Investasi, Saham

Belajar dari Fenomena GameStop: Menyikapi Aksi Goreng Saham

Sumber: Kata Data

Ajaib.co.id – Fenomena GameStop diberitakan sebagai aksi investor ritel bersatu yang dapat mengalahkan bandar saham. Apakah benar demikian? Dari fenomena tersebut kita dapat belajar bagaimana cara cerdas dalam menyikapi aksi goreng saham.

Fenomena GameStop sangat menarik perhatian para investor dan pengamat ekonomi di dunia. Bagaimana tidak, harga saham GameStop melonjak hingga 8000% bahkan lebih dalam waktu enam bulan.

Bila pada awalnya harga saham perusahaan GameStop pada kisaran US$4/lembar saham, kemudian saham GameStop dapat mencapai harga kisaran US$400/lembar saham. 

Padahal, secara fundamental perusahaan justru GameStop sedang mengalami kesulitan. Perusahaan ini telah beberapa kali gagal untuk melakukan diversifikasi dan mengalami kendala keuangan. 

Untuk lebih jelasnya, mari kita kenali lebih dalam profil perusahaan GameStop dan peran market maker atau bandar saham dalam fenomena melonjaknya harga saham GameStop. Ketahui tips menyikapi aksi goreng saham agar dapat lebih bijak mengambil keputusan.

Profil Perusahaan GameStop dan Fenomena Lonjakan Harga Sahamnya

Profil perusahaan GameStop tidak banyak diketahui publik, khususnya di Indonesia. GameStop merupakan perusahaan ritel yang menjual produk-produk elektronik, video game, dan layanan nirkabel lainnya. Perusahaan yang berdiri pada Tahun 1984 ini memiliki kantor pusat di Dallas, Texas, Amerika Serikat.

Perusahaan GameStop mengoperasikan sekitar 6.457 toko ritel yang tersebar di Amerika Serikat, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Eropa. Selain toko dengan nama GameStop, ada juga toko dengan nama EB Games dan Micromania.

Perusahaan GameStop memiliki dua lini bisnis, yaitu bisnis video game dan bisnis teknologi. Bisnis video game yang dilakukan GameStop meliputi toko-toko pengecer video game dan elektronik, situs penyedia video game digital, serta distribusi elektronik.

Sedangkan bisnis teknologi GameStop baru dikembangkan sejak Tahun 2013 dengan mengelola Simply Mac, Spring Mobile, dan Aio Wireless.

Pendapatan utama GameStop mengandalkan penjualan peralatan game dan konsol konvensional di gerai toko yang dimilikinya. Tentu saja hal ini menjadikannya sulit bersaing pada era digital ini.

GameStop pernah menjual telepon seluler namun hasilnya tidak memuaskan. Selain itu, GameStop berusaha memperkenalkan konsol baru pada tahun lalu namun tidak dapat mengangkat pendapatan. Dilansir dari CNBC, pendapatan GameStop menurun hingga 18%.

Fenomena GameStop berawal dari aksi Ryan Cohen sebagai aktivis investor yang tertarik membantu GameStop. Beliau melihat ada potensi GameStop untuk melebarkan lini produk-produknya seperti di Amazon.

Tidak dapat dipungkiri bahwa melonjaknya harga saham GameStop hingga ribuan persen sampai awal Tahun 2021 merupakan aksi goreng saham yang dilakukan oleh market maker atau bandar saham.

Sebelumnya banyak media yang memberitakan bahwa ada gerakan investor ritel bersatu untuk mengalahkan bandar di saham GameStop. Banyak investor ritel yang berhasil meraih keuntungan dari naiknya harga saham GameStop.

Pada kenyataannya, selain investor ritel yang berhasil menjual saham GameStop pada harga tinggi, lebih banyak lagi jumlah investor institusi yang meraup keuntungan lebih banyak lagi. Bahkan market maker telah memiliki saham GameStop sejak harganya masih dibawah US$10 dan menjualnya di kisaran harga US$400. 

Dapat disimpulkan bahwa gerakan investor ritel bersatu pada fenomena GameStop juga merupakan bagian dari skenario aksi goreng saham yang dilakukan bandar. Oleh karena itu, investor ritel perlu lebih bijak dalam menyikapi fenomena seperti ini.

Tips Menyikapi Aksi Goreng Saham 

Fenomena GameStop dan aksi goreng saham yang dilakukan oleh market maker atau bandar saham dapat mendatangkan keuntungan jika disikapi dengan tepat. Sebaliknya, banyak investor ritel yang terjebak dan mengalami kerugian karena salah menyikapi fenomena tersebut.

Yang pertama perlu diketahui adalah profil risiko dan gaya investasi yang cocok bagi diri sendiri. Setiap investor memiliki profil risiko dan gaya investasi masing-masing. Kamu tidak perlu meniru keseluruhan gaya investasi orang lain.

Misalnya profil risiko kamu cenderung rendah-moderat. Pilihlah saham yang pergerakannya tidak terlalu agresif. Saham-saham seperti GameStop yang melonjak tinggi belum tentu cocok untukmu karena tentu ada kemungkinan koreksi lebih dalam.

Tips menyikapi aksi goreng saham selanjutnya adalah dengan mencari informasi yang relevan dari sumber terpercaya. Aksi goreng saham tentu tidak lepas dari banyaknya sentimen positif yang disebarluaskan agar para investor berbondong-bondong ingin memiliki suatu saham. 

Kamu perlu mencermati kebenaran berita-berita yang beredar agar tidak terjebak oleh iming-iming saham ‘busuk’. Kalau pun kamu tetap membeli saham tersebut, kamu perlu menentukan kapan waktu yang tepat untuk menjual saham tersebut sebelum harganya terjun bebas.

Jika kamu ingin meraih keuntungan dari trading saham ala bandar, maka kamu perlu memahami analisa bandarmologi. Kamu dapat mengikuti pergerakan bandar saham dari saham yang kamu amati.

Dengan mengikuti pergerakan dari market maker atau bandar saham, kamu tidak bertanya-tanya lagi apakah saham yang kamu miliki besok naik atau turun.. Kamu bisa melakukan analisa bandarmologi untuk mengetahui aksi bandar yang sedang berlangsung. Misalnya ketika bandar sedang melakukan akumulasi, kamu bisa melakukan akumulasi. Kamu juga sebaiknya menjual saham ketika bandar melakukan distribusi.

Sebaiknya kamu tidak mudah terbujuk oleh aksi pompom yang dilakukan influencer dan ajakan untuk membeli atau menjual saham di grup-grup investor ritel. Selalu lakukan analisa dan ambil keputusan sendiri untuk setiap aksi beli maupun jual yang kamu lakukan.

Uangmu adalah tanggung jawabmu. Kamu tidak dapat menyalahkan orang lain atas kerugian yang kamu tanggung akibat dari salah menempatkan investasi. Oleh karena itu, kamu perlu bijak menyikapi aksi goreng saham seperti fenomena GameStop.

Artikel Terkait