Saham

3 Tips Menghindari Jebakan Bandar di Saham IPO

Ajaib.co.id – Sepanjang tahun 2020 sudah ada 48 perusahaan yang melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Dari 48 emiten baru ini, lebih dari setengahnya sukses dengan mencatatkan performa yang positif di pekan-pekan awal peluncurannya. Rata-rata capital gain yang diperoleh di awal peluncuran hingga satu-dua pekan setelahnya adalah 100% bahkan ada saham yang melesat lebih dari 500%!!

Dua alasan utama mengapa sebuah perusahaan memutuskan untuk IPO adalah karena ada keperluan finansial dan meninggikan citra perusahaan.

Dari keduanya, alasan utama perusahaan melantai di bursa adalah karena perusahaan membutuhkan dana pinjaman dari masyarakat. Sebagai gantinya perusahaan berjanji akan memberikan dividen kalau untung. Kalau tidak maka kamu bisa mengharap ada capital gain dari saham yang diperdagangkan antar sesama investor.

Nah, setiap saham yang diperdagangkan di bursa tidak selalu laku sehingga dana yang dicari tidak selalu mencapai target. Kurang sukses berarti rugi. Oleh karena itu perusahaan-perusahaan yang hendak IPO selalu berbenah diri terlebih dahulu. Misalnya saja dengan takeover beberapa proyek baru dan menyelesaikan masalah yang menjerat mereka di masa lalu.

Setelahnya nasib akan ditentukan oleh broker yang ditunjuk sebagai penjamin emisi/underwriter. Underwriter akan melakukan distribusi kepada pembeli secara langsung dan kepada sekuritas-sekuritas. Distribusi yang sukses adalah ketika penawaran IPO saat book building ramai. Book building adalah periode di mana proses pencatatan dan penentuan harga berdasarkan permintaan dan minat investor. Lebih seru lagi kalau sampai antre beli dan oversubscribed.

Jadi ketika yang minat beli 100 lot hanya dapat 1 lot dan ternyata dari seluruh saham ternyata ada kelebihan permintaan maka saham IPO dinyatakan oversubscribed. Jika sudah demikian maka bisa diperkirakan sahamnya akan naik di hari peluncurannya. Ketika permintaan begitu besar sampai antre beli saja tidak kebagian maka permintaan tinggi akan membuat harga naik. Untuk saham IPO batas reject atas bukan lagi 30% namun mencapai 75% di hari pertamanya melantai.

Setelahnya saham IPO mungkin memakan korban karena turun terus. Saham-saham IPO memang terkenal banyak memakan korban. Nah, broker IPO sebagai underwriter akan bekerja bahkan sebelum sahamnya bisa ditransaksikan dan tampil di layar platform kita. Jika kamu bertanya tentang peran bandar dalam saham IPO maka kita harus mengacu pada referensi yang tepat yaitu kepada pakar bandarmology seperti misalnya Ryan Filbert dan Argha Karokaro.

Saham-saham IPO cukup unik karena untuk menganalisisnya cukup sulit. Saham IPO juga memiliki informasi yang terbatas karena keadaan sebelum IPO dinilai tidak cukup untuk dianalisis sehingga investor yang mengandalkan analisis fundamental akan merasa waswas. Oleh karena itu saham IPO lebih cocok untuk para trader.

Sayangnya saham yang baru IPO tidak memiliki grafik yang bisa dianalisis sehingga trader yang berbekal analisis teknikal tidak bisa melakukannya. Jika kamu menyukai tape reading alias seni membaca arus transaksi di kolom bid-ask, maka kamu bisa mencoba saham IPO. Sayangnya banyak order palsu yang di-amend dalam peluncuran saham IPO. Maka baiknya kamu mencoba ilmu bandarmology untuk bisa terhindar dari jebakan saham IPO.

Istilah bandarmology adalah sebutan untuk ilmu yang mempelajari tentang penguasaan supply dan demand saham, termasuk saham IPO. Saham IPO adalah saham yang didistribusikan oleh satu broker utama yang membantu kesuksesan IPO-nya.

Berikut adalah tips untuk menghindari jebakan saham IPO dari pakar bandarmology Argha Karokaro melalui perusahaan binaannya Creative Trader yang telah ditulis ulang di artikel ini.

Tips Menghindari Jebakan Saham IPO ala Argha Karokaro

1. Perhatikan Lead Underwriter (broker yang membantu emiten untuk IPO)

Kamu bisa perhatikan sekuritas mana yang ditunjuk menjadi penjamin emisi/underwriter emiten di halaman depan prospektus. Underwriter akan menjadi bandar yang melakukan distribusi saham ke ritel. Pada umumnya saham-saham IPO berpindah tangan begitu cepat di awal peluncurannya.

Baiknya kamu mempelajari beberapa kode sekuritas yang menjadi anggota bursa. Misalnya saja YP untuk Mirae Asset, CC untuk Mandiri Sekuritas dan NI untuk BNI Sekuritas. Ketiga sekuritas yang disebutkan adalah broker-broker populer di kalangan trader ritel. Biasanya broker/sekuritas yang dipilih emiten untuk melakukan pencatatan saham perdana alias underwriter adalah broker yang kurang terkenal.

Kamu bisa pelajari track record penjamin emisi yang membantu proses IPO, apakah sejauh ini selalu berhasil membawa harga saham emiten naik di hari-hari awal peluncuran saham. Selain itu kamu bisa cari tahu di berita-berita di media massa tentang jumlah pemesanan saham saat IPO. Jika kelebihan permintaan alias oversubscribed maka itu pertanda positif.

Kamu bisa hapalkan broker-broker ritel yang populer untuk melihat perpindahan transaksi dari satu broker ke banyak broker ritel. Lihat di bawah ini;

Sumber: Creative Trader

Argha Karokaro dengan jelas memperlihatkan skrinsut broker summary di atas yang menampilkan perpindahan saham dari satu sekuritas yaitu IN ke beberapa sekuritas populer di kalangan ritel yaitu YP, KK, CC, PD, OD dan NI dalam dua bulan pasca IPO.

“Kelima sekuritas yang menampung ‘buangan’ IN adalah sekuritas yang umumnya diisi oleh para investor dan trader ritel”, ungkap Argha. Kelima sekuritas tersebut adalah Mirae Asset, Philip Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Indo Premier, Danareksa, dan BNI Sekuritas. Sedangkan IN atau Investindo Nusantara adalah broker yang ditunjuk emiten berkode TCPI untuk membantunya mencatatkan saham perdana.

Istilah untuk broker yang membantu pencatatan saham perdana adalah lead underwriter. Kamu bisa baca di halaman pertama prospektus tentang keterangan Agen Penjual. Agen Penjual adalah sekuritas yang ditunjuk sebagai penjamin emisi atau istilahnya lead underwriter.

Nah, ketika kamu melihat ada distribusi besar dari satu lead underwriter ke beberapa sekuritas ritel maka kamu bisa segera kabur karena saham akan segera anjlok segera setelah IN ‘kehabisan barang’.

2. Fundamental perusahaan tidak menjamin kesuksesan IPO

Jangan lupa bahwa untuk jangka pendek kamu harus lupakan faktor fundamentalnya. Berdasarkan pengalaman Argha Karokaro yang sudah malang melintang lama sekali di bursa saham Indonesia, saham-saham yang fundamentalnya dipertanyakan justru yang bagus performanya ketika IPO.

Kita tidak menampik bahwa ada beberapa perusahaan yang sejak IPO hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun kemudian terus menanjak naik. Sebut saja SIDO dan BTPS, keduanya disinyalir memiliki fundamental yang baik. Ketika IPO kenaikan saham keduanya tidak fantastis namun cukup stabil seiring waktu. Untuk bisa cuan dan terhindar dari saham IPO maka kamu sebaiknya melihat lebih kepada bandarmology-nya.

3. Saham yang tidak populer justru bagus

Apa yang terjadi ketika sebuah saham dipromosikan terlalu heboh? Sebagaimana barang jualan, promosi yang kuat membuat banyak orang tertarik untuk ikut membeli. Ketika banyak orang membeli, maka akan mengacaukan rencana bandar. Alhasil peluang untuk terkerek naik bisa gagal di tengah jalan.

Justru ketika sebuah saham IPO tidak populer, lead underwriter sebagai bandar utama akan leluasa untuk beraksi dan mengejutkan pelaku pasar saham.

Sekilas Tentang Aktivitas Bandar

Jika kamu tertarik untuk memantau aktivitas orang-orang yang bekerja dengan melakukan akumulasi dan distribusi saham, alias para bandar maka Argha Karokaro telah menunjukkan caranya sekilas. Di bawah ini beliau telah tunjukkan aktivitas yang dilakukan broker untuk memperbesar volume transaksi.

Sumber: Creative Trader

Jadi ketika hendak ‘manggung’, emiten akan ‘memanggil’ para trader untuk ikut bergabung dengan pesta kecil-kecilan miliknya dengan cara ‘oper bola’. Kamu bisa lihat di broker summary di atas bahwa broker-broker yang sudah ditumpangi bandar akan memperlihatkan aktivitas jual-beli yang tak biasa.

Jadi ada sejumlah broker yang melakukan transaksi jual-beli dengan dirinya sendiri. Beli sendiri, jual sendiri, begitu terus. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian para trader yang biasa menyaring saham dengan melihat volume transaksi.

Kamu bisa lihat bahwa pada saham TCPI di bulan Oktober dua tahun lalu ada bandar-bandar yang sedang bekerja dengan IN sebagai lead underwriter dan beberapa sekuritas lainnya sebagai kendaraan tambahan. Transaksi yang dilancarkan bernilai raksasa, puluhan hingga ratusan miliar rupiah per sekuritasnya. Nah, dengan melihat para broker alias sekuritas main ‘oper-oper bola’ dengan nilai raksasa seperti di atas maka kamu bisa yakin bahwa saham yang sedang kamu tumpangi sedang dibandari.

Periode trading summon seperti di atas adalah periode yang cukup menyenangkan di mana rata-rata trader bisa mendapat keuntungan setiap hari. Periode ‘oper-oper bola’ adalah periode markup di mana harga saham bisa naik tinggi.

Tapi ketika niat mereka telah tercapai, ritel-ritel trader sudah mulai terpancing perhatiannya maka berikutnya adalah distribusi besar. Kejatuhan harga saham hingga menyentuh harga reject bawah bisa terjadi dan berlangsung berhari-hari lamanya hingga akhirnya dinyatakan UMA dan diberi peringatan oleh bursa.

Nah, para trader yang sudah membeli di harga pucuk biasanya terjebak dan tidak bisa menjual sahamnya karena setelah distribusi selesai dan tidak ada yang mau membeli sahammu kecuali kamu jual dengan cara ‘buang kiri’ atau jual di harga bid/jual rugi.

Macam-Macam Bandar

Dikutip dari buku “Bandarmology – Membeli Saham Ala Bandar Bursa” karya Ryan Filbert, bandar dibagi menjadi tiga kategori:

  1. Bandar penyedia pasar yang menjaga likuiditas. Mereka adalah dealers yang mendapat keuntungan dari selisih fraksi harga di kolom bid dan ask. Mereka memang disediakan bursa untuk memfasilitasi semua pelaku pasar modal untuk membeli dan menjual.
  2. Bandar gorengan. Bandar yang satu ini bekerja untuk memanipulasi harga dan volume untuk keuntungan kelompok mereka. Bandar inilah yang ingin kita hindari agar tak sampai masuk perangkap mereka. Mereka bekerja dengan mengandalkan informasi orang dalam, menyebarkan rumor, melakukan transaksi untuk memancing trader.
  3. Bandar amatir. Mereka adalah para individu yang mencoba untuk meniru aktivitas bandar gorengan untuk keuntungan pribadi. Kegiatannya biasanya hanya coba-coba, dilakukan pada emiten berkapitalisasi pasar kecil dan banyak menyebarkan rumor.

Jadi, yang dimaksud dengan bandar adalah orang atau sekelompok orang yang berusaha menguasai supply dan menciptakan demand di masyarakat. Dengan begitu ia melakukan pembentukan harga pada kurun waktu tertentu dengan cara akumulasi dan distribusi.

Proses Bandarmology

Proses bandarmology seperti yang diungkap dalam buku “Understanding Stock Supply and Demand” dibagi menjadi empat yaitu akumulasi, markup, distribusi, lalu markdown.

  • Jadi yang pertama adalah akumulasi alias koleksi saham terus-menerus. Di sini bandar tidak suka jika sahamnya populer karena ia ingin menguasai supply. Ia baru akan berhenti setelah jumlah saham yang dikehendakinya tecapai. Untuk saham IPO, bandar tidak perlu melakukan akumulasi di pasar sekunder karena ia bisa memperolehnya langsung dari sumber primer yaitu dari emiten sendiri.
  • Kemudian bandar akan markup harga dengan cara ‘oper-oper bola’ seperti yang disebutkan di atas. Harga akan naik, volme transaksi meningkat dan trader dari berbagai sekuritas akan ramai membicarakannya.
  • Kemudian setelahnya akan terjadi distribusi dari satu bandar ke banyak ritel.
  • Terakhir, ketika barang bandar sudah habis maka markdown akan terjadi karena barang bandar sudah habis sama sekali. Di sini harga akan jatuh dan menjebak ribuan trader yang sudah berpartisipasi dalam transaksi.

Jika kamu tidak menyukai ‘senam jantung’ di saham-saham IPO, mungkin saham IPO memang bukan untukmu. Kamu perlu mempelajari selera risiko yang kamu mau ambil. Apakah kamu termasuk orang yang suka mengambil risiko atau justru ingin aktivitas investasi yang lebih rendah risiko?

Kamu bisa cari tahu tentang kecenderunganmu pada risiko investasi dengan menjalani tes di web seperti missouri.qualtrics.com.

Artikel Terkait