Investor Pemula, Saham

Cara Menganalisis Saham Menggunakan Data Historis

Menganalisa Saham dengan Data Historis

Ajaib.co.id – Ada beberapa cara analisa saham yang lazim dipraktekkan oleh investor saham di Indonesia maupun dunia. Ada investor yang menganalisis saham berdasarkan kondisi fundamental, sehingga meninjau hal-hal seperti laba bersih dan valuasi saham. Ada pula investor yang mengandalkan analisa teknikal. Teknik analisa teknikal berupaya memprediksi pergerakan harga dengan menelaah data historis harga saham di masa lampau.

Pemula mungkin bertanya-tanya, bagaimana mungkin analisa saham dengan data historis dapat memprediksi harga saham di masa depan? bagaimana pula cara analisa saham dengan data historis itu? Artikel ini akan mengulas semuanya dengan tuntas.

Prinsip Dasar Analisa Saham dengan Data Historis

Ada tiga prinsip yang mendasari analisis teknikal dan wajib diketahui semua investor. Ketiga prinsip itu adalah sebagai berikut:

  1. “Market action discounts everything” (Tindakan pasar sudah memperhitungkan semuanya): Harga terbentuk dalam proses penawaran dan permintaan. Setiap pelaku pasar tentu melakukan penawaran dan permintaan sesuai pertimbangan mereka tentang hal-hal yang memengaruhi saham seperti prospek pertumbuhan laba dan risiko utang perusahaan. Oleh karenanya, harga yang dihasilkan dalam proses penawaran dan permintaan itu dianggap sudah memperhitungkan semua informasi yang diketahui secara publik dan dianggap penting oleh para investor.
  2. Prices move in trends” (Harga bergerak ke arah tertentu): Ada tiga arah pergerakan harga saham yang umumnya dapat dilihat dengan jelas ketika data harga saham historis ditampilkan dalam bentuk grafik, yaitu tren naik (uptrend), tren turun (downtrend), dan menyamping (sideways). Harga saham tidak akan bergerak ke satu arah secara terus menerus, melainkan berubah-ubah dari waktu ke waktu.
  3. History tends to repeat itself” (Sejarah cenderung berulang): Para investor cenderung mengulangi perilaku para investor terdahulu, sehingga sentimen pasar dapat dipetakan mengikuti pola-pola tertentu. Contohnya ketika indeks saham sudah mencapai rekor tertinggi baru secara historis, maka para investor akan cenderung takut untuk membeli lagi karena khawatir harga-harga sudah terlalu mahal dan akan tumbang. Akibatnya, indeks cenderung terkoreksi turun setiap kali baru saja mencetak rekor tertinggi. Hal-hal seperti ini agak irasional dan sarat emosi, tetapi memang eksis di pasar keuangan.

Ketiga prinsip ini melatarbelakangi teknik analisa teknikal, sekaligus menjelaskan mengapa analisa saham dengan data historis dianggap dapat memprediksi harga saham di masa depan. Teknik analisa ini membantu investor memahami posisi harga saham saat ini dibandingkan harga saham historis, kemudian memperkirakan apa yang akan terjadi berikutnya dengan menerapkan ilmu statistik, matematika, dan ekonomi perilaku (behavioral economics).

Cara Analisa Saham dengan Data Historis

Analisa saham dengan data historis umumnya memanfaatkan grafik harga yang berbentuk garis (line chart), batang (bar chart), candlestick, atau lainnya. Kebanyakan investor memilih tipe grafik dan rentang waktu data historis yang akan dianalisis, kemudian memasang indikator teknikal sebagai alat bantu analisa saham.

Langkah-langkah melakukan analisa saham dengan data historis dapat ditempuh dengan urutan sebagai berikut:

  1. Buka perangkat charting untuk analisis teknikal pada platform trading saham dari sekuritasmu. Jika platform trading saham dari sekuritas belum menyediakannya, kamu bisa mengakses perangkat charting dari aplikasi yang disediakan oleh pihak ketiga. Contohnya Investing, Stockbit, Stockcharts, atau TradingView.
  2. Tentukan jenis grafik yang akan dipergunakan sesuai opsi yang tersedia.Yang paling populer adalah grafik candlestick, tetapi kamu juga dapat memilih jenis grafik lain.
  3. Tentukan rentang waktu histori harga yang akan dianalisis. Pilihan rentang waktu perlu disesuaikan dengan target investasi kamu. Umpamanya kamu ingin berinvestasi jangka pendek, maka pilihlah rentang waktu harian (Daily). Sedangkan jika kamu punya target jangka panjang, pantaulah grafik dalam rentang waktu mingguan atau bulanan. Nantinya, perangkat charting akan menarik garis secara otomatis untuk membentuk grafik dari harga historis yang tercatat selama rentang waktu tersebut.
  4. Tentukan jenis harga yang akan dianalisis. Ada empat jenis harga saham secara historis, yakni harga pembukaan (open), harga terendah (low), harga tertinggi (high), dan harga penutupan (close). Umpama kamu memilih line chart berbasis harga penutupan saham BBRI pada rentang bulanan, maka perangkat charting akan menampilkan garis yang ditarik dari harga penutupan setiap bulan seperti tampak di bawah ini.
  1. Jika kamu memilih tipe bar chart atau candlestick, maka tak perlu memilih jenis harga yang akan dianalisis. Kedua tipe grafik ini sudah memuat semua informasi harga pembukaan (open), harga terendah (low), harga tertinggi (high), dan harga penutupan (close) secara ringkas per batangnya. Contohnya pada grafik saham BBRI di bawah ini.
  • Tambahkan garis tren atau indikator teknikal sebagai alat bantu analisa saham. Semuanya sudah tersedia sepaket dengan grafik pada perangkat charting, sehingga kamu cukup klik-klik saja untuk memilih alat bantu apa yang akan dipergunakan.

Garis tren maupun indikator teknikal berfungsi untuk memandu investor dalam menemukan titik beli dan jual potensial. Umpamanya tren saham BBRI sedang naik, maka investor dapat menganalisis kapan uptrend akan berhenti. Terhentinya uptrend itu menandai momen yang potensial untuk jual saham BBRI (jika investor sudah memilikinya).

Sebaliknya jika tren saham TLKM sedang menurun, maka investor dapat menganalisis kapan downtrend kemungkinan akan berhenti. Terhentinya downtrend itu menandai momen yang tepat untuk beli saham TLKM.

Trader pemula biasanya menyukai indikator Moving Average dan MACD untuk analisa saham dengan data historis. Kamu juga dapat memilih indikator lain. Yang terpenting, pelajari dulu seluk-beluk setiap indikator sebelum memanfaatkannya dalam analisa saham. Ada baiknya berlatih menggunakan beragam indikator sebelum menerapkannya dalam analisa saham praktis.

Artikel Terkait