Saham

Pergerakan Harga Emiten Karet yang Diuntungkan

Pergerakan Harga Emiten Karet yang Diuntungkan

Ajaib.co.id – Apakah harga karet memiliki hubungan yang linear dengan pergerakan harga emiten karet? Mungkin kamu sudah pernah mendengar bahwa harga karet terpantau terus mengalami pelemahan setelah mencapai harga tertingginya (all time high) pada awal Mei lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (8/6/2021) hingga pukul 17.00 WIB harga karet berjangka untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Singapura bergerak di level US$1,18 per kilogram, melemah 3,37%. Padahal, harga karet sempat mengecap posisi tertinggi pada 7 Mei 2021 lalu pada level US$1,67 per kilogram.

Sementara di dalam negeri, Dinas Perkebunan Provinsi Riau menyatakan harga karet mengalami kenaikan. Berdasarkan pemberitaan Bisnis Indonesia, harga komoditi bahan olahan karet (bokar) mengalami kenaikan mulai dari Rp123 hingga Rp1.000 per kilogram di beberapa kabupaten pada bulan ini.

Adapun, perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni holding perkebunanan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III (Persero) adalah pengelola karet terbesar di Indonesia. Perseroan juga mengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei yang tercatat melakukan investasi di sektor karet.

Terdapat tujuh perusahaan ternama dengan nilai okupansi hampir 100 hektare akan masuk ke kawasan industri Sei Mangkei sebagai permulaan dari investasi baru pada tahun ini mengingat tahun sebelumnya terdampak akibat pandemi Covid-19.

KEK Sei Mangkei mulai dibidik investor asing maupun domestik karena kawasan industri ini dinilai sangat strategis berada di sentra bahan baku berbasis agro dan dekat dengan Selat Malaka, serta memiliki sarana pendukung logistik yang memadai dengan menghadirkan konektivitas yang terintergrasi di kawasan tersebut.

Sebagai wilayah produsen karet yang cukup besar di Indonesia, Sumatera Utara (Sumut) tercatat masih mengalami tekanan produksi ekspor karet sepanjang tahun ini. Hal ini dikarenakan oleh fenomena La Nina dan penyakit gugur daun. Lalu bagaimana kinerja emiten produsen karet di Indonesia? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.

Emiten Produsen Karet

Di Indonesia, perusahaan pengelola karet juga merupakan produsen kelapa sawit mengingat daerah tanamnya yang hampir sama.

1. PT London Sumatera Tbk (LSIP)

PT London Sumatera Tbk adalah emiten perkebunan dari Grup Salim yang juga merupakan sister company dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) yang populer dengan produk mie instannya yakni Indomie.

Wilayah perkebunanannya paling banyak terdapat di Sumatera Utara. Adapun, melihat dari laporan keuangan perseroan per 2020, penjualan perseroan dari karet memang tak cukup banyak yakni Rp172,87 miliar. Angka ini sekitar 4,8 persen dari total penjualan perseroan.

2. PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP)

Grup perkebunan Bakrie ini memproduksi karet alam dari hulu ke hilir mulai dari lateks hingga blok skim rubber (BSR) yang diklaim menjadi keahlian perseroan. Sama seperti perusahaan yang juag mengelola kelapa sawit, penjualan emiten berkode saham UNSP tersebut memang tidaklah banyak dari produksi karet.

Dikutip dari laporan keuangan perseroan hingga kuartal ketiga tahun 2020 lalu, penjualan karet hanya berkisar Rp241,04 miliar. Angka tersebut hanya berkisar 13,9 persen dari total penjualan perseroan yang mencapai Rp1,73 triliun.

3. PT Kirana Megatara Tbk (KMTR)

PT Kirana Megantara Tbk adalah perusahaan yang memang fokus mengelola bisnis karet melalui barang jadi karet. Emiten dengan kode saham KMTR ini menjual barang jadi karetnya yang didominasi pasar ekspor di antaranya kepada produsen ban seperti Michelin dan Yokohama. 

Dikutip dari laporan keuangan perseroan per Desember 2020, emiten tersebut menjual karet sebesar 462,23 juta kilogram pada tahun lalu. Adapun, penghasilan terbesar perusahaan tersebut memang berasal dari barang jadi karet sebesar Rp8,76 triliun, setara dengan 99,56% dari total penjualan perseroan pada tahun lalu.

4. PT Pinago Utama Tbk (PNGO)

Pinago Utama adalah perusahaan yang baru melantai pada akhir Agustus 2020 lalu. Dengan aksi korporasi tersebut, PNGO berhasil meraup dana segar sebanyak Rp39,06 miliar.

Emiten ini diketahui mengelola total 17.656 hektar lahan dengan luas perkebunan karet seluas 3.960 ha. Adapun, 77% dari perkebunan karet itu merupakan area tanaman menghasilkan. PNGO juga sempat meraup hasil karet kering berupa lateks dan lump sebesar 3.658 ton, hasil tersebut memang menurun sebesar 10% rata-rata tahunan.

PNGO termasuk emiten yang memiliki porsi penjualan kelapa sawit dan karet yang cukup berimbang. Berdasarkan laporan keuangan perseroan hingga akhir tahun lalu, penghasilan yang didapatkan perseroan dari karet mencapai Rp779,43 miliar, hampir berimbang dengan penjualan minyak sawit dan inti sawit perseroan sebesar Rp727,56 miliar.

5. PT Indo Komoditi Korpora Tbk (INCF)

PT Indo Komoditi Korpora Tbk adalah perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan karet alam. Perusahaan sendiri khusus mengelola karet SIR 20 dan dry jelutong. Berdasarkan laporan keuangan perseroan hingga akhir tahun 2020 lalu, emiten berkode saham INCF tersebut mencatatkan penghasilan sebesar Rp288,63 miliar. Angka tersebut sebenarnya menurun drastis dari pendapatan tahun sebelumnya yang bisa mencapai Rp535,72 miliar.

Pergerakan Saham Emiten Pengelola Karet

Para analis melihat proyeksi emiten perkebunan masih cukup cerah kedepannya terkhususnya emiten kelapa sawit dan karet berkapitalisasi besar seperti LSIP. Berdasarkan pemberitaan Kontan, para analis memproyeksikan di tahun ini laba bersih LSIP akan tumbuh positif berkat harga CPO yang masih tinggi.

Sementara di tahun ini LSIP menargetkan pertumbuhan penjualan hanya sebesar satu digit. Faktor yang dianggap membuat volume produksi tandan buah segar menurun karena terjadi kekeringan saat musim panas. Sementara itu, suplai CPO masih akan terbatas sehingga membuat harga CPO tetap tinggi hingga semester pertama tahun ini.

Artikel Terkait