Analisa Saham, Saham

Bisnis HOTL Makin Rugi di 2020, Simak Kondisi Teranyarnya

Sumber: Sarasvati

Ajaib.co.id – PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) merupakan perusahaan yang berdiri pada tanggal 23 Maret 2006. Perusahaan kemudian memulai beroperasi secara komersial pada tahun 2006. 

Berdasarkan Anggaran Dasar Perusahaan tercatat ruang lingkup kegiatan HOTL yakni, usaha penyediaan akomodasi beserta segala fasilitas dan sarana penunjang lainnya. Di antaranya, perhotelan, pondok wisata, bumi perkemahan, persinggahan karavan dan jasa pengelolaan properti seperti apartemen dan kondominium. 

HOTL saat ini mengoperasikan Hotel dengan nama “Hotel & Restoran Saraswati Borobudur” yang berlokasi di Jl. Balaputradewa No. 10 Borobudur, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Kemudian, melalui anak usaha bernama PT Cakrawala Mitra Usaha, HOTL menjalankan usaha penyediaan akomodasi berupa hotel yaitu Hotel Anantara Uluwatu Resorts & Spa dan Hotel Best Western Kuta Beach yang berlokasi di Bali.

Pada tanggal 28 Desember 2012, HOTL mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham HOTL (IPO) kepada masyarakat sebanyak 550.000.000 dengan nilai nominal Rp100,- per saham saham dengan harga penawaran Rp185,- per saham disertai dengan Waran Seri I yang diberikan secara cuma-cuma sebagai insentif sebanyak 275.000.000 dengan pelaksanaan sebesar Rp220,- per saham.

Setiap pemegang saham Waran berhak membeli satu saham perusahaan selama masa pelaksanaan yaitu mulai tanggal 10 Januari 2013 sampai dengan 09 Januari 2018. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 10 Januari 2013.

Apakah saham ini masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham HOTL.

Pandemi Bikin Bisnis HOTL Rugi Lagi di 2020

Pandemi covid-19 memang telah menekan kinerja beberapa perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata. Akibat berkurangnya pengunjung dan pemberlakuan PSBB (PPKM). Bisnis HOTL menjadi salah satu yang terdampak.

Pada kuartal III/2020, tercatat pendapatan HOTL mencapai Rp41,59 miliar. Angka ini terhitung mengalami penurunan signifikan sebesar 55,6% dari periode yang sama pada tahun 2019 yang mencapai Rp93,7 miliar. 

Selanjutnya, hingga September 2020, perusahaan harus menelan kerugian hingga Rp33,6 miliar. Padahal di periode yang sama di tahun 2019, perusahaan berhasil meraup keuntungan sebesar Rp2,76 miliar. Meskipun memang di akhir 2019, perusahaan juga tetap mengalami kerugian bisnis mencapai Rp7,7 miliar.

Bisnis HOTL Sudah Merugi Sejak 2018

Terlepas dari kondisi pandemi, emiten saham HOTL  memang sudah mencatatkan rugi sejak tahun buku 2018 hingga 2019. Pada 2020 perusahaan pun mengalami kerugian lagi ditekan akibat adanya pandemi covid-19.

Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam rupiah).

Laporan Laba Rugi201920182017
Penjualan bersih124.404.122.319124.404.122.319101.290
Laba kotor66.650.94266.650.94269.139
Laba (Rugi) tahun berjalan(7.743.385.816)(7.743.385.816)12.975

Dari data tersebut, secara penjualan HOTL pada 2018 dan 2019 mengalami peningkatan. Akan tetapi beban perusahaan yang dikeluarkan lebih besar ketimbang laba yang diperoleh yang menyebabkan perusahaan harus menelan kerugian mencapai Rp7,7 miliar pada 2019. 

Dalam laporan tahunannya, selama 2019, Dewan Komisaris sebetulnya menilai kerja keras dewan Direksi dan seluruh karyawan perseroan dan entitas anak untuk mengatasi semua kendala yang muncul dan menciptakan inovasi terbaik untuk menciptakan hasil kerja terbaik bagi perusahaan. 

Kerja keras tersebut pun membuahkan hasil, karena perseroan berhasil meningkatkan pendapatan di tengah persaingan dengan hotel-hotel lain dan adanya masalah dunia yang turut andil mengurangi kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara. 

Kendati demikian, perusahaan masih harus menelan kerugian bisnis di akhir tahun 2019. Kerugian tersebut mencapai Rp7,7 miliar. 

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis HOTL dalam tiga tahun terakhir sedang tidak sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA-0,57%
ROE-2,08%
NPM-6,22%
DER209,66%

Bagaimana Prospek Bisnis HOTL Ke depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Walaupun di awal tahun 2020 ekonomi dunia terancam dengan adanya pandemi virus covid-19. Perusahaan yakin jika perseroan mampu mencari jalan terbaik untuk menciptakan pencapaian terbaik di tahun 2020. 

Untuk merealisasikan optimisme tersebut, manajemen HOTL menjalankan strategi bisnis. Di antaranya dengan cara melakukan pengetatan cash flow dan efisiensi biaya operasional hotel yang disesuaikan dengan tingkat hunian yang ada.

Perseroan sendiri tidak menjabarkan banyak hal terkait strategi bisnis menghadapi tantangan pandemi di 2021 ini. Namun, sejak tahun 2020 kemarin, Bisnis emiten perhotelan PT Saraswati Griya Lestari Tbk (HOTL) memang sudah terpapar pandemi Covid-19. 

Hal ini terlihat dari adanya penurunan tingkat hunian hotel yang sangat signifikan. Hal ini sebagai dampak dari adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di 2020. Saat ini pun sektor pariwisata masih terus berjuang untuk bisa pulih Kembali. Meski tidak mudah, karena prioritas masyarakat saat ini bukan untuk melakukan pariwisata. Akan tetapi lebih fokus pada Kesehatan dan keamanan diri. 

Emiten berkode saham HOTL memang masih terlihat berupaya untuk bertahan di tengah pandemi covid-19. Sembari menjemput peluang di tengah pelonggaran aktivitas perekonomian di Indonesia. Untuk itu, calon investor sebaiknya terus memperhatikan pergerakan saham ini dan aksi bisnis yang dilakukan. 

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait