Analisa Saham, Saham

Bedah Fundamental & Prospek Saham ANTM

Ajaib.co.id – Beberapa bulan lalu, saham meroket tanpa ada halangan hingga mencapai all time high-nya di level Rp3.000an. Popularitasnya melonjak setelah sentimen rumor Tesla yang ingin mengembangkan pabrik baterai di Indonesia dan membutuhkan jumlah nikel yang tinggi. Saham ini adalah saham ANTM.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) merupakan perusahaan pertambangan dan logam terdistribusi dan terdiversifikasi. Perusahaan bergerak di bidang eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, pemurnian dan pemasaran bijih nikel, feronikel, emas, perak, bauksit, batu bara, hingga logam mulia lain.

Segmen usaha perusahaan dengan kode ANTM ini berfokus pada segmen nikel, emas dan kilang, serta segmen usaha lainnya. Komoditas yang berada di segmen nikel meliputi feronikel dan bijih nikel, sedangkan yang berada di segmen emas dan kilangnya adalah emas, perak, platinum dan paladium. Segmen operasi lainnya terdiri dari bauksit dan batu bara.

ANTM merupakan emiten anggota indeks LQ45 dan IDX30, tidak heran jika peminatnya banyak. Per 16 Februari 2021, kapitalisasi pasar ANTM sudah mencapai 68,97 triliun dan di harga Rp2,870/lembar, naik 100% dibandingkan dengan harga IPO nya pada 27 November 1997, yaitu di angka Rp1,400.

Sama seperti $TINS dan $PTBA, kepemilikan mayoritas ANTM dipegang oleh PT. Indonesia Asahan Aluminium dengan persentase 65%, diikuti publik di angka 35%.

Meskipun beberapa bulan terakhir manggung, mari kita bedah saham ANTM bersama-sama untuk mengetahui apakah saham ini benar-benar semenarik itu atau hanya efek dari sentimen belaka.

Kinerja Keuangan 

ANTM mengumumkan pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan Perusahaan yang positif pada periode Triwulan Pertama Tahun 2021. Kinerja operasi dan keuangan ANTAM yang solid tercermin dari capaian Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) pada 1Q21 sebesar Rp1,24 triliun.

Angka ini meningkat signifikan dibandingkan capaian EBITDA pada Triwulan Pertama Tahun 2020 (1Q20) sebesar Rp34,13 miliar atau tumbuh 36 kali. Pertumbuhan EBITDA yang positif terutama didukung oleh kinerja operasi dan penjualan komoditas utama ANTAM yang solid serta peningkatan efisiensi biaya, sehingga tercapai biaya tunai operasi ANTAM yang optimal.

Pertumbuhan profitabilitas ANTAM pada 1Q21 tercermin pada capaian laba kotor sebesar Rp1,63 triliun, tumbuh 189% dari capaian laba kotor pada 1Q20 sebesar Rp561,82 miliar.

Sementara itu capaian laba usaha Perusahaan pada 1Q21 tercatat sebesar Rp793,89 miliar, melonjak 477% dibandingkan 1Q20 sebesar Rp137,54 miliar. Faktor pendukung tercapainya peningkatan ini adalah pertumbuhan tingkat penjualan serta pengelolaan biaya beban pokok penjualan dan usaha yang optimal.

Pertumbuhan positif laba kotor dan laba usaha mendukung capaian laba tahun berjalan 1Q21 ANTAM sebesar Rp630,38 miliar, naik dari rugi 1Q20 sebesar Rp281,84 miliar.

Implementasi strategi operasional yang tepat mendukung pertumbuhan profitabilitas seluruh segmen operasi utama ANTAM yang berbasis pada komoditas nikel, emas, dan bauksit. Hal tersebut tercermin pada posisi arus kas bersih perusahaan yang diperoleh dari aktivitas operasi pada 1Q21 sebesar Rp1,88 triliun, tumbuh signifikan dibandingkan 1Q20 sebesar Rp18,87 miliar.

Pertumbuhan arus kas bersih dari aktivitas operasi tersebut memperkokoh perolehan kenaikan bersih arus kas dan setara kas ANTAM pada 1Q21 yang mencapai Rp1,26 triliun, meningkat dari 1Q20 sebesar Rp546,16 miliar, sehingga memperkokoh struktur keuangan ANTAM yang tercermin dari saldo kas dan setara kas pada 1Q21 sebesar Rp5,33 triliun.

Riwayat Kinerja

KomponenCAGR 2017-2020
Laba Bersih-2,6%
Pendapatan26,63%
Total Aset0,02%

Tingkat pertumbuhan dalam 5 tahun terakhir mencerminkan ANTM masih sulit menghasilkan keuntungan secara konsisten. Tampak dari CAGR laba bersih yang masih minus dan aset periode 2017 – 2020 yang pertumbuhannya di bawah 5%. Namun, pertumbuhan ANTM masih terbantu pendapatannya yang rata-rata tumbuh sebesar 26,63% setiap tahun.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

  1.  
TahunDividen per SahamJumlah yang dibayarkan (Rp Miliar)
20181.9947
201912.74306
20202.8267

Sejak IPO di tahun 1995, ANTM baru membagikan dividen terhitung sejak tahun 2018 dan terus berlanjut hingga ke 2019 dan 2020. Meskipun angkanya belum stabil, setidaknya saham ANTM membuktikan ke investor bahwa mereka layak dipertimbangkan untuk dikoleksi dengan memberikan dividen secara rutin setidaknya 3 tahun terakhir.

Prospek Bisnis ANTM

Di antara banyaknya komoditas yang menjadi sumber penjualan ANTM, emas dan nikel masih menjadi sumber pendapatan perusahaan BUMN tersebut. Dua komoditas tersebut diproyeksikan akan menjadi katalis positif bagi ANTM di tahun 2021.

Namun, dengan adanya pemulihan ekonomi dan vaksinasi berjalan lancar, harga emas kemungkinan akan terkoreksi. Hingga saat ini harga emas berada di level $1,800/ounce. Sementara, harga nikel berada di kisaran level $16,000 – $17,000/ton, tapi peluang kenaikan komoditas tersebut tidak akan signifikan mengingat kenaikannya sudah di luar ekspektasi. 

Selain itu, nikel diprediksi akan menjadi komoditas unggulan di 2021 seiring dengan perubahan arah kebijakan energi baik di level global dan nasional. Misalnya, di skala global ada Amerika Serikat di bawah Presiden Joe Biden, China, dan Eropa yang berfokus menerapkan energi terbarukan dan mobil listrik. China bahkan berambisi mengembangkan kendaraan ramah lingkungan dengan rasio 50% kendaraan listrik di 2035. 

Tren penggunaan bahan tambang pun akan bergeser, dari yang sebelumnya batu bara dan minyak akan bergeser ke energi bersih. Komoditas tambang nikel dan timah akan menjadi penggerak utama perubahan ini. Saham ANTM selaku pemain utama tambang nikel yang merupakan bahan baku utama pembuatan baterai pengembangan kendaraan listrik akan diuntungkan. Area operasi nikel ANTM pun tersebar di Indonesia, mulai dari Sulawesi Tenggara hingga Maluku Utara.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, ANTM adalah produsen nikel terbesar di tanah air yang menguasai 19% sumber nikel, disusul VALE dan DKFT. ANTM juga telah membangun pabrik pemurnian smelter Feronikel di Pomala sejak 1976 dengan kapasitas 27.000 ton per tahun, dan tengah menunggu penuntasan pengembangan pabrik pemurnian smelter Feronikel di Halmahera Timur dengan kapasitas 13.500 ton per tahun.

Jika pabrik ini selesai, ANTM akan menjadi perusahaan negara yang akan menjadi pesaing utama perusahaan global sektor nikel. Sebagai tambahan, ANTM perlu membangkitkan kepercayaan investor besar dan publik di tanah air jika ingin menjadi perusahaan nikel berskala global.

Kesimpulan

Berdasarkan data RTI per 16 Februari 2021, PER ANTM tergolong sangat tinggi, yaitu di angka 61,89 kali, pun dengan PBV nya yang mencapai 3.64 kali yang mengartikan harga saham ANTM yang sekarang tergolong mahal.

Namun, dengan prospek bisnis nikel yang menjadi salah satu inti bisnis perusahaan, harga terkini ANTM masih bisa dikompromi, terlebih dengan DER yang rendah dan rutin membagikan dividen 3 tahun berturut-turut membuktikan bahwa peluang pertumbuhan ANTM di masa depan sangat besar.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait