Saham

Mengenal Apa Itu Dual Listing dalam Bursa Saham

Ajaib.co.id – Kita tahu bahwa tujuan sebuah perusahaan listing/mencatatkan sahamnya di bursa adalah untuk mencari modal tambahan dari publik. Sebuah perusahaan ternyata bisa mencatatkan sahamnya di lebih dari satu bursa saham, lho! Istilah untuk itu dikenal sebagai dual listing.

Jadi dual listing adalah pencatatan saham perusahaan di lebih dari satu pasar modal. Hal ini sudah lumrah dilakukan oleh berbagai perusahaan-perusahaan multinasional. Meski demikian hanya segelintir saja perusahaan Indonesia yang melakukan dual listing. Misalnya saja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Indosat Tbk (ISAT)  dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).

Selain listing di Bursa Efek Indonesia (BEI), TLKM juga melakukan penawaran saham perdana (IPO) di bursa internasional New York Stock Exchange (NYSE) dan London Stock Exchange (LSE) sejak 14 November 1995.

Indosat juga sempat melakukan listing saham di NYSE namun sayangnya delisting/keluar dari bursa pada pertengahan tahun 2013.

Sedangkan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), ANTM telah listing di Bursa Efek Jakarta (BEJ) di tahun 1997 kemudian di tahun 1999 ANTM memilih Bursa Efek Australia (ASX) sebagai tempat berikutnya listing. Selanjutnya BEJ dan Bursa Efek Surabaya digabung menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI), alhasil saham-saham yang tercatat di BEJ dan BES kini juga tercatat di BEI termasuk ANTM. Kini Aneka Tambang juga bisa ditemui sahamnya di bursa Frankfurt, Jerman.

Berikut adalah saham PT Aneka Tambang Tbk di bursa Indonesia BEI dan bursa Australia ASX:

Di BEI saham Aneka Tambang Tbk (ANTM) adalah senilai Rp2.720 saja. ANTM cukup aktif ditransaksikan terutama ketika krisis. Sedangkan di ASX emiten Aneka Tambang Tbk memiliki kode saham ATM dengan harga yang juga berbeda.

Saat ini saham ATM ditransaksikan di harga AUD 1 atau setara dengan Rp10.907 per lembar saham. Sebenarnya perbedaan harga saham di kedua bursa ini bisa dijadikan peluang trading arbitrase jika kamu tahu caranya.

Nilai Lebih Dual Listing

Keuntungan bagi perusahaan yang melakukan dual listing di antaranya:

  • Pendanaan lebih. Dengan melakukan dual listing, suatu perusahaan dapat mendapatkan akses yang lebih besar untuk memperoleh modal tambahan di pasar yang lebih besar.
  • Meningkatkan kredibilitas perusahaan di mata investor karena laporan tahunan dibuat dengan standar internasional, terutama mengenai transparansi dan kerahasiaan, sehingga otomatis akan mengikuti kaidah GCG (Good Corporate Governance) yang baik.
  • Untuk menaikkan prestise perusahaan dan meningkatkan likuiditas dari suatu saham. 

Perusahaan yang dual listing diwajibkan untuk tunduk pada aturan di berbagai bursa dan mesti berlaku transparan dan kredibel. Misalnya saja Telkom yang sempat bermasalah ketika hendak IPO di bursa Amerika Serikat NYSE. Auditor yang dirujuk saat itu belum dapat diakui berdasarkan standar bursa New York tersebut. Belum lagi sederet aturan lainnya yang harus dipatuhi oleh emiten asing sehingga biaya yang dikeluarkan juga besar.

Listing di bursa luar cukup sulit karena peraturan dan pengawasan otoritasnya berbeda dan sangat ketat terhadap emiten asing. TLKM dan ANTM yang sudah lolos listing telah mematuhi aturan yang ada sehingga dual listing dapat menjadi pertimbangan fundamental tambahan bagi para investor.

Direktur Keuangan Antam yaitu Kurniadi Atmosasmito mengungkapkan bahwa bursa Australia adalah rumah bagi banyak emiten tambang di seluruh dunia. Komoditas berpengaruh sangat besar bagi Australia karena lebih dari setengah nilai ekspor Australia datang dari penjualan komoditas. Maka Aneka Tambang sebagai perusahaan tambang terintegrasi bonafid Indonesia merasa perlu mencatatkan sahamnya di bursa ASX.

Dual Listing di Bursa Efek Indonesia

Saat ini Bursa Efek Indonesia (BEI) belum dapat menerima perusahaan asing yang hendak dual listing di BEI. Padahal sudah ada beberapa perusahaan yang tertarik mencatatkan sahamnya di pasar modal Indonesia. Misalnya saja CIMB Group Holdings dan Malayan Bank dari Malaysia.

BEI menuturkan bahwa penerapan mekanisme dual listing bursa lain belum diharmonisasi dengan peraturan mekanisme pasar modal di Indonesia. Lagipula regulator belum memiliki mekanisme pelaporan keuangan SPEI atau IDR. Sehingga belum memungkinkan bagi emiten asing untuk listing di bursa Indonesia. Padahal CIMB Group sudah menunggu lebih dai satu tahun untuk bisa listing di BEI.

Namun untuk perusahaan dalam negeri yang mau dual listing di BEI dan bursa lainnya, kesempatan ini sangat terbuka lebar. Perusahaan yang melakukan listing di bursa luar negeri akan lebih mudah saat menerbitkan obligasi atau pendanaan lainnya sehingga menguntungkan emiten dalam mencari dana tambahan.

Bursa Efek Indonesia memang saat ini lebih condong kepada perusahaan dalam negeri saja. Dual listing bagi perusahaan asing di pasar modal Indonesia akan menyedot dana dari dalam Indonesia keluar negeri. Di sisi lain perusahaan-perusahaan lokal di Indonesia saja masih kekurangan sumber pendanaan.

Maka untuk saat ini BEI sebagai regulator lebih pro kepada perusahaan lokal dalam negeri agar mudah memperoleh dana yang dicari. BEI bahkan menginisiasi tindakan untuk membujuk perusahaan-perusahaan yang memiliki prospek bagus untuk listing di Bursa Efek Indonesia.

Artikel Terkait