Saham

Cara Memilih Saham yang Tepat Untuk Investor Pemula

Cara Memilih Saham yang Tepat Untuk Investor Pemula

Ajaib.co.id – Kamu sudah memiliki rekening saham namun masih bingung untuk menentukan saham mana yang bagus untuk dikoleksi? Tenang saja, Ajaib akan memandu kamu dalam memilih saham yang tepat agar investasinya dapat berkembang dengan baik.

Wajar saja kalau kamu masih kebingungan memilih saham mengingat ada ratusan saham yang diperjualbelikan di bursa. Untuk memudahkan memilih, kamu dapat menilik beberapa jenis saham yang sering direkomendasikan oleh para ahli maupun investor berpengalaman. Berikut ini beberapa pilihan saham yang bisa menjadi pertimbangan untuk kamu koleksi.

Saham Blue Chip

Kunci memilih saham yang tepat adalah mencari saham dengan kapitalisasi pasar yang besar. Salah satunya adalah saham-saham yang masuk kategori saham blue chip atau big cap bisa diartikan sebagai saham papan atas atau saham unggulan.

Hal tersebut berarti, saham yang masuk dalam kategori ini adalah saham dengan angka kapitalisasi pasar yang besar yaitu di atas Rp40 triliun.

Bahkan menurut para ahli, saham Blue Chip dikatakan lebih aman dilakukan untuk berinvestasi saham jika dibandingkan dengan jenis saham lain.

Tentu saja dengan nilai pasar saham sebesar itu, isinya bukanlah perusahaan abal-abal.

Biasanya perusahaan dengan kategori saham blue chip ini adalah perusahaan besar yang memiliki etos dan kinerja yang baik, serta dikelola oleh orang-orang yang sudah sangat profesional di bidangnya masing-masing.

Adapun, perusahaan yang terdaftar di saham blue chip ini adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri di mana hasilnya dibutuhkan banyak orang.

Dengan kebutuhan tinggi yang ada pada masyarakat terhadap perusahaan-perusahaan tersebut, sudah bisa dipastikan jika perusahaan kategori saham blue chip ini memiliki keuntungan yang besar dan secara rutin dibagikan kepada investor.

Saham-saham pada Indeks LQ45

Memilih saham yang tepat juga bisa menggunakan indeks LQ45. Salah satu indeks pasar saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang terdiri dari 45 perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu di antaranya termasuk dalam 60 perusahaan teratas dengan kapitalisasi pasar tertinggi dalam 12 bulan terakhir, nilai transaksi tertinggi di pasar reguler dalam 12 bulan terakhir.

Selain itu, emiten tersebut telah tercatat di BEI selama minimal 3 bulan, memiliki kondisi keuangan, prospek pertumbuhan, dan nilai transaksi yang tinggi, serta mengalami penambahan bobot free float (saham publik) menjadi 100% yang sebelumnya hanya 60% dalam porsi penilaian. Indeks LQ45 dihitung setiap 6 bulan oleh Divisi Riset BEI.

Untuk diketahui, dalam menentukan saham-saham LQ45, BEI melakukannya secara periodik selama 6 bulan sekali. Misalnya, pada 6 bulan pertama ditentukan saham LQ45 pada 1 Februari dan itu akan berlaku hingga bulan Juli mendatang. Kemudian pada 1 Agustus – 1 Januari akan ada saham-saham LQ45 yang baru.

Saham-saham Sektor Defensif

Saham defensif adalah saham yang dapat diandalkan untuk menyediakan return yang konsisten, bahkan ketika terjadi penurunan ekonomi atau pasar. Biasanya, perusahaan dalam kategori ini adalah perusahaan yang menyediakan barang atau layanan yang terus dibutuhkan masyarakat, bahkan ketika ekonomi sedang tidak baik.

Saat ekonomi melemah karena pandemi COVID-19 seperti saat ini, saham defensif menjadi pilihan tepat untuk berinvestasi. Pasalnya, ketika perusahaan lain mengalami penurunan di tengah kondisi yang tidak pasti, beberapa perusahaan tertentu tetap dapat bertahan. Jadi, untuk mengurangi kerugian atau sekadar bertahan pada masa pandemi, saham defensif adalah pilihan terbaik.

Perusahaan dengan saham defensif tersebar di berbagai industri. Umumnya, kamu bisa menemukan perusahaan tersebut di beberapa bidang berikut ini:

  • Utilitas

Perusahaan di sektor utilitas atau yang menyediakan listrik, air, gas, dan manajemen limbah menawarkan layanan yang diperlukan setiap masyarakat. Layanan mereka juga terus dibutuhkan seperti biasa, bahkan ketika terjadi pelemahan ekonomi.

  • Kebutuhan pokok

Ketika terjadi krisis ekonomi, konsumen umumnya akan melakukan pemotongan anggaran dana. Meski demikian, kebutuhan pokok seperti barang rumah tangga, perlengkapan kamar mandi, makanan, dan minuman sering kali tidak akan berkurang. Jadi, berinvestasi pada perusahaan penyedia kebutuhan pokok yang mengutamakan harga terjangkau dengan kualitas baik akan menjadi pilihan cerdas.

  • Layanan kesehatan

Layanan kesehatan merupakan bidang lainnya yang akan terus dibutuhkan oleh masyarakat meskipun dalam kondisi krisis ekonomi. Inilah juga yang menjadi alasan perusahaan di bidang layanan kesehatan tetap menghasilkan performa yang baik meskipun pada masa resesi. Sektor layanan kesehatan ini termasuk asuransi, farmasi, peralatan kesehatan, dan rumah sakit.

  • Telekomunikasi

Layanan berikutnya yang akan tetap dibutuhkan adalah telekomunikasi, seperti layanan telepon, provider internet, dan lain-lain. Konsumen tidak akan berhenti membutuhkan layanan komunikasi. Salah satu contoh nyata adalah kebutuhan akan akses internet yang semakin tinggi seiring dengan pemberlakuan WFH atau Work From Home selama pandemi. 

Empat industri di atas adalah sektor saham defensif tradisional. Meski demikian, bukan berarti saham defensif hanya terbatas pada keempat sektor tersebut, bahkan masih ada kemungkinan bagi perusahaan lain tetap bertahan di tengah resesi. Umumnya, perusahaan yang dapat bertahan adalah yang berukuran besar, memiliki riwayat kesuksesan, dan sudah terbukti mampu beradaptasi dengan perubahan di pasar.

Namun untuk bisa memilih saham yang tepat untuk dikoleksi, sebelum membeli sebaiknya kamu juga melakukan beberapa hal berikut agar investasimu sukses menghasilkan cuan

1. Tentukan Tujuan Investasi

Berinvestasi harus mempunyai tujuan yang jelas. Artinya kamu sudah harus menentukan apakah investasi ini untuk jangka panjang, menengah atau jangka pendek. Tentukan berapa lama waktunya serta seberapa besar target keuntungan dari investasi yang kamu inginkan. Dengan begitu kamu bisa memperkirakan berapa banyak uang harus kamu investasikan.

Dengan memiliki tujuan investasi, kamu juga akan terhindar dari jebakan psikologi. Kamu tidak akan panik walau harga saham turun secara tidak jelas atau terkena sentimen jangka pendek dan kamu tidak akan menjadi serakah ketika harga saham milikmu naik drastis sehingga kamu berharap bisa menghasilkan keuntungan yang melebihi target.

Selain itu kamu dapat segera mengambil keputusan jika investasimu hasilnya tidak sesuai dengan harapan setelah ditinjau secara berkala.

2. Pahami Profil Risiko

Profil risiko adalah tingkat toleransi seorang investor pada risiko yang akan dihadapi dalam berinvestasi saham. Ada tiga tipe profil risiko, yaitu

Dengan memahami profil risiko kamu sendiri, maka kamu akan lebih mudah menentukan jenis saham apa yang cocok untuk dikoleksi nantinya

3. Belajar Menganalisa Saham

Terdapat dua cara menganalisa saham yaitu analisa fundamental dan analisa teknikal. Keduanya penting untuk dipahami oleh seorang investor. Dengan analisa fundamental kamu bisa mengetahui apakah emiten saham tersebut berkinerja baik atau buruk secara keuangan dan operasional. Lalu jika kamu sudah menemukan saham yang kinerja emitennya baik kamu perlu analisa teknikal untuk tahu kapan waktu atau harga terbaik saat ingin membelinya.

Namun sebagai investor pemula, kamu tidak wajib untuk memahami semuanya sekaligus. Untuk analisa fundamental kamu bisa mulai dengan mengamati beberapa rasio keuangan yang menjadi indikator bagus tidaknya sebuah saham. Sedangkan untuk analisa teknikal kamu bisa mulai mempelajari dari istilah-istilah dalam analisis teknikal terlebih dahulu lalu memahami candlestick saham.

Ada cara yang lebih mudah lagi untuk menganalisa saham baik itu teknikal maupun fundamental, yaitu dengan mendownload aplikasi Ajaib. Semua rasio dan bagian penting pada laporan keuangan tersedia. Bahkan tersedia juga fitur competitive ranking sehingga kamu tahu ada pada urutan berapa saham dibandingkan dengan kompetitornya di industri dan sektor yang sama.

Analisa teknikal juga sudah tersedia dengan berbagai metode, bahkan tertera kesimpulan apakah saat ini waktu yang tepat untuk membeli saham tersebut.

Artikel Terkait