Saham

Risiko Trading Saham Jika Tidak Mau Cut Loss

Ajaib.co.id – Tidak ada seorang pun yang akan bergembira ketika harus mengakui dirinya sendiri telah membuat keputusan keliru dan menanggung kerugian dalam jumlah besar. Kondisi psikologis ini lah yang membuat banyak trader saham enggan cut loss.

Daripada cut loss saham-saham nyangkut, mereka memilih “banting setir” dari trader menjadi investor jangka panjang. Mereka mengira bisa menghindari kerugian dengan tidak cut loss. Padahal sikap anti cut loss itu justru mengakibatkan konsekuensi panjang.

Beberapa risiko trading saham jika tidak mau cut loss antara lain: modal terkunci dalam saham yang tidak produktif, potensi modal ludes jika saham tersuspensi dalam waktu lama atau malah mengalami delisting, serta biaya peluang (opportunity cost) yang semakin membengkak.

Berikut ini sebuah ilustrasi tentang beragam risiko tersebut agar kamu memahami pentingnya bersikap tegas dalam melaksanakan cut loss.

Modal Terkunci Dalam Saham yang Tidak Produktif

Umpama kamu mulai trading saham dengan modal sebesar Rp50 juta. Sebagian modal tersebut dipergunakan untuk membeli tiga saham, yakni ABC Rp15 juta, FGH Rp15 juta, dan KLM Rp10 juta dengan target profit masing-masing 1 juta (ini hanya perumpamaan).

Selanjutnya kamu berhasil ambil untung sesuai target dari saham KLM sebesar Rp1 juta. Keuntungan itu kamu tambahkan ke dalam seluruh modal yang tersisa untuk all-in membeli saham PQR senilai Rp21 juta. Akhirnya kamu memiliki saham ABC, FGH, dan PQR dalam portofolio.

Saham ABC dan FGH tak juga mencapai target profit setelah berhari-hari, tetapi kamu tidak mau cut loss. Masalahnya, dana yang dipakai untuk membeli kedua saham itu mencakup lebih dari setengah modal awalmu. Kalau cut loss ABC dan FGH, nantinya kamu hanya akan memperoleh kembali dana senilai Rp28 juta dari modal yang sebelumnya Rp30 juta. Kamu tak mau rugi 2 juta, maka saham ABC dan FGH tetap di-hold.

Saham PQR sudah profit dan berkembang dari Rp21 juta menjadi Rp22 juta. Tapi modalmu untuk trading saham selanjutnya hanya tersisa Rp22 juta itu saja, karena dana lainnya terkunci pada saham ABC dan FGH.

Padahal harga saham ABC dan FGH pun belum tentu akan pulih dalam waktu dekat. Bisa jadi kamu terpaksa harus hold keduanya selama bertahun-tahun ke depan. Alhasil, dana Rp30 juta tersia-siakan hanya karena kamu tidak mau cut loss 2 juta.

Ancaman Suspensi dan Delisting

Situasi pada contoh tadi bisa jadi lebih buruk lagi. Bayangkan seandainya manajemen dan kondisi fundamental perusahaan ABC dan FGH ternyata sangat jelek. Kedua emiten gagal menyampaikan laporan keuangan sesuai ketentuan otoritas Bursa Efek Indonesia, sehingga sahamnya disuspensi. 

Dalam kondisi suspensi, saham tidak dapat diperdagangkan secara bebas di pasar reguler dan tunai. Saham ABC dan FGH dalam portofolio-mu pun tidak bisa dijual dengan mekanisme tawar-menawar yang wajar.

Alternatif yang tersisa bagimu hanya dua: (1) hold hingga entah kapan, atau (2) mengobral saham di pasar negosiasi. Dalam beberapa kasus, saham tersuspensi yang berharga Rp50 per lembar baru bisa terjual di pasar negosiasi setelah pemiliknya banting harga sampai Rp5 per lembar. 

Kalau suspensi berlangsung terlalu lama (sekitar 2 tahun), saham terancam didepak dari bursa (delisting paksa). Pada titik ini, kamu bahkan sudah tidak bisa cut loss lagi karena tidak akan ada orang yang mau membeli saham-saham milikmu.

Opportunity Cost yang Mahal

Bagaimana jika harga saham ABC dan FGH ternyata benar-benar membaik, sehingga skenario tersuspensi dan delisting tadi tidak terjadi? Dalam hal ini, kamu kemungkinan tetap akan menanggung kerugian biaya peluang (opportunity cost).

Opportunity cost adalah biaya yang dikeluarkan seseorang ketika memilih suatu keputusan dibanding keputusan lainnya. Contohnya jika kamu punya dana Rp10 juta yang dapat diinvestasikan dalam saham, tapi malah dipergunakan untuk membeli tas branded.

Tas branded itu mungkin akan memberikanmu prestise hingga 2-3 tahun ke depan. Namun seandainya dana itu dipakai untuk trading saham, mungkin sudah menghasilkan keuntungan Rp5 juta dalam kurun waktu yang sama. Inilah opportunity cost.

Pada kasus saham ABC dan FGH yang tidak di-cut loss tadi, opportunity cost timbul karena modal yang terkunci dalam keduanya mungkin bakal menghasilkan keuntungan berlipat ganda jika dipergunakan untuk trading pada saham lain. Opportunity cost akan tetap muncul meskipun kamu akhirnya mampu menjual saham keduanya sesuai target profit awal.

Katakanlah kamu terpaksa hold saham ABC dan FGH selama satu (1) tahun demi menunggu rebound. Setelah rebound, kamu mungkin bisa mendapatkan keuntungan Rp1 juta dari masing-masing saham. Tapi seandainya dulu bersedia cut loss, kamu mungkin sudah untung Rp10 juta dengan memanfaatkan dana sisanya untuk trading pada saham-saham lain yang lebih profitable selama setahun. Sayang sekali, bukan!?

Inilah alasan mengapa trader saham tidak boleh ragu untuk cut loss. Investor yang punya target jangka panjang akan menyelidiki seluk-beluk fundamental dengan matang dan dapat melaksanakan average down, sehingga lebih terhindar dari risiko fluktuasi pasar yang tajam. Namun, trader memiliki target jangka pendek dan lebih berfokus pada analisis teknikal. 

Banyak sekali saham yang memiliki peluang bullish secara teknikal, tetapi fundamentalnya kurang cemerlang. Trader juga mungkin terjebak main saham gorengan yang benar-benar akan jadi petaka kalau tidak di-cut loss. Demi menghindari skenario terburuk, trader perlu menyiapkan skenario cut loss sejak awal dan melaksanakannya dengan disiplin. Semakin lama cut loss ditunda, semakin besar pula opportunity cost dan ancaman risiko-risiko lainnya.

Artikel Terkait