Reksa Dana

Pelemahan Rupiah Terhadap Kinerja Reksa Dana

Sumber: Unsplash

Ajaib.co.id – Seperti yang kita ketahui berinvestasi di reksa dana adalah salah satu investasi yang paling mudah untuk dilakukan. Reksa dana dikelola oleh seorang fund manager dari perusahaan manajer investasi dan oleh karenanya membeli reksa dana sama dengan percaya akan kemampuan seorang fund manager dalam mengelola sekeranjang aset investasi untuk kemudian dikembangkan nilainya menjadi lebih besar lagi.

Yang harus dilakukan oleh nasabah hanyalah mengecek kemampuan sang fund manager melalui track record portofolio yang dikelolanya. Dan hal itu bisa dilakukan dengan cukup mudah melalui informasi dalam bentuk pdf yang bisa diunduh bebas di platform agen penjual reksa dana seperti Ajaib.

Namun ternyata tak hanya berpaku pada kinerja fund manager saja, naik-turunnya Kurs Tengah BI untuk Rupiah (IDR) terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) rupanya kerap kali menyebabkan gejolak pada Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) kinerja reksa dana. Rupanya perubahan pada kurs rupiah terhadap dolar AS juga turut mempengaruhi selera investor dalam berinvestasi di reksa dana.

Ketika kita bicara mengenai perubahan kurs, yang dimaksud Pelemahan Rupiah di sini adalah ketika nominal dalam rupiah terhadap dolar AS meningkat. Misalnya dari Rp 9.000 menjadi Rp 14.000 per satu dolar AS, dan pelemahan rupiah mengandung arti dolar AS menguat terhadap rupiah.

Sebaliknya, ketika satu dolar AS dihargai lebih murah, misalnya jadi Rp 7.000 per satu dolar AS maka itu disebut penguatan rupiah atas dolar AS Sama halnya ketika rupiah menguat, artinya dolar AS sedang melemah terhadap rupiah. 

Banyak yang percaya bahwa ketika penguatan Rupiah terhadap Dolar AS terjadi maka hal itu menjadi kabar baik karena dapat meningkatkan NAB per UP reksa dana. Hal yang sebaliknya berlaku, bahwa ketika pelemahan rupiah berlaku maka reksa dana menjadi tidak menarik.

Jika benar demikian maka kita tentu ingin menghindari berinvestasi di reksa dana ketika rupiah melemah, ya kan? Pertanyaan yang pertama adalah reksa dana yang mana yang dipengaruhi oleh pelemahan rupiah?

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Reksa Dana

Secara umum reksa dana dibagi menjadi empat macam yakni reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang. Masing-masing dari keempat reksa dana tersebut memiliki aset investasi yang berbeda-beda dalam portofolionya. Dengan demikian risiko yang dihadapi juga berbeda-beda. Artinya tak semua jenis reksa dana kinerjanya akan melemah gegara anjloknya rupiah terhadap dolar AS (USD/IDR).

  • Misalnya saja reksa dana pasar uang (RDPU) yang aset-aset dalam portofolionya terdiri dari obligasi korporat dan deposito bermata uang rupiah. Obligasi dan deposito jangka pendek lebih dipengaruhi oleh suku bunga acuan yang mempengaruhi imbal hasil deposito dan besar kupon obligasi. Oleh karenanya pelemahan rupiah tidak berpengaruh terhadap reksa dana pasar uang.
  • Untuk reksa dana pendapatan tetap (RDPT), portofolio RDPT berisikan aset keuangan berupa obligasi korporat dan obligasi negara yang memberikan pendapatan tetap berupa pembagian kupon secara berkala. Suku bunga dan inflasi lebih menentukan yield dari obligasi sendiri. Dan oleh karenanya RDPT dipengaruhi hanya sedikit sekali oleh pelemahan rupiah.
  • Sedangkan reksa dana saham (RDS) sangatlah dinamis karena saham-saham dalam portofolio RDS dipengaruhi oleh banyak hal. Pelemahan kurs memang membuat kinerja sebagian emiten turun, terutama emiten yang banyak melakukan ekspor dan impor dan terdampak langsung oleh perubahan kurs. Namun jangan lupakan faktor lainnya seperti kualitas fundamental perusahaan, sentimen dari situasi ekonomi, dan lain sebagainya.
  • Yang terdampak adalah reksa dana yang melibatkan aset berbasis dolar AS seperti reksa dana campuran (RDC) yang portofolionya berisikan campuran obligasi bermata uang dolar AS dan aset lainnya yang divaluasi dalam mata uang rupiah. Namun umumnya portofolio RDC berisikan campuran instrumen investasi bermata uang rupiah.

Ada sebuah pengamatan menarik yang dilakukan oleh Rudiyanto, Direktur Panin Asset Management, mengenai keterkaitan pelemahan kurs USD/IDR terhadap naik turunnya aset investasi kelolaan reksa dana. Yang mendasari pengamatan ini adalah pertanyaan apakah pelemahan nilai tukar rupiah ke dolar benar-benar mempengaruhi turunnya kinerja reksa dana sehingga perlu diwaspadai ke depannya?

Pengamatan tersebut dilakukan dengan cara mengamati riwayat nilai tukar USD/IDR, imbal hasil Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Government Bond Index (GBI) dari tahun 2002 hingga 2017.

Sebagai informasi, imbal hasil IHSG akan merepresentasikan imbal hasil saham-saham pada umumnya yang akan mempengaruhi besar Nilai Aktiva Bersih Per Unit Penyertaan (NAB per UP) pada Reksa Dana Saham. Sedangkan GBI akan mempengaruhi harga dan kupon obligasi dalam portofolio Reksa Dana Pendapatan. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Perubahan Kurs Terhadap Aset-Aset Kelolaan Reksa Dana

Berikut hasil pengamatan yang dilakukan oleh Rudiyanto yang telah ditampilkan dalam artikel berjudul ‘Fluktuasi Rupiah dan Dampaknya Terhadap Kinerja Reksa Dana’:

Jadi dari kompilasi data di atas yang terbentang dari tahun 2002 hingga 2017 atau total 15 tahun, diketahui bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami penguatan sebanyak 5 kali dan melemah sebanyak 10 kali. Pada data di atas pelemahan USD/IDR ditandai dengan keterangan USD Menguat. 

Pelemahan USD/IDR terjadi pada tahun 2004, 2005, 2007, 2008, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015, dan 2017. Tahun 2018 pada saat data dikumpulkan, kurs USD/IDR juga mengalami pelemahan namun karena belum habis tahun 2018 maka pelemahan USD/IDR per April 2018 tidak masuk hitungan.

Dalam pengamatan 10 tahun saat USD/IDR melemah ternyata tidak ditemukan adanya pola yang pasti terhadap kinerja IHSG dan Obligasi. Ada tahun-tahun ketika dolar dihargai mahal, ternyata IHSG dan Obligasi juga sama-sama menguat seperti di tahun 2004, 2005, 2007, 2011, 2012, 2014 dan 2017. Tapi ada juga tahun-tahun di mana ketika USD menguat, saham dan obligasi melemah yakni di tahun 2008 dan 2013.

Ternyata pelemahan kurs USD/IDR tidak memberi dampak negatif yang benar-benar nyata pada saham maupun obligasi. Dengan demikian Reksa Dana Saham, Pendapatan Tetap dan Campuran Saham tidak/minim terpengaruh oleh pelemahan USD/IDR.

Lebih lanjut, yang menarik adalah apa yang terjadi ketika USD/IDR melemah alias satu dolar USD dihargai lebih murah dalam Rupiah. Menariknya adalah ternyata dalam 5 kali penguatan USD/IDR yakni pada tahun 2003, 2006, 2009, 2010 dan 2016, tercatat bahwa kinerja saham dan obligasi selalu positif.

Kesimpulan

Pelemahan kurs USD/IDR ternyata tidak benar-benar ditanggapi secara signfikan oleh para pelaku pasar. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sejak 2002-2018 (15 tahun) nilai tukar USD/IDR melemah sebanyak 10 kali. 

Hasilnya adalah 3 dari 10 tahun saat pelemahan USD/IDR terjadi, IHSG dan OBI juga melemah. Tapi 7 dari 10 tahun ketika satu dolar AS. dihargai lebih mahal dalam IDR, alias pelemahan USD/IDR, ternyata kinerja saham dan obligasi malah menguat.

Kinerja saham dan obligasi pastinya akan menjadi dasar dari penguatan reksa dana saham dan obligasi. Hal ini mematahkan kepercayaan yang mengatakan kalau USD/IDR melemah maka reksa dana juga melemah. Yang ada adalah ketika USD/IDR melemah, hasilnya tidak tentu, IHSG dan Government Bond Index belum tentu ikut menguat ataupun melemah.

Tapi ketika USD/IDR menguat, obligasi dan saham juga ikut menguat. Dari 15 tahun pengamatan, 5 tahun USD/IDR menguat. Penguatan tersebut ternyata diiringi oleh penguatan saham dan obligasi juga. Apakah ini kebetulan?

Tentu penelitian lebih lanjut mengenai pengaruhnya harus dilakukan untuk mengetahui apakah memang perubahan kurs memberi pengaruh yang jelas pada saham dan obligasi yang menjadi isi dalam portofolio reksa dana.

Artikel Terkait