Saham

November Rain Pada Saham, Apa Artinya?

Ajaib.co.id – Pada dekade tahun 1990-an, ada sebuah lagu berjudul ‘November Rain’ yang ‘meledak’ di pasaran. Lagu yang dibawakan oleh band rock Guns ‘N Roses ini bahkan masih populer hingga kini, khususnya bagi kalangan penggemar musik bergenre rock. Judul lagu yang sama pun dikenal dalam lingkup saham. Apa artinya?

Lagu ‘November Rain’ dirilis pada September 1991. Memang, tak ada korelasinya antara judul dan waktu rilisnya, bukan? Apakah hal identik ditemui bila dikaitkan dengan saham?

Bila berbicara mengenai saham, istilah ‘November Rain’ merujuk pada bulan November. Istilah ini memiliki nuansa suram. Hal tersebut bisa dilihat dari data 10 tahun terakhir sampai 2020. Pada bulan November di kurun waktu tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya menunjukkan kinerja positif sebanyak tiga kali. Dengan kata lain, IHSG menunjukkan kinerja negatif hanya memiliki kemungkinan 30%. Data yang suram, bukan?

Salah satu catatan positif IHSG di bulan November dalam 10 tahun terakhir terjadi di tahun 2014. Saat itu, IHSG naik 1,19%. Empat tahun kemudian di bulan November, IHSG juga menuai catatan positif sebesar 3,85%. Pada tahun 2020, IHSG tercatat naik paling signifikan, yakni sebesar 9,44%.

Sementara itu, koreksi terparah IHSG di bulan November dalam 10 tahun terakhir terjadi di tahun 2013. Saat itu, IHSG merosot hingga 5,64% jika dibandingkan dengan posisi per akhir Oktober 2013. Tiga tahun berselang di bulan sama, IHSG juga turun cukup signifikan, yakni 5,05%. Pada tahun 2019, penurunan besar pada IHSG juga terjadi, meski tidak sebesar di tahun 2013 dan 2016, yakni sebesar 3,48%.

Jika ditarik lebih luas, bulan November memang menjadi satu di antara dua bulan yang secara rata-rata membukukan imbal hasil negatif. Satu bulan lainnya adalah Agustus.

Bagaimana dengan data terkini, tepatnya pada bulan November 2021? Ternyata, kondisi yang suram masih terlihat. Pada dua hari perdagangan di bulan November 2021, misalnya, IHSG ditutup melemah sebesar -0,91% (-59,61 poin) menuju level 6.493,25. Nilai transaksi perdagangannya Rp11,4 triliun. Saat itu, investor cenderung konservatif jelang keputusan suku bunga The Fed terkait antisipasi terhadap kebijakan tapering dan rilis data GDP kuartal III/2021 Indonesia pada akhir pekan. 

Pada suatu kesempatan, Senior Vice President Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengemukakan, setiap periode November terjadi penurunan indeks karena adanya kecenderungan investor untuk menunggu dan melihat (wait and see) menjelang akhir tahun. Sebagian investor menyiapkan ‘amunisi’ akhir tahun untuk melakukan window dressing

Pada prinsipnya, window dressing mengacu pada tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan sebelum menerbitkan laporan keuangan. Menurut Janson, window dressing jarang sekali dilakukan pada bulan November.

Lalu, mengapa IHSG di bulan November tahun 2020 naik cukup tajam? Jason menilai, November tahun 2020 adalah anomali. Hal ini tak terlepas dari dampak pandemi Covid-19

Akibat pandemi Covid-19, kata Jason, pertumbuhan laba terjun bebas. Imbasnya, banyak saham yang terdiskon. Alhasil, banyak investor berburu ‘barang murah’. Anomali itu ditambah dengan euforia kedatangan vaksin di tengah pandemi Covid-19 yang masih melanda.

Di kesempatan berbeda, Analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, penurunan IHSG November terjadi karena pada bulan sebelumnya sudah naik. Maka, memerlukan koreksi. Dengan koreksi tersebut, investor bisa mendapat laba. Investor pun bisa kembali ke pasar pada Desember untuk memaksimalkan window dressing

Tidak seperti bulan November, kondisi berbeda ditemui pada bulan Desember. Pada umumnya, IHSG menunjukkan kinerja positif di bulan terakhir berdasarkan kalender masehi tersebut. Sejak tahun 1997, data Stockbit mencatat, baru sekali IHSG di Desember turun. Penurunan itu terjadi di tahun 2000 sebesar 3%. 

Bulan Oktober juga lebih ‘ramah’ terhadap IHSG dibandingkan bulan November. Data Stockbit menyatakan, 80% IHSG ditutup menguat di bulan Oktober dalam 10 tahun terakhir. Rata-rata kenaikan mencapai 2,26%. Bulan Oktober tercatat sebagai bulan tertinggi kedua setelah IHSG Desember yang rata-rata naik 3,27%. 

Jadi, pelaku pasar harus benar-benar berhati-hati atau meningkatkan kejeliannya di bulan November. Pasalnya, ternyata secara historis November merupakan bulan yang kurang ‘bersahabat’ bagi pasar saham tanah air. Istilah tersebut juga dapat diartikan sebagai siklus sentimen negatif, sehingga pergerakan saham di bulan ini tidak setinggi dengan bulan-bulan lainnya.

Meski dibayangi ‘awan kelabu’, trading tetap bisa dilakukan di bulan November karena tidak semua saham menunjukkan pelemahan. Beberapa sektor masih menunjukkan penguatan di bulan November, seperti sektor konstruksi dan teknologi. 

Biasanya, memasuki akhir tahun, sektor konstruksi banyak diincar karena lazimnya pembayaran utang jatuh tempo jatuh di akhir tahun dan secara harga mengalami kenaikan. Sementara itu, sektor teknologi juga bisa menjadi pilihan karena bisa dimanfaatkan jika dilihat dari cara trading jangka pendek.

Pertanyaan berikutnya, mengapa istilahnya ‘November rain’? Bukankah hujan sering diasosiasikan sebagai rezeki yang melimpah? 

Kembali ke awal tulisan ini bahwa lagu ‘November Rain’ memang bernuansa suram. Pada dasarnya, lagu tersebut bercerita mengenai seorang bintang rock yang berduka atas kematian pujaan hatinya yang bunuh diri.

Lagu ‘November Rain’, tanpa diragukan lagi, adalah salah satu everlasting song. Hingga kini, lagu tersebut masih digemari oleh anak-anak muda hingga paruh baya. 

Selain itu, hingga November 2021, lagu ini telah dilihat lebih dari 17 juta kali di YouTube. Jumlah tersebut menjadikan lagu ‘November Rain’ sebagai salah satu lagu di era tahun 1990-an dengan penayangan terbanyak di YouTube.

Artikel Terkait