Saham

Mengenal Papan Utama, Pengembangan, dan Akselerasi di Bursa

Sumber: Republika

Ajaib.co.id – Publik akhir-akhir ini dibuat terheran-heran oleh harga saham PLAN yang jatuh di bawah titik nadir level gocap/ Rp 50 per saham. Di tanggal 10 Maret saham PT Planet Properindo Jaya Tbk alias PLAN ditutup di harga Rp 47, meluncur turun terus hingga mencapai Rp 43 per saham di tanggal 17 Maret.

Lho kok bisa? Bukannya batas bawah saham itu gocap, ya?”

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa saat ini batas terendah nilai saham-saham yang tercatat di papan akselerasi adalah Rp 1 per lembar saham. Namun untuk saham-saham di papan utama dan papan pengembangan peraturan batas terendahnya masih sama yakni Rp 50 per lembar saham.

Saham PLAN yang bergerak di bisnis properti dan perhotelan adalah salah satu saham yang menghuni  papan akselerasi. Dengan begitu jika para pelaku pasar berkehendak, harganya bisa saja anjlok ke Rp 1 per saham.

Memang hanya saham-saham yang berada di papan akselerasi saja yang bisa turun di bawah Rp 50/saham. Saat ini PLAN berada di level Rp 43 per saham.

Jika kamu belum tahu apa itu papan utama, papan pengembangan dan papan akselerasi di BEI, berikut ulasannya.

Istilah “Papan” dan “Pencatatan”

Kita mengenal istilah listing alias pencatatan bagi saham-saham yang sifatnya terbuka/bisa dibeli oleh publik di bursa saham. Dalam sejarahnya saham-saham yang terdaftar di bursa memang ditulis tangan di sebuah papan kapur besar.

Perubahan harga saham kemudian akan ditulis oleh para “board markers” setelah para “runners” yang berlarian antara kantor broker dan bursa mendapatkan informasi harga.

Bursa Efek New York (NYSE) dikenal juga sebagai Papan Besar karena sejak 1860 saham-saham running trade/yang sedang ditransaksikan di NYSE ditulis di papan kapur yang ukurannya sangat besar. Jika NYSE punya papan besar, Bursa Efek Indonesia (BEI) punya papan utama.

Meski sekarang semua transaksi dilaksanakan secara digital namun istilah “papan” dan “pencatatan” masih dipakai. Kini BEI tak hanya punya papan utama tapi juga papan pengembangan dan papan akselerasi.

Papan Utama

  • Skala Aset

Papan Utama berisikan saham-saham berskala besar yang total asetnya lebih dari Rp 250 miliar. Aset yang berwujud seperti tanah, bangunan, mesin dan peralatan harus nilainya minimal Rp 100 miliar atau lebih.

  • Posisi Laba-Rugi

Saham-saham dalam papan utama harus sudah membukukan laba ketika masuk bursa. Emiten mesti sudah memiliki laporan keuangan selama tiga tahun terakhir yang telah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasi.

  • Batas Terendah

Batas harga terendah yang bisa dicapai saham-saham di papan utama adalah Rp 50/saham.

Papan Pengembangan

  • Skala Aset

Papan pengembangan berisikan saham-saham berskala menengah dan besar. Berdasarkan POJK No. 53/POJK.04/2017 perusahaan skala menengah adalah yang asetnya antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar. Sedangkan yang berskala besar adalah yang lebih besar dari Rp 250 miliar.

  • Posisi Laba-Rugi

Perusahan boleh mencatatkan sahamnya di papan pengembangan meski masih merugi. Hanya saja syaratnya laba usaha dan laba bersih sudah harus positif di tahun kedua sejak sahamnya tercatat di bursa. Sejak awal mendaftar IPO, bursa sudah meminta proyeksi kinerja emiten di tahun kedua setelah IPO dan emiten mesti bisa memperlihatkan proyeksinya.

Emiten juga mesti sudah memiliki laporan keuangan minimal dalam 12 bulan terakhir yang telah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasi.

  • Batas Terendah

Batas harga terendah yang bisa dicapai saham-saham di papan pengembangan adalah Rp 50/saham.

Papan Akselerasi

  • Skala Aset

Papan akselerasi berisikan saham-saham perusahaan berskala kecil dan menengah yang melepas sahamnya ke publik melalui pasar modal. Memang papan akselerasi diadakan untuk memfasilitasi UMKM dan startup untuk mencatatkan sahamnya di bursa efek Indonesia.

Berdasarkan POJK No. 53/POJK.04/2017 definisi skala kecil adalah perusahaan yang total asetnya lebih kecil atau sama dengan Rp 50 miliar, sedangkan emiten skala menengah adalah yang memiliki aset antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

  • Posisi Laba-Rugi

Perusahan boleh mencatatkan sahamnya di papan akselerasi meski masih merugi alias belum membukukan laba. Hanya saja syaratnya perusahaan harus mampu memproyeksi laba usaha dan laba bersihnya bisa positif maksimal di tahun keenam sejak sahamnya tercatat di bursa.

Emiten harus sudah memiliki laporan keuangan minimal dalam 12 bulan terakhir yang telah diaudit dengan opini wajar tanpa modifikasi.

  • Batas Terendah

Ketika pertama kali melakukan IPO/penawaran perdana saham, harga penawaran saham-saham di papan akselerasi harus di atas Rp 50 per saham. Namun setelahnya harga diserahkan pada mekanisme pasar sepenuhnya. Jika para pelaku pasar modal merasa harga Rp 50 terlalu mahal maka saham bisa ditransaksikan hingga turun ke Rp 1 lembar.

Batas terendah untuk saham akselerasi memang Rp 1 per lembar, namun batas teratasnya tidak ada. Itulah sebabnya harga saham PLAN bisa turun ke Rp 43 per lembar saham.

Sistem auto reject atas (ARA) dan auto reject bawah (ARB) juga akan disesuaikan oleh bursa jika harga turun ke bawah Rp 10 per saham. Dan rencananya bursa akan mengatur tingkat harga untuk saham papan akselerasi yang turun di bawah Rp 10. Namun untuk saat ini belum ada emiten yang turun sampai sana. 

Saat ini hanya ada empat emiten saja yang menghuni papan akselerasi yaitu:

  • PT Prima Global Logistik Tbk (PPGL),
  • PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA),
  • PT Planet Propertindo Jaya Tbk (PLAN), dan
  • PT Tourindo Guide Indonesia Tbk (PGJO)

Pindah Papan

Saham-saham dalam papan pengembangan dan papan akselerasi belum tentu buruk karena penggolongan papan adalah tergantung skala asetnya. Sebagian saham di papan pengembangan memiliki laba yang bagus hanya saja asetnya masih di bawah Rp 250 miliar. 

Jika kondisi berubah, saham-saham bisa pindah papan. Misalnya saja BBCA yang pindah dari Papan Pengembangan ke Papan Utama setelah asetnya naik dan membukukan laba bersih. Saham lain pun ada beberapa yang pindah dari Papan Utama ke Papan Pengembangan karena asetnya turun.

PLAN juga suatu saat bisa pindah ke Papan Pengembangan jika asetnya meningkat dan harganya naik di atas Rp 50 karena batas minimal di Papan Pengembangan adalah Rp 50 per saham.

Sumber: Blackboard Trading, dengan perubahan seperlunya.

Artikel Terkait