Saham

Berapa Jumlah Ideal Saham dalam Portofolio?

Ajaib.co.id – Kebanyakan investor pemula mengalami kesulitan dalam menyusun portofolio saham. Kebingungan sering muncul khususnya terkait berapa jumlah ideal saham di portofolio. Kalau jumlah saham terlalu sedikit, ada risiko portofolio jatuh total dalam sekejap. Tapi kalau jumlah saham terlalu banyak, kita juga akan kebingungan mengelolanya. Jadi, berapa sih jumlah ideal saham di portofolio?

Pada dasarnya, tidak ada aturan baku tentang berapa jumlah ideal saham di portofolio. Kita bisa menanyakan hal ini pada sepuluh pakar dan mendapatkan sepuluh jawaban berbeda. Mengapa demikian? Ada dua alasan.

Pertama, kemampuan setiap investor untuk mengelola portofolio itu berbeda-beda. Ada investor yang santai saja menangani puluhan saham dalam portofolio, tetapi ada investor yang sudah pontang-panting memantau lima saham saja. Jumlah saham ideal dalam portofolio kamu semestinya sesuai dengan kemampuanmu menganalisis kinerja semua saham. Kedua, jumlah ideal saham di portofolio juga akan ditentukan oleh beberapa faktor lain seperti target, jangka waktu investasi, dan kondisi pasar. 

Pendapat Para Pakar tentang Jumlah Saham di Portofolio

Menurut Investopedia, investor di Amerika Serikat memiliki sekitar 20-30 saham dalam portofolio mereka. Tujuan pembuatan portofolio adalah untuk mengurangi risiko non-sistemik yang disebabkan oleh risiko khusus pada suatu perusahaan atau industri. Semakin banyak saham dalam portofolio investor, semakin rendah pula risiko non-sistemiknya. Portofolio yang terdiri atas 10 saham dari beragam sektor akan mengandung risiko jauh lebih rendah ketimbang portofolio yang hanya terdiri atas dua saham.

Apakah investor di Indonesia dapat meniru rekan-rekan di negeri Paman Sam? Hal ini tidak memungkinkan. Alasan pertama, jumlah saham di bursa AS jauh lebih banyak daripada jumlah saham di bursa Indonesia. Alasan kedua, saham-saham AS memiliki korelasi lebih rendah dengan kondisi bursa secara keseluruhan dibandingkan saham-saham Indonesia. 

Mayoritas saham Indonesia berbeta tinggi atau berkorelasi erat dengan kondisi bursa. Ketika IHSG jatuh, sebagian besar saham Indonesia langsung rontok. Berbeda halnya dengan bursa Wall Street di mana lebih banyak saham bisa tetap reli kencang meski indeks-nya berangka merah.

Sementara itu, para pakar di Indonesia juga berbeda pendapat tentang masalah ini. El Hezekiah Sabbat dari Sahamgain.com berpendapat jumlah saham maksimal di portofolio yang paling bagus adalah 3-6 saham. Ia menyarankan agar mencoba untuk membeli maksimal 2 saham dulu, kemudian meningkatkan jumlahnya jika sudah berhasil mengelola saham tanpa nyangkut. Investor bisa melakukan diversifikasi portofolio lebih jauh (misalnya 8-10 saham), tetapi semakin banyak saham maka akan semakin sulit pula memantaunya.

Sedangkan Ellen May dalam Five Golden Rules-nya yang dikutip CNBC Indonesia pernah mengatakan bahwainvestor ritel idealnya memiliki 5-10 saham. Jika modal masih di bawah Rp1 miliar, sebaiknya portofolio jangan lebih dari lima saham karena butuh concern untuk memantau saham-saham yang dimiliki.

Teguh Hidayat pada kolom blog-nya mengenai strategi Concentrated Diversification memberikan angka yang jauh berbeda. Menurut praktisi Value Investing ini, “Di luar saham-saham yang di-hold forever, maka portofolio sebaiknya berisi sepuluh hingga dua belas saham berbeda”. Simpulan ini dibarengi dengan asumsi isi portofolio tetap terkonsentrasi pada saham-saham bagus yang dibeli pada harga undervalue, dengan menyisihkan sedikit modal saja untuk aset lain seperti obligasi dan instrumen pasar uang.

Setiap pakar memiliki pertimbangan berbeda-beda sesuai dengan gaya investasi masing-masing. Alhasil, angka yang mereka sebutkan tentang jumlah ideal saham di portofolio pun berbeda-beda. Kamu bebas untuk mengikuti jejak salah satu dari mereka, ataupun menentukan jumlah saham idealmu sendiri. Namun, keputusan apa pun yang diambil akan butuh proses trial-and-error.

Tips Menentukan Jumlah Saham dalam Portofolio

Kalau saat ini kamu masih berstatus pemula yang baru akan mulai menyusun portofolio, ada teknik sederhana yang bisa dilakukan guna menentukan jumlah saham ideal untuk dikoleksi. Langkah-langkahnya:

  1. Siapkan modal dalam jumlah tidak terlalu besar.
  2. Pilih 2 saham saja dari 2 sektor berbeda, kemudian cobalah mengelolanya hingga laba sesuai ekspektasi.
  3. Setelah kedua saham tersebut untung, pilih 1-2 saham dari sektor lain lagi untuk masuk ke dalam portofolio. 
  4. Kalau 3-4 saham tadi sudah untung, pilih 1-2 saham lagi untuk dikelola. Kelak kamu juga bisa menambah lagi ketika merasa masih mampu mengelola lebih banyak saham. Tapi kalau ternyata ada saham yang tidak terpantau atau kamu sudah merasa penat, berarti kamu mungkin sudah mencapai batas jumlah saham maksimal di portofolio.

Dengan strategi bertahap seperti ini, kamu akan punya waktu untuk membiasakan diri mengelola investasi saham dari nol sekaligus mengenal seluk beluk semua saham dalam portofoliomu. Memang nantinya akan butuh waktu lama dan tidak instan, tetapi proses ini akan memperkaya wawasanmu.

Bagaimana kalau saat ini kamu sudah mulai berinvestasi dan memiliki banyak saham dalam portofolio? Sayang sekali, urusan “diet portofolio” bisa jadi lebih rumit daripada menyusun portofolio dari awal. Pertama-tama, kamu harus mengevaluasi diri sendiri dengan tiga pertanyaan ini: 

  1. Apakah kamu mampu mengikuti perkembangan semua saham di portofoliomu? Istilah “mengikuti perkembangan” di sini mencakup laporan keuangan dan berita-berita terkait perusahaan dan industri di mana emiten saham kamu berada. Kalau kamu merasa mampu mengikuti semuanya, berarti semua saham dapat dipertahankan. Tapi kalau kamu sudah pontang-panting dan bingung membedakan antara satu saham dan lainnya, berarti ada perlunya memutuskan saham mana yang bakal dilepas.
  2. Apakah portofoliomu mengandung terlalu banyak saham dari satu sektor atau sudah terbagi rata ke beberapa sektor? Kelompokkanlah saham-saham dalam portofoliomu berdasarkan sektor bisnisnya, misalnya perbankan, farmasi, properti, ritel, dan seterusnya. Hitunglah persentase nilai saham dari setiap sektor dibanding total investasimu. Kalau ada persentase sektoral yang terlalu besar, kamu perlu menganalisis apakah kepemilikan sahammu pada sektor itu benar-benar berprospek bagus atau ada baiknya dirampingkan.
  3. Apakah saham-saham dalam portofoliomu sudah sesuai dengan profil risiko dan target investasimu? Saham-saham blue chip mengandung risiko lebih rendah, karena perusahaannya sudah mapan. Sebagian saham-saham lapis dua juga dapat memberikan dividen dalam jumlah lumayan besar. Namun, saham-saham lapis tiga itu berisiko tinggi dan sebenarnya lebih cocok untuk trading (bukan investasi jangka panjang).

Seusai mengevaluasi portofolio, jangan buru-buru menjual saham-saham yang dirasa tidak diperlukan. Ingat, setiap saham punya peluang naik dan turun. Kamu akan rugi kalau buru-buru menjual saham demi diet portofolio, tapi ternyata harga sedang di level terendah (bottom). Lakukan analisis teknikal dulu untuk memutuskan kapan perkiraan waktu yang tepat untuk melepas saham-saham “ekstra” tadi, kemudian baru menjualnya ketika momennya tiba.

Kita butuh proses panjang untuk menyusun portofolio saham dari awal. Demikian pula, kita mungkin butuh proses sama panjangnya guna merampingkan portofolio saham yang kegemukan. Namun asalkan semua proses dijalani dengan tekun dan hati-hati, niscaya kamu dapat membuat portofolio idealmu sendiri.

Sumber: Jumlah Saham Maksimal yang Ideal di Portofolio, Mengenal Strategi ‘Concentrated Diversification’, What Is the Ideal Number of Stocks to Have in a Portfolio?, dan Ini Tips Agar Tak Buntung Main Saham Dari Ellen May, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait