Analisa Saham, Saham

Terdampak Pandemi, Begini Fundamental Saham HMSP

Ajaib.co.id – Perusahaan bernama Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HM Sampoerna Tbk (saham HMSP) berdiri pada tanggal 27 Maret 1905. Kemudian, perusahaan ini mulai melakukan kegiatan usaha komersialnya pada 1913 di Surabaya. Dengan merintis sebagai industri rumah tangga.

Adapun HM Sampoerna ini mempunyai 5 pabrik, terdiri dari: dua pabrik Sigaret Kretek Mesin (SKM) di Pasuruan dan Karawang dan lima pabrik Sigaret Kretek Tangan (SKT) dengan lokasi di tiga pabrik di Surabaya serta masing-masing satu pabrik di Malang dan Probolinggo.

Dilihat dari  Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup bisnis dari HMSP meliputi manufaktur dan perdagangan rokok. Serta investasi saham pada perusahaan-perusahaan lain. Beberapa merek rokok HM Sampoerna sudah sangat dikenal oleh publik. Di antaranya, A Mild, Dji Sam Soe, Sampoerna Kretek, U mild dan melakukan pendistribusian Marlboro.

Pada 1990, HMSP mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK sehingga bisa melakukan Penawaran Umum Perdana Saham HMSP (IPO) kepada masyarakat. Sebanyak 27.000.000 dengan nilai nominal Rp1.000,- per saham dengan harga penawaran Rp12.600,- per saham. Saham-saham tersebut pun dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 15 Agustus 1990.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Dari laporan keuangan HMSP per September 2020, menunjukkan kinerja keuangan yang mengalami penurunan. Perusahaan seperti ikut terdampak oleh pandemi. Hal ini bisa dilihat juga dari aset HMSP yang pertumbuhannya turun, mencapai -12% YoY.

Selain itu, kinerja laba bersih HMSP pun harus ikut anjlok dari periode 30 September 2019. Berikut ini laporan kinerja laba HMSP (dalam jutaan rupiah):

Komponen Laba September 2019 September 2020
Penjualan 77.507.276 67.778.710
Laba Kotor 18.891.226 14.234.014
Beban Penjualan 4.651.572 4.380.128
Laba Bersih 10.200.152 6.910.800
Aset 50.902.806 44.743.773

HMSP mampu membukukan laba di atas Rp6 triliun namun masih di bawah periode yang sama pada tahun 2019. Dengan laba yang terkoreksi sebesar 32,24% YoY. Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio umum dan margin keuangan HMSP. Berikut ini datanya:

Rasio September 2019 September 2020
ROA 26,71% 20,60%
ROE 38,11% 32,15%
GPM 24,37% 21,00%
NPM 13,16% 10,20%
OPM 17,31% 12,34%
DER 42,66% 56,13%

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan bahwa kondisi bisnis HMSP dalam kondisi mengalami penurunan sebagai dampak dari pandemi covid-19. ROA dan ROE dari perusahaan ini pada Q3 2020 menunjukkan penurunan dibandingkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya. Hal ini memperlihatkan sektor penjualan rokok harus tertekan di masa krisi kesehatan dan ekonomi ini.

Selanjutnya, untuk GPM perusahaan turun ke 24,37% ini berarti perusahaan HMSP masih dalam upaya efisiensi perusahaan dengan menekan harga pokok penjualannya. Atau dikenal juga dengan istilah beban pokok penjualan. Sehingga menghasilkan margin laba kotor di angka 21,00% dari total penjualan yang diperoleh perusahaan.

Adapun indikatornya, semakin tinggi nilai GPM yang diperoleh sebuah perusahaan berarti perusahaan semakin efisien dan baik dalam mengelola kegiatan operasionalnya. Tentunya hal ini dilakukan dalam upaya memperoleh keuntungan bagi perusahaan.

Adapun untuk NPM, perusahaan tumbuh di angka 10,20%. Angka ini merepresentasikan rasio keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan HMSP terhadap total penjualan produk-produknya per 30 September 2020. Angka ini berarti memperlihatkan perusahaan sudah mampu memberikan keuntungan yang tumbuh bagi perusahaan dan investor. Meskipun mengalami penurunan dibandingkan Q3 2019.

Angka perolehan NPM ini sudah dalam angka aman dan tinggi. Sebagai informasi, nilai margin laba bersih dengan presentasi di atas 10% yang dianggap sangat baik. Sehingga NPM HMSP ini menunjukkan tingkat keuntungan dengan persentase yang cukup besar.

Terkait dengan Debt Equity Ratio (DER) berada di level 56,12%. Ini menunjukkan perusahaan tidak menggunakan utang dalam jumlah besar untuk menjalankan operasional perusahaan. Rasio DER ini masih dalam kondisi aman dan terkendali.

Dengan DER berada di level ini di mana angka ini menandakan perusahaan tidak bergantung pada utang. Pasalnya perusahaan yang sehat keuangannya ditunjukan dengan rasio DER di bawah angka 1 atau di bawah 100%. Namun, terlihat ada peningkatan DER dibandingkan periode September 2019 sebesar 42,66%. Hal ini menandakan, perusahaan melakukan penambahan utang sebagai dampak dari pandemi covid-19. 

Riwayat Kinerja

Kinerja Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk atau HM Sampoerna terhitung sudah relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/ CAGR) sejumlah komponen kinerja HMSP dalam 11 tahun terakhir periode 2008 hingga 2020:

Komponen CAGR 2008-2019
Penjualan 10,8%
Aset 10,6%
Laba Bersih 12,4%

Tingkat pertumbuhan dalam 11 tahun terakhir mencerminkan solidnya bisnis HMSP ditambah kemampuan perusahaan dalam bertahan selama pandemi cukup membuktikan mengimbangi strategi bisnis perusahaan farmasi ini.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

HMSP termasuk emiten yang tiap tahun membagi dividennya. Hal tersebut memang benar. Berikut adalah besaran pembayaran dividen HMSP tiga tahun terakhir:

Tahun Dividen per Saham Jumlah yang dibayarkan (dalam jutaan rupiah)
2017 107,70 12.527.456
2018 117,2  13.632.478
2019 119,8 13.930.000

HMSP terlihat konsisten membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya pada setiap tahunnya dengan nilai dividen yang terus meningkat. Konsistensi dalam pembagian dividen ini merupakan nilai tambah bagi perusahaan. Karena tidak banyak emiten secara konsisten mampu terus untuk membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya.

Hal ini menjadikan saham HMSP tetap bisa menjadi pilihan untuk investor jangka panjang yang ingin menikmati pendapatan rutin dari dividen tiap tahun, tanpa perlu menjual kepemilikan sahamnya.

Prospek Bisnis HMSP

Mengutip dari kontan.co.id, untuk saham emiten rokok memang masih akan tertekan pada tahun ini. Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menganalisis, kenaikan tarif cukai rokok sebesar 12,5% pada Februari 2021 menjadi sentimen negatif terhadap sektor ini. Sukarno menilai kenaikan harga rokok bisa memengaruhi daya beli masyarakat.

Terlebih dalam situasi saat ini masih banyak orang yang belum memperoleh pekerjaan baru akibat wabah covid-19. Selain itu, upaya menjaga kesehatan bisa menjadi pertimbangan masyarakat mengurangi konsumsi rokok,. Hal ini kemungkinan mengakibatkan kinerja emiten rokok ini berpotensi turun pada tahun ini.

Sehingga pihaknya melihat prospek untuk harga saham emiten rokok diproyeksikan akan melanjutkan penurunan dulu sampai dinilai murah kembali sesuai kinerjanya yang akan terjadi nanti. Namun, peluang naik dari harga saat ini sepertinya akan berat, meskipun tetap ada potensi kenaikan secara faktor teknikal.

Adapun program vaksinasi jika bisa berjalan dengan baik dan berhasil bisa menjadi katalis positif untuk sektor emiten rokok. Karena nantinya lapangan pekerjaan bisa tercipta lagi dan konsumsi masyarakat bisa pulih kembali.

Sementara itu, Presiden Direktur Sampoerna, Mindaugas Trumpaitis mengatakan perusahaan memahami kalau dampak dari pandemi covid-19  berpengaruh pada perlambatan ekonomi, masih tak menentu. Meski begitu, industri hasil tembakau (IHT) harus tetap terus bergerak.

Dengan harapan turut mendorong aktivitas sosio-ekonomi dan terus mempertahankan kontribusi terhadap perekonomian nasional. Perseroan juga tetap menganrisipasi berbagai dampak lanjutan dari pandemi yang terjadi secara global. Kewaspadaan ini dilakukan dengan terus beradaptasi dengan perkembangan situasi, serta menciptakan terobosan dan inovasi di dalam perjalanan bisnisnya untuk mengokohkan kepemimpinan perusahaan.

Perusahaan di tengah tantangan tersebut akan menyesuaikan strategi perusahaan untuk mempertahankan daya saing bisnisnya dan menjawab tren yang berubah. Misalnya, HMSP meluncurkan produk SKM tar tinggi untuk merespon pergeseran permintaan ke produk tar yang lebih tinggi.

HMSP pun tetap berkomitmen untuk mendukung pemerintah menciptakan lingkungan bisnis yang lebih kondusif bagi industri tembakau. Termasuk dalam perlindungan terhadap bisnis SKT yang merupakan sektor yang paling padat karya. 

Harga Saham HMSP

Berdasarkan data PER dan PBV HMSP ini tergolong harga sahamnya sedang mahal. Hal ini bisa dilihat dari data RTI per 10 Maret. Saham HMSP memiliki PER 17,74 kali dan PBV 5,70 kali.

Sementara itu, bila dibandingkan dengan saham lain di sektor penjualan rokok ada GGRM dengan PER 9,26 kali dan PBV 1,23 kali. Kemudian ada WIIM dengan PER 12,39 kali dan PBV 1,60 kali. Sehingga kamu sebaiknya melakukan pertimbangan bila ingin membeli saham ini. Dengan tetap menganalisis kinerja keuangan perusahaan.

Nah, bagi kamu yang tertarik menjadi salah satu investor saham HMSP, kamu bisa membelinya dengan mudah melalui aplikasi Ajaib! Yuk mulai investasi kamu sekarang, karena hanya dengan Rp100 ribu, kamu sudah bisa berinvestasi di Ajaib.

Artikel Terkait