Analisa Saham, Saham

Saham IMAS, Salah Satu Emiten Otomotif Grup Salim

Sumber: Indomobil

Ajaib.co.id – Pandemi COVID-19 sempat membuat penjualan kendaraan anjlok 89% di kuartal I-2020, penggiat industri otomotif dibuat prihatin karenanya. Penjualan mobil bekas pun sempat berada di level siap rugi banyak. Pembatasan sosial menanggapi penyebaran virus COVID-19 membuat kondisi investasi dan konsumsi benar-benar tidak kondusif.

Tak menunggu lama, Kementrian Perindustrian gerak cepat dengan mengusulkan pemangkasan pajak kendaraan bermotor (PKB) atas penjualan mobil baru menjadi 0% kepada Kementrian Keuangan. Sebelumnya pembelian mobil baru akan dikenakan pajak sebesar 10-25 persen.

Kebijakan ini diusulkan pertama kali pada Rabu, 16 September 2020 lalu. Pasar saham merepon dengan naiknya saham-saham otomotif seperti misalnya saham PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) yang naik 6,45 persen di tanggal 16 September 2020. 

PPnBM adalah salah satu hal yang mempengaruhi harga jual mobil baru. Bagi konsumen, pemangkasan pajak kendaraan akan menguntungkan karena menurunkan harga jual mobil baru dan dengan demikian diprediksi akan membuat penjualan mobil kembali bergairah.

Pengumuman pemberlakuan peraturan ini akan disahkan pada 1 Maret 2021 dan telah ramai diperbincangkan di berbagai forum saham sejak Senin, 15 Februari 2021. Belum jelas apakah PPnBM yang baru akan menjadi 0% atau hanya didiskon saja namun layaknya gayung bersambut, pasar cukup antusias sejauh ini.

Alhasil 9 dari 13 saham emiten otomotif dan komponen otomotif naik di tanggal 15 Februari 2021. Saham PT Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) naik 22 persen hampir menyentuh batas auto reject atas di hari yang sama.  

IMAS sendiri telah bergejolak terutama sejak November 2020. Di bawah ini terdapat grafik saham IMAS yang bersejajaran dengan sektor Aneka Industri (Miscellaneous).

Jadi selama setengah tahun terakhir saham IMAS telah berfluktuasi lebih kencang daripada sektor aneka industri yang memayungi saham-saham dari sub-sektor otomotif dan komponen otomotif seperti IMAS.

Selama setahun terakhir volume transaksi saham IMAS paling tinggi terjadi di bulan November 2020.

Mundur sedikit ke belakang, pada Rabu tanggal 25 November 2020, IMAS naik 25% dari Rp940 ke Rp1175 per lembar saham. Kenaikan ini terjadi setelah IMAS mengumumkan keberhasilannya merampungkan penambahan kepemilikan sahamnya di PT Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI) menjadi 75%.

Jadi selain terdapat katalis dari industrinya, IMAS juga ternyata memiliki sentimen lain yang datang dari aksi korporasi akusisinya atas saham Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI). Secara penjualan kinerja Nissan dapat dikatakan buruk dengan tren turun yang signifikan dari waktu ke waktu.

Data dikurasi oleh Bisnis Otomotif dari Gaikindo

Data dari Gaikondo menunjukkan bahwa penjualan Nissan sejak 2012 memang terus menurun ditambah dengan merebaknya virus COVID-19 di tanah air.

Bahkan di bulan September 2020 Nissan hanya sanggup membukukan penjualan wholesale sebanyak 37 unit saja, terendah dibandingkan merek-merek lain.

Data dikurasi oleh Bisnis Otomotif dari Gaikindo

Kamu bisa lihat bahwa penjualan Nissan adalah yang terendah dibandingkan dengan merek-merek lainnya di tahun 2020.

Namun Grup Salim terus-terusan membuat IMAS mengoleksi lebih banyak saham Nissan di tahun 2020 meski kinerja Nissan terus melemah bahkan tutup pabrik pada Mei 2020.

Berikut pembahasan emiten PT Indomobil Sukses Internasional berikut kronologis singkat mengenai penguasaan Nissan oleh IMAS.

Profil Emiten

Indomobil Sukses Internasional Tbk (IMAS) adalah perusahaan otomotif afiliasi dari konglomerat Grup Salim. Aktivitas bisnisnya meliputi perakitan dan pendistribusian mobil, bus, truk dan alat berat, serta komponen terkait hingga layanan purna jual dan penyewaan mobil dan distribusi suku cadang Indo Parts.

Merek-merek di bawah naungan IMAS diantaranya Audi, Datsun, Foton, Hino, Kalmar, Manitou, Nissan, Truk Renault, Suzuki, Truk Volvo dan Foton. Pendapatan IMAS utamanya berasal dari beberapa merek saja seperti Nissan dan Hino.

Indomobil didirikan pada tahun 1987 dan IPO di tahun 1993. Dengan jumlah saham beredar sebanyak 3.994.291.039 lembar di harga terakhir per 15 Februari yaitu sebesar Rp1365 per lembar saham maka kapitalisasi pasar saham IMAS adalah Rp 5,45 Triliun.

Untuk sekarang Gallant Venture Ltd adalah pemegang mayoritas saham IMAS dengan menguasai sekitar 49,49% saham beredar. Selanjutnya 22% saham IMAS dipegang oleh PT Sejahtera Raya Perkasa. PT Tritunggal Intipermata mempunyai 18,17% saham IMAS. Sisanya 10,34% dipegang oleh masyarakat.

Sebagai informasi Gallant Venture Ltd adalah perusahaan asal Singapura yang dimiliki oleh gabungan konglomerat Asia Tenggara yaitu Salim Group, Parallax Group, SembCorp dan Ascendas Group. Gallant adalah perusahaan investasi di berbagai perusahaan dengan beragam kegiatan usaha mulai dari pariwisata, properti, pertambangan, otomotif dan lainnya.

Anthoni Salim yang merupakan bagian dari Grup Salim menguasai 90% saham PT Tritunggal Intipermata (TIP) yang juga menguasai 18,17% saham IMAS. Jika digabungkan, kepemilikan saham Gallant dan TIP, maka total saham yang dikuasai oleh grup Salim adalah sebesar 67,77%.

Sedangkan PT Sejahtera Raya Perkasa (SRP) menguasai 22% saham IMAS dengan cara membeli dari Pieter Tanuri yang menjual semua saham IMAS miliknya. Melalui PT Bina Raya Perkasa (BRP) miliknya, Pieter menjual 878.562.566 saham IMAS di harga Rp892/saham kepada SRP pada 1 Oktober 2020.

Usut punya usut Direktur SRP adalah Evensius Go yang juga merupakan salah satu Direktur IMAS sejak Juni 2014. Evensius Go kini juga menjabat sebagai komisaris atau direktur di beberapa anak usaha IMAS.

Review Laporan Keuangan Terakhir

Berdasarkan laporan keuangan terakhir yaitu kuartal III-2020 pendapatan IMAS turun 23,42% menjadi Rp11,28 triliun. Namun beban pokok pendapatan juga menyusut sebesar 26,97% menjadi Rp 8,69 triliun dibandingkan dengan di kuartal III-2019 yakni Rp11,90 triliun. Dengan demikian laba kotor tidak drop terlalu parah, hanya turun sebesar 8,48% saja, menjadi Rp2,59 triliun.

Beban-beban lainnya yaitu beban penjualan menurun 5,19% ke Rp954,91 miliar. Sedangkan beban umum dan administrasi naik 5,30% menjadi Rp1,39 triliun. Beban keuangan juga naik 3,41% menjadi Rp1,21 triliun. Penambahan kas datang dari operasi lain sebanyak Rp359,78 miliar.

Setelah semua beban dan pendapatan lainnya, IMAS berakhir dalam keadaan rugi bersih Rp467,24 miliar per kuartal III-2020. Sebelumnya di periode yang sama tahun 2019 IMAS mencatatkan laba bersih Rp328,31 miliar. Berikut ringkasan kinerja IMAS di kuartal III-2020.

Komponen Laba Kuartal III-2019 Kuartal III-2020
Pendapatan Rp13,92 triliun Rp11,28 triliun
Beban pokok
pendapatan
Rp11,90 triliun Rp 8,69 triliun
Laba Kotor Rp2,80 triliun Rp2,59 triliun
Laba/Rugi Bersih Laba bersih Rp328,31 miliar Rugi bersih Rp467,24 miliar

Review Kinerja

Sumber: Lembar Saham

Aset IMAS terus meningkat setiap tahun namun didominasi oleh liabilitas. Di tahun fiskal 2019, dari Rp44,7 Triliun aset sebanyak Rp35,3 triliun asetnya berbentuk utang.  

Sumber: Lembar Saham

Penjualan yang dibukukan oleh IMAS berada di kisaran Rp15 triliun hingga Rp19,5 triliun berfluktuasi naik-turun setiap tahun. Beban pokok IMAS cukup besar setiap tahunnya yakni sekitar 81% hingga 87%, menyisakan laba kotor yang mini yaitu sekitar 11-13% saja setiap tahunnya. Laba bersihnya lebih kecil lagi yaitu hanya 0,56% hingga 0,6% saja setiap tahunnya.

Sumber: Lembar Saham

Sejak 2017 kas operasional IMAS negatif terus. Kas operasional emiten tahun 2017 adalah -601,61 Miliar. Membengkak menjadi -2,24 Triliun di tahun 2018, sedikit membaik di tahun 2019 menjadi -615 miliar saja.

Sumber: Lembar Saham

Meski laba datang dan pergi, IMAS tetap rutin membagikan dividen. Sebelum tahun 2018 emiten membukukan rugi bersih namun masih membagikan dividen dengan besar yang tidak tetap. Kisaran dividen yang dibagikan adalah sebesar Rp10 sampai Rp22 per lembar saham.   

Sumber: Lembar Saham

Semakin tahun rasio utang terhadap ekuitas IMAS semakin besar saja, di tahun 2019 utangnya mencapai 3,8x lipat ekuitas. Tak mengherankan, dengan arus kas operasional yang terus-menerus negatif pasti sulit bertahan jika tidak menambah modal dengan cara menambah utang.

Prospek

Kamu bisa perhatikan bahwa saham IMAS bisa merangkak naik karena didorong oleh pemerintah berupa relaksasi PPnBM (Pajak Pembelian Barang Mewah) dan perihal akuisisi 75% saham PT Nissan Motor Distributor Indonesia oleh IMAS.

  • Prospek yang Datang dari PPnBM

PPnBM selama ini telah menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi harga jual mobil baru. Jika sebelumnya pembelian mobil baru dikenakan pajak sebesar 10-25 persen maka kali ini tarif PPnBM akan diturunkan atau bahkan dibebaskan sama sekali. Dengan begitu harga mobil baru diprediksi akan menurun dan akan memicu kenaikan penjualan. 

Teknisnya diungkapkan oleh Airlangga Hartanto selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian bahwa penurunan tarif PPnBM akan dikenakan pada kendaraan di bawah 1500 cc seperti sedan dan 4×2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 70%.

Kebijakan ini berlaku mulai 1 Maret 2021 selama Sembilan bulan ke depan. Insentif akan diberikan sebesar 100 persen di tahap pertama, 50 persen di tahap kedua, dan 25 persen di tahap ketiga.

  • Prospek yang Datang dari Aksi Korporasi Akuisisi

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III-2020, manajemen IMAS melaporkan anak usahanya yaitu IMG Sejahtera Langgeng (IMGSL) atas penguasaan 257.166 saham Nissan Motor Distributor Indonesia (NMDI) dari Nissan Motor Co., Ltd. (NML).

Kesepakatan jual-beli tersebut diteken di bulan September dan berlaku efektif pada 3 November 2020. Dengan begitu kepemilikan IMGSL di NMDI meningkat menjadi 75%. Kini NML masih menguasai sebesar 25% saham NMDI.

Akuisisi ini dibahas cukup serius karena berhasil menggerakkan saham IMAS cukup kencang ke utara sejak 25 November 2020. Dan juga Nissan selama ini adalah salah satu kontributor pendapatan utama bagi IMAS.

Akumulasi saham NMDI oleh IMAS melalui anak usahanya bisa dibilang cukup membingungkan. Penjualan produk Nissan sejak 2012 terus menurun dan Gaikindo melaporkan bahwa penjualan wholesale Nissan di bulan September 2020 hanya 37 unit saja, paling rendah dibandingkan merek-merek lain.

Jusak Kertowidjojo selaku Direktur Utama IMAS sudah menyadari ini dari jauh-jauh hari.

“Sudah beberapa tahun Nissan Motor Indonesia menderita kerugian. Dan perseroan sudah tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap Entitas Asosiasi. Entitas Asosiasi yang mengalami kerugian ini membebani Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Konsolidasian Perseroan secara keseluruhan. Hal ini mengurangi kinerja perseroan untuk meningkatkan keuntungan. Kemudian selanjutnya, berdampak terhadap kemampuan perseroan untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham,” demikian pernyataan resmi yang ditandatangani Jusak Kertowidjojo selaku Direktur Utama IMAS pada tahun 2018.

IMAS, di bawah kepemimpinan Jusak, kemudian menjual sebanyak 5,1% saham NMDI milik anak usaha IMAS yaitu IMGSL pada 3 Oktober 2018 karena skala bisnis Nissan dianggap kurang menguntungkan.

Saat itu yang menjadi pembeli adalah afiliasi IMAS sendiri yakni PT Tritunggal Intipermata (TIP). Sebagai pengingat, Anthoni Salim adalah pemilik dari 90% saham TIP. Dan TIP menguasai 18,17% saham IMAS.

Transaksi afiliasi ini menandakan bahwa Grup Salim sendiri tidak ingin melepas Nissan. Manajemen IMAS, diwakili oleh pernyataan Dirut IMAS, manajemen sadar betul bahwa Nissan akan mencederai kinerja IMAS. Oleh karenanya porsi kepemilikan saham NMDI mulai dikurangi sejak 2018.

Namun Anthoni Salim melalui perusahaannya, TIP, seperti tidak mau kehilangan Nissan. Oleh karena itu penjualan 5,1% saham NMDI sebesar Rp135 miliar pada 2018 oleh IMAS diserap langsung oleh TIP. 

Cintanya Grup Salim kepada Nissan makin jelas setelah November 2021 menyatakan bahwa IMAS telah menguasai 75% saham NMDI yang dibelinya dari NMI.  

Jika pada tahun 2018 IMAS menguasai 20% saham NMDI, 25,1% dikurangi 5,1%, kini di tahun 2021 kepemilikan saham NMDI oleh IMAS menjadi sebesar 74,99% atau dibulatkan 75%. Padahal penjualan Nissan semakin buruk saja sejauh ini.

Sebagai informasi saja Nissan sudah menutup pabriknya di Indonesia pada 28 Mei 2020.  Meski begitu IMAS malah menandatangani nota kesepahaman kemitraan strategis dengan Nissan Motor Co. Ltd. (Nissan) untuk memperkuat merek Nissan di pasar otomotif Indonesia pada Agustus 2020.

Isao Sekiguchi, Presiden Direktur Nissan di Indonesia, menyatakan akan berfokus pada strategi penjualan yang diberi judul Nissan Next untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Sayangnya sejauh ini peruntungan Nissan di Indonesia seperti kurang bagus, hanya ada pertumbuhan negatif saja sejak 2012.

Menyikapi akuisisi besar-besaran Nissan oleh IMAS, Jusak Kertowidjojo selaku Presiden Direktur Indomobil di tahun 2020 memberikan pernyataan netral.

“Hubungan kami dan Nissan dibangun berdasarkan rasa saling menghormati dan nilai-nilai bersama. Kolaborasi yang lebih dalam dengan Nissan akan membuka peluang besar untuk memperkuat pelayanan kami demi kepentingan pelanggan dan mitra bisnis”, ujar Jusak Kertowidjojo, Presiden Direktur dan CEO Indomobil Group pada Agustus 2020.

Sulit rasanya membayangkan kinerja baik datang dari NMDI yang sudah satu dekade membukukan penurunan penjualan. Apalagi Nissan sudah menutup pabriknya di Indonesia sejak Mei 2020.

Penutup

Bucinnya Grup Salim terhadap Nissan sejatinya dapat dipahami, penjualan Nissan adalah salah satu kontributor pendapatan terbesar bagi IMAS. Pendapatan IMAS di pulau Jawa di kuartal III-2020 adalah sebesar Rp3,65 triliun, sebanyak Rp892,99 miliar atau sepertiga pendapatan IMAS datang dari Nissan.

Oleh karenanya IMAS terus menambah kepemilikannya atas saham Nissan Motor Disributor Indonesia. Namun penjualan Nissan di dalam negeri yang terus menurun setiap tahun menandakan ada yang salah dengan strategi penjualan Nissan sehingga kurang begitu digemari dan kalah dengan merek lain di Indonesia.

Mengingat Nissan memberikan porsi pendapatan yang besar bagi emiten, jika penjualan Nissan terus menurun di tahun-tahun berikutnya tentu prospek IMAS akan kurang baik ke depannya.

Untuk jangka pendek, kita bisa berharap pada PPnBM yang diharapkan bisa mem-boosting penjualan di tahun 2021.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Sumber: Indomobil Group Dominasi Saham Nissan di Indonesia, Indomobil Caplok Mayoritas Saham Nissan Indonesia, Nissan Perkuat Kolaborasi dengan Indomobil Group di Indonesia, Tutup Pabrik, Nissan Pastikan Tak Hengkang dari Indonesia, Indomobil Sukses Internasional (IMAS) Divestasi 5,1% Saham Nissan Motor Indonesia, Performa Nissan Melorot Terus, Indomobil Lepas Saham Sebesar 5,1 Persen, Kemenkeu Setuju, Ini Alasan Mobil di Bawah 1.500 cc Dapat Diskon Pajak, dan Saham IMAS Melonjak usai Caplok Distributor Nissan, Bagaimana Tren Penjualannya?, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait