Analisa Saham

Bedah Saham BINO, Produsen Binder Bantex Terpopuler

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu melihat atau membeli binder dan perlengkapan kantor bermerek “Bantex”? Perusahaan yang memproduksi merek favorit staf admin kantor ini telah mendaftarkan sahamnya ke Bursa Efek Indonesia pada akhir tahun lalu dengan kode saham BINO. Mari kita bedah fundamental dan prospek sahamnya.

Profil Emiten BINO

PT Perma Plasindo berdiri sejak tahun 1992 dan kini beroperasi sebagai perusahaan holding yang menaungi perusahaan-perusahaan di bawah BINO Group.

BINO Group memproduksi dan mendistribusikan peralatan kantor dengan merek internasional seperti Bantex, Kertas HVS Sinar Dunia, serta masih banyak lagi. Perusahaan juga siap bertransformasi menjadi perusahaan digital dengan pengembangan Bino Digital Solution Hybrid Filing.

BINO Group menaungi perusahaan-perusahaan:

  1. PT Batara Indah (Termasuk Bantex Malaysia Sdn. Bhd.)
  2. PT Batara Indah Mulia
  3. PT Bino Mitra Sejati
  4. PT Apli Stationery
  5. PT Anugraha Karsa Solusi Industria
  6. PT Persada Bina Rekat Sejati
  7. Bino Digital Solution Pte.Ltd

Kantor dan pusat distribusi BINO terletak di Kawasan Industri Sentul. Selain itu, perusahaan memiliki 3 pabrik di Sentul, Klaten dan Batam.

PT Perma Plasindo melaksanakan penawaran perdana di papan pengembangan Bursa Efek Indonesia pada tanggal 25 November 2021 dengan kode saham BINO. Harga penawaran perdana senilai Rp138 per lembar. 

Harga saham BINO sempat melonjak sampai Rp186 pada hari pertamanya di bursa, tetapi kemudian rontok perlahan. Saat ulasan ini dibuat (2 Februari 2022), harga saham BINO beredar pada kisaran Rp142. BINO memiliki market cap sebesar Rp308,85 miliar. 

Komposisi kepemilikan saham BINO terbagi diantara banyak pihak. Pemegang saham pengendalinya adalah Willianto Ismadi (36,00%). Sedangkan pemegang saham lain berturut-turut PT Intan Pariwara (23,20%), Aruwan Soenardi (12,00%), Kristanto Widjaja (8,00%), masyarakat (20,00%), dan Tang Widiastuty (0,80%).

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

Rangkuman laporan keuangan BINO yang terangkum dalam prospektus menunjukkan bahwa profitabilitas perusahaan kurang stabil. Berikut ini cuplikan kinerja laba dan komponen laporan keuangan utama lainnya selama 2018-2020 dan kuartal I/2021 (dalam miliar rupiah):

I/2021 IV/2020 IV/2019 IV/2018
Total Aset 391,51 366,72 424,81 423,36
Total Liabilitas 111,39 155,45 207,05 214,79
Total Ekuitas 280,04 211,32 216,54 207,48
Penjualan Neto 78,62 266,84 368,16 356,49
Beban Pokok -59,21 -177,86 -256,67 -242,18
Laba Bruto 19,41 88,98 111,49 114,31
Laba/Rugi Periode Berjalan 0,93 -1,44 10,33 13,28

Cuplikan di atas menunjukkan terjadinya penurunan laba selama sedikitnya tiga tahun beruntun. BINO bahkan tekor lebih dari Rp1 miliar pada akhir tahun 2020. 

Dari laporan keuangan BINO tersebut, kita juga dapat pula menyimpulkan lima rasio utama yang disetahunkan sebagai berikut:

  • Net Profit Margin (NPM): 1,18%
  • Return on Equity (ROE): 1,32%
  • Return on Asset (ROA): 0.96%
  • Debt Equity Ratio (DER): 39,78%
  • Current Ratio: 302,64%

Angka NPM, ROE, dan ROA membuktikan betapa lesunya kinerja laba perusahaan. Untungnya, rasio utang BINO tergolong sangat rendah di bawah 100%. 

Prospek Bisnis Emiten Saham BINO

BINO jelas memiliki keunggulan dari segi brand. Merek Bantex sudah memiliki brand recognition dan jaringan distribusi yang luas. Konsumen telah mempercayai kualitas dan layanan yang diberikan oleh perusahaan selama bertahun-tahun, meskipun banyak pesaing lain yang memberikan produk serupa dengan harga lebih murah. Di sisi lain, perusahaan terus meningkatkan kapasitas produksi dan menjaga kualitas.

Menanggapi tren digitalisasi yang mengubah kebiasaan pengarsipan saat ini, BINO juga cukup cepat tanggap. Perusahaan tengah mengembangkan Hybrid e-Filing melalui anak usaha Bino Digital Solutions Pte Ltd yang berkedudukan di Singapura. Hybrid e-Filing merupakan solusi gabungan pengarsipan secara fisik dan elektronik melalui satu platform, dapat diakses dari mana saja, ter-enkripsi dan aman.

Manuver-manuver BINO tersebut tercermin dalam rencana alokasi dana hasil IPO. Rencana alokasi selengkapnya sebagai berikut:

  1. Sebanyak Rp38 milyar untuk pelunasan pokok hutang pihak ketiga, yaitu PT Usaha Gema Jaya dan Koperasi Bintang Timur Kapital.
  2. Sebanyak Rp4,5 milyar sebagai pinjaman bagi Entitas Anak BI untuk pembelian penambahan mesin.
  3. Sebanyak Rp2,85 milyar untuk pembelian 2 bidang tanah di Klaten dari pihak ketiga. Tanah ditujukan untuk pembangunan gudang distribusi dan kantor yang akan disewakan kepada Entitas Anak BMS untuk ekspansi Distribusi Center.
  4. Sebanyak Rp2,55 milyar sebagai pinjaman kepada Bino Digital Solutions PTE LTD (BDS) untuk pengembangan Bantex hybrid file digital yang akan dilakukan oleh BDS dengan Sircured Pte Ltd di Singapura.
  5. Sisanya akan digunakan oleh Entitas Anak BMS dengan skema pinjaman, untuk modal kerja, seperti membeli dan memperbanyak stok barang di cabang, serta untuk modal kerja perusahaan.

Bantex Hybrid e-Filing saat ini berada pada tahap soft launching, sehingga sudah dapat diunduh dan dipergunakan. Rencananya, grand launching bakal digelar dalam waktu dekat. Perusahaan menargetkan 20.000 hingga 30.000 pelanggan dalam tahun pertama operasional.

Bantex Hybrid e-Filing dikemas dalam bentuk layanan freemium. Selama tahun pertama akan lebih fokus pada upaya menggaet pelanggan daripada menjaring pendapatan. Sedangkan kontribusinya terhadap pendapatan BINO kemungkinan baru nampak secara signifikan antara tahun ketiga hingga kelima.

Kesimpulan tentang Saham BINO

Bisnis ATK BINO sejatinya termasuk sektor usaha yang terpukul di tengah tren digitalisasi arsip dan work-from-home (WFH). Hal ini terlihat nyata dalam kinerja keuangan tahun 2020 yang babak belur. 

Perusahaan memahami perubahan dinamika tersebut dan tangkas dalam menggali celah bisnis baru melalui rintisan Bantex Hybrid e-Filing. Sayangnya, butuh waktu cukup lama untuk menyaksikan apakah upaya perusahaan bakal berbuah sesuai harapan.

Pemulihan aktivitas kerja kantoran pasca-pandemi mungkin akan memperbaiki penjualan dan laba BINO tahun 2021 dan seterusnya. Namun, ini masih sebatas prediksi.

Investor yang berminat untuk meminang saham BINO perlu berhati-hati agar jangan sampai terkena FOMO. Sebaiknya bersabar menantikan perbaikan kinerja dalam rilis laporan keuangan BINO berikutnya, sembari terus memantau grafik teknikal untuk menemukan momen beli yang tepat di masa depan.

DisclaimerInvestasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait