Analisa Saham

Saham IKAI Intikeramik di Tengah Ketidakpastian Bisnis

Profil Singkat Emiten

PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (berkode saham IKAI) berdiri pada tanggal 26 Juni 1991. IKAI adalah salah satu produsen ubin porselen di Indonesia. IKAI juga memperdagangkan hasil-hasil produksinya. Dua tahun setelah berdiri, IKAI memulai operasional secara komersial dengan merek dagang “Essenza”.

Perusahaan tersebut menawarkan saham perdana alias IPO pada tanggal 4 Juni 1997. Pada saat IPO, melempar 100 juta lembar saham di mana nilai nominalnya Rp500 dengan harga penawaran per sahamnya Rp750.

IKAI terus mengembangkan bisnisnya dengan merambah industri pariwisata, restoran, dan hotel di tahun 2019. Menariknya, bisnis perhotelan menjadi sumber penghasilan mayoritas (di atas 50%) IKAI dalam beberapa tahun terakhir.

Dilihat dari Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Sebenarnya, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) berhasil mencetak pendapatan cukup besar meski bisnisnya turut terdampak pandemi Covid-19. Sayangnya, pendapatan yang diraihnya tidak bisa menutupi jumlah ruginya yang mencapai Rp58,3 miliar hingga triwulan ke-3 tahun 2020. Angka ini masih lebih rendah dibandingkan periode sama tahun lalu yang sebesar Rp61,2 miliar.

Riwayat Kinerja

Pendapatan IKAI melonjak signifikan antara tahun 2017-2019. Total asetnya pun terus bertambah. Tapi, lagi-lagi, IKAI juga mencatat pertumbuhan rugi bersih dalam rentang tahun tersebut. Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/CAGR) sejumlah komponen kinerja IKAI periode 2017 hingga 2019:

Tingkat pertumbuhan dalam tiga tahun terakhir mencerminkan bisnis IKAI berada di trek yang tepat. 

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

IKAI mengumumkan tidak akan membagikan dividen kepada pemegang sahamnya untuk tahun buku 2019. Wajar saja mengingat IKAI mencatat rugi Rp67,57 miliar pada 2019. Kerugian tersebut dipengaruhi oleh beban pokok penjualan, beban administrasi, dan umum serta beban penjualan yang melonjak.

Setahun sebelumnya, IKAI juga absen membagikan dividen meski mencatat laba bersih sebesar Rp71 miliar untuk tahun buku 2018. Kala itu, IKAI menggunakan saldo laba ditahan untuk mengembangkan usaha dan memperkuat struktur modal. Begitu pula untuk tahun buku 2017, IKAI pun tidak membagikan dividen karena menanggung rugi.

Kinerja IKAI yang beberapa kali tercatat minus tentu berdampak pada realisasi pembagian dividen. Hal ini dapat menjadi pertimbangan khusus bagi calon investor IKAI.

Prospek Bisnis IKAI

Menariknya, pendapatan IKAI dalam beberapa tahun terakhir bukan berasal dari lini bisnis keramiknya, melainkan perhotelan. Namun, perkembangan bisnis keramik IKAI tak bisa dipinggirkan begitu saja.

Memang, pada masa awal pandemi Covid-19, utilisasi industri keramik nasional sempat anjlok ke level 30%. Saat ini, utilisasi industri keramik nasional sudah mulai berangsur naik.

Terkait hal ini, melalui anak usahanya, yakni PT Internusa Keramik Alamasri, IKAI berhasil mengirimkan produk keramik brand “Essenza” ke Amerika Serikat (AS). Lebih menarik lagi, ini merupakan untuk pertama kalinya terjadi bagi IKAI di tengah banyaknya ketidakpastian bisnis akibat pandemi Covid-19.

Manajemen IKAI menyebutkan, ekspor perdana ke AS ini merupakan awal permulaan bagi perseroan untuk melakukan hal serupa ke sejumlah negara lainnya.

Strategi ekspor ini juga tidak lepas dari dukungan Pemerintah Indonesia terhadap industri keramik. Dukungan yang dimaksud ialah kebijakan patokan harga gas industri. Penurunan harga gas tersebut bisa diibaratkan sebagai proteksi bagi produsen keramik lokal. Alhasil, harga jual “Essenza” dapat lebih kompetitif.

Tapi, memang sektor perhotelan IKAI masih memberikan kontribusi dominan terhadap pendapatan IKAI. Persentasenya mencapai 60% dari total pendapatan IKAI hingga akhir September 2020. Di sinilah yang menjadi tantangan lain bagi IKAI.

Sektor perhotelan mengalami penurunan tren pendapatan akibat dampak masif dari pandemi Covid-19. Rantai industri ini tampaknya memerlukan waktu lebih lama untuk kembali pulih seperti sebelum masa pandemi Covid-19.

Manajemen IKAI harus melakukan strategi yang menjadi terobosan untuk mengatasi tantangan ke depan. Menilik segmen usaha bisnis keramik, strategi IKAI mulai membuahkan hasil melalui transformasi bisnis di tahun lalu yang dilakukannya.

Imbasnya, laju menurun kinerja segmen hotel dan pariwisata akibat pandemi Covid-19, setidaknya dapat ditekan dengan kinerja positif yang signifikan dari segmen bisnis keramik.

Manajemen IKAI juga terus menerapkan strategi utilisasi digital terkait promosi produk Essenza. Tak hanya itu, manajemen IKAI juga mengaku, terus mendorong perusahaan untuk tumbuh berkelanjutan, baik secara organik maupun nonorganik.

Harga Saham (Kesimpulan)

Pergerakan saham IKAI cukup berfluktuasi dalam beberapa waktu belakangan ini. Beberapa bulan silam, saham IKAI sempat menjadi pencetak keuntungan tertinggi (top gainers) sebesar 18% berdasarkan catatan RTI. Namun, saham IKAI juga sempat mengalami penurunan beberapa kali.

Pada 11 Februari 2021, saham IKAI ditutup di harga Rp50 dengan EPS -51. Per 23 Januari 2020, harga IKAI tercatat berada di level Rp55 per saham. Perbedaannya cukup signifikan bila dibandingkan pada tanggal 10 Oktober 2019 yang masih berada di level Rp184.

Dengan fluktuasinya, rekomendasi saham IKAI adalah hold sembari menganalisa perkembangan terkini dari bisnis IKAI secara keseluruhan, termasuk rencana sinergi dengan pabrikan asal Cina.

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait