Ajaib

Kilas Balik Kabar Internasional yang Fenomenal di 2020

Kabar Internasional
Kabar Internasional

Ajaib.co.id – Sepanjang 2020, banyak kabar yang membuat gaduh warga dunia. Mulai dari kabar internasional pandemi covid-19 dari Tiongkok hingga pemilihan presiden Amerika Serikat. Inilah kilas balik sepanjang 2020.

2020 merupakan tahun yang sangat menantang bagi semua negara. Salah satunya pandemi covid-19 yang melanda semua negara. Meski kasus pertama covid-19 terjadi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir 2019, tetapi penyebarannya cukup masif ke seluruh dunia.

Pandemi ini sangat membuat gaduh orang-orang di berbagai belahan dunia. Bahkan hingga akhir 2020, penanganan dan vaksin covid-19 masih menjadi perbincangan hangat. Tak ada negara yang siap dengan pandemi. Namun tak sedikit negara yang sigap dalam menangani pandemi ini.

Meski demikian kabar internasional yang membuat gaduh tak hanya pandemi. Perselisihan antar negara masih mewarnai dunia global. Berikut ini kilas balik sepanjang 2020:

Pandemi Covid-19

Awal tahun, covid-19 membuat gaduh warga dunia karena virus ini menyebar cukup cepat ke negara lain. Seperti Jepang, Korea Selatan, dan Italia, lalu ke semua negara termasuk Indonesia.

Kabar pandemi covid-19 menyita perhatian warga dunia. Karena ada satu video yang viral di media sosial yang memperlihatkan warga Wuhan pingsan di tempat umum. Meskipun ada pejabat negara tidak terlalu serius mengenai penyebaran virus ini. Berdasarkan data yang dihimpun oleh Wikipedia, kasus covid-19 di seluruh dunia adalah 593,272 (26/12/2020).

Kerusuhan Umat Islam dan Hindu di India

Kabar internasional selanjutnya datang dari India pada Februari lalu. Dalam sebuah foto di media terlihat sekelompok umat Hindu memukuli seorang laki-laki Muslim di Delhi, menurut Okezone.com (29/12/2020).

Laki-laki tersebut bernama Muhammad Zubari (37), ia terluka parah dalam unjuk rasa menolak undang-undang kewarganegaraan baru. Zubari selamat dalam pengeroyokan tersebut, tetapi ada lebih dari 50 orang tewas karena pengusiran ribuan orang dari tempat tinggal mereka. Kejadian ini disebut sebagai kerusuhan terburuk di India dalam puluhan tahun.

AS versus Tiongkok

Perseteruan dua negara raksasa berlanjut pada 2020. Pada Maret, Presiden AS Donald Trump sempat menelepon Presiden Tiongkok Xi Jinping, juga sebaliknya, untuk membahas pandemi covid-19, menurut Liputan6.com (08/12/2020).

Tak lama, Trump menabuh genderang perang dengan Jinping dengan menyebut covid-19 sebagai Kung-Flu dan Wabah China. Kegaduhan Trump lainnya yaitu menuding WHO telah menyembunyikan fakta tentang covid-19 dan memihak Tiongkok. Buntutnya AS keluar dari WHO pada Mei lalu dan menghentikan bantuan dana kepada lembaga kesehatan PBB.

Hubungan Baik Israel dan Negara Arab

Masih soal Trump. Kali ini, ia menjadi penengah antara Israel, Uni Emirat Arab, dan Bahrain. Hubungan baik negara-negara tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Abraham (Abraham Accord).

Di sisi lain, Palestina protes keras terhadap Abraham Accord. Namun Trump terus mengajak negara-negara Timur Tengah untuk menjalin hubungan baik dengan Israel. Berkat tindakan itu, Trump mendapatkan nominasi Nobel Perdamaian.

Korea Selatan versus Korea Utara

Lagi-lagi kabar internasional mengenai pertikaian dua negara. Pertengahan 2020, hubungan dua negara tetangga sempat memanas. Kantor penghubung antar-Korea yang menjadi lambang baru perdamaian diledakkan oleh Korut. Negara Kim Jong-un itu juga menghentikan jalur telepon dengan pejabat tinggi Korsel.

Pihak Korut protes keras karena aktivis Korsel mengirimkan propaganda anti-Korut kepada warga Korut melalui balon atau botol yang dihanyutkan di sungai. Protes ditanggapi oleh pihak Korsel yang berjanji akan menerapkan aturan tegas mengenai kegiatan para aktivis di perbatasan.

Penangkapan Aktivis Hong Kong

Kabar mengejutkan datang dari Hong Kong. Jimmy Lai, aktivis sekaligus pengusaha media, ditangkap oleh pemerintah Tiongkok di kantornya pada 10 Agustus. Tiongkok menganggap Lai sebagai pengkhianat dan surat kabar miliknya, Apple Daily, menulis berita negatif terkait pemerintah Tiongkok.

Lai adalah pengusaha yang sangat vokal dalam menyuarakan demokrasi Hong Kong. ia juga kerap ikut unjuk rasa untuk memperjuangkan hak warga Hong Kong dan mengkritisi pemerintah Tiongkok. Sehari setelah Lai ditangkap, warga Hong Kong membeli Apple Daily sebagai upaya mendukung sang aktivis. Namun tak lama, Lai dibebaskan dengan uang jaminan.

Armenia versus Azerbaijan

Selain Korea, Armenia juga berseteru dengan negara tetangga, Azerbaijan, di wilayah Nargorno-Karabakh pada akhir September 2020. Saat itu, Azerbaijan menguasai beberapa desa di wilayah kekuasaan Armenia.

Warga dunia gaduh hingga pejabat berbagai negara ikut ambil pendapat. Pemerintah Turki lebih condong ke pihak Azerbaijan, Rusia meminta keduanya melakukan gencatan senjata, dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo meminta konflik dihentikan. Pada 9 November, kedua negara sepakat berdamai, tetapi rakyat Armenia tidak puas karena kesepakatan itu dianggap sebagai kemenangan Azerbaijan.

Aktivis Tentang Monarki Thailand

Thailand pun bergejolak. Warga berbondong-bondong turun ke jalan untuk menentang sistem monarki Gajah Putih. Aktivis pro-demokrasi, Panusaya Sithijirawattanakul, berorasi dan memaparkan 10 poin kepada pemerintah monarki untuk melakukan reformasi pemerintahan.

Ia berpendapat bahwa institusi negara tersebut tidak tersentuh oleh hukum. Sejak itu, muncul demonstrasi rakyat kepada pemerintah yang menuntut reformasi. Ia sempat ditangkap dengan dakwaan menghina kerajaan.

Komodo Hadang Truk

Kabar internasional yang menggegerkan dunia datang dari Indonesia. Sebuah komodo menghadang truk di Pulau Rinca, Nusa Tenggara Timur, pada Oktober. Para aktivis lingkungan menyoroti bahwa kondisi itu dampak dari pembangunan lokasi wisata di Pulau Rinca. Karena habitat asli komodo mengalami perubahan. Namun pemerintah Indonesia mengatakan bahwa tak ada komodo yang terluka dalam kegiatan tersebut.

AS Punya Presiden Baru

Donald Trump kalah dalam pemilihan presiden AS 2020 menjadi kabar internasional yang menghebohkan media sosial hingga media massa. Joe Biden berhasil mengumpulkan 80 juta suara, sedangkan Donald Trump mendapatkan 74 juta suara. Trump menuduh terdapat kecurangan dalam proses pemungutan suara melalui pos.

Artikel Terkait