Reksa Dana

Indeks Saham IDX30 Dievaluasi, Ini Dampaknya bagi Reksa Dana

Ajaib.co.id – Di Bursa Efek Indonesia terdapat 24 indeks saham lagi selain Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Indeks-indeks saham tersebut dapat dijadikan acuan untuk pemula yang ingin membeli saham, terutama indeks LQ-45 dan dan indeks saham IDX30.

Sebab kedua indeks saham tersebut banyak dikenal dan digunakan oleh industri reksa dana sebagai acuan perbandingan kinerja. Tidak hanya itu, kedua indeks tersebut juga sebagai acuan dalam penyusunan portofolio reksa dana saham.

BEI setiap 6 bulan sekali melakukan evaluasi terhadap saham-saham penghuni Indeks LQ-45 dan IDX30. Setiap evaluasi umumnya akan ada saham yang terdepak dan tergantikan dengan saham baru yang menghuni indeks tersebut.

Apakah perubahan anggota indeks saham ini berdampak terhadap pengelolaan reksa dana? Dan seperti apa dampak perubahannya?

Definisi Indeks LQ-45 dan IDX30

Indeks LQ-45 adalah perhitungan dari 45 saham, yang diseleksi melalui beberapa kriteria pemilihan. Selain penilaian atas likuiditas, seleksi atas saham-saham tersebut mempertimbangkan kapitalisasi pasar.

Indeks LQ-45 berisi 45 saham yang disesuaikan setiap enam bulan (setiap awal bulan Februari dan Agustus). Itulah sebabnya saham yang terdapat dalam indeks tersebut akan selalu berubah.

Indeks ini sebagai pelengkap IHSG dan khususnya untuk menyediakan sarana yang obyektif dan tepercaya bagi analisis keuangan, manajer investasi, investor dan pemerhati pasar modal lainnya dalam memonitor pergerakan harga dari saham-saham yang aktif diperdagangkan.

Sedangkan indeks saham IDX30 adalah indeks yang mengukur kinerja dari 30 saham yang memiliki kapitalisasi pasar relatif besar, likuiditas tinggi dan fundamental bagus. Diluncurkan sejak 28 Desember 2004, Indeks IDX30 menggunakan base date 28 Desember 2004.

Indeks saham IDX30 ini adalah indeks yang anggotanya berasal dari Indeks LQ-45. Dengan kata lain, dari Indeks LQ-45 yang berisi 45 perusahaan, IDX30 “memeras” lagi menjadi hanya 30 perusahaan.

Saham yang masuk indeks ini disaring dari LQ-45 berdasarkan berbagai kriteria, mulai dari likuiditas (nilai transaksi, frekuensi transaksi, hari transaksi di pasar reguler, kapitalisasi pasar) hingga fundamental (kinerja keuangan, kepatuhan dan sebagainya).

Secara proses, dari IHSG disaring 45 saham paling likuid (LQ-45), kemudian dari 45 saham tersebut disaring lagi menjadi 30 saham yang disebut IDX30. Dengan demikian, anggota saham yang menjadi anggota IDX30 juga menjadi anggota daripada LQ-45.

Meski secara definisi, salah satu kriterianya adalah saham berfundamental baik, dari pengamatan dan praktek, porsi likuiditas dan kapitalisasi pasar lebih banyak menjadi faktor utama.

Likuiditas yang tinggi artinya saham tersebut sangat aktif ditransaksikan dipasar reguler. Didukung dengan kapitalisasi pasar yang besar, anggota saham dalam IDX30 dan LQ-45 biasanya juga merupakan saham yang banyak ditransaksikan oleh investor asing.

Anggota Indeks = Saham Bagus?

Bagus tidaknya saham yang masuk pada indeks LQ-45 dan atau IDX30 itu tergantung dari sudut pandangnya. Jika kamu menginginkan saham yang likuid, maka sebaiknya memang saham anggota indeks ini yang jadi pilihan.

Sebaliknya jika kamu mencari saham yang valuasinya murah, maka harus dilihat dulu harga dan laporan keuangan per sahamnya. Kecuali ada koreksi signifikan, cukup sulit untuk menemukan stock value di saham yang likuid.

Mengapa demikian? Ada dua alasan. Pertama karena likuid, valuasi / nilai pasar wajar dari saham diketahui secara umum karena banyak perusahaan sekuritas dan riset yang meneliti saham tersebut.

Kedua, ketika harga pasarnya di bawah harga wajar (undervalued), banyak investor segera membelinya karena masuk dalam daftar saham yang diminati banyak investor.

Apa Dampaknya Terhadap Reksa Dana Indeks?

Evaluasi mayor dan minor terhadap Indeks merupakan kalender bursa yang menjadi perhatian penting bagi reksa dana indeks dan ETF. Bahkan lebih penting daripada publikasi laporan keuangan dan data-data ekonomi.

Reksa Dana Indeks dan ETF dalam pengelolaannya menggunakan indeks saham/ obligasi sebagai acuan. Sehingga meskipun kinerja perusahaannya baik atau buruk, data ekonomi sedang resesi atau ekspansi, komposisi portofolionya tetap akan dibuat menyerupai indeks acuan.

Tidak ada pemikiran untuk memperbesar atau memperkecil posisi cash. Sebab kriterianya bukan kinerja reksa dana positif, tapi kinerja sama dengan indeks. Jika Indeksnya negatif, maka kinerja reksa dana juga negatif dengan persentase yang sama.

Per Juni 2020, total terdapat 32 reksa dana indeks yang kebetulan semuanya menggunakan saham sebagai acuan. Total dana kelolaannya sekitar Rp7,4 Triliun dengan 90% di antaranya menggunakan IDX-30 (Rp 4,7 T), Indeks Sri Kehati (Rp1,09 T), dan LQ-45 (Rp917 M) sebagai acuan.

Untuk Exhange Traded Fund (Reksa Dana yang unit penyertaannya diperdagangkan di bursa), total dana kelolaan mencapai per Juni 2020 mencapai Rp12,5 T dengan Rp3,8 T merupakan ETF berbasis Indeks Obligasi dan Rp 8.7 T berbasis Saham / Indeks Saham.

Dari Rp8,7 T yang berbasis saham, hampir setengahnya atau Rp4 T menggunakan LQ-45 dan IDX-30 sebagai acuan. Bagi reksa dana yang menggunakan acuan indeks saham yang lain, umumnya sebagian saham yang menjadi anggota di IDX-30 dan LQ-45 juga menjadi anggota di indeks lain.

Berdasarkan hitungan sederhana di atas, berarti ada sekitar Rp9,7 T reksa dana indeks dan ETF yang mengacu pada LQ-45 dan IDX-30. Jika pada evaluasi mayor terdapat saham baru masuk dengan bobot misalkan 1%, maka otomatis saham tersebut akan dibeli oleh reksa dana indeks senilai Rp97 M plus minus 20% (Rp9,7 T x 1%).

Untuk saham big caps, transaksi Rp97 M dalam sehari tidak terlalu besar. Sebaliknya untuk saham medium small caps, transaksi Rp 97 M berpotensi mengangkat harga saham mendekati / menembus auto reject atas.

Sebaliknya untuk saham yang dikeluarkan dari indeks, maka skenario auto reject bawah juga mungkin terjadi. Skenario ini terjadi karena umumnya penyesuaian terhadap anggota indeks saham yang baru masuk dilakukan 1 hari kerja sebelum efektif.

Jika penyesuaian dilakukan sebelumnya memang bisa, tapi karena komposisi indeks belum berubah bisa menyebabkan kinerja reksa dana indeks menyimpang dari indeks acuannya.

Semakin besar dana kelolaan Reksa Dana Indeks dan ETF dan atau semakin besar bobot suatu saham, maka semakin besar pula dampak evaluasi mayor 6 bulanan ini terhadap individu saham yang masuk dan keluar dari anggota indeks.

Berapa angkanya? Terus terang belum ada penelitiannya. Saya menduga ketika angka dana kelolaan Reksa Dana Indeks dan ETF di atas Rp50 T dan bobot di atas 5% akan memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan saham.

Meski demikian, perlu dipahami bahwa masuk ke anggota IDX30 atau LQ-45 bukan jaminan bahwa kinerja saham akan bagus. Ada saham yang setelah masuk mengalami kenaikan, ada juga malah sejak masuk negatif terus sampai dikeluarkan.

Dalam pasar modal, terkadang juga berlaku buy on rumor sell on news. Artinya harga saham naik ketika dirumorkan akan masuk, setelah menjadi anggota indeks, malahan harganya turun.

Untuk itu, manajer investasi yang melakukan pengelolaan reksa dana saham secara aktif lebih berfokus pada aspek valuasi dan fundamental perusahaan.

Artikel Terkait