Asuransi & BPJS

Prinsip Asuransi yang Harus Dipahami Sebelum Menjadi Nasabah

prinsip asuransi

Ajaib.co.id – Setidaknya ada enam prinsip asuransi yang harus nasabah pahami sebelum memulai asuransi. Apa saja? Simak ulasan yang telah dihimpun oleh redaksi Ajaib berikut ini.

Kesadaran masyarakat Indonesia dalam berasuransi bisa dibilang masih tergolong rendah. Berdasarkan data AAJI, pada kuartal 1 tahun 2019, jumlah tertanggung asuransi jiwa hanya berjumlah 53 Juta orang. Apalagi, jumlah ini mengalami penurunan sebesar 9,1 % dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 58 Juta orang.

Padahal, saat ini ada banyak sekali pilihan asuransi. Baik yang berasal dari dalam ataupun luar negeri. Bagi mereka yang muslim, juga tersedia asuransi syariah yang operasionalnya berada di bawah pengawasan Dewan Pengawas Syariah Majelis Ulama Indonesia (DPS MUI).

Apa itu Asuransi?

Ada berbagai manfaat yang bisa didapatkan saat ikut serta dalam asuransi. Tertanggung bisa memperoleh manfaat, jika sampai terjadi sesuatu pada yang diasuransikan. Jadi asuransi bermanfaat untuk meberikan proteksi lebih terhadap ancaman resiko yang mungkin menimpa obyek asuransi.

Menurut OJK, asuransi sendiri didefinisikan sebagai :

Perjanjian asuransi antara penyedia jasa layanan asuransi sebagai penanggung, dengan masyarakat pemegang polis (tertanggung) yang diwajibkan membayar premi dalam rangka penggantian ketika terjadinya kerugian, kerusakan, kematian dan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin terjadi karena peristiwa yang tak terduga (musibah atau kecelakaan).

Jenis-jenis Asuransi

Sebelum mengenal prinsip asuransi, kita kenali dulu jenis asuransi yang beragam. Jenis asuransi ditentukan berdasarkan obyek asuransi, yakni :

#1 Asuransi Jiwa

Ahli waris akan memperoleh manfaat apabila terjadi musibah yang menyebabkan tertanggung meninggal atau cacat total.

#2 Asuransi Kesehatan

Tertanggung akan memperoleh manfaat pembiayaan perawatan dan pengobatan sebagai hak penanggung apabila mengalami sakit.

#3 Asuransi Kendaraan

Peserta akan mendapatkan ganti rugi atas musibah yang terjadi pada kendaraan yang menjadi objek asuransi.

#4 Asuransi Kepemilikan rumah dan properti

Berguna untuk proteksi terhadap kerusakan, kehilangan atau musibah yang menimpa rumah atau properti yang diasuransikan.

#5 Asuransi Pendidikan

Merupakan proteksi pendidikan ahli waris akan tetap terjamin pada saat tertanggung mengalami musibah.

#6 Asuransi Bisnis

Merupakan salah satu proteksi terhadap kerusakan atau kerugian yang mungkin menimpa bisnis seseorang.

#7 Asuransi Umum

Yang dapat dibagi kembali menjadi dua jenis asuransi Asuransi Jaminan Sosial dan Asuransi Sukarela.

#8 Asuransi Kredit

Jenis ini berlaku bagi lembaga keuangan selaku pemberi kredit, dari kemungkinan utangnya tidak dibayar oleh nasabah.

#9 Perjalanan

Sifatnya jangka pendek yang berlaku selama tertanggung berada di perjalanan. Dimana ahli waris akan mendapatkan ganti rugi apabila terjadi sesuatu pada tertanggung selama dalam perjalanan.

#10 Asuransi Kelautan

Jenis asuransi ini mengalihkan resiko bagi penumpang kapal laut serta barang bawaannya.

Prinsip Asuransi

Untuk menjalankan kegiatasn perasuransian, maka terdapat 6 prinsip dasar asuransi yang harus dijadikan pedoman. Prinsip-prinsip ini bisa menjadi tolok ukur apakan kegiatan tersebut dapat digolongkan dalam industri asuransi atau tidak.

#1 Kejujuran Sempurna (Utmost Good Faith)

Maksud dari kejujuran sempurna adalah kewajiban tertanggung untuk memberitahukan dan memberitakan dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya mengenai fakta-fakta atau kondisi obyek yang diasuransikan.

Dengan informasi tersebut, penyedia asuransi akan menentukan jenis risiko-risiko yang akan dijamin atau dikecualikan. Penyedia asuransi juga akan menentukan kondisi serta syarat pertanggungan dengan sejelas-jelasnya, sesuai dengan kondisi tertanggung.

#2 Kepentingan yang Dipertanggungkan (Insurable Interest)

Prinsip asuransi ini artinya, kamu sebagai peserta asuransi, dipastikan akan mengalami kerugian secara finansial, pada saat obyek yang diasuransikan mengalami musibah. Sehingga pihak penanggung berhak menerima ganti rugi (manfaat asuransi) akibat kerugian finansial tersebut.

Sebuah objek tidak dapat diasuransikan, jika tidak memberikan dampak kerugian finansial pada peserta asuransi.

#3 Subrogasi (Subrogation)

Merupakan prinsip asuransi yang berkaitan dengan tanggung jawab atas penyebab musibah. Dalam hal ini, kerugian yang dialami oleh tertanggung, adalah akibat kesalahan atau kelalaian pihak ketiga (orang lain) yang tidak berkaitan dengan pihak asuransi (penanggung).

Dalam hal ini, jika sebuah musibah telah dipertanggungjawabkan oleh pihak ketiga, maka pihak asuransi tidak akan membayar ganti rugi. Pun, jika pihak asuransi telah memberikan ganti rugi, maka pihak tertanggung tidak boleh lagi menuntut ganti rugi kepada pihak ketiga.

Karena, hak menuntut ganti rugi tersebut, telah dialihkan kepada pihak asuransi. Sehingga hanya pihak asuransi yang berhak menuntut kepada pihak ketiga.

#4 Indemnitas (Indemnity)

Prinsip asuransi ini menyatakan, bahwa pihak tertanggung hanya berhak memperoleh ganti rugi maksimal, setara dengan kondisi sesaat sebelum musibah. Itu artinya, jika obyek yang diasuransikan mengalami musibah atau kerusakan, dan tertanggung mengalami kerugian finansial karenanya, maka pihak asuransi akan mengembalikan posisi keuangan hanya pada posisi yang sama sesaat sebelum terjadi musibah. Tertanggung tidak berhak memperoleh ganti rugi lebih besar daripada kerugian.

Misalnya, jika Anda ikut asuransi mobil, kemudian terjadi kecelakaan yang menyebabkan mobil rusak. Maka pihak asuransi hanya akan menanggung ganti rugi hingga kondisi mobil seperti semula (sesuai manfaat asuransi berlaku). Pemilik mobil tidak bisa meminta manfaat untuk melakukan modifikasi atau mengganti bagian-bagian mobil yang tidak mengalami kerusakan,

#5 Kontribusi (Contribution)

Ada kalanya, seorang peserta asuransi mengasuransikan objek yang sama pada beberapa perusahaan asuransi sekaligus. Tentu saja, itu hak peserta asuransi. Namun demikian, pada saat terjadi musibah atau kerusakan pada objek asuransi, maka sesuai dengan prinsip asuransi indemnitas, tertanggung hanya dapat menerima ganti rugi sesuai besaran kerugian dan tidak melebihinya.

Saat inilah berlaku prinsip kontribusi. Dimana perusahaan asuransi yang membayarkan manfaat dan menutup ganti rugi, dapat menuntut perusahaan asuransi lain yang terlibat dalam pertanggungan tersebut, untuk membayar bagian masing-masing. Dimana besarannya sesuai jumlah pertanggungan yang ditutupnya.

#6 Kausa Proksimal (Proximate Cause)

Prinsip asuransi ini dijalankan perusahaan sebelum memberikan ganti rugi pada tertanggung atas musibah yang terjadi. Perusahaan asuransi akan mencari tahu dan menyelidiki sebab-sebab dan rangkaian peristiwa yang memicu hingga terjadinya musibah pada tertanggung.

Hal ini juga digunakan untuk menyelidiki apakah penyebab utama kecelakaan murni terjadi secara alami (tidak disengaja) atau merupakan perbuatan disengaja untuk mendapatkan klaim. Misalnya peserta sengaja membakar rumah untuk mendapatkan manfaat dari asuransi yang diikutinya.

Keenam prinsip asuransi tersebut, dijadikan pedoman oleh seluruh pelaku kegiatan industri asuransi, baik pegawai, agen, peserta atau tertanggung. Prinsip tersebut diterapkan mulai dari awal pembukaan polis asuransi, hingga terjadi musibah, pembayaran klaim, serta penutupan polis asuransi oleh peserta. 

Bacaan menarik lainnya:

Sastrawidjaja,M. Suparman. (1993) Hukum Asuransi. Bandung: Penerbit Alumni


Ajaib merupakan aplikasi investasi reksa dana online yang telah mendapat izin dari OJK, dan didukung oleh SoftBank. Investasi reksa dana bisa memiliki tingkat pengembalian hingga berkali-kali lipat dibanding dengan tabungan bank, dan merupakan instrumen investasi yang tepat bagi pemula. Bebas setor-tarik kapan saja, Ajaib memungkinkan penggunanya untuk berinvestasi sesuai dengan tujuan finansial mereka. Download Ajaib sekarang.

Artikel Terkait