Bisnis & Kerja Sampingan

Ritel Besar di Tahun 2022, Bagaimana Prospeknya?

ritel

Ajaib.co.id – Kasus Covid-19 di banyak negara, termasuk Indonesia, cenderung menurun dalam beberapa bulan terakhir. Akankah ini membawa ‘angin segar’ terhadap prospek sektor ritel di tahun 2022?

Sektor retail adalah salah satu sektor yang terdampak paling parah akibat pandemi Covid-19. Terpuruknya sektor ini pun merembet ke berbagai aspek lain, misalnya tingkat hunian di pusat perbelanjaan atau mal.

Tingkat hunian dari ritel masih terbilang rendah. Penyebabnya adalah tingkat penjualan yang terus merosot. Maka, tak heran bila penyewa yang tidak mampu bertahan bertambah jumlahnya.

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menjabarkan, banyak pelaku retail yang ‘gulung tikar’ alias menghentikan operasinya karena terdampak pandemi Covid-19. Pelaku retail besar pun tak luput dari kondisi ini.

Tahun ini saja, Giant dan Hero mulai menutup banyak tokonya. Jumlah toko mereka yang tutup pun tak sedikit, tercatat mencapai puluhan gerai. Kabar terkini, peritel fashion, yakni Centro, berpotensi menambah gerainya yang tutup menyusul gerainya di Plaza Ambarrukmo, Yogyakarta yang telah berhenti beroperasi.

Tidak hanya gerai ritel, sejumlah pusat perbelanjaan pun menjual asetnya karena terdampak pandemi yang sudah berlangsung selama kurang-lebih dua tahun belakangan ini.

Merujuk situasi terkini dengan melandainya kasus Covid-19, banyak sektor boleh menghembuskan optimisme, termasuk retail. Colliers, konsultan properti, telah melakukan riset terhadap lebih dari 300 investor di seluruh dunia. Dalam riset tersebut, investor mulai melihat peluang untuk penggunaan kembali aset ritel.

Tak tertutup kemungkinan, sekitar sepertiga investor melakukan investasi yang bisa mendatangkan keuntungan besar. Artinya, ada potensi investasi pasar ritel kembali menggeliat pada tahun 2022, setidaknya di kawasan Asia Pasifik.

Proyeksi di atas meliputi kawasan Asia Pasifik. Bagaimana di Indonesia sendiri?

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengungkapkan, banyak perusahaan retail dalam negeri yang wait and see.

Sebagian peritel masih mengamati perkembangan pandemi Covid-19 serta kebijakan yang menyertainya. Apalagi, varian terbaru Covid-19, yakni Omicron, diketahui telah terdeteksi di Indonesia.

Jadi, masih cukup banyak dari mereka yang belum mengambil keputusan penting, misalnya belanja modal untuk ekspansi. Pertimbangan sejumlah keputusan bisnis lain di antaranya ialah mengurangi luas gerai dan membeli lokasi di wilayah dengan prospek konsumsi yang masih bagus.

Keputusan bisnis, lanjut Roy, mungkin saja akan ditentukan oleh kondisi pada penghujung tahun 2021 dan kuartal I/2022. Terlebih, kuartal II/2022 bertepatan dengan festive season.

Roy tak menampik bahwa sejumlah kalangan pebisnis ritel cukup optimistis menatap tahun 2022. Sebetulnya, kata Roy, indikasi transisi industri perdagangan eceran menuju pemulihan telah mulai terasa sejak kuartal IV/2021. Namun, perbaikan industri ritel belum bisa terlihat di awal tahun 2022.

Titik balik industri ritel baru bisa terlihat pada kuartal II/2022, khususnya retail modern. Itu pun dengan syarat terjadi pemulihan konsumsi masyarakat dan kurva pandemi Covid-19 yang landai secara konsisten.

Roy menambahkan, sejumlah indikator mendongkrak optimisme perbaikan kinerja ritel modern, seperti membaiknya penanganan pandemi Covid-19 dan program vaksinasi yang makin meluas. Pelonggaran kegiatan bisnis dan aktivitas masyarakat pun turut menumbuhkan optimisme perbaikan kinerja ritel modern ke depannya.

Meski begitu, Roy menekankan, saat ini masih tahap transisi. Pemulihan kinerja industri ritel, menurutnya, memerlukan waktu sekitar satu semester.

Berdasarkan kalkulasi asosiasi, kinerja industri ritel modern pada kuartal IV/2021 setidaknya dapat mendekati pencapaian pada kuartal II/2021. Pada kuartal II/2021, penjualan eceran mampu bertumbuh sekitar 5,4%. Roy melanjutkan, asosiasi memprediksi industri ritel berpotensi tumbuh di kisaran 5%–5,5% pada tiga bulan terakhir tahun 2021.

Bila ditelaah lebih rinci per segmen, Roy mengatakan, kinerja ritel modern format besar, seperti toserba dan hypermarket berpotensi membaik secara signifikan pada tahun depan. Selama pandemi Covid-19, segmen inilah yang mengalami keterpurukan terdalam.

Optimisme serupa juga disampaikan oleh Vice President Corporate Communication PT Trans Retail Indonesia Satria Hamid. Ia mengamini, pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) kuartal IV/2021 membawa ‘angin sejuk’ terhadap kinerja industri ritel modern format besar.

Satria optimistis, Trans Retail mampu mencapai perbaikan kinerja secara signifikan pada momentum Natal dan tahun baru. Bila ini terealisasi, setidaknya dapat mengompensasi kinerja korporat mengingat hampir sepanjang tahun ini terjadi pelandaian penjualan.

Di tempat terpisah, pengamat ritel sekaligus Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Yongky Susilo menyampaikan, ritel modern format besar tak bisa mengandalkan perbaikan penanganan pandemi Covid-19 agar kinerjanya terdongkrak. Menurutnya, para peritel modern format besar harus mulai mencari inovasi baru dan menyesuaikan format layanannya.

Menurut Yongky, ada sejumlah aspek pada permintaan konsumen, yakni kenyamanan (convenient), pengalaman (experiential), dan kecepatan. Pengalaman rekreasi, kuliner, dan pembelajaran juga banyak dicari oleh konsumen. Hal-hal seperti inilah yang seharusnya bisa diakomodir oleh peritel besar.

Dengan ukuran luas yang besar, Yongky mencontohkan, ritel besar sebenarnya bisa mengakomodasi permintaan tersebut. Sayangnya, hal ini belum tampak terlihat.

Yongky menganalisa, pelaku usaha ritel format besar belum membenahi layanan sesuai perkembangan permintaan konsumen. Selain itu, pelaku usaha juga belum mendiversifikasi layanan di dalam toko.

Menurut Yongky, adopsi model integrasi restoran dan toko seperti yang dilakukan IKEA dan AEON juga patut dicoba.

Terakhir, peritel harus mulai meninggalkan budaya ‘perang harga‘ dan fokus membangun nilai. Transformasi layanan yang diarahkan ke konsumen modern juga perlu dipertimbangkan agar ritel format besar tidak makin terpuruk.

Artikel Terkait