Saham

Harga Global Hingga Meroketnya Harga Saham Produsen

Harga global
Harga global

Ajaib.co.id – Penguatan harga komoditas nikel diperkirakan masih akan mendongkrak pergerakan saham emiten yang memproduksi komoditas primadona sejak akhir tahun ini. Hal ini berkaitan erat dengan komitmen Indonesia dan beberapa negara maju di dunia seperti Amerika Serikat, China dan Uni Eropa untuk berinvestasi pada green energy dalam kurun beberapa tahun ke depan.

Berdasarkan data bursa di London Metal Exchange, harga nikel pada perdagangan 19 Februari 2021 lalu mencapai angka US$19.496 per ton dan US$19.512 per ton untuk kontrak pada April 2021. Angka tersebut menunjukkan bahwa harga nikel sudah menguat 53% sejak satu tahun terakhir. Adapun, level tersebut juga merupakan angka tertinggi sejak September 2014.

Tak jauh berbeda, harga kontrak futures nikel yang diperdagangkan di bursa Shanghai sudah pada 19 Februari 2021 sudah menguat 3,28 yuan per ton atau 2,37% ke level 141,66 yuan per ton.

Dalam setahun terakhir, harga nikel di bursa Shanghai pun terdongkrak 37,86%. Sentimen apa yang sebenarnya membuat pergerakan harga nikel di dunia menjadi sangat tinggi hingga awal tahun ini? Bagaimana prospek komoditas ini dan apa pengaruhnya terhadap emiten produsen nikel di Indonesia? Simak ulasannya berikut ini.

Sentimen Pabrik Baterai Mobil Listrik

Keberpihakan dunia untuk mendukung energi hijau, membuat banyak negara memusatkan perhatiannya pada sumber daya berbasis solar atau cahaya matahari yang tentunya lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan minyak ataupun batu bara. Cahaya matahari ini bisa bermanfaat untuk menjadi sumber energi listrik masa depan.

Namun, untuk mengubah cahaya matahari ini menjadi listrik, kita memerlukan solar panel dalam ukuran besar atau baterai dalam ukuran yang lebih kecil yang bekerja sebagai pembangkit listrik tenaga listrik. Nah, nikel adalah komponen yang paling penting dalam membuat solar panel ataupun baterai.

Di sisi lain, industri otomotif tengah bertransformasi akibat munculnya mobil listrik yang diprakarsai oleh Tesla Inc., perusahaan besutan Elon Musk. Tesla memperkirakan pengiriman kendaraannya sendiri bisa tumbuh 50% per tahun.

Hal ini dibuktikan dengan ekspektasi investor pasar modal di bursa saham Amerika Serikat. Pergerakan harga saham Tesla naik gila-gilaan sepanjang tahun 2020 dan dinobatkan sebagai perusahaan dengan valuasi tertinggi ketiga di bursa Amerika Serikat.

Nah, Tesla sendiri sudah melihat peluang bahwa energy solar system sepertinya akan menjadi pasar yang lebih besar dibandingkan mobil listrik sendiri. Selama awal tahun ini muncul kabar burung bahwa Tesla berminat untuk mendirikan pabrik di Indonesia dikarenakan kenyataan bahwa produksi nikel oleh Indonesia memang berlimpah ruah.

Berdasarkan riset DBS yang dirangkum oleh tirto.id, pada tahun 2019, produksi tambang nikel secara global tercatat sebesar 2,59 juta ton dan diperkirakan turun sebesar 2,35 ton selama tahun 2020. Indonesia sendiri adalah penghasil utama nikel dengan jumlah 917,5 ton pada tahun 2019 dan 693 ribu ton pada tahun 2020.

Catatan ini membuat Indonesia patut berbangga hati. Hal ini ditambah dengan pengumuman yang disampaikan oleh Menteri Koordinator bidang Maritim dan Investasi (Marves) Luhut Binsar Panjaitan bahwa Tesla tertarik untuk berinvestasi dan membangun pabrik baterai mobil listrik di Indonesia. Pada Desember 2020 lalu pun, Presiden RI Joko Widodo mengatakan pihaknya sudah berbicara melalui telepon dengan Elon Musk terkait keberlanjutan minat Tesla untuk membangun pabrik di Indonesia.

Meski beberapa hari terdengar kabar bahwa Tesla lebih memilih untuk membangun pabrik di Bangalore, India, namun Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi mengatakan pemerintah masih akan tetap melobi Tesla agar mau berinvestasi di Indonesia.

Emiten yang Diuntungkan Karena Kenaikan Harga Nikel

Secara garis besar, kenaikan harga nikel juga mendongkrak pergerakan saham emiten produsen nikel. Saham-saham yang bersinggungan dengan nikel tengah naik daun akibat dari sentimen kenaikan harga nikel global dan inisiatif pendirian pabrik baterai mobil listrik di Indonesia sejak akhir tahun lalu seperti PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang merupakan bagian dari MIND ID

PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) yang 20 persen sahamnya dimiliki oleh PT Indonesia Asaham Aluminium (Persero) Tbk, induk dari MIND ID. Di sisi lain, perusahaan swasta tercatat yang juga memproduksi nikel diantaranya adalah PT Trinitan Metals and Minings Tbk (PURE) dan PT Harum Energy Tbk (HRUM).

Sebagai perusahaan pelat merah, saham ANTM memang tengah di atas awan. Berdasarkan data pada penutupan perdagangan 19 Februari 2021, saham ANTM ditutup menguat 3,6% ke posisi Rp2.880. Sepanjang satu tahun terakhir, saham ANTM sendiri diketahui sudah melonjak 311,43%.

Padahal labanya pada kuartal ketiga tahun 2020 hanya naik 30,2% secara tahunan menjadi Rp835,78 miliar. Hal ini menyebabkan harga saham ANTM termasuk dalam bubble dan memiliki volatilitas tinggi karena rasio price to earning (PER)-nya saja sudah menyentuh angka 147,74 kali.

Laju saham ANTM juga diikuti oleh INCO yang juga menguat 2,02 persen pada perdagangan 19 Februari 2021 ke level Rp6.325. Selama satu tahun terakhir pergerakan harga saham INCO sudah menguat 106,7% dengan rasio PER mencapai 33,52 kali.

Adapun, data keuangan INCO memang cukup impresif. Berdasarkan laporan keuangan per September 2020, laba bersih perseroan berhasil meroket 47.800% menjadi US$76,64 juta jika dibandingkan dengan periode kuartal III/2019 sebesar US$160 ribu saja.

Namun, dibandingkan dengan ANTM dan INCO, saham HRUM mencatatkan kenaikan harga yang paling tinggi. Sepanjang setahun terakhir, saham HRUM sudah menguat 488,48% dengan PER yang lebih rendah dibandingkan dengan ANTM yakni sebesar 45,69 kali.

Laju saham HRUM sebenarnya terdongkrak karena perusahaan yang bisnis utamanya bergerak di bidang batu bara tersebut membeli 3,7% saham Nickel Mines, perusahaan yang memiliki smelter tambang nikel di Sulawesi.

Di sisi lain, emiten PURE memang tengah berupaya membangun smelter nikel di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu. Harga saham PURE juga sudah menguat 30,71% sepanjang satu tahun namun dengan PER di level -2.13 kali karena kinerja keuangannya yang kurang memuaskan.

Artikel Terkait