Analisa Saham

Saham ICBP, Bluechip yang Cetak Laba 11 Tahun Berturut

Ajaib.co.id – Emiten konsumer penghuni LQ45, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk ini merupakan anak perusahaan dari PT Indofood Sukses Makmur yang terkenal dengan produk andalannya yakni Indomie yang sudah mencapai market international.

ICBP melantai di bursa efek pada 7 Oktober 2010. Komposisi kepemilikan saham ICBP adalah 80,53% oleh PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan 19,47% dimiliki oleh masyarakat. Kapitalisasi pasar saham ICPB saat ini sebesar Rp104,08 triliun.

ICBP juga tergolong saham blue chip karena mapan dan memiliki fundamental baik. Pertumbuhan penghasilan perusahaan terus tumbuh secara konsisten dari tahun ke tahun.

Perusahaan ini mampu menghasilkan laba dengan ROE hingga 21 persen dan ROA sebesar 13,7 persen. Angka ini tergolong sangat jauh di atas rata-rata saham perusahaan produsen makanan di bursa.

Lantas bagaimana dengan prospek ICBP tahun ini? Ajaib akan mengulasnya secara lengkap di sini.

Prospek ICBP Setelah Akuisisi Pinehill

Pada Jumat, 22 Mei 2020 lalu manajemen Indofood CBP Sukses Makmur mengumumkan penandatanganan perjanjian jual beli saham bersyarat dengan dua pihak yaitu Pinehill Corpora dan Steele Lake.

ICBP mengumumkan bahwa perusahaan akan membeli perusahaan investasi Pinehill Company Limited dengan nilai transaksi yang cukup fantastis untuk skala Indonesia, US$2,99 miliar (sekitar Rp44 triliun dengan kurs mata uang saat ini).

Aksi akuisisi bernilai jumbo ini telah rampung pada akhir Agustus 2020 lalu. ICBP kini sedang dalam proses mengintegrasikan Pinehill ke dalam tubuh ICBP.

Akuisisi tersebut sempat menuai reaksi negatif investor. Pasalnya, akuisisi ini nilainya melampaui nilai ekuitas ICBP sendiri. Adapun, posisi ekuitas ICBP per Desember 2019 tercatat hanya Rp26,67 triliun dengan cadangan kas dan setara kas hanya Rp8,4 triliun.

Dengan demikian, nilai transaksi ini mencapai 156,26% dari total ekuitas ICBP, sehingga tergolong transaksi material.

Artinya, akuisisi ini akan mengandalkan pembiayaan utang, sehingga walaupun akan turut mendongkrak kinerja ICBP, tetapi beban keuangannya pun akan meningkat.

Seperti apa prospek ICBP ke depannya setelah akuisisi jumbo ini? Sebelumnya kamu perlu tahu dulu perusahaan seperti apa Penhill ini sampai ICBP mau mengakuisisinya

Sekilas tentang Pinehill Company

Grup Pinehill company merupakan perusahaan yang bergerak di bidang industri mi instan di Arab Saudi, Nigeria, Turki, Kenya, Maroko dan Serbia. Adapun dalam memasarkan produknya Grup Pinehill menggunakan merek Indomie berdasarkan perjanjial lisensi dengan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari ICBP.

Sebagai informasi volume penjualan Pinehill mencapai 7,4 miliar bungkus mi per tahun yang dijual di pasar domestik maupun ekspor.

Total populasi pasar domestik yang dilayani Pinehill mencapai 567 juta orang. Rata-rata pertumbuhan penjualan tahunan dapat mencapai sekitar 10%. Pinehill membayar royalti ke INDF demi menggunakan merek Indomie dan mengimpor bumbu-bumbunya dari ICBP.

Pinehill mempunyai empat anak usaha, yakni Dulfill dengan kepemilikan 49% dan tiga lainnya dengan porsi saham 59%. Sisa saham dipegang oleh mitra lokal perusahaan itu.

Akuisisi Direspons Negatif oleh Investor

Namun, rencana akuisisi Pinehill itu direspon negatif oleh pasar. Investor beramai-ramai menjual saham ICBP. Saham INDF juga ikut “terseret”.

Sebab seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa perusahaan mengandalkan utang untuk akuisisi ini. Sementara itu, sumber pembiayaan berupa fasilitas pinjaman dari lembaga perbankan belum jelas berapa besarannya.

Berapa nilainya? Berapa tingkat bunganya? Manajemen menyatakan perseroan masih dalam tahap diskusi dengan para potensial kreditur dan belum ada ketentuan yang bersifat definitif di antara para pihak.

Tambahan utang dan belum jelasnya mengenai utang tersebut tampaknya menimbulkan reaksi negatif dari para investor mengingat nilai transaksi hingga USD2,99 miliar sedangkan kas yang disediakan perusahaan baru sebesar USD300 juta.

Kendati terdapat jaminan keuntungan untuk ICBP setelah akuisisi tersebut, para investor saham tampaknya masih ‘trauma’ khawatir mengenai tekanan yang besar terhadap kinerja keuangan ICBP karena aksi korporasi itu yang sebelumnya pernah terjadi.

Investor Masih Trauma dengan Akuisisi Jumbo Perseroan

INDF induk perusahaan ICBP pernah melakukan akuisisi China Minzhong Food Corporation (CMFC) pada tahun 2013. INDF memiliki saham CMFC sebesar 33,49% kemudian mengakuisisi lebih dari 50% saham perusahaan sayur asal China yang terdaftar di bunga Singapura tersebut. Total kepemilikan INDF saat itu mencapai SGD743 juta atau setara Rp635 miliar.

Namun di tahun 2016, INDF melepas saham CMFC. Hal ini dilakukan karena CMFC tidak mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan setelah dibeli oleh produsen mi instan terbesar di Indonesia ini.

Berdasarkan laporan keuangan CMFC mencatat penurunan pendapatan sejak 2014, bahkan pada 2015 pendapatan CMFC turun 39% dari CNY 3,25 miliar pada 2013 menjadi 1,97 miliar.

Tidak hanya pendapatan, laba CMFC pun tergerus menjadi hanya sebesar CNY 320 juta di tahun 2015, telah turun 50% dari laba bersih di tahun 2013.

Melihat akuisisi terkait dengan ekspansi yangtidak membuahkan hasil yang cukup baik agaknya investor masih trauma sehingga saham ICBP dan saham Indofood (INDF) masing-masing mengalami penurunan hampir 15% dalam dua hari perdagangan di saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sedang menghijau pada 27 Mei 2020 (0,32%) dan 26 Mei 2020 (1,78%).

Saham ICBP dan INDF masing-masing hampir menyentuh batas terendah penurunan harga saham (Auto Reject Bawah/ARB) yang telah diperkecil sebesar 7%. Berdasarkan data RTI Analytics pada Rabu, 27 Mei 2020, nilai jual bersih oleh investor asing (net foreign sell/NFS) sebesar 4,41 miliar lembar untuk saham ICBP.

Namun, terlepas dari itu, prospek bisnis ICBP masih positif, apalagi selama pandemi belum berakhir, masyarakat masih akan cenderung menghindari makan di restoran. Alhasil, permintaan terhadap produk makanan kering dan bumbu penyedap relatif akan tetap tinggi, demikian pula dengan produk makanan dan minuman lainnya dari ICBP.

ICBP Masih Cetak Kinerja Positif

ICBP baru saja mengumumkan kinerja keuangannya sepanjang 2020. Perusahaan milik grup Salim ini membukukan laba tahun berjalan Rp6,59 triliun atau naik 31% dari Rp5,04 triliun pada 2019.

Penjualan bersih ICBP pada 2020 tercatat senilai Rp46,64 triliun atau naik 10,27 persen yoy dari tahun sebelumnya Rp5,03 triliun.

Sementara itu, pos aset perseroan mengalami lonjakan sebesar 167,60 persen yoy menjadi Rp103,58 triliun pada akhir 2020 berbanding dari akhir 2019 senilai Rp38,70 triliun.

Adapun, liabilitas mengalami kenaikan 342,50% yoy menjadi Rp53,27 triliun dan ekuitas tumbuh 88,66 persen yoy menjadi Rp50,31 triliun. Sementara itu, margin laba bersih ICBP pada 2020 melesat menjadi 14,1% dari sebelumnya 11,9%. Begitu pula laba inti naik 12,79% menjadi Rp5,82 triliun dari sebelumnya Rp5,16 triliun.

Pencapaian itu membuat ICBP menjadi perusahaan berkapitalisasi pasar besar yang mampu membukukan pertumbuhan laba bersih selama 11 tahun berturut-turut. Dua big caps lainnya, BCA dan BRI, mengalami penurunan laba bersih pada 2020.

Seperti diketahui, 2020 adalah tahun yang tidak mudah bagi banyak perusahaan. Ekonomi tidak tumbuh karena permintaan barang dan jasa menurun seiring pandemi virus corona. Banyak perusahaan yang labanya turun. Namun, ICBP masih bisa mencetak laba lebih besar pada 2020 daripada 2019.

Kesimpulan

Sektor consumer digolongkan sebagai sektor yang defensif, turunnya daya beli masyarakat banyak sektor mengalami penurunan kinerja, namun ICBP cukup baik pada masa pandemi Covid-19.

Emiten memiliki prospek dan kerja sama yang baik, strategi pemasaran yang diterapkan senantiasa ditinjau secara berkala hingga evaluasi dilakukan untuk melihat tingkat efektivitas keberlanjutan kinerja ICBP.

Diharapkan ke depannya, semoga ICBP tetap menunjukkan kinerja yang melejit lagi setelah New Normal dan menunjukkan kinerja yang positif terlebih setelah mengakuisisi Pinehill.

Seiring pola konsumsi rutin masyarakat membaik, sektor industri konsumsi adalah salah satu sektor yang cukup tahan dari resesi, namun tidak semua emiten di sektor ini memiliki fundamental dan kinerja yang cemerlang, yang pantas untuk di masukkan ke dalam long-term investment.

Maka dari itu analisa lebih lanjut sangat diperlukan, peluang bisnis di industri ICBP bisa jadi akan semakin menarik di tahun depan jika ICBP selalu berinovasi sesuai dengan permintaan market global dan nasional.

Akuisisi Pinehill dilakukan perseoran sebagai bagian dari usaha ekspansi atau perluasan usaha ICBP di wilayah yang potensial.

Dalam pengumumannya, manajemen menyatakan pasar di berbagai negara Timur Tengah dan Afrika itu merupakan pasar yang berkembang pesat. Direksi perseroan juga yakin transaksi itu “akan meningkatkan nilai pemegang saham Perseroan”.

Dengan akuisisi itu, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) akan menjadi produsen mi instan berskala internasional. Jumlah populasi pasar yang dibidik oleh Indofood akan menjadi lebih besar dibandingkan dengan populasi Indonesia.

Artikel Terkait