Perencanaan Keuangan

Risk Attitude Menghadapi Ketidakpastian di tengah Pandemi

Risk Attitude Menghadapi Ketidakpastian di tengah Pandemi

Ajaib.co.id – Di tengah situasi tak menentu seperti saat ini, kita harus bisa menghadapinya dengan baik demi keberlangsungan hidup. Caranya adalah dengan mengenal risk attitude menghadapi ketidakpastian.

Dalam bisnis atau investasi, risk attitude berkontribusi menyumbangkan keberhasilan. Pasalnya, risk attitude fokus untuk mengatasi ketidakpastian secara proaktif untuk meminimalkan ancaman, memaksimalkan peluang, dan mengoptimalkan pencapaian tujuan.

Apa itu Risk Attitude?

Risk attitude atau sikap risiko merupakan kondisi pikiran yang berhubungan dengan ketidakpastian yang dapat memiliki efek positif atau negatif pada suatu tujuan, dikutip dari laman Project Management Institute. Risk attitude menghadapi ketidakpastian adalah respon yang dilakukan oleh individu maupun organisasi agar tujuan bisa tercapai.

Dalam prosesnya, risk attitude menghasilkan ketidakpastian dipengaruhi oleh persepsi. Juga terpengaruh dengan faktor situasional rasional (seperti kemampuan mengelola, keakraban, atau kedekatan), heuristik yang beroperasi pada level individu dan kelompok (misal ketersediaan, pemikiran kelompok, atau mengubah berisiko), dan emosi.

Para peneliti mengatakan situasi tidak pasti akan menimbulkan sikap risiko berbeda dari masing-masing orang maupun kelompok. Hal itu sangat bergantung pada pemahaman mereka tentang ketidakpastian. Sehingga respon yang muncul dari mereka juga berbeda meski situasinya sama.

Jenis-Jenis Risk Attitude

Menurut Hillson dan Murray-Webster dalam buku mereka berjudul Understanding and Managing Risk Attitude, risk attitude terdiri dari enam klasifikasi, yaitu risiko pendapatan, risiko aset fisik, risiko aset keuangan, risiko biaya pengobatan, dan risiko umur panjang (longevity risk).

Buat kamu yang baru atau berencana investasi, banyak yang merekomendasikan untuk memilih produk investasi yang sesuai profil risiko. Kalimat tersebut sering kamu dengar baik dari penasehat keuangan, agen penjual produk investasi, maupun investor kenamaan. Hal itu untuk membantumu dalam mencapai tujuan atau keuntungan optimal.

Agar kamu bisa bertahan dalam kondisi yang tidak pasti, kenali risk attitude menghadapi ketidakpastian. Berikut ini empat jenis risk attitude ini:

1. Risk Aversion

Risk aversion (penghindaran risiko) adalah perilaku manusia yang ketika dihadapkan pada ketidakpastian, berupaya untuk menurunkan ketidakpastian itu. Konsumen atau investor tipe ini ragu-ragu dalam memutuskan sesuatu, jika hasil atau keuntungan tidak diketahui atau diprediksi.

Contohnya, investor yang ogah mengambil risiko akan memilih deposito (sebagai wadah menyimpan dananya) dengan bunga kecil, daripada harus memasukkan dana ke instrumen saham yang risikonya tinggi. Investor risk aversion ingin hal-hal yang pasti dan tidak berisiko.

2. Risk Seeking

Risk seeking atau risk loving (pencari risiko) merupakan seseorang yang mau melakukan hal-hal berisiko. Ia tak peduli kondisi yang tidak pasti dan mudah beradaptasi dalam segala situasi. Risk attitude menghadapi ketidakpastian ala investor risk seeking adalah tak ragu untuk menginvestasikan semua dananya ke pasar saham. Meskipun risikonya tinggi, seperti saat dunia dilanda pandemi covid-19.

3. Risk Tolerance

Risk tolerance (toleransi risiko) ialah seseorang yang memiliki batas ukur soal perencanaan keuangan. Bagi investor risk tolerance, ia bisa bertoleransi mengenai pengembalian hasil investasi. Ia juga memiliki pemahaman dan bersikap realistis terhadap perubahan nilai investasi. Toleransi risiko tinggi sering diidentikan dengan investasi saham. Sedangkan toleransi risiko rendah terkait dengan reksa dana, obligasi, dan logam mulia.

4. Risk Neutral

Risk attitude menghadapi ketidakpastian yang terakhir adalah risk neutral. Seperti namanya, seseorang akan bersikap netral ketika menghadapi situasi berisiko. Seseorang dengan pendekatan risk neutral justru tidak fokus terhadap risiko. Dalam berinvestasi, ia bergantung pada keuntungan, harga, dan faktor eksternal meski sikap netral bersifat situasional. Namun ada pula yang menyebutkan bahwa risk neutral juga digambarkan bagi investor yang sedang mengevaluasi alternatif investasi.

Cara Menghadapi Ketidakpastian

Cepat atau lambat, ketidakpastian akan menghampiri kita. Tak ada yang siap menghadapi ketidakpastian. Karena situasi tak pasti berimbas pada semua sisi kehidupan termasuk keuangan.

Ketika pandemi covid-19 melumpuhkan ekonomi, daya beli melemah, kredit macet, dan kinerja investasi pun menurun. Apakah kita harus diam dalam situasi ini? Tidak. Kita harus menanganinya, tetapi bagaimana caranya? Benjamin C. Halliburton, CIO Tradition Asset Management, LLC, memiliki cara menangani ketidakpastian pasar.

1. Meningkatkan Dana Darurat

Bagi Halliburton, investor harus meningkatkan dana darurat. Meski investor telah mempunyai dana ini, tak ada salahnya untuk menambahnya. Paling tidak, sediakan dana darurat untuk enam bulan ke depan, mengingat masa tidak pasti masih berlangsung. Buat kamu yang belum memiliki dana darurat, belum terlambat untuk memulainya sekarang juga. Sisihkan penghasilanmu untuk dialokasikan ke dana darurat dan investasi.

2. Memiliki Pendapatan Tetap

Buat kamu yang getol berinvestasi, miliki instrumen pendapatan tetap ketika berada pada situasi tak pasti. Instrumen ini memberikan keuntungan lebih rendah dibanding saham, tetapi imbal hasilnya cukup stabil dan layak dijadikan investasi jangka menengah.

Instrumen pendapatan tetap dapat digunakan sebagai diversifikasi investasi. Sehingga investor bisa memperoleh keuntungan yang diharapkan. Hal tersebut dapat dilihat dari kinerja reksa dana pendapatan tetap seperti Ciptadana Dana Obligasi dan Victoria Dana Obligasi Syariah.

3. Membeli Saham

Di tengah ketidakpastian, jangan sembarangan masuk ke pasar saham. Kecuali telah memiliki dana darurat lebih dari cukup, kamu dapat membeli saham yang harganya sedang murah. Memang, kinerja saham sedang memerah dan harganya menurun.

Manfaatkan kondisi tak pasti ini. Beli saham harga murah tetapi memiliki fundamental bagus. Karena saat ekonomi membaik, saham tersebut perlahan-lahan merangkak. Tentu saja, hal itu memberikan keuntungan yang menggiurkan. Namun untuk memperoleh keuntungan tinggi, kamu perlu waktu lebih lama, seperti karakteristik saham yang cocok untuk investasi jangka panjang.

Berinvestasi tak hanya melihat situasi tak pasti. Hal penting yang harus dipertimbangkan adalah menyesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, dan profil risiko. Jika memerlukan referensi dalam berinvestasi dan mengelola keuangan, kamu bisa membuka Ajaib.

Selain memberikan referensi, kamu juga bisa melakukan investasi kapan dan di mana saja secara online di Ajaib. Melalui aplikasi investasi Ajaib, kamu juga bisa memulai investasi reksa dana maupun saham yang bisa disesuaikan dengan tujuan keuangan kamu. Jadi tunggu apalagi? Mulai investasi kamu sekarang juga di Ajaib dan siap hadapi krisis keuangan yang tidak pasti karena pandemi ataupun lainnya.

Artikel Terkait