Analisa Saham, Saham

Pandemi Membuat Saham DMND, Produsen Es Krim Meleleh

Pandemi Membuat Saham DMND, Produsen Es Krim Meleleh

Ajaib.co.id – PT Diamond Food Indonesia Tbk dengan kode saham DMND merupakan produsen F&B yang telah beroperasi sejak 1970. Cakupan bisnis perusahaan terbentang luas dari es krim, roti, susu UHT, hingga cold storage dan jasa pengiriman.

Semua usaha itu dijalani lewat group bisnis yang terdiri dari lima anak usaha. PT Diamond Cold Storage bertanggung jawab untuk keseluruhan operasional manufaktur dan pemprosesan di seluruh group.  NHFDI Diamond Indonesia yang melakukan pemprosesan dan perdagangan protein khususnya daging olahan.

Lalu PT Sukanda Djaya yang bergerak pada distributor makanan dan minuman dan pengimpor produk makanan dan minuman beku, dingin serta kering. PT Indogourmet Sarana Cemerlang yang merupakan distributor nasional yang sebagian besar bisnisnya adalah peralatan untuk makanan & minuman.

Terakhir, PT Diamondfair Ritel Indonesia (DRI) menjalani konsep baru untuk toko eceran Diamondfair yang secara eksklusif menawarkan produk-produk Diamond. Kedepannya, DRI akan menjadi saluran distribusi baru untuk memasarkan produk-produk Grup melalui konsep online-to-offline (O2O).

Diamond Food Indonesia melantai di Bursa Efek Indonesia pada 22 Januari 2020 dan mendapatkan sandi saham DMND. Perusahaan memiliki market cap senilai Rp 8,57 triliun dengan harga saham Rp 905 per Jumat (12/3).

Nilai itu turun 1,09% di bandingkan harga penawaran saat IPO sebesar Rp 915 per lembarnya. Merujuk data RTI, sebanyak 39,63% saham DMND dimiliki oleh Chen Tsen nan, lalu Kenneth Chen sebanyak 22,11%, Anderson Investment sebesar  19,99%.

Selain itu, Chen Wai Sioe menggenggam 10,26% saham DMND, Selanjutnya, Astrawati Aluwi punya 6,95% saham DMND. Sedangkan masyarakat memiliki 1,06% saham Diamond Food Indonesia.

Mari kita analisis lebih dalam isi DMND untuk dapat menilai seberapa menarik saham perusahaan ini.

Kinerja Keuangan Saham Perusahaan Diamond

Kinerja keuangan DMND cukup terhambat oleh pandemi Covid-19. Terlihat dari laporan keuangan per September 2020, perseroan mencatatkan penjualan bersih senilai Rp 4,44 triliun. Nilai itu 12,08% YoY dari posisi yang sama di 2019 sebesar Rp 5,05 triliun.

Merujuk keterbukaan informasi perusahaan, Manajemen menyatakan penurunan itu terjadi karena konsumen yang dibidik yakni hotel, restoran, dan kafe (Horeka) cukup terdampak pandemi. Oleh sebab itu, perusahaan telah melakukan upaya dengan menggenjot penjualan di sektor modern retail. Namun belum bisa seluruhnya mengkompensasi penurunan di horeka.

Namun, bila dibandingkan dengan kuartal kedu 2020, seiring dengan dilonggarkannya PSBB, konsumen tersebut sudah mulai beroperasi kembali dan pendapatan mulai menuju ke arah pemulihan. Terlihat dari pendapatan kuartal 2020 mengalami kenaikan sebesar 19% dibandingkan kuartal 2020.

Bila dilihat lebih jauh, produk bermerek mengkontribusi 91,39% dari total pendapatan Perseroan. Pada 2020, penjualan produk bermerek meningkat sebesar 17,34%, dari Rp1,15 triliun pada kuartal II-2020 menjadi Rp1,35 triliun pada kuartal III- 2020.

Meski kinerja bisnis menurun, DMND berhasil melunasi sebagian utang ke perbankan. Terlihat dari posisi utang kepada bank turun sebesar Rp 100 miliar dari Desember 2019 menjadi Rp 119,9 miliar pada September 2020.

Berikut ini laporan kinerja laba DMND  (dalam Rp miliar):

Komponen Laba September 2019 September  2020
Penjualan bersih 5.054 4.449
Laba operasional 252 181
Laba usaha 255 165
Beban pokok penjualan 3.977 3.589
Laba Bersih 255 165
Aset 5571 5670

Meski telah melakukan upaya untuk menahan pandemi, DMND membukukan penurunan laba sebesar 35,41% YoY dari Rp 255,48 miliar menjadi Rp 165,02 miliar.  Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio keuangan umum DMND. Berikut ini datanya:

Rasio September 2019 September 2020
GPM 21,31% 19,32%
NPM 5,05% 3,70%
ROA 2,91%
ROE 3,61%

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan bahwa kondisi bisnis DMND sangat terdampak pandemi Covid-19. Terlihat dari menurunkan rasio GPM dan NPM sebagai salah satu aspek dalam menghasilkan pendapatan pandemi. Bisnis DMND akan kembali meningkat seiring dengan pemulihan daya beli masyarakat.

Kinerja Saham DMND

Kinerja unggul DMND sudah relatif stabil dalam beberapa tahun terakhir. Berikut ini rata-rata pertumbuhan tahunan (compound annual growth rate/ CAGR) sejumlah komponen kinerja DMND periode 2016 hingga 2019:

Komponen CAGR 2016-2019
Penjualan bersih 9,47%
Laba kotor 9,35%
Laba Bersih 6,49%
Total Aset 20,63%

Tingkat pertumbuhan dalam empat tahun terakhir mencerminkan solidnya bisnis DMND yang cukup kuat. Bila daya beli masyarakat semakin membaik, maka kinerja perusahaan masih bisa tumbuh ke depannya.

Track Record Pembagian Dividen

DMND belum memiliki riwayat pembagian dividen, maklum perusahaan ini baru berusia satu tahun sebagai perusahaan terbuka. Hingga saat ini, perusahaan belum mengumumkan rencana penggunaan laba yang telah diperoleh sepanjang 2020. Bagi investor yang gemar mengoleksi saham yang loyal bagi dividen, maka harus menunggu terlebih dahulu kebijakan DMND terhadap penggunaan labanya. .

Prospek Bisnis DMND

Diamond Food Indonesia telah beroperasi lebih dari 46 tahun di Indonesia. Kin perusahaan memiliki lebih dari 50 merek produk yang telah didistribusikan ke seluruh penjuru lewat 21 titik distribusi langsung. Terdapat lebih 1.000 produk telah diproduksi lewat 4 pabrik.

Merujuk, materi paparan publik pada November 2020, perusahaan secara konsisten menambah jejaring distribusi. Juga penyelarasan produk-produk baru yang relevan dengan kondisi saat ini.

DMND mengantisipasi perubahan perilaku pembelian konsumen dan efisiensi biaya operasional. Perusahan telah menunda penambahan karyawan, mengefisiensikan pengiriman dengan meningkatkan load factor kendaraan dan mengurangi sewa kendaraan pengiriman, mengoptimalkan biaya promosi, mengefisiensikan biaya office supplies.

Selain itu, perseroan telah meningkatkan fokus pada digital marketing agar dapat meningkatkan awareness merek-merek produk. Juga meningkatkan penjualan e-commerce channel yang dimiliki. Manajemen menilai potensi e-commerce channel tergolong positif dan bertumbuh dengan lebih cepat saat pandemi Covid19. Walaupun kontribusi e-commerce channel masih tergolong kecil.

Perseroan juga mengambil berbagai langkah dan strategi untuk meminimalkan kontraksi pendapatan selama pandemi. Mulai dari meningkatkan penetrasi distribusi ke Modern Trade Channel dan e-commerce. Langkah ini diharapkan juga menjadi Langkah ekspansi Perseroan setelah pandemic Covid-19 berakhir.

Perseroan telah memperkuat fondasi di modern retail dan e-commerce, selain di industri horeka. Hal ini bisa menjadi pemicu meningkatnya kinerja DMND di masa mendatang. Seiring dengan pergeseran perilaku konsumen Indonesia yang mengarah ke serba digital.

Harga Saham

PER dan PBV DMND saat ini masih tergolong mahal. Berdasarkan data RTI, PER dan PBV DMND per Jumat (12 Maret 2020) ada di level 40,08 kali dan 1,88 kali. Saham ini terbilang cukup mahal untuk emiten es krim yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Sebagai pembanding, CAMP  PER dan PBV-nya ada di level 46,41 kali dan 1,48 kali. Sementara itu, PER dan PBV saham UNVR ada di level 35,68 kali dan 51,77 kali.

Jika melihat kinerja keuangannya secara umum serta prospek bisnisnya masih dibebani oleh dampak pandemi, saham DMND belum layak dipertimbangkan untuk dibeli.

Namun, saham ini bisa kamu masukkan ke dalam wishlist setelah pandemi selesai atau ketika kinerja sahamnya sudah mulai membaik. Jadi, sambil menunggu kinerja saham DMND membaik, kamu bisa membeli dan bertransaksi saham lainnya melalui Ajaib.

Artikel Terkait