Investasi, Saham

Analisis Saham Mudah Dengan Candlestick, Tren dan Volume

Ajaib.co.id – Pernahkah kamu berpikir, bagaimana cara menentukan momen yang tepat untuk menjual atau membeli saham? Salah satu caranya melalui analisis saham dengan kombinasi candlestick, tren, dan volume. Trader berpengalaman maupun pemula dapat menerapkannya dengan mudah, hanya berbekal alat grafik (charting tools) yang dapat diperoleh secara online. Berikut ini penjelasan selengkapnya.

Apa itu Candlestick, Tren, dan Volume?

Sekadar pengingat, candlestick adalah jenis grafik yang berbentuk jajaran lilin (candle). Setiap lilin menggambarkan pergerakan harga pembukaan, harga ternedah, harga tertinggi, dan harga penutupan dalam rentang waktu tertentu. Grafik candlestick lebih kaya informasi daripada grafik garis biasa, sehingga menjadi favorit para investor di seluruh dunia.

Kamu juga dapat memetik manfaat berharga dari mempelajari beragam cara menggunakan candlestick. Tapi, kita dalam pembahasan kali ini hanya akan berfokus pada analisis saham dengan kombinasi candlestick, tren, dan volume saja. Jadi, mari mengingat kembali terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan tren dan volume dalam perdagangan saham.

Tren adalah arah pergerakan harga suatu saham secara umum. Dalam analisis teknikal, tren dapat diketahui dengan melihat pergerakan harga pada grafik ataupun dengan memanfaatkan garis tren (trendline) dan indikator lain. Kita mengenal tiga jenis tren, yakni tren naik (bullish), tren turun (bearish), dan pergerakan tren yang naik-turun dalam rentang terbatas (sideways).

Tren naik ditandai dengan terbentuknya level harga tertinggi yang baru (higher high) berulang kali. Sebaliknya, tren turun terjadi ketika terbentuk level harga terendah yang baru (lower low) berulang kali. Sideways dapat dikenal dengan mudah dari gambar pergerakan harganya yang tidak cenderung naik maupun turun, melainkan relatif mendatar (flat).

Volume adalah jumlah saham yang diperdagangkan dalam suatu periode waktu, mencakup baik penjualan maupun pembelian saham tersebut. Volume termasuk indikator yang sangat penting dalam analisis teknikal saham, karena dapat menunjukkan besar-kecilnya dampak (signifikansi) dari suatu pergerakan harga.

Semakin besar volume yang terlibat dapat suatu pergerakan harga saham, maka pergerakan itu akan semakin signifikan. Alasannya karena ada lebih banyak pelaku pasar yang menggerakkan saham tersebut. Sebaliknya, volume yang makin kecil menandakan bahwa pergerakan harga itu kurang signifikan.

Volume biasanya tampil dalam bentuk histogram dan terletak di bawah grafik harga saham. Sayangnya, tak semua platform trading saham menyediakan grafik harga yang lengkap seperti ini. Investor yang lebih berpengalaman sering memanfaatkan charting tools dari pihak ketiga untuk melakukan analisis saham secara lebih komprehensif. Beberapa penyedia charting tools populer antara lain RTI, Stockcharts, dan TradingView.

Teknik Analisis Saham Sederhana dan Contoh Praktiknya

Kalau kamu sudah mampu mengakses platform trading saham yang lengkap, langsung saja membuka perangkat analisis teknikalnya. Atur agar perangkat menampilkan grafik candlestick dan indikator volume dengan wujud mudah dibaca. Berikut ini contoh grafik candlestick dari harga saham Bank BRI (BBRI) beserta volume-nya via TradingView.

Mulai dari sisi paling kiri, kita dapat menyaksikan bagaimana harga saham BBRI beranjak naik dengan dibarengi oleh volume yang meningkat pesat. Tapi kemudian harga melemah seiring dengan berkurangnya volume perdagangan pada hari-hari berikutnya. Harga saham BBRI akhirnya memasuki tren sideways yang berlangsung sejak 15 Juni hingga 11 Agustus.

Tren sideways BBRI berlangsung dalam rentang harga antara 3000 hingga 3200. Tapi pada tanggal 12 Agustus, harga saham BBRI mendadak menembus (breakout) ke atas ambang 3200 hingga mencapai harga tertinggi harian pada level 3370. Aksi loncat keluar dari “atap” sideways ini diikuti dengan lonjakan volume perdagangan.

Perhatikan batang histogram volume paling kiri dalam area yang diarsir merah muda. Tinggi batang menyamai volume perdagangan sebelum tren sideways berlangsung. Kemunculan batang volume yang tinggi seperti ini setelah tren sideways, biasanya menandakan permulaan reli bullish (perubahan tren menjadi naik).

Kalau kamu sudah memiliki saham BBRI yang lama nyangkut dalam portofolio, maka bergembiralah karena peluang jual akan muncul setelah harga bergerak lebih tinggi lagi beberapa hari kemudian. Sedangka jika kamu berniat untuk trading saham BBRI, penembusan ambang harga 3200 itu dapat menandakan peluang beli untuk dijual kembali dalam waktu dekat. Teknik seperti itu lazim dikenal dengan istilah trading breakout.

Mari lanjutkan analisis saham BBRI tadi terlebih dahulu. Pada tanggal 13 (sehari setelah breakout), volume perdagangan merosot dan histogram berwarna merah. Tapi pergerakan harga masih mencetak rekor tertinggi baru. Hal ini menandakan ada banyak orang yang mengambil peluang untuk ambil untung (take profit), mungkin untuk melepas saham BBRI mereka yang sudah lama nyangkut. Penurunan volume di sini dapat dianggap wajar.

Keesokan harinya, warna histogram volume kembali menghijau. Hal ini menandakan tren naik saham BBRI benar-benar berlanjut. Sampai akhirnya kita mencapai tanggal 25 Agustus di mana BBRI mengumumkan laporan keuangan (Earnings) untuk kuartal II/2020. Pengumuman earnings disusul dengan aksi jual saham BBRI. Pergerakan harga menunjukkan penurunan (candle gemuk berwarna merah) yang bersamaan dengan histogram berwarna merah pula.

Ini menandakan potensi perubahan tren dari naik menjadi turun. Kalau kamu sudah membeli saham BBRI saat breakout beberapa hari sebelumnya, inilah waktunya untuk mempertimbangkan ambil untung. Kamu bisa jual saham pada hari itu juga atau keesokan harinya, setelah memastikan bahwa aksi jual masih terus berlanjut. Sedangkan kalau kamu belum membeli saham BBRI, maka ini merupakan peringatan tegas agar jangan beli dulu.

Mari kita coba meninjau sisa grafik berikutnya. Harga saham BBRI terus menurun, sedangkan batang volume pendek-pendek saja. Hal ini menandakan perdagangan sedang lesu. Hingga pada tanggal 13 September, mendadak ada batang histogram volume melonjak drastis (area yang diarsir kuning).

Apakah ini sinyal beli? Bukan. Mengapa demikian? Coba perhatikan, lonjakan harga pada 13 September itu tidak sampai menembus “atap” garis tren turun yang telah terbentuk sebelumnya. Artinya tren harga saham BBRI kemungkinan besar masih cenderung turun. Prediksi ini kemudian terbukti pada hari-hari perdagangan selanjutnya.

Nah, mudah sekali, bukan!? Sekarang, coba buka grafik saham-saham lain untuk melakukan analisis serupa. Pastikan kamu memilih saham-saham yang dapat dianalisis secara teknikal (bukan saham gorengan). Meski trading saham jangka pendek itu tak membutuhkan analisis fundamental seketat strategi investasi saham jangka panjang, investor tetap harus bijak memilih calon penghuni portofolionya.

Artikel Terkait