Analisa Saham, Saham

Kinerja Stabil, Bagaimana Prospek Saham MCOR Tahun Ini?

Ajaib.co.id – Bank China Construction Bank Indonesia Tbk merupakan lembaga keuangan bukan bank (LKBB) yang dulunya bernama Bank Windu Kentjana International Tbk. Perusahaan dengan kode saham MCOR merupakan suatu konsorsium (joint venture) bank domestik dengan bank-bank internasional yaitu Royal Bank Of Scotland, BCA, LTCB Japan, Jardine Fleming, Chemical Bank, dan Asia Insurance, hingga akhirnya menjadi bank yang menawarkan produk dan layanan perbankan.

Produk dan layanan yang ditawarkan saham MCOR merncakup kredit kendaraan bermotor, kredit komersial, tabungan, tabungan giro, tabungan mata bank, hingga safe deposit box.

Perusahaan memutuskan untuk IPO pada 3 Juli 2007 dengan melepas saham sebesar 300 juta lembar saham di harga Rp200/lembar saham dan berhasil menghimpun dana sebesar Rp60 miliar. Per 28 Februari 2021, saham MCOR dipegang oleh China Construction Bank Corporation sebagai pengendali (60%), UOB Kay Hian PTE LTD (8,21%), Johnny Wiraatmadja (7,24%), dan masyarakat (24,55%).

Bagaimana dengan kinerja keuangan dan prospek bisnisnya ke depan? Apakah saham MCOR mampu bersaing dengan bank lain yang sedang bertransformasi ke bank digital? Mari kita ulas lewat bedah saham di bawah ini.

Kinerja Stabil, Laba Turun Tipis

Berdasarkan laporangan keuangan perusahaan per September 2020, laba bersih tercatat turun tipis ke Rp39,6 miliar dari pencapaian tahun lalu sebesar Rp42,5 miliar. Penurunan laba berish dipicu oleh menurunnya pendapatan bunga bersih dari Rp397 miliar menjadi Rp392 miliar secara tahunan

Namun, perusahaan justru mencatatkan kenaikan penyaluran kredit sepanjang 9M 2020 menjadi Rp15 triliun dari tahun sebelumnya sebesar Rp13,8 triliun. Sementara, Dana Pihak Ketiga perusahaan juga ikut naik lebih dari 50% menjadi Rp18,3 triliun dibandingkan tahun lalu senilai Rp10,9 triliun.

Kinerja Menurun Tipis

Berdasarkan laporangan keuangan, perusahaan mencatatkan kinerja yang terus menurun dari 3 tahun terakhir. Hal ini tercermin pada ikhtisar keuangan saham MCOR dari 2018 hingga 2020 di bawah ini.

Komponen Laba 2020 2019 2018
Pendapatan Bunga Bersih 392 397 442
Laba Bersih 39,6 42,5 67
DPK 18,300 10,900 13.072
CKPN 18,5 56,7

Sepanjang 9M 2019, kinerja perusahaan terus menurun meski masih menghasilkan laba bersih secara konsisten. Misal, pada pencapaian 9M 2020, laba bersih turun cukup dalam dari Rp67 miliar menjadi Rp42,5 miliar disebabkan oleh penurunan pendapatan bunga bersih dan Dana Pihak Ketiga (DPK), , terutama berasal dari produk giro yang turun sebesar 17% menjadi Rp2,1 triliun disebabkan oleh kebutuhan arus kas operasional nasabah. Deposito Berjangka sediki meningkat, sedangkan Tabungan naik sebesar 15%.

Turunnya pendapatan bunga bersih perusahaan di tahun 2019 disebabkan n beban bunga naik sebesar Rp86 miliar atau 13% menjad Rp653 miliar di tahun 2019 menjadi Rp739 miliar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kenaikan beban bunga tersebut disebabkan oleh mengetatnya likuiditas di industri perbankan di tahun 2019 dan juga masih tingginya BI policy rate terutama d semester I tahun 2019.

Menurunnya kienrja saham MCOR terus berlanjut ke tahun 2020. Per September 2020, laba bersih perusahaan terus tergerus ke Rp39,6 miliar, diikuti penurunan pendapatan bunga bersih menjadi Rp392 miliar dibandingkan pencapaian tahun lalu Rp397 miliar, yang disebabkan naiknya beban bunga di tahun tersebut. Meskipun begitu, saham MCOR mampu menaikkan pencapaian DPK sepanjang 9M 2020 dibandingkan tahun lalu.

Selanjutnya, kita akan melihat rasio keuangan perusahaan di tahun 2019 dan 2020.

Rasio September 2020 September 2019
ROA 0,32 0,46
ROE 1,55 2,66
NIM 2,84 3,78
LDR 81,80 89
BOPO 98,33 95,52
NPL 2,98 2,75
NPL Net 2,03 1,83

Rasio Return On Assets (ROA) di pada September 2020 sebesar 0,32% agak menurun dibandingkan posisi akhir 2019 di 0,46%. Sementara, perolehan Return On Equity (ROE) di tahun 2020 sebesar 1,55% sedikit mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 2,66%.

Beralih ke rasio marjin bunga bersih atau NIM, rasio NIM di tahun 2020 sebesar 2,84%, turun dibandingkan pencapaian di tahun lalu sebesar 3,78%. Hal ini disebabkan tingginya persaingan bunga kredit dan bunga deposito. Menurunnya NIM membuktikan perusahaan tidak bisa menghasilkan selisih keuntungan dari pendapatan bunga bersih.

Posisi LDR juga menunjukkan penurunan menjadi 81,80% dibandingkan tahun sebelumnya di 89%. Meskipun menurun, rasio LDR yang masih di atas 80% hingga 90% mengindikasikan likuiditas perusahaan masih kuat, karena pinjaman tidak melebihi dari dana simpanan perusahaan. Rasio BOPO yang merupakan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional menunjukkan kenaikan tipis ke 98,33%, yang berarti beban operasional di tahun 2020 meningkat, sehingga harus menggunakan hampir seluruh pendapatan operasional.

Seiring tren NPL meningkat disebabkan pandemi Covid-19, NPL gross dan NPL net saham MCOR naik ke 2,98% dan 2,03%. Meskipun naik tipis, rasio NPL ideal perbankan berada di level 5%, sehingga mengindikasikan rasio kredit bermasalah perusahaan masih tergolong rendah.

Prospek Bisnis Saham MCOR

Pada Juli 2020 lalu, saham MCOR melakukan right issue sebagai salah satu cara mendapatkan dana investasi dari investor. PT Sinar Mas Multiartha yang digadang-gadang menjadi pembeli siaga ternyata tidak masuk dalam daftar pemegang saham. Dengan demikian, komposisi pemegang saham MCOR setelah right issue mencakup lima pihak: China Construction Bank Corporation dengan 60%, Johnny Wiraatmadja sebanyak 9,35%. Ketiga, Kiki Hamidjaja memegang 2,2% saham, UOB Kay Hian Pte. Ltd 8,2%. dan publik memegang 20,16%. Total saham beredar ialah 37,92 miliar.

Dalam keterbukaan informasi pada 17 Juni 2020, perusahaan menyebutkan jumlah saham yang diterbitkan dalam rangka rights issue ialah 21,28 miliar lembar saham dengan harga pelaksanaan Rp150. Jumlah dana yang dihimpun perseroan mencapai Rp3,19 triliun.

Dana dari rights issue akan digunakan untuk memperkuat struktur modal perusahaan. Saham MCOR berencana untuk meningkatkan statusnya ke level BUKU III dengan modal inti lebih dari Rp5 triliun melalui penerbitan saham baru. Saat ini modal inti perusahaan masih di level Rp2,1 triliun.

Masuknya UOB sebagai salah satu pemegang saham MCOR akan berdampak positif pada kinerja perusahaan ke depannya karena dapat membantu peningkatan kinerja bank. Selain itu, pemegang saham pengendalinya adalah bank papan atas yang telah berpengalaman di sektor perbankan.

Namun, tantangan yang dihadapi CCB Indonesia di tahun depan terutama adalah tingkat persaingan dalam industri perbankan yang semakin ketat dan kompetitif, baik di sisi aset, maupun liabilitas, termasuk margi spread. MCOR senantiasa menetapkan suku bunga secara prudent pada tingkat yang kompetitif dan wajar.

Dengan spesialisasi di bidang infrastruktur, perusahaan optimis untuk tumbuh dan berkembang serta memberi kontribusi dalam pembangunan Indonesia, khususnya di sektor infrastruktur yang sedang digalakkan melalui program SWF.

CCB Corporation sebagai pemegang saham mayoritas memberi komitmennya untuk pengembangan saham MCOR, baik melalui dukungan modal yang kuat, serta alih pengetahuan bisnis, peningkatan kepatuhan dan manajemen risiko serta dukungan teknologi informasi dan operasional.

Jika dilihat dari harga sahamnya, MCOR kini dihargai Rp148/lembar per saham, dengan PER mencapai 106,14x, diikuti PBV nya di 0,93x. Idealnya, Semakin kecil PER, semakin murah perusahaan. Namun, jika mengacu pada saham MCOR, sepertinya harganya sudah naik tinggi.

Meskipun prospek perbankan ke depannya cerah, terlebih di sektor infrastruktur, sama MCOR tampaknya masih sulit menarik minat investor karena tidak memiliki nilai lebih dibandingkan bank-bank lainnya. Berdasarkan bedah saham di atas, saham MCOR tidak menarik untuk investasi jangka panjang.

Jadi, kamu bisa saja membeli saham ini untuk investasi jangka pendek atau membeli saham lewat investasi reksa dana saham. Nah, apapun saham dan jenis investasi yang kamu pilih, baik reksa dana maupun saham, kamu bisa membelinya dengan mudah lewat Ajaib! Yuk investasi mulai hari ini!

Artikel Terkait