Analisis Saham

Mulai 2 November 2026 Saham HSC Dikeluarkan dari IHSG, Bobot 4 Bank Besar Naik Jadi 27,7%

Mikirduit•October 31, 2026

Key Takeaways

  • BEI mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG mulai 2 November 2026.
  • Kapitalisasi free float saham HSC mencapai Rp351,59 triliun, setara 15,10 persen dari kapitalisasi free float IHSG.
  • Bobot empat bank besar akan naik dari 24,4 persen menjadi 27,7 persen.
  • Saham HSC berpotensi menghadapi perubahan permintaan, sementara saham yang bobotnya naik bisa semakin berpengaruh terhadap IHSG.

Bagaimana Aturan Baru BEI Mengubah Penghitungan IHSG?

Mulai 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) akan mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Aturan ini menjadi bagian dari upaya BEI memperbaiki kualitas pasar modal, terutama terkait transparansi kepemilikan saham dan kualitas free float.

Menariknya, perubahan ini bisa mengubah peta penggerak IHSG, seperti bobot bank besar akan meningkat, sementara beberapa saham yang dulunya masuk top 10 market cap akan menghilang dari daftar. 

Lantas, bagaimana mekanisme penghitungan IHSG setelah perubahan ini, dan apa dampaknya terhadap saham-saham yang tersisa maupun saham HSC?

Metode Penghitungan IHSG Tidak Berubah

Saham HSC

Sebelum membahas dampaknya, kita perlu memahami dulu aturan baru yang diterapkan BEI.

Dalam pengumuman No. Peng-00201/BEI.POP/10-2026, BEI menetapkan bahwa saham yang masuk kategori HSC tidak lagi diperhitungkan dalam IHSG mulai 2 November 2026. Sebelumnya, pengecualian dalam kriteria seleksi IHSG berlaku untuk saham di Papan Akselerasi.

Meski begitu, metode dasar penghitungan IHSG tidak berubah. BEI tetap menggunakan metode Capped Free Float Adjusted Market Capitalization Weighted, dengan batas maksimum bobot 9 persen untuk setiap saham.

Sederhananya, bobot saham ditentukan berdasarkan kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan persentase free float, yaitu porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik.

Semakin besar kapitalisasi free float suatu saham dibandingkan saham lain yang masuk indeks, semakin besar pula potensi bobotnya. Namun, bobot setiap saham tetap dibatasi maksimal 9 persen.

Setelah saham HSC dikeluarkan, perhitungan bobot akan menyesuaikan komposisi saham yang tersisa. BEI juga akan menyesuaikan divisor indeks agar perubahan metode tidak membuat IHSG seolah-olah naik atau turun secara drastis hanya karena perubahan aturan.

Selain itu, jadwal evaluasi indeks juga berubah. Evaluasi yang sebelumnya dilakukan pada Maret, Juni, September, dan Desember kini menjadi Januari, April, Juli, dan Oktober. Hasil evaluasi berlaku pada hari bursa pertama Februari, Mei, Agustus, dan November.

BEI turut menambahkan evaluasi insidental agar perubahan status HSC di luar jadwal reguler bisa segera disesuaikan.

Jadi, yang berubah bukan metode dasar penghitungan IHSG, melainkan saham yang boleh masuk dalam perhitungan dan mekanisme evaluasinya. Lantas, seberapa besar nilai saham HSC yang akan dikeluarkan?

Kapitalisasi Free Float Saham HSC Capai Rp351,59 Triliun

Berdasarkan data yang kami tarik per 27 Oktober 2026, total kapitalisasi pasar saham HSC mencapai Rp2.583,35 triliun. Sementara itu, kapitalisasi free float-nya mencapai Rp351,59 triliun.

Untuk melihat besarnya nilai tersebut, kita bisa membandingkannya dengan kapitalisasi pasar IHSG.

Dari perhitungan tersebut, kapitalisasi pasar penuh saham HSC setara 27,40 persen dari kapitalisasi pasar IHSG. Sementara itu, kapitalisasi free float saham HSC setara 15,10 persen dari kapitalisasi free float IHSG.

Artinya, nilai free float saham HSC dalam data kita setara sekitar 15 persen dari total kapitalisasi free float IHSG.

Namun, jangan langsung menyimpulkan bahwa bobot HSC dalam IHSG juga sebesar 15,10 persen. Angka tersebut merupakan perbandingan nilai kapitalisasi free float, sedangkan bobot indeks juga dipengaruhi metode penghitungan dan batas maksimum 9 persen per saham.

Lalu, saham mana saja yang memiliki kapitalisasi free float terbesar dalam kelompok HSC?

BYAN menjadi saham HSC dengan kapitalisasi free float terbesar, mencapai Rp72,21 triliun.

