Saham

Saham INKP Masih Berada di Zona Merah, Rekomendasinya?

saham inkp

Ajaib.co.id – Saham INKP belum membawa kabar baik karena masih ada di zona merah. Bagi pemegang saham INKP, apa yang mesti dilakukan? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kamu simak ulasan ini terlebih dahulu.

PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) yang tergabung dalam Grup Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas diketahui terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun 2020. Berdasarkan data laporan dari RTI Business, saham INKP sejak awal tahun telah mengalami koreksi sebesar 11,69%.

Namun, bila dilihat secara makro emiten kertas dan bubur kertas tersebut seharusnya memiliki sentimen yang positif karena meredanya perang dagang antara China dan Amerika Serikat (AS). Maka dari itu harusnya bisa meningkatkan perekonomian sekaligus membuat permintaan dari global juga ikut terkerek.

Sekedar informasi, dari laporan keuangan yang didapat pada kuartal III 2019 diketahui bahwa porsi ekspor INKP cukup besar. Misalnya saja dari penjualan dari total penjualan senilai 2,46 miliar USD, penjualan ekspornya berkontribusi sebesar 51,21 persen dengan nilai 1,26 miliar USD.

Akan tetapi, pasar global kini justru sedang dalam sentimen negatif akibat pandemi wabah virus corona yang menyerang seluruh belahan dunia. Akibatnya berimbas juga terhadap permintaan di industri kertas.

Prospek Saham INKP

Sementara dari hasil penutupan perdagangan pada Rabu (01/04/2020) saham INKP ditutup melemah 0,25 persen di level Rp4.000. Meski sempat terbang menguat di level Rp6.800 pada bulan Februari 2020, kini saham emiten pulp and paper ini semakin hancur.

Maka tak heran jika investor mulai angkat kaki. Melihat situasi yang cukup mengkhawatirkan di pasar global akibat penyeraban virus covid-19 membuat prospek masih stagnan. Penyebab utamanya tak lain karena ekonomi global dan penurunan yang dialami manufaktur China.

Walaupun prospek emiten yang tergabung dalam Grup Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas itu diprediksi masih terus stagnan, tapi harga sahamnya diyakini bisa bertumbuh. Kemungkinan untuk menguat kembali sahamnya masih terbuka, karena penurunan yang sedang dialami lebih ke faktor eksternal.

Berdasarkan kondisi yang ada, maka saham INKP masih direkomendasikan untuk beli dengan target harga di kisaran Rp6.000. Strategi ini hanya disarankan kepada investor yang ingin investasi di saham emiten kertas dan bubur kertas ini untuk jangka pendek saja, yakni satu tahun.

Jika dilihat sampai hari ini, pergerakan grafik INKP terlihat belum menunjukkan tanda-tanda membaik selama seminggu kemarin. Sedangkan indikator RSI masih terlihat tak berdaya sehingga direkomendasikan untuk sell on strength. Terlebih selama tiga hari ini selain INKP, setidaknya ada 10 saham yang hancur berkeping-keping sehingga banyak investor yang menarik diri.

IHSG Turun 1,6% Karena Aksi Ambil Untung

Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bulan perdagangan pertama awal bulan April ini, Rabu (01/04/2020) turun 1,6% di angka 4.466,03. Padahal, selama sesi pertama, indeks sempat menguat sampai 1,94% di level 4.627,41.

Melemahnya indeks di akhir perdagangan disebabkan aksi profit taking atau ambil untuk investor. Hal ini karena adanya dorongan dari data PMI Caixin manufaktur Tiongkok yang merilis bahwa tanda-tanda pulihnya ekonomi China mulai terlihat setelah dihantam wabah virus corona.

Aksi serupa pun dilakukan para investor pasca merilis hasil data-data inflasi di Indonesia yang masih tergolong stabil. Menurut laporan Badan Pusat Statistik, inflasi pada bulan Maret 2020 sebesar 0,10% secara bulanannya. Angka tersebut masih rendah jika dibandingkan dengan bulan Februari yang mencapai 0,28%.

Sementara, pada perdagangan hari ini mencatat ada 6,11 miliar unit saham yang diperjualbelikan dengan nilai transaksi mencapai Rp7,29 triliun. Hal ini disebabkan karena adanya 267 saham yang mengalami penurunan termasuk INKP, lalu ada 129 saham yang naik, dan 131 saham lainnya ditutup stagnan.

Sejumlah sektor dianggap sebagai penyebab menurunnya harga indeks, salah satunya adalah properti yang turun sebesar 2,8%. Saham-saham tersebut diantaranya Pollux Properti Indonesia (POLL) jatuh 6,88% di level Rp10.150 per lembar saham.

Sedangkan saham Summarecon Agung (SMRA) juga ikut turun sampai 7% menjadi Rp372 per lembarnya. Nasib serupa juga dialami perusahaan BUMN, PP (PTPP) yang anjlok 6,36% menjadi Rp515 per lembar saham.

Selain itu, ada juga sektor aneka industri yang ikut mendorong menurunnya indeks dan terkoreksi 2,46%. Saham yang menyebabkan menurunnya harga indeks di sektor ini adalah Astra Internasional (ASII) turun 3,33% ke angka Rp3.770 per saham. Adapun anak usahanya yaitu Astra Otoparts (AUTO) juga ikut-ikutan anjlok sebesar 1,91% ke level Rp770 per saham.

Selanjutnya, ada juga saham-saham dengan kapitalisasi besar yang jadi penyebab turunnya indeks hari ini. Mereka adalah Bukit Asam (PTBA) menurun 5,96% menjadi Rp2.050 per saham.

Kemudian ada Perusahaan Gas Negara (PGAS) jatuh sebesar 5,16% di harga Rp735 per lembar saham. Lalu Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga alami nasib sama turun sebesar 2,98% menjadi Rp2.930 per lembar saham, serta Bank Negara Indonesia (BBNI) yang turun 3,66% menjadi Rp3.680 per saham.

Menurunnya bursa saham di dalam negeri juga diikuti oleh sebagian besar bursa saham Asia yang mengakhiri perdagangan hari ini di zona merah. Saham tersebut yaitu indeks Shanghai Composite di Tiongkok yang turun 0,57%, lalu saham Kospi di Korea Selatan turun sebesar 3,94%, sedangkan indeks Nikkei 225 di Jepang menurun hingga 4,5%.

Nasib serupa juga rupanya dialami oleh indeks Hang Seng di Hong Kong serta indeks Straits Times di bursa saham Singapura yang turun 2,19% dan 1,65%.


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait