Wall Street Tertekan Inflasi dan Selloff Saham AI, Nasdaq Catat Pekan Terburuk Sejak Juni
Miftahul Khaer•October 19, 2026

Key Takeaways
- Wall Street tertekan oleh inflasi AS yang melampaui ekspektasi, dengan CPI September naik 3,7% dan PPI mencapai 6,3% secara tahunan.
- Nasdaq Composite melemah tajam akibat selloff saham AI dan semikonduktor, dipicu kekhawatiran terhadap valuasi serta pembiayaan infrastruktur AI.
- Eskalasi konflik Iran mendorong harga minyak Brent mendekati US$110 per barel, menambah risiko tekanan inflasi dan suku bunga tinggi.
- Kinerja earnings kuartal III beragam. Goldman Sachs dan Morgan Stanley mencatat hasil kuat, sedangkan JPMorgan dan Bank of America menghadapi tekanan.
- Investor akan mencermati keputusan suku bunga The Fed, perkembangan harga energi, risiko investasi AI, dan laporan keuangan emiten untuk mengukur arah Wall Street berikutnya.
Wall Street Tertekan Inflasi dan Aksi Jual Saham Teknologi
Wall Street menutup perdagangan pekan 12-16 Oktober 2026 dengan pergerakan beragam. Inflasi AS yang melampaui ekspektasi dan aksi jual saham berbasis kecerdasan buatan (AI) menekan pasar, terutama Nasdaq Composite yang mencatat penurunan mingguan terdalam di antara indeks utama.
Inflasi konsumen (CPI) September naik 3,7% secara tahunan, sementara inflasi produsen (PPI) melonjak menjadi 6,3%. Kenaikan harga energi di tengah eskalasi konflik Iran turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Tekanan juga meluas ke sektor teknologi setelah kekhawatiran terhadap valuasi dan pembiayaan infrastruktur AI memicu aksi jual saham semikonduktor, termasuk AMD, Intel, Micron, dan Nvidia.
Di tengah sentimen pasar yang melemah, saham energi dan sejumlah emiten perbankan menunjukkan kinerja yang lebih solid. Memasuki pekan berikutnya, investor akan mencermati arah kebijakan The Fed, perkembangan harga minyak, serta laporan keuangan perusahaan untuk menilai prospek pasar saham AS.
Performa Indeks Bursa AS 1W
Pergerakan indeks utama Wall Street menunjukkan perbedaan kinerja yang mencolok selama pekan perdagangan tersebut. Nasdaq Composite menjadi indeks yang paling tertekan, sementara Dow Jones Industrial Average mencatat kenaikan.
| Indeks | Performa Mingguan |
| S&P 500 | -1,63% |
| Dow Jones Industrial Average | +1,45% |
| Nasdaq Composite | -5,54% |
Top Gainer Saham AS 1W
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham justru mencatatkan kenaikan signifikan. Berikut lima saham dengan performa mingguan terbaik berdasarkan data yang diberikan.
Kevin Warsh Belum Beri Sinyal Jelas soal Suku Bunga The Fed
Ketua The Fed Kevin Warsh memicu perhatian pasar setelah berbicara dalam pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok pada Jumat, 16 Oktober 2026. Bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Warsh menilai ekonomi global lebih tangguh dibandingkan perkiraannya beberapa bulan sebelumnya.
Namun, ia tidak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 27-28 Oktober.
Warsh menegaskan bahwa ia tidak akan mendahului keputusan rapat. Ia juga menyebut AI sebagai salah satu perubahan paling signifikan bagi ekonomi AS dan global, meskipun proses adaptasinya berpotensi menghadapi berbagai tantangan.
Perbedaan pandangan di internal The Fed turut menambah ketidakpastian. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kenaikan suku bunga tambahan mungkin diperlukan, sedangkan Gubernur Michelle Bowman belum melihat urgensi untuk mengambil langkah tersebut.
Ekspektasi pasar juga berubah setelah data inflasi dirilis. Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober sempat meningkat ke sekitar 50% dari sekitar 20% sebelum rilis CPI, sebelum kembali turun ke sekitar 30%.
Untuk Desember, AP mengutip probabilitas sebesar 74,3%, sementara investinglive melaporkan sekitar 90%. Meski berbeda, kedua laporan menunjukkan peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga dibandingkan sekitar 50% sebulan sebelumnya.
Inflasi CPI AS September Melampaui Ekspektasi Pasar
Inflasi konsumen AS kembali menjadi perhatian setelah data CPI September dirilis oleh Bureau of Labor Statistics (BLS) pada 14 Oktober 2026. Inflasi headline meningkat menjadi 3,7% secara tahunan, melampaui konsensus 3,6% dan naik dari 3,4% pada Agustus. Sementara itu, core CPI naik menjadi 2,6% secara tahunan, di atas ekspektasi pasar sebesar 2,5%.
Kenaikan harga energi menjadi salah satu pendorong utama inflasi. Harga bensin meningkat 9,1% secara bulanan dan 34,2% secara tahunan, sedangkan indeks energi secara keseluruhan naik 20,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pergerakan ini terjadi di tengah konflik Iran yang mengganggu pasokan minyak global.
Kombinasi CPI dan PPI yang melampaui ekspektasi memperbesar tantangan bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter. Jika tekanan inflasi bertahan, ruang untuk melonggarkan kebijakan dapat semakin terbatas.
Kevin Warsh Belum Memberi Sinyal Jelas soal Suku Bunga
Ketidakpastian kebijakan moneter berlanjut setelah Ketua The Fed Kevin Warsh berbicara dalam pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok pada 16 Oktober 2026 bersama Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva.
Warsh menilai ekonomi global lebih tangguh dibandingkan perkiraannya beberapa bulan sebelumnya. Namun, ia menolak memberikan petunjuk mengenai keputusan suku bunga pada rapat FOMC mendatang karena tidak ingin mendahului hasil rapat.
Ia juga menyebut AI sebagai salah satu perubahan paling berdampak bagi ekonomi AS dan global, meskipun proses perkembangannya berpotensi berlangsung tidak mulus.
Di internal The Fed, pandangan mengenai kebutuhan kenaikan suku bunga tambahan masih berbeda. Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menilai kenaikan satu kali lagi mungkin diperlukan, sedangkan Gubernur Michelle Bowman belum melihat urgensi untuk melakukannya.
Menurut data CME FedWatch yang dikutip dalam laporan pasar, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober sempat mencapai sekitar 50% sebelum turun ke kisaran 30%. Ekspektasi kenaikan pada Desember juga meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, meskipun estimasi probabilitas berbeda antar sumber.
Konflik Iran Mendorong Brent Mendekati US$110 per Barel
Eskalasi konflik Iran menjadi faktor lain yang memengaruhi pasar energi dan saham AS. Gangguan terhadap infrastruktur minyak dan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk meningkatkan kekhawatiran investor mengenai kelancaran pasokan global.
Harga minyak Brent ditutup pada US$109,86 per barel pada Jumat, 16 Oktober 2026, setelah naik 3,7% dalam sehari. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$99 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi mempertahankan tekanan inflasi sekaligus memperumit keputusan suku bunga The Fed. Sebaliknya, saham energi relatif diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas. Exxon Mobil menguat 2,46%, sedangkan Chevron naik 2,58%
Inflasi Produsen AS Melonjak, Mempersempit Ruang The Fed
Tekanan inflasi tidak hanya terlihat pada harga konsumen. Data PPI September yang dirilis BLS pada 15 Oktober 2026 menunjukkan inflasi produsen AS melonjak menjadi 6,3% secara tahunan, dari 5,6% pada Agustus. Angka tersebut menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak Desember 2022.
Tekanan juga terlihat pada core PPI, yang tidak mencakup makanan, energi, dan trade services. Komponen ini meningkat 0,50% secara bulanan, dibandingkan 0,30% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan harga di tingkat produsen menjadi perhatian karena berpotensi diteruskan ke harga jual dan menambah tekanan inflasi konsumen. Di sisi lain, yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat melandai tipis ke 5,19% pada hari tersebut, tetapi masih berada di level tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Kondisi ini mempersempit ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter. Dengan inflasi konsumen dan produsen yang sama-sama melampaui ekspektasi, investor semakin memperhitungkan risiko suku bunga bertahan tinggi atau kembali naik.
Konflik Iran Dorong Harga Minyak Brent Mendekati US$110 per Barel
Eskalasi konflik Iran turut memperburuk prospek inflasi global setelah serangan menyasar infrastruktur dan jalur pengiriman energi. Pada 14 Oktober 2026, rudal balistik dilaporkan menghantam gedung administrasi Saudi Aramco di Dhahran.
Di Selat Hormuz, kapal kontainer berbendera Singapura GFS Pride tenggelam setelah diserang, sedangkan kapal GFS Giselle mengalami serangan serupa pada hari berikutnya dan berhasil mencapai lokasi aman.
Risiko gangguan pasokan tersebut mendorong harga minyak naik sepanjang pekan. Minyak mentah Brent ditutup pada US$109,86 per barel pada Jumat, naik 3,7% dalam sehari, sementara West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$99 per barel.
Analis ING Warren Patterson dan Ewa Manthey menilai harga minyak telah memasukkan premi risiko yang signifikan. Sebelumnya, International Energy Agency (IEA) juga memperingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur Saudi mengancam pemulihan pasokan minyak global.
Untuk meredam lonjakan harga, pemerintahan Trump dikabarkan mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal shadow fleet yang mengangkut minyak dari negara seperti Rusia. Namun, selama risiko gangguan pasokan masih tinggi, harga energi tetap menjadi faktor yang berpotensi menambah tekanan inflasi.
Di tengah koreksi pasar saham secara luas, kenaikan harga minyak turut mendukung saham energi. Exxon Mobil menguat 2,46%, sedangkan Chevron naik 2,58% selama perdagangan yang disebutkan dalam draft.
Selloff Saham AI Tekan Nasdaq dan Saham Semikonduktor
Kekhawatiran terhadap pembiayaan dan valuasi infrastruktur AI menjadi salah satu pemicu utama koreksi saham teknologi sepanjang pekan. Tekanan meningkat pada Rabu, 14 Oktober 2026, ketika saham CoreWeave (CRWV) anjlok setelah yield obligasinya yang jatuh tempo pada 2032 sempat menembus 14%.
Pergerakan ini terjadi setelah investor Chamath Palihapitiya mempertanyakan risiko gelembung pembiayaan swasta di balik ekspansi infrastruktur AI.
Setelah sempat pulih pada Kamis, tekanan kembali meluas pada Jumat ke sektor semikonduktor. Philadelphia Semiconductor Index turun 3,83%, dengan seluruh 30 konstituennya melemah.
AMD terkoreksi 5,95%, Intel turun 5,79%, Micron melemah 5,63%, sedangkan CoreWeave anjlok 11,91% pada hari tersebut. Secara mingguan, saham CoreWeave merosot 25,21%.
Risiko pembiayaan juga tercermin pada credit default swap (CDS) lima tahun CoreWeave, yang mengindikasikan probabilitas gagal bayar sekitar 63%. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran pasar terhadap keberlanjutan belanja modal AI, terutama ketika perusahaan teknologi terus menggelontorkan dana besar untuk membangun kapasitas data center.
Perubahan sentimen turut mendorong pergeseran alokasi investasi. Analis Lori Calvasina dari RBC Capital Markets menurunkan rekomendasi sektor teknologi menjadi market-weight dan menaikkan sektor healthcare menjadi overweight. Ia menilai sektor kesehatan menjadi alternatif bagi investor yang ingin mengurangi eksposur terhadap teknologi.
Tekanan tersebut tercermin pada kinerja indeks saham AS. Nasdaq Composite dan S&P 500 masing-masing turun 4,48% dan 1,95% selama pekan tersebut, sedangkan Dow Jones menguat 0,67% seiring rotasi menuju sektor energi dan healthcare.
Musim Earnings Kuartal III Dibuka dengan Hasil Beragam
Musim laporan keuangan kuartal III 2026 mulai memberikan gambaran mengenai ketahanan perusahaan AS di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian suku bunga. Sejumlah bank besar mencatat hasil yang berbeda, mencerminkan kondisi bisnis yang tidak merata di sektor keuangan.
Goldman Sachs (GS) menjadi salah satu emiten dengan kinerja terkuat. Perusahaan membukukan laba per saham atau earnings per share (EPS) sebesar US$17,01, melampaui konsensus US$13,65.
Pendapatan mencapai US$18,68 miliar, di atas estimasi US$17,03 miliar. Pertumbuhan tersebut didukung kenaikan 72% pendapatan trading ekuitas secara tahunan serta fee advisory yang mencapai rekor US$1,65 miliar.
Sebaliknya, JPMorgan Chase (JPM) menghadapi tekanan setelah pendapatan dan laba bersih kuartal III tidak memenuhi ekspektasi analis. Wells Fargo (WFC) juga mendapat respons negatif setelah pendapatan kuartalannya sebesar US$21,87 miliar mengecewakan investor.
Perbedaan hasil tersebut menunjukkan bahwa aktivitas pasar modal masih memberikan dukungan bagi sejumlah bank, terutama melalui trading dan advisory. Namun, tekanan pada beberapa lini bisnis menegaskan bahwa suku bunga tinggi dan ketidakpastian ekonomi tetap menjadi tantangan bagi sektor keuangan.
JPMorgan Catat Laba di Bawah Ekspektasi pada Kuartal III 2026
JPMorgan Chase membuka musim laporan keuangan bank besar dengan hasil kuartal III 2026 yang berada di bawah ekspektasi pasar. Meski pendapatan bunga bersih naik 12,8% menjadi US$27,04 miliar, pendapatan dan laba bersih perusahaan meleset dari perkiraan analis.
Pendapatan commercial dan investment banking tumbuh 14,4% menjadi US$22,73 miliar. Namun, kinerja trading tertekan oleh kerugian surat berharga dan lemahnya pendapatan fixed income. Di sisi lain, rata-rata pinjaman tetap tumbuh solid, meningkat 10% secara tahunan dan 2% secara kuartalan.
Hasil tersebut membuat JPMorgan menjadi salah satu saham yang tertinggal di antara bank-bank besar selama pekan laporan keuangan.
Goldman Sachs Cetak Kenaikan Trading Ekuitas 72%,
Goldman Sachs mencatat hasil kuat pada kuartal III 2026, didukung lonjakan pendapatan trading dan peningkatan aktivitas investment banking. Pendapatan trading ekuitas naik 72% menjadi US$6,44 miliar, mendorong total pendapatan Global Banking & Markets tumbuh 32% menjadi US$13,46 miliar.
Fee investment banking juga meningkat 21% menjadi US$3,22 miliar. Pertumbuhan ini menunjukkan aktivitas pasar modal, termasuk merger dan akuisisi (M&A) serta penawaran saham perdana (IPO), masih memberikan kontribusi positif bagi bisnis Goldman Sachs.
Kinerja tersebut menempatkan Goldman Sachs sebagai salah satu emiten perbankan dengan hasil paling kuat pada awal musim earnings kuartal III, berlawanan dengan tekanan yang dialami JPMorgan.
Morgan Stanley Raup Pendapatan Trading US$5,8 Miliar
Morgan Stanley melampaui ekspektasi analis di sejumlah lini utama. Perusahaan membukukan EPS US$3,03, sedikit di atas konsensus US$3,01, dengan pendapatan US$20,34 miliar yang juga melampaui estimasi US$19,89 miliar.
Pendapatan trading ekuitas mencapai US$5,80 miliar, jauh di atas perkiraan US$4,90 miliar. Pendapatan bunga bersih sebesar US$3,25 miliar juga melampaui ekspektasi. Namun, terdapat sinyal yang perlu diperhatikan dari provisi kerugian kredit sebesar US$148 juta, sekitar 76% di atas konsensus US$84 juta.
Secara keseluruhan, Morgan Stanley mencatat laba bersih US$4,90 miliar. Hasil trading yang kuat turut mendukung respons positif pasar terhadap laporan keuangan perusahaan.
Bank of America Anjlok Usai Terbebani Denda Regulasi US$1,2 Miliar
Bank of America menghadapi tekanan setelah membukukan beban penyelesaian regulasi sebesar US$1,2 miliar terkait pelanggaran aturan anti pencucian uang dan sanksi ekonomi dengan OCC dan FinCEN. Pada 14 Oktober 2026, sahamnya sempat anjlok sekitar 7,3% secara intraday.
Laba bersih perusahaan turun 17% menjadi US$6,9 miliar dari US$8,3 miliar pada tahun sebelumnya. EPS berbasis GAAP juga turun menjadi US$0,91 dari US$1,04. Di luar beban tersebut, EPS yang disesuaikan mencapai US$1,08, masih sedikit di bawah ekspektasi US$1,11.
Meski pendapatan inti tumbuh 3% menjadi sekitar US$30 miliar, beban satu kali tersebut menekan laba dan membuat saham Bank of America menghadapi tekanan lebih besar dibandingkan sejumlah bank besar lainnya.
Apple Tembus Kapitalisasi Pasar US$5 Triliun
Apple mencatat tonggak penting ketika kapitalisasi pasarnya menembus US$5 triliun untuk pertama kalinya. Pada 14 Oktober 2026, saham AAPL ditutup di US$342,96, naik 0,5%, sehingga nilai pasarnya mencapai US$5,01 triliun.
Pencapaian tersebut terjadi ketika sejumlah saham teknologi justru terkoreksi. Pada hari yang sama, Oracle turun 8,83%, Meta melemah 3,27%, dan Nvidia terkoreksi 3,16%.
Sejak John Ternus menjabat sebagai CEO pada 1 September 2026, saham Apple telah naik sekitar 8,2% dibandingkan harga penutupan 31 Agustus sebesar US$316,85. Pergerakan ini menjadikan Apple salah satu saham berkapitalisasi besar yang tetap menguat di tengah memburuknya sentimen sektor teknologi.
Microsoft Perluas Chip AI Maia, Saham Nvidia Tertekan
Microsoft menarik perhatian pasar setelah CEO Satya Nadella mengumumkan rencana memperluas penggunaan chip AI custom Maia ke skala multi-gigawatt mulai 2027. Generasi Maia 300 direncanakan mulai digunakan pada tahun berikutnya sebagai sistem inferensi utama untuk layanan internal Microsoft.
Strategi ini mengindikasikan upaya Microsoft mengurangi sebagian ketergantungan Azure terhadap GPU Nvidia melalui pengembangan chip sendiri. Perusahaan diperkirakan mengalokasikan belanja modal data center sekitar US$175 miliar dalam setahun ke depan, dengan dua pertiga dana tersebut diarahkan untuk server dan perangkat jaringan.
Pengumuman itu menambah perhatian terhadap persaingan chip AI dan berkontribusi pada tekanan sentimen terhadap Nvidia pada 16 Oktober. Sementara itu, saham Microsoft relatif tidak banyak terdampak negatif oleh perkembangan tersebut.
Nvidia Melemah di Tengah Strategi Chip AI Buatan Microsoft
Nvidia menjadi salah satu saham yang terdampak sentimen negatif setelah Microsoft mengumumkan rencana memperluas penggunaan chip AI buatannya sendiri. Pada 16 Oktober 2026, saham NVDA turun 1,43% menjadi US$214,13.
Pelemahan tersebut menambah tekanan yang telah melanda saham Nvidia sepanjang pekan, seiring koreksi luas sektor semikonduktor global. Hingga 15 Oktober, sektor ini telah mengalami delapan hari berturut-turut pelemahan.
Nvidia juga menjadi salah satu komponen penting dalam ETF semikonduktor SOXX, dengan bobot 7,83% berdasarkan data dalam draft. Karena itu, perubahan sentimen terhadap Nvidia turut menjadi perhatian investor yang memantau pergerakan industri chip.
Intel Anjlok Lebih dari 20% dalam Dua Pekan
Intel mencatat penurunan tajam di antara saham semikonduktor besar, dengan koreksi lebih dari 20% dalam dua pekan hingga pertengahan Oktober 2026. Pelemahan ini terjadi ketika investor kembali mempertanyakan keberlanjutan siklus belanja modal AI.
Kekhawatiran tersebut turut dipicu laporan bahwa pendapatan tahunan OpenAI berada jauh di bawah ekspektasi sebelumnya. Kondisi ini menambah keraguan pasar terhadap prospek pembiayaan dan pengembalian investasi infrastruktur AI.
Intel memiliki bobot 8,56% di ETF semikonduktor SOXX berdasarkan data dalam draft. Besarnya eksposur tersebut membuat saham Intel menjadi salah satu komponen yang perlu diperhatikan dalam memantau tekanan di sektor semikonduktor.
Broadcom Turun di Tengah Kekhawatiran Belanja Modal AI
Broadcom melemah 3,05% pada 16 Oktober 2026 di tengah koreksi luas saham semikonduktor. Sentimen terhadap sektor AI juga mendapat tekanan setelah CEO Hock Tan menyebut sebagian investor AI berperilaku seperti penjudi.
Komentar tersebut menambah perhatian terhadap risiko investasi berlebihan pada infrastruktur AI, terutama ketika perusahaan teknologi mengalokasikan belanja modal besar untuk memperluas kapasitas komputasi.
Broadcom memiliki bobot 7,30% di ETF semikonduktor SOXX. Dengan posisi tersebut, pergerakan saham AVGO turut menjadi salah satu indikator sentimen investor terhadap industri chip.
TSMC Catat Laba Melonjak 68,7%, Saham Justru Terkoreksi
Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) membukukan kinerja kuartal III 2026 yang kuat. Laba perusahaan melonjak 68,7% menjadi US$23,9 miliar, sementara pendapatan tumbuh 50,9%. Kedua capaian tersebut melampaui ekspektasi analis.
Meski demikian, saham TSMC yang diperdagangkan di AS turun 1,8% selama pekan tersebut. Pelemahan ini terjadi di tengah koreksi luas sektor semikonduktor, sehingga tidak serta-merta mencerminkan penurunan kinerja fundamental perusahaan.
Hasil keuangan TSMC menunjukkan bahwa permintaan chip AI dari sisi produksi masih kuat. Dengan demikian, tekanan saham semikonduktor pada pekan tersebut lebih berkaitan dengan kekhawatiran mengenai valuasi dan arus modal dibandingkan indikasi pelemahan permintaan chip.
Pantau Pergerakan Saham AS di Ajaib
Volatilitas Wall Street, perubahan ekspektasi suku bunga The Fed, dan perkembangan industri AI dapat memengaruhi pergerakan saham AS. Pantau tren pasar dan kinerja emiten untuk mengevaluasi peluang trading sesuai strategi, profil risiko, dan tujuan investasimu.
Download Ajaib sekarang untuk memantau pergerakan saham AS dan mengeksplorasi ETF Amerika sebagai alternatif untuk mendapatkan eksposur ke sejumlah saham dalam satu instrumen.
Disclaimer: Transaksi US Stocks mengandung risiko dan berpotensi menyebabkan kerugian. Kinerja suatu produk investasi saat ini atau di masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa datang. Informasi yang terkandung dalam tulisan/artikel ini merupakan opini yang disiapkan melalui proses riset pasar dan analisis internal perusahaan. Anda tetap berkewajiban untuk menganalisis setiap produk investasi untuk memastikan setiap keputusan investasi dan keputusan untuk menjual dan/atau membeli produk investasi adalah berdasarkan pertimbangan dan keputusan anda sendiri. Tulisan/artikel ini bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi. Kami tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk kerugian maupun keuntungan yang timbul dari pengambilan keputusan transaksi.
Profil Penulis

Financial Expert Ajaib
Miftahul Khaer merupakan Financial Expert di Ajaib yang memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam mengikuti perkembangan pasar saham Amerika Serikat. Ia menyajikan analisis dan edukasi mengenai saham AS, kondisi ekonomi global, serta strategi investasi yang membantu investor memahami peluang di pasar internasional.
Artikel Terkait





Artikel Populer
Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi
Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!