Posisi berikutnya ditempati BREN sebesar Rp37,36 triliun, DSSA Rp30,18 triliun, DCII Rp27,57 triliun, dan SRAJ Rp22,15 triliun.

Lima saham tersebut menyumbang sekitar 53,89 persen dari total kapitalisasi free float saham dalam daftar. Sementara itu, 10 saham terbesar menyumbang sekitar 74,78 persen.

Berikut daftar lengkap kapitalisasi pasar dan free float 82 saham HSC berdasarkan data yang kami tarik per 27 Oktober 2026.

Gunakan fitur Running Trade, Broker Flow, dan Inventory Analysis di Ajaib Terminal untuk membantu memantau aktivitas pasar. Nikmati Broker Fee Rp0 dengan transaksi di Ajaib Terminal.

Perubahan Top 10 Market Cap: DCII dan BYAN Terdepak, Bobot Big Bank Naik 

Dengan terdepaknya saham HSC dari IHSG, perubahan dalam top 10 market cap yang selama ini terkenal menjadi penggerak market akan banyak berubah. 

Saham HSC yang masih di top 10 saat ini ada DCII dan BYAN otomatif akan terhapus. 

Kami juga  menghitung, bobot gabungan BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI meningkat dari 24,4 persen menjadi 27,7 persen. Sementara itu, bobot gabungan 10 saham terbesar IHSG naik dari 43,6 persen menjadi 47,1 persen.

BBCA dan BBRI masing-masing mencapai batas bobot 9 persen. Sementara itu, BMRI mencatat kenaikan bobot terbesar di antara saham yang tetap masuk dalam 10 besar, dari 5,7 persen menjadi 7,1 persen.

Apa artinya buat kita? Pergerakan saham-saham besar yang masih masuk dalam indeks berpotensi memberikan pengaruh lebih besar terhadap arah IHSG. 

Ketika saham-saham tersebut menguat, kontribusinya terhadap indeks bisa semakin besar. Sebaliknya, jika melemah, tekanan terhadap IHSG juga bisa lebih terasa.

Meski begitu, kenaikan bobot tidak otomatis membuat harga saham terkait naik. Bobot indeks menunjukkan porsi relatif suatu saham dalam penghitungan indeks, bukan jaminan keuntungan.

Dampak dan Strategi Kita Menghadapi Perubahan IHSG

Pengeluaran saham HSC tidak otomatis membuat IHSG langsung turun. BEI akan menyesuaikan bobot saham yang tersisa dan divisor indeks agar perubahan metodologi tidak menimbulkan pergerakan indeks secara semu.

Namun, perubahan ini berpotensi menggeser pengaruh terhadap IHSG. Dalam perhitungan kami, bobot empat bank besar, yakni BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, meningkat dari 24,4 persen menjadi 27,7 persen. Artinya, pergerakan saham-saham tersebut berpotensi semakin memengaruhi arah IHSG.

Di sisi lain, saham HSC berpotensi menghadapi penyesuaian permintaan dari fund manager yang menggunakan indeks sebagai acuan. 

Meski begitu, bukan berarti seluruh saham HSC akan mengalami tekanan jual karena keputusan pengelola dana tetap bergantung pada fundamental, valuasi, dan strategi masing-masing.

Menurut kami, kebijakan ini berpotensi meningkatkan kualitas IHSG, tetapi belum otomatis menyelesaikan persoalan transparansi kepemilikan dan tata kelola yang menjadi sorotan investor global, termasuk MSCI.

Karena itu, kita perlu mencermati perubahan bobot saham setelah aturan berlaku pada 2 November 2026, sekaligus memantau potensi rotasi dana dan perkembangan fundamental emiten. 

Jangan hanya mengejar saham yang bobotnya naik atau buru-buru menghindari saham HSC. Tetap perhatikan valuasi, likuiditas, dan prospek bisnisnya agar keputusan investasi kita tidak hanya mengikuti perubahan indeks.

Pantau Pergerakan Harga Saham Big Banks dan Mulai Trading di Ajaib

Perubahan komposisi IHSG membuat investor perlu semakin cermat memantau pergerakan saham-saham yang memiliki bobot besar dalam indeks, termasuk BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

Selain memperhatikan fundamental dan valuasi, memahami aktivitas transaksi saham juga bisa menjadi bagian dari proses analisis sebelum mengambil keputusan trading.

Pantau pergerakan saham, running trade, dan broker flow melalui Ajaib Terminal. Temukan insight aktivitas pasar dan mulai trading saham Indonesia dengan lebih terarah.

Google Play StoreApple App Store

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi  ini melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Profil Penulis

Mikirduit
Mikirduit

Writer

-

Artikel Populer

Daftar 100% Online, Tanpa Minimum Investasi

Tentukan sendiri jumlah investasi sesuai tujuan keuanganmu!