Analisa Saham

Siap Hadapi Tantangan di 2021, Ini Analisis Saham MIDI

Ajaib.co.id – PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) awal berdiri dengan nama PT Midimart Utama pada 28 Juni 2007. Perusahaan kemudian memulai beroperasi secara komersial pada tahun 2007.

Berdasarkan dokumen Anggaran Dasar Perusahaan, tercatat ruang lingkup kegiatan perseroan. Di antaranya bergerak dalam bidang perdagangan umum termasuk perdagangan toserba/swalayan dan minimarket.

Aktivitas bisnis utama MIDI yakni, dalam bidang perdagangan eceran untuk produk konsumen. Dilakukan melalui pengoperasian jaringan minimarket bernama Alfamidi, Alfaexpress. Kemudian dari tahun 2011 MIDI mulai mengembangkan jaringan convenience store dengan nama Lawson.

Saat ini jumlah gerai yang dimiliki MIDI sudah mencapai 1.063 gerai. Gerai-gerai tersebut terdiri dari 1.023 gerai Alfamidi, 38 gerai Lawson, tidak ada gerai Alfaexpress dan dua gerai Alfasupermarket.

Gerai-gerai yang ada ini tersebar di beberapa kota besar di Indonesia. Seperti di Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, Bekasi, Surabaya, Malang, Denpasar, Makassar, Medan dan Samarinda.

Pada 15 November 2010, MIDI mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK. Pernyataan ini untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham MIDI (IPO) kepada masyarakat sebanyak 432.353.000 dengan nilai nominal Rp100 per saham saham dengan harga penawaran Rp275 per saham. Saham MIDI tersebut pun dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 30 November 2010.

Apakah saham MIDI masih layak dikoleksi? Bagaimana keadaan fundamental perusahaan saat ini dan apa rencana bisnis yang akan dilakukan? Mari kita bedah kinerja saham MIDI

Laba Bersih MIDI Turun Tipis di 2020

Mengutip dari cnbcindonesia.com, anak usaha dari Sumber Alfaria ini alias PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) membukukan perolehan laba bersih sebesar Rp200,27 miliar. Capaian laba ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya Rp203,06 miliar atau terkoreksi tipis 1,37% year on year.

Adapun untuk pendapatan MIDI sepanjang tahun 2020 lalu tercatat sebesar Rp12,65 triliun. Pendapatan di 2020 terhitung naik 8,89% dari tahun sebelumnya Rp11,62 triliun.

Seiring dengan kenaikan pendapatan, untuk beban pokok MIDI meningkat jadi Rp9,50 triliun dari sebelumnya Rp8,71 triliun. Maka laba bruto MIDI menjadi Rp3,15 triliun dari sebelumnya Rp 2,90 triliun. Dari sini bisa terlihat jika perusahaan belum mampu menekan efisiensi atau perusahaan sengaja memperkecil margin keuntungan.

Bisnis MIDI Meroket di 3 Tahun Terakhir

Sebelum adanya kondisi pandemi, bisnis MIDI baik dari penjualan dan laba bersih memang sudah mencatatkan peningkatan sejak tahun buku 2017 hingga 2019. Sebelum mengalami penurunan laba bersih pada 2020 lalu.

Berikut data ikhtisar keuangan yang diambil dari informasi finansial perseroan (dalam jutaan rupiah):

Dari data tersebut, secara penjualan MIDI memang terus mengalami peningkatan per tahunnya. Hal yang sama pun terjadi pada perolehan laba bersih.

Dilansir dari bisnis.com, MIDI membukukan kinerja perusahaan yang cemerlang selama tahun 2019. Laporan keuangan tahunan per 31 Desember 2019, mencatat MIDI membukukan laba bersih sebesar Rp203,06 miliar, naik 27,59% bila dibandingkan 2018 sebesar Rp159,15 miliar.

Alhasil, laba per saham atau earning per share yang dapat dibagikan perseroan untuk tahun buku 2019 sebesar Rp70,45. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp55,22.

Dikaji secara umum, kinerja pendapatan MIDI tumbuh 8,63% menjadi Rp11,62 triliun pada tahun 2019. Adapun lini bisnis yang memberikan kontribusi tersebut di antaranya, segmen makanan menyumbang besar terhadap penjualan perseroan yakni sebesar 58,18%, kemudian segmen minuman sebesar 28,56% dan diikuti dengan segmen makanan segar sebesar 13,26% dari total omzet.

Sementara dari sisi geografis, penjualan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, dan Bekasi (Jabodetabek) berkontribusi pada pendapatan terbesar bagi perseroan yaitu mencapai 55,33%. Kemudian diikuti oleh luar Jawa sebesar 31,15% dan daerah Jawa luar Jabodetabek sebesar 13,52%.

Kendati demikian, perusahaan harus menanggung tingginya beban pokok penjualan yang naik sebesar 8,65% menjadi Rp8,72 triliun. Kemudian ada beban penjualan dan distribusi yang meningkat 8,02% menjadi Rp2,38 triliun.

Jika dilihat dari rasio keuangannya memang kondisi bisnis MIDI saat ini terhitung masih sedang sehat. Berikut data yang diambil dari ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 dari informasi finansial perseroan:

Bagaimana Prospek Bisnis MPPA ke Depannya? Apakah Sahamnya Layak Dikoleksi?

Mengutip dari kontan.co.id, adanya pandemi Covid-19 ini telah memaksa masyarakat lebih selektif dalam memenuhi kebutuhannya. Corporate Secretary Midi Utama Indonesia Suantopo Po mengatakan, Midi telah melakukan inovasi dengan menciptakan strategi pemasaran kekinian. Dengan tujuan untuk meningkatkan jumlah pelanggan yang berbelanja di gerai Alfamidi.

Strategi tersebut dilalukan dengan menyelenggarakan promo seperti program Semarak Awal Tahun yang berhadiah 20 unit motor, Program Rejeki 13 Tahun Alfamidi yang hadiahnya berupa uang tunai dan ribuan voucher belanja serta program Belanja di Alfamidi bawa Pulang Sepeda Brompton.

Selain itu, perusahaan juga menggenjot penjualan siap antar dengan nama program Midi Kriing. Hal ini untuk memudahkan masyarakat dalam berbelanja di gerai-gerai Alfamidi tanpa harus keluar rumah.

Pihaknya juga mengutarakan optimismenya bahwa ekonomi tahun 2021 masih dapat tumbuh sekitar 5% seperti yang telah dirilis oleh AC Nielson. Sehingga berpengaruh pada bisnis ritelnya.

Untuk pembagian dividen kepada investor, perusahaan memberikannya di 3 tahun terakhir yakni 2017 hingga 2019. Dengan rincian Rp10,7 di 2017, Rp16,6 di 2018, dan Rp21,2 di 2019. Sementara itu, untuk di 2020 berdasarkan data RTI perusahaan belum terinformasikan membagikan dividen.

Dilihat dari fundamental perusahaan, MIDI terhitung masih sehat. Untuk bisnis pada 2020 saja saat pandemi Covid-19 merebak untuk penjualan meningkat meski dari sisi laba bersih ada penurunan tipis. Saham ini masih layak untuk dikoleksi.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait