Investasi

Skema Pembayaran Termin di Emiten Konstruksi

Sumber: Pexels

Ajaib.co.id – Kemenarikan perusahaan konstruksi seringkali ada pada kelancaran arus kas-nya. Meski nilai di atas kertas di bagian laba-ruginya ciamik, namun jika pembayaran piutang tertunggak dalam waktu lama dan arus kas-nya negatif maka sahamnya menjadi tidak menarik. Berikut pembahasan mengenai pembayaran termin yang cenderung menguntungkan pemilik proyek maupun kontraktor.

Pengertian dan Contoh Termin

Singkatnya pembayaran termin adalah skema pembayaran dengan sistem bertahap sesuai kesepakatan. Karena pembayaran dilakukan bertahap maka ada istilah termin pertama, termin kedua, dan seterusnya menyesuaikan dengan kemajuan penyelesaian proyek.

Pembayaran termin satu, dua, dan berikutnya dilakukan ketika proyek sedang berjalan. Dengan demikian pembayaran yang dilakukan sebelum proyek dilaksanakan disebut uang muka dan bukan termin. Untuk lebih memahaminya mari kita perhatikan contoh berikut.

Misalnya saja Wijaya Karya (WIKA) selaku kontraktor sedang mengerjakan proyek pembangunan jalan tol senilai Rp 155 Miliar. WIKA dan pemilik proyek setuju untuk melaksanakan pembayaran secara termin.

Maka dokumen perjanjian dibuat dan dinyatakan berlaku setelah Down Payment dibayarkan pemilik proyek. Setelah itu pembayaran dengan skema ini diberlakukan dalam tiga tahap. Pemabayran I akan dilakukan setelah 30 persen pekerjaan selesai.

Karena dihitung berdasarkan progress pekerjaan maka lebih cepat lebih baik karena dengan demikian WIKA selaku kontraktor akan semakin cepat mendapat bayaran atas pekerjaannya. Kemudian sesuai perjanjian pembayaran II akan dilakukan setelah 70 persen pekerjaan selesai. Dan pembayaran III dilakukan setelah seluruh proyek selesai.

Bisa dibilang pembayaran termin muncul untuk kebaikan kedua belah pihak baik pemilik proyek maupun kontraktor.

Jika kontraktor lambat dalam mengerjakan proyek maka kerugian akan berada di pihak kontraktor karena pekerja mereka mesti digaji rutin sedangkan pendapatan dari pembayaran belum juga terjadi.

Dengan adanya perjanjian pembayaran termin pihak pemilik proyek juga diuntungkan karena bisa melakukan pembayaran dengan sistem cicil, tidak perlu sekaligus setelah proyek selesai. Sistem pembayaran termin sangat bermanfaat untuk melihat perkembangan proyek terutama untuk proyek dengan skala jumbo bernilai miliaran.

Menariknya Termin Dibandingkan Dengan Turnkey

Lawan dari pembayaran sistem termin adalah turnkey. Sistem pembayaran turnkey adalah pembayaran utuh di belakang setelah proyek selesai dan siap beroperasi. Waskita Karya adalah salah satu BUMN Karya yang bangkit dari keterpurukan berkat sistem pembayaran Turnkey. Berkat itu pula, arus kas-nya tersendat-sendat mengakibatkan bengkaknya utang.

Jadi sebelum tahun 2012 Waskita Karya sempat dikabarkan nyaris dilikuidasi. Kemudian M. Cholliq naik tahta sebagai CEO di Waskita Karya (WSKT) dan proyek-proyek turnkey diambilnya. Proyek-proyek terdahulu yang diambil di awal masa jabatan CEO M. Cholliq terbilang kecil-kecil namun dengan jumlah yang banyak.

Proyek-proyek yang dapat dibayar full setelah jadi seluruhnya memang memberikan keuntungan besar. Semakin lama piutang dibayarkan oleh pemilik proyek maka semakin mahal biaya keterlambatan di atas biaya pokoknya. Oleh karenanya proyek turnkey memberikan marjin laba kotor yang tinggi dan bisa menyisakan laba bersih yang lebih banyak ketimbang proyek termin.

Jika proyeknya bernilai kecil saja, beberapa miliar atau bahkan hanya ratusan juta saja, maka proyek turnkey dapat terus dijalani dengan sedikit kendala. WSKT diketahui dengan cepat melejit performanya setelah proyek-proyek turnkey dijalaninya sejak 2012. Lain cerita ketika proyek yang dilakukan bernilai jumbo hingga ratusan miliar hingga triliunan.

Di tahun 2018, jika kamu masih ingat, pembahasan mengenai BUMN Karya dibahas luas di berbagai forum saham. WSKT diketahui selalu memiliki marjin laba terbesar dibandingkan semua BUMN Karya yang lain. Akan tetapi arus kas-nya macet, alias banyak proyek yang belum terbayarkan.

Karena sudah terbiasa turnkey, untuk proyek raksasa pun saat itu WSKT melakukan proyeknya dengan skema pembayaran turnkey. Sedangkan emiten karya lainnya seperti ADHI, PTPP dan WIKA lebih banyak melayani pembayaran termin. Nah, saat itu WSKT menjalani proyek-proyek raksasa bernilai ratusan miliar hingga triliunan seperti pembangunan jalan tol dan lainnya di awal-awal masa jabatan Presiden Joko Widodo periode pertama.

Kala itu ADHI, PTPP dan WIKA memang memiliki laba yang lebih tipis ketimbang WSKT, tipis tapi lancar masuk ke kas perusahaan. Sedangkan WSKT punya laba yang lebih tebal akan tapi pembayaran turnkey dari pemilik proyek lambat masuk ke kas perusahaan karena nilainya yang besar. Pemerintah yang menjadi pemilik proyek diketahui menunggak pembayaran hingga tahun 2020.

Oleh karenanya WSKT mengajukan lebih banyak utang untuk mendanai pengerjaan proyek-proyeknya yang lain. Alhasil rasio likuidasi WSKT lebih buruk ketimbang BUMN karya yang lain. Akhirnya rating obligasi untuk WSKT turun ke BBB saja.

Pembayaran Termin dan Kelancaran Kas

Pembayaran secara Termin penting bagi sebuah perusahaan yang sedang mengerjakan proyek besar agar urusan keuangannya terus berjalan. Meski WIKA, ADHI dan PTPP juga mengalami kemunduran dalam hal pembayaran termin namun tidak lebih lama dari diundurnya pembayaran proyek-proyek turnkey.

BUMN Karya biasanya melakukan perjanjian pembayaran I setelah 25% pekerjaan selesai. Setelah 25% pekerjaan proyek selesai, emiten kemudian melakukan penagihan dan harus dibayarkan maksimal 10 hari, beberapa bahkan memberi keringanan hingga 30 hari, setelah surat tagihan diajukan.

Jika pembayaran termin dilakukan lebih dari 10 hari, atau 30 hari, sejak surat tagihan termin maka dikenakan biaya keterlambatan. Pembayaran lebih awal akan diberi diskon atau potongan harga. Setelah pembayaran termin I dilaksanakan berikutnya, maka proyek dilanjutkan hingga pembayaran termin II, III hingga selesai.

Keterlambatan pembayaran proyek termin biasanya berlangsung satu atau dua bulan saja. Sedangkan emiten konstruksi dengan proyek raksasa yang perjanjian pembayarannya turnkey biasanya ditunggak pembayarannya hingga bertahun-tahun. Emiten-emiten konstruksi yang mengerjakan proyek-proyek raksasa kelihatan lebih menarik ketika skema pembayarannya termin dan bukan turnkey.

Sekian, semoga bermanfaat!

Artikel Terkait