Analisis Saham

Bedah Saham IPO ATLA, Penyedia Jasa Survei Sektor Migas dan Energi

atlantis subsea indonesia (ATLA)

Survei merupakan salah satu metode yang sangat penting untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sudut pandang. Dengan metode yang tepat, survei dapat menjadi sumber data yang berharga untuk pengambilan keputusan. Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang survei dan layanan untuk Perusahaan Migas dan Energi adalah PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (Saham ATLA), yang berfokus pada pemanfaatan teknologi dengan studi multidisiplin di Bursa Efek Indonesia.

Menariknya, sepanjang tahun 2019 Atlantis Subsea telah menyelesaikan ±57.248 jam kerja dari total 9 proyek jasa survei dan terus memasarkan potensi yang signifikan di masa depan.

Pertama kali didirikan di Indonesia pada tahun 2016. Atlantis Subsea juga memiliki aliansi strategis dengan perusahaan mitra di berbagai negara, sehingga memungkinkan kami melakukan survei dan studi kelautan di seluruh dunia.

Profil Singkat Emiten

PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA) mulai berdiri sejak tahun 2016, kegiatan usaha utamanya bergerak dalam bidang Survei dan Layanan untuk Perusahaan Energi dengan menyediakan berbagai teknologi inovatif yang aman, berkualitas tinggi, dan terintegrasi.

Atlantis Subsea Indonesia berada dalam bisnis untuk menghasilkan pengembalian industri terkemuka untuk semua pemangku kepentingannya melalui penyediaan jasa supporting yang aman, dan produktif, dengan menciptakan budaya yang dinamis, menyenangkan dan memberikan yang terbaik di industri.

Perusahaan menyediakan dukungan survei spesialis dengan studi multi disiplin berskala global, memberikan solusi untuk sektor Minyak dan Gas, Energi serta Energi Terbarukan, dan Infrastruktur Kelautan. Dengan visi untuk menjadi yang terdepan dalam layanan survei di kawasan Asia Tenggara.

Adapun susunan permodalan dan pemegang saham Perusahaan ATLA pada saat Prospektus ini diterbitkan saat sebelum melaksanakan proses IPO adalah sebagai berikut, terdiri atas Rudi Reksa Sutantra (63%), Yophi Kurniawan Iswanto (21%), Denny Ray Hendra (6%), Hendry Widjaja (6%), dan Tomas Gunawan (4%).

Detail Rencana IPO Saham ATLA

Saham ATLA melakukan penawaran saham perdana melalui mekanisme e-IPO. Perusahaan menawarkan sebanyak-banyaknya 1.200.000.000 saham baru yang merupakan saham biasa atas nama dengan nominal Rp8 per lembar saham, atau sama dengan 19,36% dari total modal yang ditempatkan setelah proses penawaran umum perdana saham kepada masyarakat dengan harga penawaran Rp100.

Perusahaan juga berencana menerbitkan Waran Seri I sebanyak-banyaknya 1.740.000.000 lembar yang menyertai penerbitan saham baru.

Rasio Saham dengan Waran Seri I adalah 20 : 29, Artinya setiap pemegang 20 saham baru ketika penjatahan final IPO akan memperoleh 29 Waran Seri I.

Berikut merupakan struktur pemegang saham setelah aksi ATLA IPO, Rudi Reksa Sutantra (50,80%), Yophi Kurniawan Iswanto (16,93%), Denny Ray Hendra (4,84%), Hendry Widjaja (4,84%), Tomas Gunawan (3,23%), dan Masyarakat (19,36%).

Penjamin pelaksana emisi efek ATLA adalah Artha Sekuritas Indonesia. Penjamin Pelaksana Emisi Efek menjamin dengan kesanggupan penuh (Full Commitment) terhadap terhadap sisa saham yang ditawarkan yang tidak dipesan dalam Penawaran Umum Perdana Saham Perusahaan.

Jadwal Penawaran Saham IPO ATLA

Jadwal penawaran saham berdasarkan prospektus adalah sebagai berikut.

  • Masa Penawaran Awal (Masa Book Building): 19 – 22 Maret 2024
  • Tanggal Efektif : 28 Maret 2024
  • Masa Penawaran Umum Perdana Saham LAJU: 2 – 4 April 2024
  • Tanggal Penjatahan : 4 April 2024
  • Tanggal Distribusi Saham dan Waran Seri I : 5 April 2024
  • Tanggal Pencatatan Saham dan Waran Seri I : 16 April 2024
  • Periode Awal Perdagangan Saham dan Waran Seri I : 16 April 2024 – 10 April 2025
  • Akhir Perdagangan Waran Seri I Pasar Reguler : 16 April 2024 – 14 April 2025
  • Periode Pelaksanaan Waran Seri I : 16 Oktober 2024 – 15 April 2025

Rencana Penggunaan Dana IPO Saham ATLA

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil IPO, Penawaran Umum Perdana Atlantis Subsea Indonesia setelah dikurangi biaya-biaya emisi akan digunakan untuk masing-masin,

  1. Mencapai 43,52% akan digunakan untuk pembelian peralatan guna menunjang kegiatan operasional Perusahaan,
  2. Sisanya akan digunakan untuk untuk modal kerja seperti biaya instalasi peralatan, yang termasuk di dalamnya biaya sewa peralatan, biaya dukungan teknis, pekerjaan pengawasan dan supervisi, biaya tenaga ahli, biaya penelitian dan survei, biaya perlengkapan survei, biaya transportasi dan akomodasi, biaya pemeliharaan, biaya sewa kelengkapan, gaji karyawan dan lain-lain.

Sedangkan, seluruh dana yang diperoleh dari pelaksanaan Waran Seri I, juga akan digunakan untuk modal kerja yaitu biaya instalasi peralatan, pekerjaan pengawasan dan supervisi, dan biaya lain-lain.

Kinerja Laporan Keuangan Atlantis Subsea Indonesia

Kinerja Laporan Keuangan Atlantis Subsea Indonesia

Prospektus saham ATLA memperlihatkan kinerja yang cukup baik, tercatat Pendapatan Usaha dan Laba Bersih Tahun Berjalan Perseroan pada level ekspansif, namun masih bersifat fluktuatif.

Pada kinerja tahunan 2020–2021 ATLA berhasil mencatatkan kenaikan Laba Bersih Tahun Berjalan mencapai 147% menjadi Rp13,44 miliar. Namun, pada kinerja tahunan 2021–2022 terdapat koreksi 53% menjadi hanya Rp6,29 miliar. Hal ini dikarenakan dengan kondisi Covid-19 di mana suplai atas jasa di industri Perusahaan berkurang. Namun kondisi ini sudah berangsur-angsur kembali normal seperti sebelum pandemi kemarin. 

Rasio Keuangan ATLA

Berikut merupakan ringkasan rasio keuangan saham IPO ATLA selama bulan Desember 2020 sampai dengan September 2023.

rasio keuangan saham IPO ATLA selama bulan Desember 2020 sampai dengan September 2023

Data di atas menunjukkan ATLA secara fundamental dalam kinerja cukup baik, walaupun rasio pertumbuhan mengalami penurunan hampir secara keseluruhan, ATLA berhasil mencatatkan kinerja positif pada jumlah aset yang mengalami akselerasi sebesar 22,25% di sepanjang tahun 2022.

Pada rasio profitabilitas berhasil membukukan pencapaian positif, di mana Gross Profit Margin (GPM) berhasil mencapai 24,19%, Operating Profit Margin (OPM) mencapai 14,57% dan Return on Equity (RoE) mencatatkan kinerja 18,65%, serta Return on Assets (RoA) mencapai 12,94% hal ini mengindikasikan bahwa ATLA berhasil memaksimalkan permodalan dan aset yang dimiliki untuk memperoleh laba.

Kebijakan Dividen Saham ATLA 

Prospektus saham IPO ATLA  menuturkan bahwa pemegang saham yang tercatat dalam rekening efek berhak atas pembagian dividen saham ATLA.

Untuk setiap tahunnya Perusahaan bermaksud membayarkan dividen tunai dengan jumlah sebesar 20% dari laba bersih tahun berjalan mulai tahun buku yang tertanggal 31 Desember 2024 dan seterusnya.

Rencana pembagian dividen tersebut bergantung pada hasil kegiatan usaha dan arus kas serta prospek usaha, kebutuhan modal kerja, belanja modal dan rencana investasi Perusahaan di masa yang akan datang.

Prospek Bisnis ATLA

Makro Outlook

Perekonomian global dipenuhi dengan ketidakpastian yang semakin meningkat. Bersamaan dengan itu, perekonomian Amerika Serikat pada 2023 kemarin masih mampu bertumbuh kuat terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan sektor jasa yang berorientasi dalam negeri, sedangkan China terlihat melambat dipengaruhi oleh pelemahan konsumsi dan penurunan kinerja properti.

Situasi dan kondisi global juga diwarnai dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, yang juga mendorong harga energi dan pangan meningkat sehingga mengakibatkan tetap tingginya inflasi global. Untuk mengendalikan inflasi tersebut, suku bunga kebijakan moneter di negara maju, termasuk Federal Funds Rate (FFR), diperkirakan akan tetap bertahan tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (Higher for Longer). 

Perekonomian Indonesia diprakirakan akan tetap tumbuh baik dan berdaya tahan terhadap dampak rambatan global. Pada 2023, pertumbuhan ekonomi RI ditopang oleh konsumsi swasta, termasuk konsumsi generasi muda produktif, yang meningkat sejalan peningkatan konsumsi di jasa dan tingkat Keyakinan Konsumen yang masih tinggi. Pertumbuhan investasi juga tetap baik didorong berlanjutnya penyelesaian sejumlah Proyek Strategis Nasional.

Dengan perkembangan laju yang positif itu, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan akan meningkat pada 2024. Berlanjutnya perbaikan ekonomi pada 2024 terutama didorong oleh permintaan dari dalam negeri sejalan dengan kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara, penyelenggaraan Pemilu 2024, dan pembangunan Ibu Kota Negara.

Investasi juga dinilai akan meningkat positif terutama investasi non-bangunan sejalan dengan kinerja ekspor yang positif dan berlanjutnya program hilirisasi

Seiring dengan kinerja positif sejumlah indikator konsumsi rumah tangga dan investasi, seperti Indeks Keyakinan Konsumen, Indeks Penjualan Riil, dan PMI Manufaktur, BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2024 berada pada kisaran 4,7% – 5,5%.

Pada Kuartal I-2024, ekonomi Indonesia berhasil tumbuh 5,11% di tengah ketidakpastian global. Angka ini meningkat dibanding pertumbuhan kuartal sebelumnya, 5,04%.

Perkembangan terbaru mencerminkan kegiatan ekonomi tetap membaik pada awal 2024. 

Angka kasus Covid-19 yang semakin terkendali, serta peralihan dari pandemi ke endemi sejak tahun 2023, mendorong normalisasi kegiatan termasuk dalam pelayanan kesehatan regular (non Covid). Hal ini juga mendorong perekonomian akan kembali normal dan gencar dalam sisi ekspansi kedepannya.

Industry Outlook

Perkembangan Investasi Hulu Minyak dan Gas yang Jadi Potensi Perusahaan

Pengguna jasa Perusahaan mayoritas berasal dari kontraktor Minyak dan Gas yang beroperasi di lepas Pantai atau offshore, meningkatnya investasi Pemerintah pada hulu Migas maka akan terdapat Pembangunan dan pengembangan hulu Migas yang membutuhkan jasa kontraktor Migas sehingga berdampak pada ATLA sebagai Perusahaan unggulan survei bawah laut.

Dengan demikian, keterangan tentang prospek industri akan berkaitan dengan industri Minyak dan Gas Bumi terutama investasi pada Hulu Migas. Berikut grafik nilai investasi hulu migas,

grafik nilai investasi hulu migas
Sumber: Prospektus Perusahaan, Kementerian ESDM, tahun 2023 dan 2024 berdasarkan prognosa dari Kementerian ESDM.

Nilai investasi Hulu Migas pada 2022 mengalami peningkatan yang signifikan sebesar US$ 1,41 miliar, atau meningkat mencapai 12,94% dibandingkan dengan pencapaian pada 2021.

Nilai investasi pada 2022 adalah yang tertinggi sejak 2016. Tinggi nya nilai investasi Hulu Migas pada 2022 adalah untuk mengejar target produksi minyak Pemerintah sebesar 1 juta barrel per hari pada 2030. 

Rencana Strategis Migas Kementerian ESDM tahun 2020–2024 melakukan prognosis biaya investasi pada 2023 dengan biaya investasi sebesar US$ 13,93 miliar, dan pada 2024 membutuhkan biaya investasi sebesar US$ 14,47 miliar.

Artinya nilai investasi dan potensi Hulu Migas bakal meningkat pada 2024 berdasarkan prognosis tersebut sehingga masih terbuka potensi bisnis kedepannya untuk Perusahaan. 

Menurut Kementerian ESDM Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, hingga tahun 2050 mendatang pemanfaatan Energi Fosil Minyak dan Gas Bumi (Migas) masih berperan penting dalam mengamankan pasokan energi nasional, utamanya gas bumi yang digunakan sebagai energi transisi menuju Net Zero Emission pada 2060.

Potensi Minyak dan Gas Bumi di Indonesia sangat besar, masih ada total sekitar 128 Basins diantaranya 68 Basins yang belum dieksplorasi dan sisanya sudah tereksplorasi dan berumur sudah tua.

Kementerian ESDM menyampaikan perlu dilakukan penemuan cadangan baru dengan melakukan eksplorasi Migas yang masif untuk meningkatkan produksi migas nasional. Potensi minyak dan gas bumi dalam Basins perlu dilakukan eksplorasi lebih lanjut, untuk meningkatkan cadangan minyak bumi. Hal ini jadi daya tarik tersendiri bagi Perusahaan.

Proyeksi Supply Demand Minyak Bumi Indonesia

Berdasarkan data resmi Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) menyatakan dengan gamblang bahwa Hulu Migas masih akan memiliki peran penting dalam road–map energi dan perekonomian Indonesia sampai dengan 2050 mendatang. Diproyeksikan permintaan Minyak dan Gas Bumi hingga 2050 akan terus mengalami peningkatan.

Mencermati perhitungan dan proyeksi dari RUEN dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, dapat disimpulkan, hingga tahun 2050 konsumsi akan Minyak dan Gas Bumi di Indonesia akan terus bertumbuh namun tidak diimbangin dengan produksi. Hal ini dapat menjadi peluang dan tantangan yang dapat dimanfaatkan bagi Perusahaan yang bergerak dalam industri Migas.

Dengan tingginya potensi atas industri Migas, menjadikan peluang bagi Atlantis Subsea Indonesia yang menyediakan survei dan layanan bagi berbagai Perusahaan Minyak dan Gas dalam jangka waktu ke depan.

Upaya-upaya tersebut membutuhkan investasi di Hulu Migas dalam bentuk pembangunan platform, pembangunan pipa gas laut, maintenance mature field yang semua itu membutuhkan jasa survey dan inspeksi Migas sehingga kedepannya jasa survei dan inspeksi migas memiliki potensi yang sangat besar.

Analisis Potensi Pasar Survei Seismik Lepas Pantai Asia Tenggara

Pasar survei seismik lepas pantai Asia Tenggara diperkirakan akan mencatat CAGR lebih dari 4% per tahun selama periode prakiraan yaitu dimulai dari tahun 2024 sampai dengan 2029 kedepan.

Beberapa hal yang menjadi dasar pertimbangan CAGR potensi pasar survei lepas pantai,

  1. Dalam jangka menengah, peningkatan penggunaan teknologi seismik untuk eksplorasi Minyak dan Gas serta peningkatan investasi pada Pembangkit Listrik Tenaga Angin Lepas Pantai diperkirakan akan mendorong pertumbuhan pasar.
  2. Peningkatan kemajuan teknologi survei seismik kemungkinan akan menciptakan peluang pertumbuhan yang menguntungkan bagi pasar survei seismik lepas pantai Asia Tenggara.
  3. Spesialnya untuk Indonesia, rendahnya produksi Migas mendorong Pemerintah RI untuk

meningkatkan produksi Migas dengan maksud guna penemuan cadangan baru dan pengembangan Mature Field.

Menariknya, cadangan baru yang telah ditemukan akan didirikan platform baru yang membutuhkan jasa survei dan inspeksi, sedangkan platform yang sudah dibangun akan memerlukan maintenance yang membutuhkan jasa survei dan inspeksi. Yang kelak akan mendorong peningkatan kegiatan Hulu Migas yang pada hasilnya berdampak pada industri jasa survei dan inspeksi energi. (Sumber: Mordor Intelligence) 

Kesimpulan

Berdasarkan laporan data lengkap prospektus saham IPO ATLA, diketahui secara fundamental ATLA memiliki kinerja yang ada di dalam ekspansif.

Berdasarkan prospek bisnis di industrinya keseluruhan, peningkatan permintaan akan layanan seismik lepas pantai dari industri energi angin lepas Pantai, Minyak dan Gas, terutama di Asia Tenggara, akan meningkatkan pasar survei seismik lepas pantai kedepannya, yang otomatis akan jadi peluang yang besar bagi Atlantis Subsea Indonesia.

Dengan prospek kinerja bisnis secara keseluruhan, saham ATLA menarik untuk ditambahkan ke dalam watchlist teman-teman untuk berinvestasi dalam tren jangka panjang.


Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib Sekuritas membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait