Saham

Mau Beli Saham BBRI? Perhatikan Dulu Aspek Fundamentalnya!

Sumber: Bank BRI

Ajaib.co.id – Saham sektor bank merupakan salah satu yang dianggap mampu mendongkrak indeks karena komposisinya yang mencapai 30% dari total kapitalisasi pasar dari semua sektor saham emiten tercatat.  Adapun, terdapat empat bank yang memang diminati oleh para investor untuk ditanamkan uangnya salah satunya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (kode saham BBRI).

Saham BBRI menjadi salah satu saham emiten Badan Usaha  Milik Negara (BUMN) yang paling dicari investor di Bursa Efek Indonesia (BEI) karena berstatus sebagai bank pelat merah dengan kapitalisasi pasar paling besar di Indonesia, lho! Kapitalisasinya bahkan lebih besar dibandingkan dua bank BUMN lainnya yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) Tapi, seberapa menarik sih sebenarnya fundamentalnya perusahaan ini?

Laju Saham BBRI

Mengutip laman IDX.co.id, saham BBRI menjadi saham dengan kapitalisasi pasar kedua terbesar di BEI saat ini, yaitu sebesar Rp532 triliun (per 2 Februari 2021). BBRI juga hanya kalah dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang menduduki posisi pertama dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp830 triliun.

Bukan hanya kapitalisasinya yang jumbo, saham BBRI juga menjadi salah satu saham big caps paling atraktif. Sepanjang Januari, harga saham BBRI sempat melonjak dari Rp4.170 per saham menjadi Rp4.890 per saham. Sayang, belakangan ini BBRI terus berfluktuasi seiring dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Pada perdagangan Selasa, 2 Februari 2021, saham BBRI turun 0,91% ke Rp4.360, melanjutkan tren penurunan yang terjadi sejak 21 Januari 2021. Penurunan ini terjadi seiring tekanan jual dari para investor, khususnya investor asing. Sepanjang sepekan terakhir saja, total jual bersih BBRI yang dilakukan investor asing mencapai Rp478,5 miliar, tertinggi kedua setelah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

Jika dirunut, pergerakan BBRI yang berfluktuasi ini terjadi berbarengan dengan berbagai sentimen positif yang muncul ke bursa domestik, dari mulai berdirinya Lembaga Pengelola Investasi (LPI), hingga resminya merger bank-bank syariah pelat merah menjadi Bank Syariah Indonesia (BSI).

Namun, volatilitas pergerakan BBRI juga terjadi berbarengan dengan rilis laporan keuangan tahunan 2020. Kinerjanya memang tidak bisa dibilang mentereng, karena harus menerima kenyataan performa yang menurun akibat pandemi. Tetapi, hal ini juga terjadi hampir pada semua bank yang ada di Indonesia.

Kinerja Keuangan BBRI

Dikutip dari Bisnis.com, perolehan laba bersih bank berjuluk ‘Bank Wong Cilik’ itu mencapai Rp18,65 triliun pada 2020. Namun, dibandingkan realisasi pada tahun sebelumnya, terjadi penurunan laba bersih sebesar 45,65%, turun dari posisi Rp34,37 triliun.

Jika dirinci lebih jauh, laba bersih BBRI pada kuartal IV/2020 mencapai Rp4,53 triliun, turun sekitar 52,7% secara tahunan. Penyebab utama terjadinya hal ini adalah meningkatnya biaya kredit BBRI seiring dengan meningkatnya beban pencadangan kredit sebesar 77,6% pada kuartal IV/2020 menjadi Rp8,71 triliun.

Peningkatan beban pencadangan kredit ini bukan sebenarnya menjadi tantangan besar yang terjadi pada hampir semua bank. Pasalnya, bank-bank harus mengambil langkah konservatif di tengah ketidakpastian ekonomi akibat pandemi. Selain itu, pencadangan yang besar juga dilakukan untuk mengimbangi restrukturisasi kredit yang dilakukan.

Mengutip laporan keuangan BBRI, pendapatan bunga BBRI pada kuartal IV/2020 sebenarnya masih tumbuh 9,6% dibandingkan kuartal III/2019, menjadi Rp23,16 triliun. Namun pendapatan non-bunga BBRI pada periode tersebut harus turun 26% secara tahunan menjadi Rp7,4 triliun.

Peningkatan pendapatan bunga ini juga sejalan dengan pertumbuhan kredit yang dicatatkan BBRI di periode 2020. Terbantu dengan adanya penempatan dana pemerintah, BBRI dapat membukukan pertumbuhan kredit sebesar 2,4%, menjadi Rp880,67 triliun.

Pertumbuhan kredit tersebut terdorong oleh kredit pada segmen mikro yang porsinya meningkat menjadi 40% dari sebelumnya 36% pada 2019. Ekspansi di segmen mikro ini juga yang menjadi kunci BBRI untuk meningkatkan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM) menjadi 6% pada akhir tahun lalu.

Catatan menarik lainnya dari kinerja BBRI pada 2020 adalah peningkatan simpanan atau Dana Pihak Ketiga (DPK) masyarakat sebesar 8,6% menjadi Rp1.052,66 triliun. Meski dana DPK meningkat, BBRI mampu menurunkan rasio biaya dananya atau cost of fund (CoF) menjadi 3,22%, dari 3,58 pada 2019. Hal ini terjadi lantaran BBRI memiliki rasio dana murah atau Current Account and Saving Account (CASA) sebesar 61% dari total DPK.

Prospek Masa Depan BBRI

Setelah membukukan kinerja yang tak bisa dibilang buruk, BBRI saat ini memasang target cukup tinggi di 2021. Dikutip dari Bisnis.com, Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno mengatakan dengan perkiraan kondisi ekonomi akan terus membaik, BBRI optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan kredit sekitar 6%–7% pada 2021.

“Kami melihat sinyal pemulihan sejak kuartal keempat tahun lalu. Tahun ini kami cukup optimistis. Tentu secara korporasi masih fokus pada segmen mikro. Pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 6 hingga 7 persen,” katanya dalam paparan kinerja 2020 BRI, Jumat (29 Januari 2021).

Nah, dengan kinerja di 2020, dan proyeksi kinerja di 2021, apakah kamu tertarik untuk mengoleksi saham BBRI? Sambil memikirkan hal itu, jangan lupa untuk memulai investasimu di Ajaib! Aplikasi ini telah mendapatkan izin dari OJK dan menjadi salah satu platform andalan investasi saham dan reksadana online saat ini. Kamu bisa mengunduh aplikasi investasi Ajaib melalui Google Play Store dan Apple App Store.

Artikel Terkait