Bisnis & Kerja Sampingan, Ekonomi

Fungsi Margin Dalam Bisnis untuk Apa Saja?

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – Margin merupakan salah satu istilah yang populer dalam bisnis dan ekonomi. Apakah margin memiliki fungsi tertentu dalam bisnis? Atau, fungsi margin hanya sebatas informasi terkait kondisi keuangan suatu perusahaan atau entitas bisnis?

Dalam pembukuan akuntansi yang merujuk pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), margin sering disebut juga sebagai profit (meski sebenarnya memiliki arti berbeda). Selisih antara penjualan (sales) dan biaya yang dikeluarkan (cost) inilah yang sering diasosiasikan sebagai profit. 

Jumlah keuntungan yang dibagi dengan modal lalu dikalikan 100% akan menghasilkan margin (margin = keuntungan : modal x 100%). Namun, secara sederhana, margin dapat diartikan tanpa persentase, yakni berupa selisih antara harga jual barang dan modal yang dibutuhkan untuk memproduksi atau membeli barang tersebut. 

Jika seorang pedagang, contoh sederhananya, membeli barang seharga Rp100 ribu dan menjualnya kembali seharga Rp150 ribu, maka menghasilkan keuntungan atau margin adalah sebesar Rp50 ribu atau sebesar 50% jika menggunakan persentase. 

Satu hal yang harus ditelaah adalah margin berbeda dengan profit dan omzet. Omzet diperoleh dari hasil penjualan total sebelum dikurangi biaya lain-lain. Omzet bisa dikatakan sebagai pendapatan kotor. Sementara itu, profit merupakan keuntungan bersih dari sebuah usaha dalam periode tertentu. Meski masing-masing memiliki pengertian berbeda, baik omzet, margin, dan profit saling terkait. 

Sebagai ilustrasi, pengusaha A memiliki sebuah bisnis yakni menjual produk seharga Rp100 ribu. Margin keuntungan yang dipatok oleh pengusaha tersebut adalah 25% atau Rp25 ribu. Dalam satu bulan, produk pengusaha A berhasil terjual sebanyak 100 buah. Maka, pendapatan kotor atau omzet yang diperolehnya sebesar Rp100 ribu x 100 = Rp10 juta.

Dari omzet Rp10 juta tersebut, pengusaha tersebut mendapatkan profit kotor Rp2,5 juta. Dalam proses pemasaran produknya, pengusaha A mengeluarkan biaya Rp500 ribu. Biaya tersebut untuk biaya operasional, listrik, pajak, atau yang lainnya. Dengan demikian, profit bersih yang diperoleh adalah Rp2,5 juta – Rp500 ribu = Rp2 juta.

Margin sendiri sangat penting dalam strategi perusahaan karena dapat berfungsi sebagai berikut:

  • Menentukan jumlah produk

Manajemen perusahaan atau entitas bisnis akan menghitung terlebih dahulu proyeksi margin terhadap produk atau jasanya. Jika proyeksi tersebut sudah bisa dikalkulasi, maka perusahaan dapat menentukan jumlah produk yang akan dipasarkan nantinya. Bila itu berupa jasa, maka porsi atau item-item tertentu akan dapat ditentukan setelah memproyeksi margin. Kuantitas di sini penting agar proyeksi margin tidak meleset alias justru menjadi kerugian.

  • Menentukan pemasaran

Selain kuantitas, fungsi margin adalah untuk menentukan bagaimana produk atau jasa tersebut dipasarkan. Jika margin tipis, misalnya, perusahaan akan berpikir ulang untuk memasarkan produknya melalui iklan di media elektronik.

Sebagai gantinya, perusahaan yang sama akan memasarkannya melalui media sosial dengan lebih optimal. Tapi, sedikit atau banyaknya margin masih tergantung dengan jumlah keseluruhan produksi barang.

Perusahaan yang sama, contoh lainnya, tetap beriklan di media elektronik meskipun margin yang dihasilkan berpotensi tipis. Namun, kuantitas produk tersebut secara keseluruhan dapat menutupi biaya iklan di media elektronik.

  • Menentukan harga

Harga akan selalu menjadi variabel penting terkait margin. Maksudnya, margin dapat menuntun perusahaan untuk menetapkan harga pada produk atau jasanya. Tanpa mengetahui proyeksi margin, penentuan harga produk atau jasa memiliki risiko tinggi untuk meleset (bisa terlalu mahal atau murah).

  • Mengetahui laba yang diperoleh perusahaan dalam satu periode tertentu

Fungsi margin lainnya adalah untuk mengetahui laba yang diperoleh perusahaan atau entitas bisnis dalam satu periode tertentu. Setelah mengetahui laba, manajemen dapat menyusun rencana strategis lainnya, misalnya ekspansi membuka gerai baru dan sebagainya. 

  • Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu

Tak hanya dalam satu periode, margin juga bisa dimanfaatkan untuk mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, margin dapat digunakan untuk mengukur sejauh mana keberhasilan perusahaan dalam menjual produk atau jasanya kepada target konsumen.

Satu hal lain yang perlu diperhatikan ialah margin tak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan kuantitas produk. Sebuah perusahaan, sebagai contoh, memilih untuk memperkecil margin. Perusahaan tersebut bukan tidak ingin meraih margin besar, melainkan karena memproduksi produk dalam jumlah banyak.

Perusahaan itu kemudian mencoba untuk menekan harga jual produk agar lebih murah. Ini karena perusahaan memilih untuk meningkatkan keuntungan atau margin dari kenaikan penjualan. Perusahaan tersebut optimis, penjualan akan meningkat saat harga barang diturunkan. Mereka lebih memilih strategi ini daripada menaikan margin, namun harga barang tiap item menjadi lebih mahal.

Pengertian margin sendiri dapat makin spesifik sesuai kata-kata lain yang menyertainya, misalnya profit margin atau margin keuntungan. Ini merupakan salah satu konsep yang juga sering dikaitkan dengan margin oleh pelaku bisnis. Konsep ini dipakai secara luas oleh organisasi bisnis dalam berbagai skala, terutama untuk menghitung tingkat kemampuan menghasilkan laba.

Profit margin ditunjukkan dalam persentase. Angka persentase itu menunjukkan berapa nilai keuntungan yang diperoleh suatu usaha dibandingkan dengan penjualan. Nilai keuntungan tersebut diwujudkan dengan besaran nilai mata uang tertentu, seperti Rupiah. 

Lalu, ada pula istilah margin kontribusi. Margin kontribusi bisa dimanfaatkan sebagai alat dalam membantu membuat keputusan produksi dan penetapan harga dalam bisnis. Konsep ini juga menjadi salah satu yang digunakan untuk menghitung Break Even Point (BEP) dalam suatu departemen atau lini produk.

Investor dan para analis keuangan dapat menggunakan margin kontribusi untuk mengevaluasi seberapa efisien perusahaan dalam menghasilkan laba. Sebagai contoh, analis dapat menggunakan margin kontribusi per unit yang terjual untuk memperkirakan laba yang dihasilkan perusahaan untuk tahun depan.

Sumber: Konsep Profit Margin untuk Menentukan Kinerja Perusahaan dan Mengenal Apa Itu Margin dalam Bisnis dan Cara Menghitungnya, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait