Analisa Saham, Saham

Saham CMNP: Proyek Jalan Terus, Tetapi Harga Saham Fluktuatif

Ajaib.co.id – PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (kode saham CMNP) merupakan didirikan pada 13 April 1987. Awalnya, ini adalah konsorsium yang terdiri dari beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan perusahaan swasta nasional yang bergerak di industri infrastruktur, khususnya yang berfokus pada pengerjaan jalan tol dan bidang terkait lainnya.

Proyek pertama perseroan adalah jalan tol ruas Cawang – Tanjung Priok sepanjang 19,03 kilometer. Setelah itu, perseroan memperoleh proyek jalan tol dari pemerintah yakni Tanjung Priok – Jembatan Tiga/Pluit sepanjang 13,93 kilometer dan disusul proyek-proyek lainnya.

Pada Januari 1995, perseroan tercatat emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Dengan kode saham CMNP, penawaran umum perdana pada level Rp2.600. Adapun pemegang saham per Desember 2019 adalah BP2S SG/BNP Paribas Wealth Management Singapore Branch dengan porsi 47,16%, PT Raja Berkah Tentram dengan 7,59%, dan publik sebesar 45,25%.

CMNP Bantu Lunasi Utang Anak Usaha

PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) telah membantu untuk melunasi utang anak usaha, PT Citra Marga Lintas Jabar, kepada bank sindikasi pada 26 Februari 2021, Kontan.co.id (26/03/2021). Untuk melunasi utang, perseroan meminjamkan dana senilai Rp560 miliar kepada anak usahanya.

Dana pelunasan tersebut berasal dari setoran modal serta pinjaman dana kepada pemegang saham. Pinjaman memiliki bunga sebesar 9% per tahun dengan jangka waktu pengembalian selama 78 bulan.

Sebelumnya, CMNP telah menyelesaikan penawaran umum terbatas II dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebanyak 1,81 miliar saham dengan waran seri 1 sebanyak 1,26 miliar. Aksi korporasi tersebut membuat perseroan mengumpulkan dana segar sebesar Rp 1,4 triliun.

Manajemen Citra Marga Nusaphala menjelaskan, perseroan menyerap belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp450 miliar pada 2020. Dengan anggaran capex ditambah dengan lalu lintas harian ruas tol yang pulih, manajemen berharap kinerja keuangan perseroan lebih baik pada 2021 diharapkan lebih baik, dibandingkan pencapaian tahun 2020.

Saat ini CMNP memiliki  lima anak perusahaan. Mereka adalah PT Citra Margatama Surabaya memegang konsesi jalan tol ruas Simpang Susun Waru-Bandara Juanda Surabaya, PT Citra Waspputowa memiliki konsesi jalan tol ruas Antasari-Depok-Bogor, PT Citra Persada Infrastruktur adalah spesialis operation and maintenance jalan tol sekaligus induk usaha dari PT Girder Indonesia sebagai spesialis precast concrete atau beton pracetak, PT Citra Marga Nusantara Propertindo bergerak di bidang properti dan pengembangan kawasan, dan PT Citra Marga Lintas Jabar merupakan Badan Usaha Jalan Tol yang memegang konsesi ruas Soreang-Pasir Koja (Soroja) Bandung sepanjang 8,15 Kilometer.

Pendapatan CMNP Turun Akibat Pandemi

Kinerja CMNP terdampak pandemi COVID-19. Sehingga pendapatannya turun cukup signifikan.

Kinerja keuangan hingga kuartal III-2020 CMNP sebagai berikut, pendapatan turun menjadi Rp1,69 triliun year-on-year, sebelumnya Rp2,39 triliun. Laba bersih juga turun menjadi Rp318,79 miliar yoy dari Rp471,95 miliar.

Meski demikian perseroan mampu menekan total liabilitas menjadi Rp6,76 triliun yoy dari Rp7,53 triliun, ekuitas tergerus menjadi Rp8,39 triliun yoy sebelumnya Rp7,91 triliun, dan total aset pun anjlok tipis yaitu Rp15,15 triliun yoy sebelumnya Rp15,45 triliun.

Kinerja CMNP Selama Lima Tahun

Kinerja keuangan CMNP selama lima tahun, terhitung sejak 2016 hingga 2020, menunjukkan kenaikannya. Pasalnya, perseroan mengalami penurunan pada jasa konstruksi sebesar 16,63% atau sebesar Rp1,94 triliun.

Pendapatan jasa konstruksi berkontribusi paling besar terhadap pendapatan perseroan. Setelah itu pendapatan tol sebesar Rp1,47 triliun, pendapatan jasa pengoperasian tol Rp76,69 miliar, dan pendapatan sewa Rp29,27 miliar.

Pada 2019, CMNP melakukan percepatan konstruksi proyek jalan tol Depok-Antasari seksi II (Brigif-Sawangan) dan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan. Selain itu, perseroan juga mengerjakan proyek pemerintah untuk mengembangkan jalan tol Ir. Wiyoto Wiyono seksi Ancol Timur-Pluit (Elevated) Harbor Road II.

Laporan Laba RugiQ3 20202019201820172016
Pendapatan BersihRp1,69 triliunRp3,52 triliunRp3,82 triliunRp2,90 triliunRp2,31 triliu
Laba KotorRp672,59 miliarRp1,29 triliunRp1,19 triliunRp977 miliarRp965,79 miliar
Laba BersihRp318,79 miliarRp689,85 miliarRp730,58 miliarRp693 miliarRp508,51 miliar

Data dari Ajaib, rasio keuangan CMNP mengalami kenaikan. Seperti yang terlihat dari ROE, ROE, dan NPM. Meski ada penurunan pendapatan pada 2019, tetapi perseroan masih menjaga kondisi keuangannya dengan baik.

Rasio 20192018
ROA4,91%5,77%
ROE10,64%11,87%
NPM21,5%19,78%
CR154,83%299,70%
DER106%98%

Prospek Bisnis CMNP

CMNP bersama PT Jasa Marga Tbk (JSMR), sebagai operator jalan tol, akan memberlakukan teknologi terkini Let It Flo (FLO) pada gerbang tol. Sistem FLO telah diuji coba pada 50 gerbang tol tertentu, seperti ruas Bali Mandara, tol dalam kota, Jagorawi, Lingkar Luar Jakarta (JORR), Jakarta-Tangerang, Jakarta-Cikampek.

FLO adalah sistem nirsentuh pada gerbang tol. Sehingga pengguna jalan tol melakukan pembayaran tanpa menyentuh atau membayar tanpa uang maupun kartu. Namun implementasi tol nirsentuh masih menunggu regulasi dari pemerintah, CNBCIndonesia.com (25/03/2021).

Direktur Utama CMNP Fitria Yusuf menjelaskan akan menerapkan stiker RFID pada gerbang tol. Stiker tersebut sebagai media pembayaran tol nirsentuh. Dengan teknologi tersebut, Fitria berharap tak ada antrian di gerbang tol ke depannya.

Selain itu, perseroan melanjutkan proyek jalan tol Depok-Antasari seksi III, yang akan melewati Sawangan hingga Bojonggede. Menurut Jusuf Hamka, Komisaris Utama CMNP, saat ini pihaknya melakukan pembebasan lahan dan jika rencana berjalan lancar, tahun depan akan membangun konstruksinya, IDXChannel.com (04/02/2021). Pembangunan dilakukan oleh anak usaha CMNP, PT Citra Waspphutowa.

Beli atau Abaikan Saham CMNP?

Saham CMNP layak untuk dibeli. Pasalnya, emiten memiliki kinerja keuangan yang baik dan prospek bisnis berkelanjutan.

Harga saham ini pada penutupan Senin, 29 Maret 2021, adalah Rp2.050. Meskipun harga saat penawaran perdana pada 1995 adalah Rp2.600. Salah satu penyebabnya adalah pandemi COVID-19 yang membuat kegiatan ekonomi melambat.

Hal tersebut berimbas pada pengeluaran anggaran negara. Walaupun beberapa tahun ini, pemerintah menggenjot pembangunan serta perbaikan infrastruktur di berbagai wilayah. Namun kinerja saham emiten sektor infrastruktur tidak begitu mengesankan.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan, ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait