Analisa Saham, Saham

Saham YPAS: Butuh Kesabaran dan Analisis yang Matang

Ajaib.co.id – PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri anyaman plastik. Perusahaan berkode saham YPAS ini memulai bisnis secara komersial pada tahun 1997 yang memproduksi woven polypropylene bag, resin bag, jumbo bag, block bottom bag, cement bag, serta plastic pallet.

Produksi yang dihasilkan menjadi beberapa jenis seperti kantong plastik, tas semen, lembaran gulung, lembaran sandwich, kain tenun, dan masih banyak lainnya. YPAS memiliki pabrik yang berlokasi di wilayah Sidoarjo. Saham YPAS mulai diperdagangkan melalui bursa saham pada tahun 2008 dengan harga penawaran sebesar Rp545 per lembar saham.

Mayoritas kepemilikan saham dipegang oleh PT Hastagraha Bumipersada dengan jumlah 89,47 persen. Saat ini pergerakan harga saham YPAS tengah melemah di angka Rp460 per lembar saham pada penutupan perdagangan 16 April 2021. Lalu, apakah saham YPAS layak untuk dikoleksi? Bagaimana dengan keadaan fundamental perusahaan dan rencana bisnis apa yang akan dilakukan tahun ini? Yuk, kita bedah kinerja saham YPAS

Alihkan Produksi Kantong Semen ke Karung Industri, Bisnis YPAS Catatkan Laba Hingga Akhir Tahun 2020

Bisnis yang harus terdampak masa pandemi COVID-19 bukan menjadi halangan bagi YPAS untuk terus bertahan. Hal ini dibuktikan dengan strategi yang digunakan perseroan dengan mengalihkan produksi kantong semen menjadi karung untuk segmen industri. Strategi tersebut membuahkan hasil seiring dengan permintaan yang terus meningkat hingga 10 persen di masa pandemi.

Permintaan kemasan untuk produk beras dan semen membuat YPAS mampu mencatatkan laba bersih hingga Rp8,33 miliar di tahun 2020 yang meningkat dari tahun 2019 sebesar Rp3,48 miliar. Di sisi lain, pendapatan YPAS mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya dari Rp388,11 miliar menjadi Rp303,20 miliar.

Walaupun begitu, hal tersebut masih wajar bagi pergerakan bisnis YPAS di masa pandemi yang masih bisa mencatatkan laba. Mengingat, banyak emiten yang harus mencatatkan kerugian pada bisnis mereka di tahun 2020.

Bisnis YPAS Terus Catatkan Kerugian Dalam 5 Tahun Terakhir

Mengacu pada kinerja keuangan PT Yanaprima Hastapersada Tbk, dapat dilihat jika perseroan terus mencatatkan kerugian hingga tahun 2018. Sementara di tahun 2019, bisnis YPAS mulai catatkan laba bersih. Adapun data ikhtisar keuangan berdasarkan informasi finansial perseroan yang dapat dilihat berikut ini (dalam miliar rupiah):

Laporan Laba Rugi20192018201720162015
Pendapatan bersih388.118412.833302.591278.331277.402
Laba kotor39.27930.06617.70220.09721.712
Laba rugi tahun berjalan3.488 -9.041-14.500-10.932-9.880

Terlepas dari kinerja di masa pandemi yang positif, justru jika dilihat dalam 5 tahun terakhir kinerja keuangan YPAS tampak negatif dengan catatan kerugian dalam 4 tahun berturut-turut di tahun 2015 hingga 2018. Lalu, di tahun 2019 YPAS mulai catatkan laba bersih yang dapat diraih. Di satu sisi, pendapatan YPAS dalam 5 tahun terakhir justru mengalami peningkatan, namun di tahun 2019 harus turun.

Hal ini berarti ada faktor-faktor yang menyebabkan perseroan harus mencatatkan kerugian dalam 4 tahun berturut-turut. Pada dasarnya, beberapa faktor yang menyebabkan catatan kerugian bagi perseroan adalah beban biaya yang meningkat, permasalahan internal upah karyawan, hingga kelesuan penjualan karena persaingan pihak asing.

Hal tersebut meliputi bahan baku yang cenderung variatif di angka 1.050 USD hingga 1.200 USD per metrik ton. Lalu, permasalahan internal berupa upah karyawan atau UMR terjadi perbedaan pada area pabrik sehingga daya saing perusahaan dengan merek lain mulai menurun. Gaji untuk karyawan pabrik saham YPAS yang berada di Jawa Timur dinilai cukup membebani jika dibanding pesaing dengan pabrik di Jawa Tengah.

Di mana, hal tersebut menyebabkan beberapa biaya YPAS harus meningkat sehingga mempengaruhi catatan kerugian. Selain itu, kelemahan penjualan karena pihak asing salah satunya ketika produsen asal Vietnam dan China mulai membanjiri pasar karung plastik maupun kantong semen. Oleh karena itu, beberapa faktor tersebut memberikan pengaruh yang cukup besar bagi kelangsungan bisnis YPAS dalam 5 tahun terakhir.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan rasio keuangan bisnis MPPA khususnya di tahun 2019, memang sedang dalam kondisi yang cukup sehat. Berikut data berdasarkan ikhtisar keuangan untuk tahun buku 2019 melalui informasi finansial perseroan:

Rasio2019
ROA2,4%
ROE2,9%
NPM0,9%
CR155,6%
DER129%

Apakah Saham YPAS Layak untuk Dikoleksi? Ketahui Melalui Prospek Bisnis Ke Depannya 

Untuk menilai kelayakan dari saham YPAS, rencana bisnis bisa menjadi salah satu pertimbangan utama. Apalagi jika kinerja keuangan memang sedang tidak sehat, namun bukan berarti saham YPAS tidak layak untuk dikoleksi. Memasuki tahun 2021, rencana bisnis PT Yanaprima Hastapersada Tbk sendiri masih memperhatikan tren harga minyak mentah dunia yang sedang mengalami kenaikan.

Mengingat harga minyak mentah dunia tentu cukup mempengaruhi kelangsungan bisnis para produsen kemasan plastik. Mengacu pada Indonesia Crude Price minyak mentah Indonesia di bulan Maret tahun 2021 sudah menyentuh 63,50 USD per barel. Di mana, angka tersebut mengalami kenaikan 3,14 USD per barel dibandingkan rata-rata ICP di bulan sebelumnya sebesar 60,36 USD per barel.

Menurut pihak YPAS sendiri, naik turunnya harga minyak mentah yang tengah terjadi belakangan ini cukup menjadi kendala. Hal ini karena harga bahan baku kemasan plastik seperti polypropylene bakal ikut terpengaruh. Ditambah untuk sementara ini, YPAS sendiri tidak menggunakan bahan baku selain minyak mentah dalam memproduksi kemasan plastik sehingga pengaruhnya cukup besar.

Untuk menghadapi permasalahan tersebut, strategi yang bakal diambil oleh perseroan adalah dengan mempertimbangkan kembali kontrak jangka panjang bersifat high risk. Di samping itu, persaingan industri kemasan plastik sendiri menurut YPAS masih cukup kompetitif. Apalagi memasuki masa ramadan yang membuat perseroan mengalami pertumbuhan permintaan dari produk kemasan plastik untuk industri pangan.

Selain industri makanan maupun minuman, produk yang dihasilkan perseroan juga terserap oleh beberapa sektor lainnya meliputi industri semen, pupuk, hingga pasar bebas. Dengan begitu, tahun ini perseroan masih akan terus berusaha memperluas pangsa pasar, baik dalam maupun di luar Pulau Jawa. Strategi ini diyakini dapat menggaet pelanggan baru di beberapa wilayah yang sudah ditargetkan sebelumnya.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait