Analisa Saham

Kinerja Saham LSIP Membaik, Bagaimana Potensi Cuannya?

Profil LSIP

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan. Dengan komoditas utama berupa kelapa sawit dan karet.

Kedua komoditas ini merupakan komoditas unggulan dari sektor perkebunan di Indonesia. Selain itu, LSIP juga memiliki sejumlah kecil lahan untuk komoditas kakao dan biji-bijian.

Dalam mengembangkan lini usaha perusahaan ini, LSIP memiliki beberapa anak perusahaan di antaranya, PT Tani Musi Persada, PT Sumatra Agri Sejahtera, dan masih banyak lagi anak perusahaan lainnya.

Untuk kepemilikan saham LSIP saat ini memang dikuasai oleh perusahaan induk mereka, yakni, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) sebesar 59,51%, milik publik sebesar 40,38%, lalu Indofood Agri Resources Ltd 0,11%, dan Treasury Stock.

Setidaknya hingga kini, ada 18 perusahaan perkebunan yang sahamnya sudah bisa dibeli oleh publik, dan saham LSIP adalah salah satu di antaranya. Perusahaan ini sudah melakukan IPO yang dilangsungkan pada 5 Juli 1996. Dengan persentase saham sebesar 19,18% atau sebanyak 38.800.000 saham. 

Adapun harga saham penawaran sebesar Rp4.650 per saham, sehingga memeroleh dana investor sebesar Rp180.420.000.000.

Bursa telah mencatat LSIP pernah membagikan dividen tunai sebanyak lima kali. Yakni, pada 2014, 2015, 2016, 2017, 2018. Untuk kemudian, berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) telah ditentukan pembagian dividen tunai pada 2018 disepakati sebesar Rp19 per saham.

Dilihat dari Kinerja Keuangan dari Laporan Keuangan Terakhir

Dari laporan keuangan per September 2020, LSIP berupaya mengatasi tekanan pandemi yang menyebabkan turunnya permintaan pasar sebagai imbas dari pembatasan sosial di tengah pandemi ini.

Dilihat dari penjualan perusahaan selama sembilan bulan pertama 2020 harus mengalami penurunan 11% YoY menjadi Rp2,27 triliun dari periode yang sama pada tahun 2019 sebesar Rp2,58 triliun.

Meski demikian, terlihat ada peningkatan laba bersih perusahaan. Di mana pada Q3 2020 rugi bersih perusahaan tercatat mencapai sekitar Rp276 miliar meningkat dari periode yang sama tahun 2019 yang hanya sebesar Rp51,4 miliar. Karena perusahaan berhasil menekan biaya beban produksi. Aset perusahaan pun mengalami peningkatan sebesar 3%.

Berikut ini laporan kinerja keuangan LSIP (dalam jutaan rupiah):

Meski demikian untuk margin kotor LSIP mengalami kenaikan menjadi 21,38% pada Q3 2020, dibandingkan dengan Q3 2019 sebesar 11,3%. Lebih lanjut, penjualan dan laba bersih LSIP justru melonjak di tengah pandemi. Untuk margin laba bersih mengalami peningkatan mencapai 12,16% di Q3 2020 dibandingkan dengan Q3 2019 yang hanya sebesar 1,98%

Berikut ini kinerja margin LSIP:

Upaya LSIP untuk meningkatkan kinerja sudah terlihat pada September 2020. Didukung dengan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan konsumsi tumah tangga tumbuh negatif 4,04% per September 2020.

Kinerja perusahaan dalam memperoleh keuntungan sudah terlihat. Bahkan mengungguli pada Q3 di tahun 2019 di mana tahun ini kondisi ekonomi nasional dan global tengah berjalan normal.

Selanjutnya mari kita bahas dulu rasio-rasio keuangan umum LSIP. Berikut ini datanya:

Dari rasio-rasio tersebut menunjukkan kalau kondisi bisnis LSIP ini justru diuntungkan di tengah pandemi. ROA dan ROE yang naik menunjukkan kemampuan perusahaan ini dalam memperoleh keuntungan di sepanjang 2020. Perusahaan berhasil memanfaatkan peluang sektor perkebunan dan pertanian yang masih dibutuhkan publik di tengah merebaknya virus Covid-19 ini.

Adapun perusahaan masih berkutat dengan utang karena terlihat dari rasio utang terhadap ekuitas (DER) namun dalam level yang wajar. Karena DER hanya berada di level 21,71% di mana angka ini menandakan perusahaan masih sanggup memenuhi kewajiban utangnya.

Pasalnya perusahaan yang sehat keuangannya ditunjukan dengan rasio DER di bawah angka 1 atau di bawah 100%. Hal ini memperlihatkan modal bersih yang dimiliki perusahaan masih mendominasi jalannya operasional ketimbang dari sumber utang.

Riwayat Kinerja

Sepanjang 2020 ini memang daya beli masyarakat yang lemah memengaruhi ekonomi domestik. Namun, LSIP salah satu perusahaan yang bisa bertahan dan meraih keuntungan. Bahkan laba di 9 bulan pertama 2020 mengalami peningkatan.

Namun, sebagai gambaran dalam tiga tahun terakhir sejak 2017-2019, ada tren penurunan penjualan dan laba bersih. Berikut data perbandingan pertumbuhan kinerja selama 3 tahun terakhir (dalam jutaan rupiah):

Tingkat pertumbuhan dalam 3 tahun terakhir mencerminkan bisnis LSIP yang sempat mengalami penurunan. Namun, pandemi justru menjadi momentum perbaikan bisnis seperti yang sudah dibahas sebelumnya terkait peningkatan laba bersih perusahaan.

Track Record Pembagian Dividen untuk Pemegang Saham

LSIP merupakan salah satu perusahaan yang secara rutin memberikan dividen tunai kepada investornya. Hal ini membuat emiten ini memiliki nilai tambah tersendiri. Karena tidak semua perusahaan mampu secara rutin memberikan imbalan investasi dalam bentuk dividen ini.

Meskipun memang ada tren penurunan besaran dividen saham. Namun, konsistensinya memberikan keuntungan bagi investor patut dipertimbangkan. Berikut daftar pembagian dividen selama 3 tahun terakhir:

Prospek Bisnis LSIP

Mengutip dari kontan.co.id pada 2021 ini akan ada prospek pemulihan ekonomi yang berpotensi meningkatkan permintaan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang diproduksi PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP). Meskipun memang volume penjualan potensi tumbuhnya stagnan. Alasannya karena LSIP akan banyak menghadapi sejumlah tantangan untuk meningkatkan volume produksi di tahun 2021 ini. 

Analis Phillip Sekuritas Indonesia Michael Filbery mengatakan tren permintaan CPO diperkirakan akan membaik berbanding lurus dengan roda perekonomian di tahun ini yang akan membaik.

Dengan permintaan CPO yang masih terus tumbuh dan stabil, Michael menilai volume penjualan LSIP pun akan berpotensi tumbuh stagnan. Karena akan menghadapi tantangan dalam proses produksi. 

Meskipun di tengah produksi yang masih tertekan, Michael tetap menyampaikan rasa optimistisnya kalau LSIP masih mampu memperbaiki kinerja di tahun ini. Adapun untuk sentimen yang mendukung adalah perusahaan ini mampu menekan biaya harvesting, cultivation dan labour cost. 

Sehingga, operating margin perusahaan masih bisa tumbuh di tahun 2021 ini. Michael memproyeksikan penjualan di sepanjang tahun ini akan tumbuh 4% secara tahunan dengan laba bersih tumbuh hingga 8% secara tahunan. 

Harga Saham (Kesimpulan)

PER dan PBV LSIP saat ini tercatat cenderung mahal bila dibandingkan dengan saham lain di sektor perkebunan ini. Menurut Data RTI per 19 Februari, PER LSIP tercatat 23,73 kali dan PBV dari LSIP ini di angka 1,01 kali.

Sebagai pembanding, saham TBLA PER dan PBV-nya ada di level 9,35 kali dan 0,90 kali. Sementara itu, PER dan PBV saham ANDI ada di level 14,42 kali dan 1,68 kali.

Kamu bisa mempertimbangkan untuk membeli saham LSIP ini, disebabkan kinerja perusahaan yang diperkirakan tetap tumbuh. Hal ini terlihat dari laporan keuangan Q3 2020 tercatat ada perbaikan kondisi keuangan, karena perolehan laba yang meningkat. Bisa dicek pada pembahasan di bagian kinerja keuangan tahun 2020.

Disclaimer

Disclaimer: Tulisan ini berdasarkan riset dan opini pribadi. Bukan rekomendasi investasi dari Ajaib. Setiap keputusan investasi dan trading merupakan tanggung jawab masing-masing individu yang membuat keputusan tersebut. Harap berinvestasi sesuai profil risiko pribadi

Artikel Terkait