Drama Asuransi Bumiputera, Bagaimana Nasibnya?

asuransi bumiputera
asuransi bumiputera

Asuransi Bumiputera sedang mengalami masalah keuangan. Perusahaan asuransi yang berdiri sejak 1912 ini, membutuhkan dana segar sebesar triliunan rupiah dalam waktu dekat.

Jika tidak, maka polis asuransi yang dimiliki oleh 6,7 juta nasabah terancam bakal hangus. Sudah lima bulan kursi Direktur Utama (Dirut) Asuransi Bumiputera kosong.

Asuransi Bumiputera memang sudah lama mengalami masalah likuiditas, dan menyebabkan perusahaan tersebut gagal membayar polis nasabah.

Tiga Direksi Asuransi Bumiputera

Pada akhir Oktober 2019 lalu, tiga orang direksi Asuransi Bumiputera melakukan fit and proper test (uji kelayakan) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ketiga direksi tersebut adalah Direktur Teknik dan Aktuaria Joko Suwaryo, Direktur Investasi dan Keuangan Agus Sigit Kusnadi, dan Direktur Pemasaran SG Subagyo.

Mereka adalah susunan direksi baru yang ditentukan oleh Badan Perwakilan Anggota (BPA) Bumiputera pada Agustus 2019. Direksi tersebut dipilih setelah perwakilan pemilik polis memberhentikan Direktur Utama (Dirut) Bumiputera Sutikno W. Sjarief.

Meski susunan tersebut diajukan sejak dua bulan lalu, ketiga direksi belum ditetapkan oleh OJK. Maka dari itu, fit and proper test dijalankan agar Asuransi Bumiputera dapat dioperasikan oleh direksi yang dianggap layak.

Berdasarkan hasil fit and proper test, seluruh jajaran eksekutif Asuransi Bumiputera masih diisi oleh Direktur dan Pelaksana Tugas (PLT) Direktur Utama, dan saat ini dijalankan oleh Dena Chaerudin sekaligus Direktur Sumber Daya Manusia (SDM).

Belum ada penjelasan lebih lanjut terkait siapa yang akan memimpin Asuransi Bumiputera. Juru Bicara OJK Sekar Putih mengatakan, bahwa belum ada laporan dari Asuransi Bumiputera mengenai penentuan direksi atau pimpinan perseroan.

Situasi Sistem Keuangan di Indonesia

Selain itu, Bank Dunia dalam paparannya yang bertajuk “Resiko Ekonomi Global dan Implikasinya terhadap Indonesia”, mengatakan jika sistem keuangan di Indonesia umumnya tahan terhadap guncangan.

Namun, ada dua area yang membutuhkan penanganan cepat, yaitu konglomerasi finansial dan lemahnya asuransi di Indonesia, terutama untuk kasus Asuransi Bumiputera.

Bank Dunia menyatakan, Indonesia harus tetap menjaga kredibilitas sistem keuangan dengan cara mengatasi lemahnya sektor asuransi.

Saat ini, permasalahan yang muncul adalah dua perusahaan asuransi nasional terbesar, yaitu Asuransi Bumiputera dan Asuransi Jiwasraya. Kedua perusahaan asuransi tersebut tidak memenuhi kewajibannya atau gagal membayar klaim nasabah.

Dalam kasus tersebut, Bank Dunia memprediksi ada sekitar tujuh juta jiwa dengan lebih dari 18 juta polis. Mayoritas nasabah merupakan masyarakat dengan penghasilan rendah dan menengah.

Untuk memperbaiki permasalahan tersebut, Bank Dunia pun menyarankan agar menganalisis penilaian risiko dalam asuransi. Berdasarkan penilaian yang ada, perbaikan hingga resolusi harus dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Poin kedua adalah meningkatkan visibilitas risiko dengan cara menilai kesehatan dan ketahanan dari konglomerasi keuangan. Saat ini, permasalahannya adalah konglomerasi keuangan yang mewakili aset perbankan sebesar 88%.

Pendapat Bank Dunia

Menurut pernyataan Bank Dunia, terdapat kesenjangan dalam regulasi dan pengawasan kepada konglomerasi keuangan. Pengawasan OJK pun terkendala dengan peraturan tata kelola aturan OJK. Lalu, jangka hukum dan peraturan dari OJK tidak menjangkau konglomerasi keuangan.

Hingga saat ini, perusahaan asuransi ini belum dapat membayar kewajibannya kepada para nasabah yang sudah jatuh tempo masa polisnya. Sama dengan Asuransi Bumiputera, Jiwasraya juga gagal membayar polis produk JS Plan Jiwasraya sebesar Rp802 miliar kepada 77 pemegang polisnya. 

Bacaan menarik lainnya:

OJK. (2019). Statistik Perasuransian Indonesia, 2019. Otoritas Jasa Keuangan.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Mulai Investasi Reksa Dana Dengan Ajaib.
Ayo bergabung dengan Ajaib, aplikasi investasi online terbaik! Bebas biaya pendaftaran, bisa tarik dana kapan saja. Modal awal min. Rp10.000.
Facebook Comment
Artikel Terkait