Analisis Saham

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75–4%, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah, Yield SBN, dan IHSG?

Afif Alfaris•October 29, 2026

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75–4%, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah, Yield SBN, dan IHSG?
The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75–4%, Bagaimana Dampaknya ke Rupiah, Yield SBN, dan IHSG?

Key Takeaways

  • The Fed menahan suku bunga di 3,75 sampai 4,00 persen lewat voting 10 lawan 2, dengan dua anggota memilih kenaikan 25 bps (basis poin, setara 0,25 poin persentase).
  • Rupiah menguat tipis ke kisaran Rp18.100 per dolar AS di tengah melemahnya dolar AS.
  • Yield (imbal hasil) SUN 10 tahun sempat menyentuh 7,66 persen, tertinggi dalam sekitar empat tahun, lalu melandai ke 7,61 persen.
  • IHSG turun 2,64 persen pada sesi I 29 Oktober, dengan tekanan dari saham berkapitalisasi besar. Arah selanjutnya dipengaruhi inflasi AS, sinyal Desember, dan arus asing.

Pasar Indonesia Merespons Keputusan The Fed Secara Beragam

The Fed mengumumkan keputusan pada 28 Oktober 2026 waktu AS, atau 29 Oktober pukul 01.00 WIB. Suku bunga ditahan sesuai ekspektasi, tetapi reaksi pasar domestik beragam. Rupiah dan SBN tenor pendek membaik, sementara IHSG terkoreksi dengan BBCA dan BBRI di antara pemberatnya.

Keputusan The Fed dapat memengaruhi pasar Indonesia melalui tiga jalur, yaitu kurs, obligasi, dan arus dana asing, yang dibahas satu per satu berikut ini.

Oleh sebab itu sangat penting bagi Kamu untuk memantau pergerakan saham melalui fitur Broker Flow di Ajaib Terminal. Nikmati Broker Fee Rp 0 dengan Transaksi di Ajaib Terminal.

Isi Keputusan The Fed Oktober 2026 dan Apa yang Berubah

Perlu dipahami, jeda kali ini terjadi di tengah siklus pengetatan, bukan pelonggaran.

The Fed Tahan Suku Bunga di 3,75 sampai 4 Persen

Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menyatakan perbedaan suara (dissent) karena menginginkan kenaikan 25 bps, dan bagi Cook ini yang pertama sejak bergabung pada 2022. Bunga atas cadangan bank di The Fed (IORB) tetap 3,90 persen.

Perubahan nada terlihat dari perbandingan berikut.

Tabel 1. Perbandingan Pernyataan FOMC September dan Oktober 2026

Aspek16 September 202628 Oktober 2026
KeputusanNaik 25 bpsTetap
Voting12 lawan 010 lawan 2
Aktivitas ekonomiTumbuh solidTumbuh strong (kuat)
InflasiMasih tinggiMasih tinggi
Arah kebijakanMendukung kembalinya inflasi ke 2 persenMenunggu tambahan data

*Sumber: pernyataan resmi FOMC.

Artinya, ekonomi AS dinilai tetap kuat, inflasi belum mencapai target, dan The Fed memilih menunggu data.

Sinyal Kevin Warsh dan Ekspektasi Desember

Konferensi pers Ketua The Fed Kevin Warsh memuat tiga poin.

  • Tanpa panduan untuk Desember. Warsh tidak memberi forward guidance (arahan eksplisit mengenai keputusan berikutnya), tetapi menegaskan komitmen menurunkan inflasi.
  • Jadwal rapat berubah. Keputusan suku bunga direncanakan hanya pada 7 dari 8 rapat pada 2027 dan 6 dari 8 rapat pada 2028, sisanya rapat strategi.
  • Pasar tetap memperkirakan kenaikan. Pasar futures (kontrak berjangka suku bunga) masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan pada Desember. Dot plot (proyeksi suku bunga tiap pejabat) September menunjukkan 12 dari 18 pejabat memperkirakan satu kenaikan lagi tahun ini.

Dampak ke Rupiah, Menguat Tipis tetapi Belum Lepas dari Tekanan

Rupiah biasanya merespons paling awal karena selisih suku bunga dapat memengaruhi daya tarik aset rupiah.

Pergerakan Rupiah Usai Keputusan The Fed

Tabel 2. Pergerakan Rupiah dan Dolar AS

WaktuRupiah per US$Keterangan
Penutupan 28/10Rp18.184Sebelum keputusan
Pembukaan 29/10Rp18.141Menguat 43 poin
Siang 29/10Rp18.105Menguat 0,44 persen
Indeks dolar AS (28/10)Turun 0,2 persenUsai konferensi pers

*Data 29 Oktober bersifat intraday hingga sekitar pukul 11.45 WIB.

Penguatan Rp79 dalam setengah hari tergolong moderat, lebih tepat dibaca sebagai respons jangka pendek.

Selisih Bunga BI dan The Fed

BI Rate 5,75 persen berada 175 bps di atas batas atas suku bunga The Fed, sedangkan Deposit Facility BI 5,00 persen berada 110 bps di atas IORB. Bila The Fed naik 25 bps pada Desember dan BI Rate tetap, selisih BI Rate menyempit menjadi 150 bps. Perubahan ini dapat menjadi salah satu pertimbangan BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 17 sampai 18 November atau 15 sampai 16 Desember.

Dampak ke Yield SBN, Tenor Pendek Membaik dan Tenor Panjang Masih Tertekan

Setiap tenor (jangka waktu jatuh tempo) obligasi merespons faktor berbeda. Yield naik berarti harga obligasi di pasar sekunder cenderung turun.

Yield SUN 10 Tahun di Level Tertinggi Sekitar Empat Tahun

Tabel 3. Yield SUN dan US Treasury (persen)

InstrumenLevelPerubahan
SUN 1 tahun6,91Turun 5,2 bps
SUN 5 tahun7,50Turun 5,3 bps
SUN 10 tahun (28/10)7,66Naik sekitar 21 bps sepekan
SUN 10 tahun7,61Turun 3,6 bps
SUN 13 tahun7,67Naik 14,7 bps
UST 2 tahun (28/10)4,70Turun 4 bps
UST 10 tahun (28/10)5,03Naik 3 bps

*Data SUN tanpa tanggal per siang 29 Oktober. UST adalah obligasi pemerintah AS. Selisih SUN dan UST 10 tahun sekitar 2,6 poin persentase, yang merupakan yield spread, bukan keuntungan carry trade secara langsung.

Tenor pendek membaik seiring perubahan ekspektasi suku bunga, sementara tenor panjang masih mencerminkan kehati-hatian terhadap inflasi dan pembiayaan pemerintah.

Lelang SUN Melemah dan Asumsi APBN Terlampaui

Pada lelang 27 Oktober, yield rata-rata tertimbang FR0111 yang dimenangkan berada di 7,54 persen, naik 30 bps dari lelang 13 Oktober dan sekitar 146 bps dari awal Januari. Dana dimenangkan Rp20,65 triliun, turun dari Rp35 triliun, dengan yield di atas asumsi APBN 2026 sebesar 6,9 persen.

Yield tinggi berpotensi membuat kupon SBN ritel berikutnya lebih menarik, bergantung pada ketentuan penerbitannya, sementara pemegang obligasi di pasar sekunder perlu memperhitungkan risiko harga.

Dampak ke IHSG, Dibuka Menguat lalu Berbalik Turun

Berbeda dengan rupiah dan SBN tenor pendek, pasar saham justru terkoreksi, menandakan The Fed bukan satu-satunya penggerak.

Pergerakan IHSG dan Saham Penekan Indeks

IHSG dibuka di 5.305,20, menyentuh 5.320,90, lalu berbalik ke 5.142,82 pada akhir sesi I, turun 139,49 poin. LQ45, indeks yang berisi 45 saham pilihan berdasarkan kriteria likuiditas dan fundamental, turun 2,93 persen. Pemberat terbesar datang dari saham big caps (berkapitalisasi besar) BBCA, ASII, BBRI, TLKM, dan BREN. Sektor infrastruktur, perindustrian, dan barang baku melemah paling dalam.

Arus asing tiga hari terakhir bergerak bergantian.

Tabel 4. Penggerak IHSG Tiga Hari Terakhir

TanggalIHSGAliran asing (seluruh pasar)Catatan
27 Oktober5.266,13 (turun 1,99 persen)Net sell Rp668 miliarBMRI, TLKM, BBNI terbanyak dilepas
28 Oktober5.282,31 (naik 0,31 persen)Net buy Rp664 miliarBBCA dibeli bersih Rp1,17 triliun
29 Oktober sesi I5.142,82 (turun 2,64 persen)Belum tersediaPemberat dari big caps

*Net sell berarti nilai jual asing lebih besar dari nilai belinya, net buy sebaliknya.

Pembelian bersih 28 Oktober belum menjadi tren, sehingga konsistensinya perlu dicermati.

Faktor Domestik yang Ikut Membebani

Faktor domestik juga berperan.

  • Konsultasi status MSCI. MSCI, penyedia indeks acuan dana global, membuka konsultasi pemindahan Indonesia ke Standalone Market. Keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027, sehingga isu ini berpotensi memengaruhi sikap asing.
  • Penurunan sejak awal tahun. IHSG turun sekitar 40 persen sepanjang 2026, dengan akumulasi net sell asing di pasar reguler sekitar Rp124,9 triliun hingga 27 Oktober. Valuasi rendah belum otomatis menarik dana masuk.
  • Sensitivitas saham bank. BBCA, BBRI, BMRI, BBNI, dan BRIS cenderung responsif terhadap arus asing, sementara kenaikan yield SBN dapat memengaruhi valuasi portofolio obligasi bank.

Anda dapat menggunakan fitur Broker Summary dengan filter investor asing di Ajaib Terminal untuk memantau konsistensi pembelian asing di saham bank.

Katalis Berikutnya dan Skenario yang Perlu Anda Pantau

Karena The Fed memilih menunggu data, beberapa pekan ke depan menjadi penentu arah pasar.

Kalender Katalis hingga Desember

Tabel 5. Kalender Katalis Pasar hingga Desember 2026

Tanggal (WIB)PeristiwaRelevansi
29 Oktober, 19.30PCE AS September (Agustus 3,4 persen, inti 3,0 persen)Ekspektasi Desember
1 NovemberGWM rupiah BI turun tahap pertamaLikuiditas perbankan
3 NovemberPemilu sela ASVolatilitas dolar dan UST
6 November sampai 2 DesemberPenawaran ST017 (tentatif)Pilihan SBN ritel
17 sampai 18 NovemberRDG Bank IndonesiaRespons BI
10 Desember, 02.00Keputusan FOMC dan dot plotPengumuman 9 Desember waktu AS
15 sampai 16 DesemberRDG Bank IndonesiaSetelah FOMC

*PCE adalah ukuran inflasi acuan The Fed. GWM adalah giro wajib minimum bank di BI.

PCE September diproyeksikan sekitar 3,6 persen, dan hasil yang menyimpang berpotensi menggeser ekspektasi Desember.

Skenario Desember

Tabel 6. Skenario Kebijakan The Fed Desember 2026

SkenarioKonfirmasiLevel pantauPembatal
The Fed naik 25 bps sesuai ekspektasiInflasi PCE di atas 3,5 persenRupiah Rp18.100 sampai Rp18.300, IHSG area 5.116 sampai 5.180Data inflasi melandai tajam
The Fed menahan lagiInflasi dan pasar kerja melemahSUN 10 tahun kembali di bawah 7,5 persenDissent bertambah atau inflasi naik

*Level adalah acuan teknikal, bukan target harga.

Skenario pertama telah menjadi salah satu ekspektasi pasar, sedangkan skenario kedua berpotensi memberi ruang bagi rupiah dan SBN.

Cara Memantau Dampak Kebijakan The Fed ke Saham di Ajaib Terminal, Langkah demi Langkah

Anda dapat memantau respons pasar langsung dari layar trading lewat langkah berikut.

Langkah 1, Buka Ajaib Terminal dan Pilih Saham Bank Besar

Tambahkan BBCA atau saham bank besar lain ke Watchlist, lalu buka grafik intraday-nya.

Langkah 2, Gunakan Broker Summary dengan Filter Investor Asing

Aktifkan filter investor asing pada Broker Summary untuk melihat aktivitas beli bersih atau jual bersih asing.

Langkah 3, Cek Inventory Analysis dan Broker Distribution

Inventory Analysis membantu mengamati indikasi akumulasi atau distribusi, sedangkan Broker Distribution menunjukkan sebaran transaksi berdasarkan broker.

Langkah 4, Perhatikan Order Queue dan Done Details Saat Data AS Rilis

Order Queue menampilkan antrean order, sementara Done Details menampilkan transaksi yang terjadi.

Langkah 5, Pasang Order lewat Panel Buy/Sell

Panel Buy/Sell memungkinkan Anda memasang order langsung di layar yang sama dengan grafik dan antrean harga.

Diversifikasi Portofolio di Tengah Suku Bunga Tinggi

Suku bunga tinggi juga membuka peluang di luar saham, misalnya reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap, SBN ritel maupun seri FR dan PBS di Ajaib Bond, Tabungan Ajaib, saham AS dan ETF, serta aset kripto.

Tabel 7. Imbal Hasil Acuan Instrumen di Ajaib

InstrumenAcuan imbal hasilPajak
Reksa dana pasar uangSekitar 4,6 sampai 5,7 persen setahunBukan objek pajak investor
Reksa dana pendapatan tetapSekitar 1,2 sampai 5,8 persen setahunBukan objek pajak investor
SBN ritel ST017 (tentatif)Kupon dijadwalkan diumumkan menjelang masa penawaranPajak kupon 10 persen final
Tabungan AjaibHingga 4 persen setahun, dikreditkan harianSesuai ketentuan bank

*Kinerja masa lalu reksa dana tidak menjamin kinerja masa depan. Rentang imbal hasil reksa dana bukan tingkat pengembalian yang dijamin.

Selama pasar menunggu data, memantau kurs, obligasi, dan arus asing bersamaan membantu Anda menyusun strategi lebih terukur.

Pantau pergerakan sahamnya dan mulai trading lebih cepat dan powerful dengan Ajaib. Download sekarang!

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Profil Penulis

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!