Uncategorized

Tips Mengubah Trading Plan yang Telah Kamu Buat

Trading Plan

Ajaib.co.id – Semua trader saham sebaiknya memiliki trading plan (rencana trading) sebelum memperjual-belikan saham mana pun. Tapi, apakah trading plan itu harus dilaksanakan apa adanya secara ketat atau boleh diubah-ubah? Kita sebenarnya boleh mengubah trading plan yang sudah dibuat, tetapi ada aturan tertentu untuk melakukannya.

Dilema dalam Menerapkan Trading Plan

Trader membuat trading plan dengan tujuan agar mampu agar mampu membuat keputusan secara objektif dan sistematis, sehingga terbebas dari gangguan emosi negatif. Kalau sudah punya trading plan, investor tidak akan bingung lagi bertanya-tanya tentang saham apa yang bagus. Investor juga takkan panik memilih hold atau cut loss ketika menyaksikan harga jatuh. Semua proyeksi skenario sudah terangkum dalam trading plan, dan investor cukup melaksanakan sesuai rencana saja.

Kelihatannya sederhana sekali, bukan!? Meski demikian, realita sering kali berbeda dari rencana. Faktanya, investor acap menyesali trading plan yang baru setengah jalan. Bisa jadi karena “bisikan tetangga” ataupun lantaran perubahan kondisi pasar. Mari ambil contoh saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM) yang telah membuat banyak investor dan trader kesal dalam tahun 2020 ini.

Harga saham TLKM terperosok drastis ke kisaran Rp2600-an pada bulan Maret, berbarengan dengan jatuhnya IHSG akibat dampak krisis pandemi COVID-19. Banyak investor dan trader menilai itu merupakan peluang beli istimewa, karena TLKM tergolong saham BUMN blue chip unggulan yang rajin bagi-bagi dividen. Sektor infrastruktur (telekomunikasi) juga termasuk bidang usaha yang tak terpukul parah oleh COVID-19.

Harga beranjak naik pada awal April, seolah-olah mengonfirmasi ekspektasi pasar. Siapa nyana kalau harga selanjutnya berulang kali tumbang. Pada bulan April, TLKM berhasil naik sampai menyentuh Rp3400-an. Namun, TLKM terperosok lagi pada awal Mei. IHSG reli bullish sepanjang April-Agustus 2020, tetapi harga saham TLKM malah turun terus. Tak terhitung banyaknya jumlah investor maupun trader yang “nyangkut” pada TLKM.

Kalau kamu termasuk diantaranya trader “nyangkut” itu, apa yang akan kamu lakukan? Umpamanya kamu telah membeli saham TLKM pada harga Rp3100 dengan harapan akan naik terus setelah keluar (breakout) dari ambang Rp3000. Kamu telah membuat trading plan dengan menerapkan rasio risk/reward 1:2, sehingga target take profit pada Rp4100 dan cut loss pada Rp2600.

Nyatanya harga saham TLKM gagal naik dan malah jatuh ke Rp2600 lagi pada bulan September 2020. Ketika prediksi meleset seperti ini, apakah kamu benar-benar akan menjalankan cut loss pada harga Rp2600? Ataukah kamu ingin menggeser cut loss ke atas pada Rp2800? Atau justru tergoda mengubah orientasi trading jangka pendek menjadi investasi jangka panjang dengan cara melakukan average down (beli saham TLKM lagi pada tingkat harga lebih rendah)?

Jawaban singkat dan tegas dalam skenario ini cuma satu: Laksanakan cut loss, dan jangan sekali-kali mengubah strategi trading menjadi investasi jangka panjang. Kamu boleh menggeser cut loss ke tingkat harga yang lebih tinggi (misalnya ke Rp2800), tetapi tidak boleh menurunkannya (misalnya ke Rp2400 atau Rp2000). Kalau menggeser cut loss ke bawah, kamu bisa jadi malah bakal menanggung kerugian yang makin parah.

Acuan Penting untuk Mengubah Trading Plan

Trading plan bagi trader saham itu ibarat aturan main bagi pesepakbola atau pemain badminton. Aturan main dapat dimodifikasi ketika terjadi hal-hal di luar dugaan seperti cuaca buruk, bencana alam, atau atlet kena serangan jantung di tengah-tengah permainan. Tapi mereka tidak boleh mengubah-ubah aturan main hanya karena terjadi perubahan peluang menang/kalah salah satu kubu.

Demikian pula ketika trader saham ingin mengubah trading plan yang sudah dibuat. Berikut ini dua tips saham untuk memudahkan kamu dalam mempertimbangkan perubahan trading plan:

  • Hindari mengubah orientasi jangka waktu holding saham.

Jika kamu merencanakan trading harian, maka benar-benar laksanakan sebagaimana adanya. Jangan sampai niat “beli saham pagi dan jual sore”, malah berubah menjadi “beli tahun ini dan jual tahun depan”. Fenomena seperti ini sangat marak di kalangan investor, padahal benar-benar buruk bagi profitabilitas. Kalau salah langkah, portofolio bisa penuh terisi saham-saham gocap yang tidak bisa naik lagi.

  • Ambang take profit dan cut loss boleh dinaikkan, tetapi sebaiknya jangan diturunkan. 

Misalnya kamu membeli suatu saham sebelum rilis laporan keuangannya dengan target take profit pada hari publikasi data tersebut. Kinerja keuangan ternyata jauh lebih baik daripada perkiraan publik dan harga sahamnya meroket. Di sini, kamu bisa menaikkan take profit ke tingkat harga lebih tinggi sambil mengatrol cut loss ke tingkat break-even (BEP) atau lebih.

Contoh lain, umpamanya kamu membeli saham suatu perusahaan properti tadi pagi. Siang harinya, beredar kabar bahwa semua jajaran manajemen top-nya diciduk KPK karena terlibat skandal suap dan beberapa tuduhan kriminal lain. Kamu boleh saja langsung cut loss setelah mendengar kabar tersebut (asalkan sudah jelas bukan hoaks).

Intinya, kamu tidak boleh mengubah trading plan tanpa adanya peristiwa market mover atau situasi yang benar-benar di luar ekspektasi. Ketentuan ini terutama berlaku bagi trader yang sudah mulai jual-beli saham dengan modal uang sungguhan.

Kalau kamu masih dalam tahap belajar dengan cara berlatih simulasi trading saham dengan uang virtual, boleh-boleh saja mengubah trading plan. Pemula justru dapat mengeksplorasi lebih banyak wawasan melalui eksperimen memodifikasi trading plan-nya. Pastikan saja bahwa kamu punya tujuan terarah dalam eksperimen itu. Setelah berhasil menggodok trading plan yang ampuh dan siap dijalankan dengan modal uang sungguhan, kamu harus mampu menerapkannya secara disiplin.

Artikel Terkait