Analisa Saham

Saham CSRA Berpotensi Tumbuh di Tahun 2021

Saham CSRA

Ajaib.co.id – PT Cisadane Sawit Raya Tbk (berkode saham: CSRA) didirikan pada 28 Oktober 1983. Bidang bisnis utama CSRA adalah hasil perkebunan kelapa sawit.

CSRA mulai mengembangkan kebun kelapa sawit di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara. Penanaman pohon kelapa sawit pertama kali dilakukan pada tahun 1990 di kebun Sei Tampang, Negeri Lama. CSRA terus berkembang dengan membangun pabrik kelapa sawit (PKS) untuk mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO).

Pada September 2019, CSRA resmi melantai di bursa dengan melepas 410.000.000 saham baru. Jumlah saham yang dicatatkan tersebut setara dengan 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Saham baru tersebut ditawarkan kepada publik dengan nilai nominal sebesar Rp100 per saham yang ditawarkan di level harga Rp125 per lembar saham.

Pascapelaksanaan IPO, telah terjadi perubahan pada komposisi kepemilikan saham. Kini, para pemegang saham CSRA adalah PT Sapta Sawit Lestari, PT Verdan Sawit Lestari, PT Sawit Inti Perkasa, dan masyarakat.

Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Kinerja keuangan CSRA tahun 2020 lebih baik dibandingkan tahun 2019. Penjualan dan pendapatan usaha CSRA tahun 2020, misalnya, tercatat Rp607,2 miliar. Angka ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2019 yang sbesar Rp492,2 miliar.

 Komponen Laba Desember 2019 Desember 2020
Penjualan dan pendapatan usaha Rp492,2 miliar Rp607,2 miliar
Beban pokok penjualan dan
pendapatan
(Rp300,4 miliar) (Rp341,3 miliar)
Keuntungan (kerugian) selisih
kurs mata uang asing
(Rp76,7 juta) Rp35,1 juta
Jumlah laba (rugi) Rp29,1 miliar Rp72,3 miliar

CSRA juga berhasil meraup keuntungan pada selisih kurs mata uang asing di tahun 2020. Padahal, setahun sebelumnya, CSRA merugi di aspek tersebut. Akhirnya, CSRA pun berhasil meningkatkan laba di tahun 2020.

Riwayat Kinerja

Riwayat kinerja CSRA dalam beberapa tahun terakhir juga terbilang positif. Pada kurun waktu tahun 2015–2019, penjualan CSRA naik 30,4%. Total asetnya pun bertambah hingga 49%. Yang paling mencolok adalah kenaikan laba CSRA.

Pada periode tahun yang sama, kenaikan laba CSRA mencapai 416%. Berikut adalah ikhtisar sejumlah elemen CAGR CSRA.

Komponen CAGR 2015-2019
Penjualan 30,4%
Beban pokok penjualan 11,7%
Total aset 49%
Total liabilitas 19,7%
Laba (rugi) 416%

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Sejak berdirinya hingga akhir tahun 2018, CSRA belum membagikan dividen kepada pemegang saham. Hal ini tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Anggaran Dasar serta keputusan pemegang saham.

Menyusul dilaksanakannya Penawaran Umum Perdana Saham, Manajemen CSRA menetapkan kebijakan untuk membayarkan dividen dengan rasio sebanyak-banyaknya 10% dari laba tahun berjalan konsolidasi setelah menyisihkan untuk cadangan wajib.

Kebijakan ini mulai berlaku dari tahun buku 2019 dalam bentuk uang tunai kepada seluruh pemegang saham.

Prospek Bisnis CSRA

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan dan komoditas ekspor Indonesia yang memiliki kontribusi besar sebagai penghasil devisa negara selain minyak dan gas bumi. Sejak tahun lalu, industri kelapa sawit nasional menunjukkan kondisi lebih optimistis. Mulai naiknya harga CPO menumbuhkan optimisme para pelaku industri ini.

Dukungan Pemerintah Indonesia untuk mendorong peningkatan penyerapan kelapa sawit di pasar domestik untuk memenuhi kebutuhan pasokan biofuel diharapkan akan membuka peluang lebih besar bagi pertumbuhan industri sawit nasional.

Dengan adanya program B20 serta kebijakan implementasi program B30, yang merupakan pencampuran minyak sawit (30%) dengan bahan bakar solar (70%), tentunya industri sawit Indonesia memiliki peluang untuk tumbuh lebih besar.

Namun, pada tataran global, industri sawit nasional masih menghadapi kampanye negatif dari Uni Eropa. Meski begitu, para pelaku industri sawit nasional bisa berharap perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina mulai mereda. Kondisi membaiknya pasar global diharapkan akan berdampak positif terhadap harga komoditas internasional.

Di luar dari faktor-faktor tersebut, industri sawit juga diperkirakan akan menghadapi cuaca yang lebih baik sehingga akan menggenjot produksi sawit nasional.

Sementara itu, di sisi internal dengan terlaksananya IPO, diharapkan dapat memotivasi CSRA dan anak usahanya untuk tumbuh lebih baik lagi. CSRA bisa berharap untuk terus tumbuh di masa-masa mendatang melalui investasi-investasi strategis, baik dalam bentuk akuisisi kebun maupun pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit baru.

Manajemen CSRA berkomitmen untuk mempercepat penerapan standar-standar yang tercakup dalam kebijakan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Sejak akhir Desember 2019, CSRA telah memulai rangkaian proses audit terkait penerapan ISPO untuk kebun-kebunnya.

Perolehan sertifikat ISPO diharapkan akan mampu memperbaiki kualitas penerapan tata kelola berkelanjutan di seluruh lini operasional CSRA.

Menghadapi berbagai tantangan di tahun 2021 yang masih dilanda pandemi Covid-19, CSRA akan memanfaatkan semua momentum yang terjadi untuk memperkuat kinerja keuangan.

Selain itu, CSRA juga terus menjaga kinerja dengan mengatur cash flow untuk menjalankan operasional maupun pengembangan usaha. CSRA pun memfokuskan untuk memasarkan produk kelapa sawitnya kepada pelanggan dari dalam negeri. Hal ini dikarenakan terdapatnya permintaan yang tinggi dari pasar domestik.

Harga Saham (Kesimpulan)

Data per tanggal 24 Maret 2021 untuk saham CSRA adalah sebagai berikut:

Pembukaan: Rp314

Penutupan Sebelumnya: Rp314

Penawaran (Offer): Rp310

Penawaran (Bid): Rp308

Harga Terendah: Rp308

Harga Tertinggi: Rp314

Volume: 316.800 (Saham)

Nilai Transaksi: Rp98.379.600

Frekuensi: 77 (Kali)

EPS: Rp63

PE Ratio: 5 (Kali)

Kapitalisasi Pasar: Rp635.500 juta

Merujuk data tersebut ditambah dengan strategi CSRA, maka rekomendasi saham CSRA saat ini adalah beli.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi.

Artikel Terkait