Analisa Saham

Hal yang Penting Diperhatikan Sebelum Beli Saham SULI

Saham SULI
Saham SULI

Ajaib.co.id – PT SLJ Global Tbk merupakan perusahaan yang bergerak di industri perkayuan. Perusahaan dengan kode saham SULI ini memulai bisnis secara komersial di tahun 1983 yang menghasilkan produk meliputi kayu bulat, kayu lapis, kayu lapis olahan, kayu gergajian, dan papan serat kepadatan menengah.

Bersama dengan beberapa anak perusahaan seperti PT Karya Wijaya Sukses dan PT Essam Timber, SULI mengelola sejumlah kawasan hutan alam.

Selain itu, SULI juga mengoperasikan pembangkit tenaga listrik dan pertambangan bersama dengan anak perusahaan lainnya yaitu PT Kalimantan Powerindo dan PT Suli Inti Resource. Mayoritas saham SULI saat ini dipegang oleh Amir Sunarko dengan jumlah 25,69 persen kepemilikan dan Carriedo Ltd 21,96 persen kepemilikan.

Saham SULI mulai diperdagangkan secara publik melalui bursa pada tahun 1994 dengan harga penawaran sebesar Rp9.000 per lembar saham. Pergerakan harga saham SULI saat ini sayangnya tidak menunjukkan kondisi yang positif karena saham ditandai sebagai ekuitas negatif dengan harga saham yang flat di angka Rp 50 per lembar saham. Di mana, kondisi tersebut sudah terjadi sejak awal September 2019.

Lalu, apakah sahamnya masih layak untuk dikoleksi? Ada baiknya untuk mengetahui kondisi fundamental perusahaan dan rencana bisnis yang akan dilakukan sehingga sahamnya bisa kembali menunjukan pergerakan positif melalui bedah kinerja saham SULI berikut ini.

Pandemi Bikin Bisnis SULI Semakin Merugi di Tahun 2020

Kinerja keuangan SULI hingga akhir tahun 2020 masih dalam kondisi tidak memuaskan. Di mana, perseroan mencatatkan penurunan pendapatan dari tahun 2019 sebesar 65,92 juta USD menjadi 52,52 juta USD di tahun 2020. Hal ini juga disebabkan harga ekspor kayu lapis yang menurun sehingga mengurangi pendapatan SULI.

Pendapatan tersebut berasal dari ekspor yang meliputi produk kayu lapis, kayu gergajian, serta kayu lapis olahan. Untuk pendapatan pasar domestik sendiri berasal dari pendapatan pembangkit listrik, kayu lapis, kayu bulat, sewa, hingga kayu gergajian. Pendapatan yang menurun ini juga menghasilkan kerugian bagi perseroan di tahun 2020 hingga 21,05 juta USD. Di mana, kerugian tersebut meningkat dari tahun 2019 sebesar 9,25 juta USD.

Bisnis SULI Mulai Melemah Sejak 2019

Terlepas dari kondisi pandemi yang membuat bisnis SULI semakin merugi di tahun 2020, emiten industri perkayuan ini memang mulai mencatatkan penurunan kinerja baik pendapatan maupun kerugian di tahun 2019. Adapun data ikhtisar keuangan yang diambil berdasarkan informasi finansial perseroan yang dapat dilihat seperti berikut (dalam juta USD):

Laporan Laba Rugi20192018201720162015
Penjualan bersih65.923.70293.849.37965.920.01673.717.00464.284.265
Laba kotor2.275.69314.755.1617.151.13713.049.91111.123.968
Laba rugi tahun berjalan-9.255.1263.267.3961.346.166383.448309.627

Dari data tersebut dapat diketahui bahwa, secara penjualan SULI memang mengalami penurunan di tahun 2017 dan 2019. Perbedaannya adalah di tahun 2017, perseroan masih mencatatkan pertumbuhan laba yang begitu besar. Sementara tahun 2019, perseroan mulai mengalami kerugian dengan turunnya pendapatan.

Di mana, raihan laba dalam 4 tahun berturut-turut terus mencatatkan kenaikan dan harus mencatatkan kerugian di tahun 2019. Hal ini tentu disebabkan oleh faktor tertentu yang menggerus raihan laba. Penyebab kerugian bisnis SULI sendiri karena permintaan yang melemah diikuti harga jual belum tumbuh secara signifikan.

Padahal, volume penjualan ekspor di tiga bulan pertama tahun 2019 meningkat 2,6 persen YOY menjadi 27.739 meter kubik. Harga jual kayu lapis menjadi hal penting yang dapat mempengaruhi kinerja keuangan SULI. Di mana, produk tersebut menjadi salah satu penyumbang terbesar pada pendapatan perseroan.

Sementara itu, jika dilihat dari rasio keuangannya, kondisi bisnis SULI memang sedang tidak sehat. Berikut data yang diambil berdasarkan ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 melalui informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA-0,1%
ROE-456,3%
NPM-14%
CR34,4%
DER2.193%

Prospek Bisnis SULI

Saham SULI yang saat ini masuk ke dalam kategori ekuitas negatif tentu menjadi pertimbangan penting bagi para investor dalam memilih saham untuk dikoleksi.

Pasalnya, ekuitas negatif ini sudah berlangsung sejak September 2019 dan saat ini kinerja keuangan belum bisa membaik. Ditambah kondisi pandemi yang membuat bisnis SULI kesulitan dalam menargetkan keuntungan.

Mengingat kondisi saat ini lini bisnis masih dibayang-bayangi ketidakpastian. Akan tetapi, pendistribusian vaksin yang mulai dilakukan tahun ini seharusnya bisa menjadi sentimen positif bagi saham SULI ke depannya.

Oleh karena itu, perseroan harus menentukan strategi yang tepat untuk bisa mempertahankan keberlangsungan bisnis dan memperbaiki kinerja sebelumnya.

Rencana bisnis yang bakal diterapkan oleh PT SLJ Global Tbk tahun ini bakal sama dengan emiten kayu lainnya yaitu menggarap pasar Amerika Serikat. Di mana, permintaan kayu dari Amerika Serikat memiliki potensi meningkat di tahun 2021. Kebijakan work from home yang diberlakukan membuat masyarakat tengah kota mulai pindah ke area sub urban dengan biaya yang lebih rendah.

Selain Amerika Serikat, SULI juga akan membidik pasar Korea Selatan. Menurut pihak SULI, perseroan sendiri masih fokus untuk pasar yang sudah mereka garap di wilayah AS dan Korea Selatan.

Hal ini karena kedua negara tersebut menjadi kontributor ekspor utama. Salah satu alasan mengapa permintaan kayu bakal meningkat di tahun ini adalah pengisian stok kembali atas pasokan sebelumnya yang sempat menurun.

Perseroan berharap tahun ini volume penjualan kayu bisa tetap bertahan di angka 50.000 sampai 60.000 kubik ke Amerika khususnya produk plywood.

Di samping itu, peningkatan permintaan kayu dan harga jual yang tumbuh 20 persen sejak awal tahun 2021 masih terkendala dengan kondisi cuaca yang menyebabkan pasokan bahan baku menjadi terhambat sehingga harga bahan baku juga bakal naik sekitar 20 persen.

Dengan rencana bisnis yang cukup berpotensi di tahun ini tentu kinerja keuangan SULI di tahun 2021 bisa kembali bangkit dan membalikan kerugian menjadi keuntungan. Dengan begitu, saham SULI bisa kembali naik yang semula flat di angka Rp 50 per lembar saham dan keluar dari tanda ekuitas negatif.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait