Analisa Saham, Saham

Tahan Dulu untuk Mengoleksi Saham LRNA, Cek Alasannya!

Tahan Dulu untuk Mengoleksi Saham LRNA, Cek Alasannya!

Ajaib.co.id – PT Eka Sari Lorena Transport Tbk. sudah cukup lama malang melintang di industri transportasi darat. Cikal bakal perseroan adalah CV Lorena yang didirikan oleh G.T. Soerbakti pada 1970.

Dengan bermodalkan dua bus, Lorena melayani rute Bogor ke Jakarta dan Jakarta ke Bogor. Pada 1984, Lorena membuka rute Jakarta ke Surabaya dan sebaliknya. Lalu dilanjutkan membuka rute lain di Pulau Jawa, Madura, Bali dan Sumatera.

Pada 2007, Lorena memenangkan tender Busway yang diadakan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk koridor V dan VII. Untuk koridor V, perseroan menggunakan 13 armada bus articulated (gandeng) bermerek Komodo. Untuk koridor VII, perseroan menggunakan 34 armada single bus bermerek Hino.

Pada 2011, perseroan memperoleh tender operator feeder Busway untuk rute 1, 2, dan 3. Kini, perseroan bersama dengan PT Ryanta Mitra Karina, telah memiliki 500 armada bus dan melayani lebih dari 60 kota di Indonesia.

Untuk mengembangkan bisnisnya, Lorena melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada April 2014. Perseroan memiliki kode saham LRNA. Pemegang saham per Januari 2019, data dari Bursa Efek Indonesia, yaitu PT Lorena sebanyak 57,14%, PT Valbury Sekuritas Indonesia memiliki 9,13%, dan publik mempunyai 33,73%.

Bus Lorena Terhantam Pandemi Covid-19

Pandemi covid-19 yang terjadi pada Maret 2020 memengaruhi kinerja LRNA. Armada bus Lorena terhantam akibat pandemi. Hal itu terkait dengan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai kota.

Menurut Dwi Rianta Soerbakti, Managing Director LRNA, omzet pendapatan menurun drastis, CNBCIndonesia.com (15/04/2020). Penurunan penumpang terjadi pada sektor antar kota antar provinsi (AKAP), seperti Trans Jabodetabek, Jabodetabek Residence Connexion, dan Jabodetabek Airport Connexion.

Perseroan terpaksa memangkas operasional pada semua lini usaha. Bahkan operasional turun hingga 90% dibanding hari normal (sebelum pandemi). Termasuk efisiensi kerja pada karyawan dengan menerapkan sistem shift, Bisnis.com (20/04/2020).

Pendapatan LRNA Semester I-2020 Terkoreksi Lebih 50%

Hingga tulisan ini dibuat, LRNA belum merilis kinerja keuangan periode 2020. Namun dalam kinerja semester I-2020 sebesar Rp29,70 atau terkoreksi 51,11% dibanding periode sama tahun sebelumnya, Kontan.co.id (06/11/2020).

Penurunan tersebut disumbangkan oleh bus AKAP dengan Rp24,80 miliar, sebelumnya Rp53,88 miliar. Pendapatan shuttle bus Rp3,00 miliar dan bus AKAP jarak pendek Rp1,21 miliar. Namun pendapatan dari lini angkutan bandara melonjak 500% menjadi Rp688,95 juta.

Namun Dwi Rianta menyebutkan bahwa jumlah penumpang relatif stagnan dan utilitas armada hanya 35% dibandingkan tahun lalu. Bahkan libur panjang pada Oktober 2020 tak mampu menutup kerugian perseroan. Karena masyarakat masih enggan bepergian atau perjalanan bisnis.

Kinerja LRNA: Kinerja Positif Pada 2019, Setelah Tiga Tahun Negatif

Kinerja keuangan dari laman lorena-transport.com, LRNA telah menunjukkan penurunannya sejak 2016 hingga 2018. Baik dari segi penjualan bersih, laba kotor, hingga rugi bersih tahun berjalan.

Laporan Laba Rugi 2019 2018 2017 2016 2015
Penjualan Bersih Rp124,5 miliar Rp102 miliar Rp106,6 miliar Rp126,7 miliar Rp163 miliar
Laba Kotor Rp30 miliar Rp8 miliar Rp392 juta Rp12,7 juta Rp40,5 miliar
Rugi Tahun Berjalan -Rp6,8 miliar -Rp29,8 miliar -Rp38 miliar -Rp28 miliar -Rp1,6 miliar

Sepanjang 2019, kinerja perseroan menunjukkan tren positif setelah tiga tahun berturut-turut negatif. Perseroan mampu menghasilkan kenaikan penjualan bersih dan menekan kerugiannya. Pasalnya, perseroan melakukan ekspansi rute baru, seperti angkutan bandara dan merambah  rute TransJabodetabek Regular (TJR) dan Jabodetabek Residence Connexion (JRC), serta menerapkan tata kelola perusahaan yang baik.

Selain itu, total aset perseroan periode 2019 Rp302,6 miliar atau turun 3,01% dibanding tahun sebelumnya. Penurunan itu disumbangkan oleh jumlah aset tidak lancar sebesar 5,06% atau Rp278,7 miliar untuk 2018 dan Rp264,6 miliar untuk 2019. Total ekuitas turun 2,56% menjadi Rp261 miliar.

Kinerja 2019 juga mampu mempersempit nilai ROE, ROA, dan dan NPM yang minus. Berikut ini rasio laporan keuangan LRNA:

Rasio 2019 2018
ROA -2,27% -9,57%
ROE -2,63% -11,15%
NPM -5,50% -29,22%
CR 2,28% 1,65%
DER 0,16% 0,16%

Data dari Ajaib saat ini, ROA dan ROE perseroan adalah -15,95% dan -19,37%. Sedangkan NPM -69,68%, CR 112,69%, dan DER 21%. Nilai rasio tersebut disebabkan kinerja keuangan perseroan semester I-2020 terkoreksi secara signifikan.

Prospek Bisnis LRNA

Di tengah pandemi, sektor transportasi belum sepenuhnya pulih. Oleh karena itu, LRNA belum melakukan ekspansi dalam waktu dekat. Termasuk belum membeli armada baru, karena load factor perseroan sekitar 63%.

Dwi Rianta menjelaskan perseroan dalam posisi bertahan, karena efek pandemi masih terjadi di sektor transportasi. Sehingga perseroan menunggu perkembangan pasar untuk menggelontorkan belanja modal atau capital expenditure (capex) 2021, Tempo.com (22/01/2021).

Namun perseroan diuntungkan karena kredit atau kewajiban ke pihak bank dan leasing masih kecil. Dwi Rianta berharap kinerja perusahaan membaik seiring program vaksin yang sedang berjalan.

Layakkah Saham LRNA Dikoleksi?

Pada dasarnya, semua saham termasuk saham LRNA layak dikoleksi. Namun di tengah situasi pandemi yang serba tak pasti, sebaiknya sikap investor sama seperti perseroan, bertahan.

Tahan dulu untuk mengoleksi saham LRNA. Apalagi jika tujuan investor adalah memperoleh untung. Karena kegiatan bepergian dalam rangka bisnis maupun melancong belum sepenuhnya pulih. Pemerintah masih menerapkan pembatasan kegiatan masyarakat dan kasus covid-19 masih tinggi.

Sambil di posisi bertahan, cek kinerja keuangan perseroan lebih rinci. Penutupan buras pada Senin, 08 Maret lalu, saham LRN adalah Rp165. Sejak 2015, harga saham LRNA bergerak fluktuatif dan jarang menyentuh harga Rp200. Padahal saat IPO, harga saham senilai Rp900.

Nah, bagi kamu yang ingin investasi saham, coba cek saham di emiten lainnya langsung melalui aplikasi Ajaib yuk! Selain memberikan kamu analisa mendalam, kamu juga bisa langsung bertransaksi di aplikasi Ajaib! Yuk mulai investasi pertamamu sekarang!

Artikel Terkait