Analisa Saham

Saham MABA Tersuspensi, Apakah Operator Hotel Ini Bisa Bangkit?

Saham MABA Tersuspensi, Apakah Operator Hotel Ini Bisa Bangkit?

Ajaib.co.id – PT Marga Abhinaya Abadi Tbk deengan kode saham MABA merupakan perusahaan yang menggarap bidang perhotelan, restoran, serta pengembangan properti. Perusahaan awalnya didirikan pada tahun 2009 sebagai PT Lintas Insana Wisesa, dan kemudian baru rebranding menjadi RP Marga Abhinaya Abadi pada tahun 2017. Perusahaan go public pada tanggal 27 Juni 2017 dengan harga penawaran Rp112 per lembar.

Merek yang Dikelola Saham MABA

PT Marga Abhinaya Abadi Tbk mengelola tiga identitas merek untuk setiap segmen bisnisnya, yaitu:

1. ABMA Land

Sayap bisnis pengembangan properti MABA ini baru dikembangkan setelah selesainya akuisisi PT Anugerah Berkah Madani (ABMA) pada tahun 2019. ABMA merupakan perusahaan afiliasi yang khusus bergerak dalam bidang pengembangan perumahan, apartemen, perkantoran, dll.

2. Samali Hotels & Resorts

Jaringan hotel Samali terdiri atas Hotel Ammi (bintang 5), Hotel Allium (bintang 4), Hotel Arum (bintang 3), dan Azara Bed & Breakfast (bintang 2).

3. Dream Food

Jaringan restoran dan katering yang mencakup Rantang Ibu – Taste of Nusantara, 8:AM Coffee & Kopi Bagoos, serta Samali Catering.

Data dari RTI Business menunjukkan bahwa kepemilikan saham MABA mayoritas berada di tangan masyarakat (71,92%). Pemilik saham pengendali, PT Saligading Bersama, saat ini hanya memegang 15,16% saja. Pemegang saham tercatat selanjutnya adalah Hendra Brata (12,62%), Adrian Bramantyo (0.15%) dan Laksmi Dyah Anggraini (0.15%).

Saham MABA memiliki market cap sebesar Rp768,26 miliar dengan harga Rp50 per lembar. Saham MABA berstatus tersuspensi dan terancam delisting saat ulasan ini ditulis (27 Maret 2021). Mengapa saham disuspensi? Mari kita analisis saham MABA lebih lanjut.

Kinerja Laporan Keuangan Terakhir

Pencarian atas laporan keuangan MABA terbaru pasti berakhir nihil, karena perusahaan belum menerbitkan laporan keuangan sama sekali sejak kuartal pertama tahun 2020. Laporan keuangan tahunan 2019 adalah laporan terakhir yang diterbitkannya, dan itu pun terindikasi bermasalah.

Laporan keuangan MABA tahun 2019 melampirkan opini “Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer)” dari akuntan publik yang bertanggung jawab mengauditnya. Pihak akuntan publik menyatakan tidak diberi akses untuk mengaudit sejumlah akun tertentu dalam laporan keuangan konsolidasian yang mencakup 70% dari total aset dan 20% dari total liabilitas. Dengan demikian, tidak ada bukti yang cukup untuk menyatakan pendapat atau opini audit.

Opini auditor tersebut membawa konsekuensi serius bagi saham MABA. Investor tidak dapat mempercayai laporan keuangan tersebut sepenuhnya, karena kurangnya jaminan kredibilitas dari auditor. Absensi laporan keuangan juga lah yang membuat saham ini disuspensi terus-menerus oleh otoritas BEI.

Per 27 Maret 2021, otoritas BEI telah menyematkan tiga notasi khusus pada saham MABA, yakni D, L, dan Y. Ketiga notasi ini masing-masing bermakna:

D : Adanya Opini “Tidak Menyatakan Pendapat (Disclaimer)” dari Akuntan Publik

L : Perusahaan Tercatat belum menyampaikan laporan keuangan

Y : Perusahaan Tercatat yang belum menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) sampai dengan 6 (enam) bulan setelah tahun buku berakhir

Riwayat Kinerja

Kalau dilacak lebih jauh ke belakang, kinerja pendapatan MABA telah merosot sejak sebelum pandemi COVID-19 melanda. Perusahaan bahkan mengalami kerugian yang makin lama makin membengkak. Berikut ini rangkuman sejumlah parameter dari ikhtisar laba/rugi 2017-2019:

Komponen 2019 2018 2017
Pendapatan (rupiah) 45.448.687.912 120.002.776.253 213.149.157.812
Laba bruto (rupiah) 20.778.522.884 66.715.863.853 92.288.602.385
Laba/rugi usaha (rupiah) -261.598.098.466 -203.071.118.510 -68.322.641.721
Laba/rugi bersih per saham -17,04 -13,22 -13,37

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

Selaras dengan kinerja keuangannya yang buruk, MABA belum pernah membagikan dividen sejak penawaran perdananya. Dengan demikian, masyarakat yang menjadi pemilik saham MABA tidak pernah menerima dividen sama sekali.

Prospek Bisnis Saham MABA

MABA dapat dikatakan sebagai saham zombie yang sudah jatuh ke level gocap. Sukar sekali memperkirakan bagaimana perusahaan dapat pulih dari kondisi kinerja minus selama bertahun-tahun. Apalagi perusahaan belum menunjukkan itikad baik dengan cara mempublikasikan laporan keuangan terbarunya.

Harga Saham MABA

Harga saham MABA saat ini memang sangat murah, hanya Rp50 per lembar. Namun, murahnya saham MABA selaras dengan kinerja keuangannya yang buruk.

Saham MABA tergolong saham berisiko paling tinggi di pasar, sehingga tidak direkomendasikan untuk investasi maupun trading. Ada tiga alasan yang melandasinya:

  1. Kinerja keuangan negatif selama sedikitnya tiga tahun berturut-turut (2017-2019).
  2. Prospek perusahaan-perusahaan bidang leisure and hospitality sedunia terpukul tajam oleh pandemi COVID-19. Meskipun MABA tidak merilis laporan keuangan tahun 2020, kita dapat memperkirakan bahwa angka-angkanya tidaklah bagus.
  3. Kepemilikan saham masyarakat lebih dari 70%, sedangkan pemilik saham pengendali justru hanya memegang kurang dari 20%. Situasi ini membuat saham MABA rentan dimanipulasi bandar.

Apabila kamu tertarik untuk berinvestasi saham, ada banyak sektor lain yang lebih menarik dibanding pariwisata dan perhotelan. Sebutlah misalnya sektor perbankan, sektor telekomunikasi, atau sektor teknologi yang sedang naik daun.

Nah, apapun saham yang kamu pilih dan di industri apapun, kamu bisa membelinya dengan mudah melalui Ajaib, platform investasi yang dapat membantu kamu berinvestasi dengan mudah, kapan dan di mana saja. Yuk investasi sekarang!

Artikel Terkait