Analisa Saham

Menilik Saham MBSS, Saham Pilihan Lo Kheng Hong

Saham MBSS

Ajaib.co.id – PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) merupakan salah satu anak usaha PT Indika Energy Tbk (INDY) yang bergerak di bidang pelayaran, khususnya untuk batu bara. MBSS menjadi salah satu dari dua anak usaha INDY yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) selain PT Petrosea Tbk (PTRO).

MBSS sendiri didirikan di Jakarta, Indonesia pada 1994 sebagai perusahaan pelayaran. Seiring waktu, fasilitas, armada dan lingkup layanan tumbuh dan berkembang menjadi penyedia jasa logistik dan transportasi utama. MBSS baru menjadi bagian dari INDY pada 2011. Pada tahun yang sama MBSS juga melaksanakan IPO.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2020, Indika Energy menggenggam 51% saham MBSS melalui anak usahanya, PT Indika Energy Infrastructure. Pemegang saham terbesar kedua adalah The China Navigation Co. Pte. Ltd. sebesar 25,68%.

Di luar pemegang saham institusi itu, ada nama investor terkemuka Indonesia Lo Kheng Hong yang menjadi pemegang saham terbesar ketiga MBSS. Dia mengempit 5,79% saham MBSS, atau sebanyak 101.399.300 saham. Berdasarkan data terbaru BEI, Lo Kheng Hong telah menambah kepemilikannya di MBSS hingga mencapai 6,01% per 10 Februari 2021.

Dimiliki Investor Kawakan, Bagaimana Kinerja MBSS?

Meski dimiliki Lo Kheng Hong, tidak berarti MBSS memiliki kinerja yang menarik. Mengutip laporan keuangan perusahaan per kuartal III/2020 atau per akhir September 2020, MBSS justru sedang mengalami tekanan yang cukup berat.

Dari sisi top line alias pendapatan, MBSS hanya mampu mencetak pendapatan senilai USD40,82 juta. Jumlah pendapatan itu hanya mencapai sekitar dua pertiga pendapatan pada kuartal III/2019 yang mencapai USD60.59 juta. Secara tahunan atau year on year (yoy) terjadi penurunan 32,58%.

Di sisi lain, beban pokok MBSS hanya mampu diturunkan sebesar 19,37% yoy menjadi USD30,46 juta. Alhasil, laba kotor yang diperoleh MBSS sepanjang 9 bulan pertama 2020 hanya mencapai USD1,39 juta, terkoreksi 88,06% yoy.

MBSS sejatinya juga berhasil menurunkan beban operasional dan nonoperasional, seperti beban umum dan administrasi (-7,03%), beban penjualan (-91,49%), dan beban keuangan (-49,89%). Namun, hal ini tidak dapat mengkompensasi penurunan laba kotor MBSS pada periode yang sama.

Dengan kinerja tersebut, MBSS harus mencatatkan rugi bersih periode berjalan sebesar USD7,5 juta. Posisi rugi bersih MBSS ini mengalami penurunan 1.868,69% dari laba bersih periode berjalan yang dicetak MBSS pada kuartal III/2019 sebesar USD424.649.

Dengan penurunan ini, Margin Laba Bersih atau Net Profit Margin (NPM) harus tergerus menjadi -18,37%. Posisi ini berbanding terbalik dengan posisi NPM MBSS pada kuartal III/2019 yang mencapai 0,9%.

Berdasarkan rasio kinerjanya, rasio Return on Assets (ROA) MBSS pada kuartal III/2019 adalah -3,51%, turun dari posisi 0,18% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, rasio Return on Equity (ROE) MBSS mengalami penurunan dari 0,25% menjadi -4,58%.

Salah satu rasio yang masih menunjukkan performa positif adalah rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) MBSS. Dengan menurunkan total liabilitas sebesar 24,59% menjadi USD49,57 juta dan ekuitas hanya turun 3,8% menjadi USD164,12 juta, DER MBSS dapat diturunkan dari 0,39x menjadi 0,3x pada kuartal III/2020.

Dalam paparan publik MBSS pada Desember 2020, pandemi Covid-19 menjadi salah satu momok yang menyebabkan penurunan kinerja perusahaan. Manajemen berpendapat, setidaknya ada tiga aspek utama yang sangat dipengaruhi pandemi Covid-19 tersebut, yakni aspek operasional, aspek teknis, dan aspek pasar.

Dalam aspek operasional, pandemi Covid-19 disebutkan menyebabkan keterbatasan yang diakibatkan adanya aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penerapan protokol Covid-19. Sementara itu, dari aspek aspek teknis, perawatan, khususnya docking mengalami hambatan pengiriman suku cadang karena banyak vendor yang juga mengalami masalah akibat pandemi.

Adapun, dari sisi pasar, hambatan utama yang dihadapi MBSS adalah penurunan permintaan secara drastis terhadap batu bara di ranah global. Hal ini terjadi karena beberapa negara melakukan lockdown sehingga tidak ada kapal yang bisa masuk.

Selain itu, industri di beberapa negara mengalami penurunan sehingga permintaan atas listrik turun dan juga menyebabkan permintaan bahan bakar batu bara turun. Hal tersebut berpengaruh pada bisnis MBSS sebagai penyedia jasa untuk sektor batu bara, baik untuk transshipment maupun jasa floating crane pemindahan kargo. 

Bukan Pertama Kali Kinerja MBSS Tertekan

Meski begitu, tekanan terhadap kinerja MBSS bukan hanya terjadi pada 2020. Dalam 4 tahun terakhir, atau sejak 2017 MBSS selalu mencatatkan kinerja yang berfluktuasi. Meski selalu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sepanjang 2017-2019, MBSS tidak selalu mencetak laba.

Pada 2017, dengan pendapatan USD68,45 juta, MBSS justru mencetak rugi bersih USD8,85 juta. Begitu pula pada 2018, saat pendapatan meningkat ke USD75,37 juta, perseroan justru mengalami pembengkakan rugi bersih menjadi USD17,14 juta.

Baru pada 2019, MBSS kembali mencetak laba bersih, yakni sebesar USD1,58 juta. Laba bersih sejalan dengan peningkatan pendapatan menjadi USD77,84 juta, dan penurunan beban pokok dari USD70,52 juta menjadi USD59,39 juta.

Dengan kinerja yang berfluktuasi dan cenderung tertekan, MBSS juga tidak begitu ramah bagi para investor yang mengharapkan dividen. Pasalnya, sejak 2015, MBSS tidak pernah membagikan dividen kepada pemegang saham.

Padahal, sebelumnya, sejak 2012 MBSS getol memanjakan investor dengan dividen. Terakhir kali MBSS membagikan dividen adalah pada 2015, dengan besaran rasio pembayaran dividen sebesar 80%, bernilai USD0,0092/per saham.

Prospek MBSS

Meski tengah menghadapi periode yang tidak menggembirakan, manajemen MBSS optimistis dapat memperbaiki kinerja pada 2021. Hal ini didasarkan pada tren kenaikan harga batu bara yang sudah terjadi sejak awal kuartal IV/2020.

“Kami positif kondisi industri batu bara akan membaik dan kami mengharapkan tren penguatan harga batu bara itu akan menaikkan revenue dari perseroan untuk tahun depan,” ujar Direktur Utama Mitrabahtera Segara Sejati Carla Susana Iria Germino dikutip dari Bisnis.com.

Sepanjang 2020 harga batubara Newcastle mengalami kenaikan sebesar 14,86%. Mengutip CNBCIndonesia.com, per Rabu 10 Februari 2021, harga batubara Newcastle berada di kisaran USD86 per ton.

Selain itu, Direktur Mitrabahtera Sejahtera Aditya Nugroho mengatakan bahwa untuk menyongsong prospek bisnis yang lebih cerah pada tahun ini, MBSS akan mengedepankan keunggulan operasional baik untuk klien yang sudah ada maupun klien baru.

“Kami juga akan mencari peluang di market untuk meningkatkan produktivitas armada MBSS sembari menerapkan cost reduction dan juga digitalisasi secara keseluruhan,” ujar Aditya dikutip dari Bisnis.com.

Seberapa Menarik Saham MBSS?

Pada penutupan perdagangan Kamis, 11 Februari 2021, saham MBSS ditutup pada level Rp438 per saham, turun 0,45% per saham. Pada harga tersebut dan menggunakan pendapatan disetahunkan, valuasi Price to Earning Ratio (PER) MBSS adalah -5,28x. Sementara itu, Price to Book Value (PBV) MBSS adalah 0,32x.

Jika dibandingkan dengan data historis valuasi MBSS selama 5 sejak 2014, valuasi MBSS cukup fair-valued. Sepanjang 2014 sampai 2019, rata-rata PER MBSS adalah 4,97x. Pada 2019, PER MBSS menyentuh 39,31x.

Sementara itu, jika memusatkan penilaian valuasi pada nilai buku, valuasi PBV MBSS yang sebesar 0,32x juga cukup fair-valued. Dibandingkan rata-rata PBV pada 2014-2019 sebesar 0,33x, valuasi MBSS saat ini tidak terpaut terlalu jauh.

Melihat prospek kinerja positif di tengah menghangatnya harga batu bara, MBSS masih layak untuk dikoleksi. Kepercayaan Lo Kheng Hong untuk terus menambah saham di perusahaan ini juga dapat menjadi ‘faktor x’ yang membuat harganya bergerak atraktif di pasar saham.

Disclaimer: Investasi saham mengandung risiko dan seluruhnya menjadi tanggung jawab pribadi. Ajaib membuat informasi di atas melalui riset internal perusahaan, tidak dipengaruhi pihak manapun, dan bukan merupakan rekomendasi, ajakan, usulan ataupun paksaan untuk melakukan transaksi jual/beli Efek. Harga saham berfluktuasi secara real-time. Harap berinvestasi sesuai keputusan pribadi.

Artikel Terkait