Saham

Beberapa Hal yang Menjadi Alasan Membeli Saham Unilever

alasan membeli saham unilever

Ajaib.co.id – Alasan membeli saham Unilever yang masih dilakukan oleh beberapa investor karena analisis fundamental perusahaan yang baik. Selain itu, apakah ada alasan lain?

Di dalam dunia investasi saham, memilih perusahaan dengan rekam jejak saham yang masuk ke dalam kategori blue chip memang menjadi pilihan tepat. Hal ini karena perusahaan dengan saham blue chip memiliki portofolio pergerakan harga saham yang cukup stabil. Walaupun satu waktu turun, namun biasanya tidak secara drastis dan akan kembali naik. Salah satunya adalah saham dari perusahaan Unilever.

Alasan membeli saham Unilever oleh kebanyakan investor adalah saham perusahaan ini masuk ke dalam kategori tersebut. Apalagi, harga saham Unilever sempat menembus angka Rp49.800 per sahamnya. Tidak heran, para investor banyak yang tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut.

Salah satu hal yang mendorong pergerakan harga saham Unilever bisa terus stabil dan naik karena Unilever merupakan perusahaan di sektor barang konsumen atau kebutuhan yang menjadi market leader. Hal ini karena produk-produk dari Unilever sudah menjadi kepercayaan para konsumennya untuk digunakan.

Di tahun 2020, Unilever melakukan stock split dengan memperbarui harga saham menjadi 1:5 yang semula seharga Rp43.000 menjadi Rp8.600 per lembarnya. Pembaruan harga ini tentunya memiliki tujuan yang difokuskan untuk mendapatkan investor retail. Perubahan harga saham atas stock split yang diterapkan ini tentu akan mempengaruhi sentimen pasar.

Ditambah di awal tahun 2020, beredar isu Perang Dunia III yang melibatkan beberapa negara adikuasa sehingga mempengaruhi harga saham Unilever. Stock split hingga sentimen pasar akan berita yang beredar ini tentu membuat sebagian investor beramai-ramai membeli saham Unilever selagi murah dan sebagian pesimis dengan pergerakan harga saham Unilever.

Hal ini menjadi pertanyaan besar bagi investor dan calon investor dari saham Unilever, apakah saham Unilever masih bagus untuk dibeli? Mengingat ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan para investor untuk mempertahankan saham Unilever. Berikut penjelasannya.

Turunnya Laba Bersih di Kuartal III Tahun 2019

Pada kuartal III di tahun 2019, laba dari saham Unilever memang mengalami penurunan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Di mana sebelumnya laba mencapai angka Rp7,3 triliun, di tahun berikutnya laba hanya sebesar Rp5,51 triliun. Akan tetapi, penurunan laba ini tidak bisa dijadikan alasan utama untuk tidak menahan saham Unilever yang dimiliki. Pasalnya, Unilever sempat melakukan penjualan pada beberapa aset spread sehingga menghasilkan tambahan laba senilai Rp2,1 triliun.

Munculnya Sentimen Buruk pada Akhir Tahun

Di akhir 2019 lalu, ekonomi di Asia Selatan mengalami pergerakan yang melambat sehingga mempengaruhi pertumbuhan pasar pada konsumen perusahaan tersebut. Hal ini karena Unilever memiliki sejumlah pasar yang terbilang besar di Asia Selatan. Dengan adanya situasi tersebut, membuat sentimen buruk pada pasar saham terhadap pertumbuhan ekonomi yang melambat.

Selain itu di beberapa bagian di benua Afrika dan Amerika juga mengalami penurunan pendapatan. Dengan adanya sentimen buruk pada pasar tentu berpengaruh pada harga saham Unilever yang mengalami penurunan sebesar 6 persen. Banyak dari investor Unilever menjual saham mereka ketika kondisi ini terjadi. Hal ini juga didukung dengan pendapatan perusahaan di Indonesia.

Lalu, ketika kondisi tersebut tengah melanda perusahaan Unilever, bagaimana dengan situasi saham di pasar? Nah, untuk mengetahui beberapa hal yang menjadi alasan membeli saham Unilever, berikut ini penjelasannya.

Pendapatan atau Revenue di Tahun 2019

Bicara tentang keuntungan yang diperoleh oleh Unilever, maka bisa dikatakan saham perusahaan ini termasuk ke dalam kondisi yang baik. Pasalnya, Unilever berhasil membukukan revenue di kuartal 3 tahun 2019 sebesar Rp32,4 triliun. Di mana, tahun sebelumnya Unilever hanya mendapatkan revenue di angka Rp31,5 triliun, lebih kecil Rp5,5 triliun.

Selain itu, laba yang didapat Unilever pada kuartal III ini memang lebih kecil dibanding tahun sebelumnya yaitu Rp5,5 triliun dan tahun 2018 sebesar Rp7,3 triliun. Akan tetapi, revenue tersebut bisa menjadi acuan dan sebagai alasan membeli saham Unilever bagi para investor. Hal ini tentu dapat memproyeksikan pergerakan harga saham Unilever di masa mendatang.

Sektor Perusahaan yang Memproduksi Barang-Barang Kebutuhan Sehari-hari

Seperti yang sudah disebutkan bahwa Unilever menjadi market leader sebagai perusahaan yang memproduksi barang-barang kebutuhan. Di mana, produk-produknya menjadi produk kepercayaan para konsumen meliputi sabun, shampo, pasta gigi, produk perawatan, dan masih banyak lainnya. Kebutuhan akan produk-produk tersebut tentu akan mempengaruhi pendapatan bagi perusahaan sehingga juga mempengaruhi pergerakan saham Unilever sendiri.

Selain itu, beberapa ahli di dunia saham menganalisa secara teknikal dan beranggapan bahwa saham Unilever kini berada di posisi sideways yang artinya tidak naik atau turun. Bahkan saham Unilever ini bisa mengalami bullish alias saham akan melambung naik. Jadi, jika ditanya alasan membeli saham Unilever, jawabannya adalah karena analisis fundamental.

Di mana, sentimen buruk, utang perusahaan, dan laba yang menurun tidak sebanding jika disandingkan dengan revenue dan proyeksi perusahaan ke depan. Pasalnya, jika sentimen buruk tetap terjadi atau situasi ekonomi dunia tengah dilanda permasalahan, produk-produk kebutuhan sehari-hari yang dihasilkan oleh Unilever akan terus dibutuhkan. Beberapa merek produk mereka yang paling banyak digunakan seperti Pepsodent, Sunsilk, Clear, Vaseline, Kecap Bango, Royco, dan masih banyak lainnya.

Hal ini jelas akan mendongkrak revenue atau pendapatan perusahaan ke depan. Mengingat perusahaan yang bergerak di bidang produksi barang-barang kebutuhan sehari-hari memiliki proyeksi yang stabil dan aman ke depan. Apalagi untuk Unilever sendiri memiliki kapitalisasi pasar yang sangat besar yaitu senilai Rp323 triliun.

Nah, analisis fundamental itu memiliki peran yang sangat besar untuk memutuskan langkah berikutnya terhadap suatu saham. Apakah saham yang dimiliki harus dijual atau dibeli? Hal ini akan kamu temukan ketika melakukan analisa berdasarkan fundamental perusahaan. Bisa dikatakan, jika investasi saham ini membutuhkan ketelitian dan kesabaran ketikan menggunakannya.

Oleh karena itu, bagi kamu yang kurang cocok atau tidak menyukai proses dari investasi saham, bisa menggunakan jenis instrumen investasi lainnya. Pasalnya, masih banyak instrumen investasi lainnya yang bisa digunakan, salah satunya reksa dana. Investasi reksa dana bisa menjadi pilihan bagi kamu yang baru mencoba berinvestasi karena risikonya yang rendah.

Apalagi kini investasi reksa dana bisa dilakukan secara online melalui smartphone kamu dengan menggunakan aplikasi Ajaib. Ajaib hadir untuk memudahkan kamu dalam berinvestasi khususnya reksa dana. Dengan menggunakan Ajaib, kamu akan dibantu untuk menemukan jenis investasi reksa dana yang cocok dan sesuai kebutuhan.

Ditambah dengan keuntungan dari investasi reksa dana cukup besar dan risiko yang rendah, maka memilih reksa dana sebagai instrumen investasi adalah hal yang tepat. Jadi, tunggu apalagi. Rencanakan keuanganmu di masa mendatang dengan investasi reksa dana di Ajaib. Yuk, download aplikasi Ajaib di smartphone kamu dan temukan kemudahan dalam berinvestasi.

Bacaan menarik lainnya:

Giles et. al. (2003). Managing Collective Investment Funds. England : John Wiley & Sons Ltd


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait