka mendukung investasimu agar semakin maksimal! Mulai dari saham, reksa dana, margin trading, day trading, dan layanan bagi nasabah premium, Ajaib Prime, bisa kamu temukan di aplikasi Ajaib Sekuritas.

Jadi, tunggu apalagi? Yuk, download aplikasi Ajaib Sekuritas sekarang!

Artikel Terkait