Analisa Saham

Analisa Saham PRAS 2021, Ternyata Masih Suram!

Saham PRAS
Saham PRAS

Ajaib.co.id – PT Prima Alloy Steel Universal Tbk (berkode saham: PRAS) berdiri tanggal 20 Februari 1984. Dua tahun kemudian, PRAS memulai kegiatan usaha komersialnya. Lokasi kantor pusat dan pabriknya berada di Sidoarjo, Jawa Timur.

Bidang usaha PRAS meliputi industri rim, stabilizer, velg aluminium dan peralatan lain dari alloy aluminium serta baja. Bidang usaha PRAS juga mencakup perdagangan umum untuk produk-produk tersebut.

Untuk velg, produk-produk PRAS adalah velg kendaraan bermotor roda empat (dengan merek dagang Panther, PCW, Devino, Akuza, Incubus, Ballistic, Menzari, dan Viscera). Produk-produk tersebut terbuat dari bahan aluminium alloy yang umumnya dikenal sebagai velg racing atau aluminium alloy wheels.

Pada awal kegiatan komersialnya di tahun 1986, PRAS memproduksi sekitar 6.000 unit velg. PRAS berdiri di atas tanah dengan luas 60 ribu m2 dan luas bangunan 45 ribu m2. Pada tahun 2002, kawasan tersebut telah menjadi Kawasan Berikat.

Pada tahun 1990, PRAS melakukan penawaran saham perdana dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Penawaran saham perdana kepada publik ini diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi serta memperbanyak varian produk.

Saat ini, PRAS memiliki kapasitas produksi 100 ribu unit per bulan. Ukuran velg yang diproduksi mulai diameter 13 inci hingga 24 inci.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Kinerja PRAS dalam kurun waktu kurang-lebih setahun terakhir terbilang negatif. Hal ini, misalnya, terlihat pada komponen penjualan dan pendapatan usaha. Pada periode Januari–September 2020, penjualan dan pendapatan usaha PRAS tercatat Rp207,3 miliar. Angka ini lebih kecil dibandingkan sembilan bulan pertama tahun sebelumnya yang tercatat Rp300,2 miliar.

 Komponen Laba September 2019 September 2020
Penjualan dan pendapatan usaha Rp300,2 miliar Rp207,3 miliar
Laba (rugi) Rp1,5 miliar (Rp6,6 miliar)
Beban pokok penjualan dan pendapatan (Rp239,3 miliar) (Rp176,6 miliar)
Liabilitas Rp1,0 triliun Rp1,1 triliun
Ekuitas Rp645,7 miliar Rp542 miliar

Penurunan lebih tajam terlihat pada laba perusahaan. Pada periode Januari–September 2019, PRAS masih mengantongi laba sebesar Rp1,5 miliar. Namun, periode sama setahun berkutnya justru rugi sebesar Rp6,6 miliar.Sementara itu, liabilitas PRAS dari periode Januari–September 2019 ke Januari–September 2020 bertambah sekitar Rp1 miliar.

3. Riwayat Kinerja

Kinerja PRAS cukup fluktuatif dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan bersih PRAS pada tahun 2018, misalnya, lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2017.

Namun, penjualan bersih PRAS merosot di tahun 2019. Bahkan, laba bersih PRAS meningkat signifikan dalam rentang tahun 2017–2019. Secara umum, kinerja PRAS tahun 2017–2019 tak mengesankan. Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sejumlah komponen kinerja PRAS periode 2017 hingga 2019:

Komponen CAGR 2017-2019
Penjualan bersih -2,2%
Laba (rugi) bersih -169,8%
Jumlah aset 7,4%
Total Liabilitas 16,8%

Pada kurun waktu tahun 2017–2019, PRAS justru mencatat kerugian yang makin besar hingga 169%. Namun, bukan berarti tidak ada catatan positif. Pada periode tahun yang sama, aset PRAS bertambah 7,4%. Sayangnya, liabilitas PRAS juga bertambah.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Tidak ada catatan yang bisa diaksek publik mengenai pembagian saham PRAS. Hal ini bisa menjadi preseden buruk bagi para pemegang saham.

Tahun Dividen per Saham Jumlah yang dibayarkan (miliar)
2017
2018
2019

Prospek Bisnis PRAS

Penjualan PRAS selama tahun 2019 menurun sekitar 40%. Penjualan tahun berikutnya pun tak menggembirakan.

Hal ini tak terlepas dari kondisi global, khususnya yang berimbas pada industri otomotif. Pada tahun 2019, misalnya, Bank Dunia dalam rilisnya menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,4%. Artinya, terjadi perlambatan bila dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 3%. Ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa justru lebih lambat lagi.

Perlambatan itu disebabkan “melambatnya” kegiatan investasi global dan terjadinya ketegangan serta konflik perdagangan antara AS dan Cina.

Kondisi perlambatan di atas juga berimplikasi terhadap penjualan mobil. Pada tahun 2019, terjadi gangguan faktor produksi yang menyebabkan performa PRAS tidak maksimal. Hal ini berdampak pada kelancaran produksi maupun penjualan. Kondisi ini sangat berpengaruh pada operasional PRAS secara keseluruhan.

Sebenarnya, tak hanya PRAS yang mengalami penurunan kinerja. Sebagian besar saham emiten otomotif mengalami hal serupa. Emiten-emiten otomotif dilego pelaku pasar karena lesunya permintaan.

Kondisi pada industri otomotif ini tak hanya terjadi pada tahun 2019 atau 2020. Namun, kondisi ini sudah berlangsung kurang-lebih selama lima hingga enam tahun ke belakang. Dalam kurun waktu lima sampai enam tahun terakhir, volume penjualan mobil di Indonesia terkontraksi alias minus hingga di atas 2%.

Pemberian insentif Pemerintah terhadap industri otomotif diharapkan membawa ‘angin segar’. Begitu pula dengan program vaksinasi Covid-19. Meski begitu, dampak konkretnya baru akan terlihat dalam beberapa waktu ke depan.

Selagi menunggu realisasi dampak konkret kedua hal di atas, maka saham NIPS masih akan sulit bangkit dari kinerja buruknya dalam satu sampai dua tahun ke belakang.

Harga Saham

Pada 30 April 2021, data saham NIPS tercatat sevagai berikut:

Volume: 200

Bid/Ask: 138,00/147,00

Rentang Harian: 138,00 – 147,00

Penutupan Sebelumnya: 147

Rentang Harian: 138 – 147

Pendapatan: 207,35B

Pembukaan: 147

Rentang 52 mgg: 103 – 190

EPS: -77,77

Market Cap: 96,74B

Dari data di atas, rekomendasi saham NIPS adalah jual.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait