3 Cara Mengantisipasi Risiko Terburuk Saat Investasi Reksa Dana

Reksa dana merupakan investasi yang menggiurkan bagi para penanam modal pemula, seperti mahasiswa hingga karyawan yang baru bekerja. Berinvestasi di reksa dana jelas sangat menggiurkan.

Terlebih, Direktorat Jenderal Pajak (Ditjen Pajak) Kementerian Keuangan baru saja memberi kabar bahagia bagi investor pemula yang ingin mencoba berinvestasi di instrumen ini. Otoritas pajak memberlakukan tarik pajak nol persen bagi para investor reksa dana.

Rencana mengenai bebas pajak ini bakal berlaku sampai tahun 2020. Setelah itu, akan dikenakan tarif pajak hingga 10%. Tentunya, ini menjadi kesempatan emas untuk para investor pemula untuk memulai hal berguna.

Namun perlu diingat juga bagi investor pemula,harus memikirkan soal potensi kerugian yang akan dialaminya. Kendati bisa menguntungkan per bulannya, tapi setiap investasi punya risiko.

Lalu bagaimana cara mudah mengurangi risiko investasi di reksa dana? Simak tip mengenai reksa dana di bawah ini.

1. Return Tidak Pasti

Banyak orang yang beranggapan bila reksa dana itu sama seperti tabungan ataupun deposito. Namun, itu merupakan sebuah pemahaman yang salah.

Kenyataannya, instrumen tabungan dan reksa dana 100% sangat berbeda. Risiko reksa dana lebih tinggi dan keuntungannya tidak pasti, bisa untung ataupun rugi.

Namun untuk memperkecil kerugian, kamu harus memilih produk yang tepat. Karena terdapat berbagai jenis reksa dana yang memiliki tingkat risiko investasi yang berbeda-beda. Ketepatan pemilihan instrumen yang sesuai dengan tujuan keuangan jadi kunci keberhasilan rencana investasi.

Kemudian, kamu juga perlu melakukan diversifikasi. Sebaiknya jangan menaruh semua modal investasi di satu tempat, tetapi sebarkan ke banyak instrument investasi, supaya jika yang satu rugi, masih ada yang lain.

2. Kamu Harus Inisiatif Sendiri

Kesuksesan dalam berinvestasi membutuhkan kedisiplinan karena tidak ada pihak yang mengingatkan investor. Jika lupa, kamu bisa kehilangan momentum besar.

Berbeda dengan asuransi yang mewajibkan nasabah untuk membayar premi secara rutin, reksa dana tidak ada kewajiban menyetorkan uang secara rutin. Namun di investasi ini, kamu harus berinisiatif dengan bantuan program auto invest (investasi secara otomatis).

Program ini bisa diatur secara otomatis setiap bulan. Nantinya, setiap bulan uang kamu di rekening secara otomatis akan dipotong untuk diinvestasikan.

Dengan program auto invest membuat pemodal tidak perlu khawatir akan lupa berinvestasi karena sistem secara otomatis memotong saldo rekening investor dalam jumlah yang telah ditentukan untuk dijadikan modal investasi.

3. Menghindari Hal Terburuk

Reksa dana bisa saja gulung tikar di masa depan. Ini merupakan sebuah risiko yang harus diterima oleh semua perusahaan. Lalu, bagaimana caranya untuk menghindari risiko terburuk ini?

Agar hal itu tidak terjadi, investor harus melihat list (daftar) reksa dana dengan menganalisa data nilai aktiva bersih. Perhitungan nilai aktiva bersih menunjukkan seberapa besar jumlah uang dalam yang dikelola oleh Manajer Investasi. Semakin besar nilainya menunjukkan semakin kuat reksa dana tersebut.

Niscaya jika kinerjanya bagus, sebuah produk investasi tidak mungkin akan dibubarkan. Itu kuncinya.

Reksa dana memang menawarkan return (hasil) investasi yang lebih tinggi dibandingkan tabungan dan deposito. Namun ada sejumlah risiko berinvestasi yang harus dihadapi. Kewajiban kita sebagai investor memahami risiko untuk mengantisipasi dan mencari solusi dari risiko tersebut. Bukannya malah menghindari atau khawatir setelah tahu akan hal tersebut. Semoga artikel tip reksa dana ini bisa mencerahkan.

Share to :
Tags: , , , , , , , , , , , , ,
Artikel Terkait